Desahan Cinta Satu Malam

Desahan Cinta Satu Malam
Waktu Cepat Berlalu


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat.


***


Pekerjaan paruh waktu yang dikerjakan oleh Cherry bertambah. Ia menjadi pelayan kembali di bar-bar ternama, untuk mengurangi resiko. Membuat Zinad kesal karena sang adik tidak mau menikmati hidupnya menjadi seorang putri kedua dari keluarganya.


Cherry malah kembali menjalani hidupnya kembali seperti dulu selalu bekerja ke bar-bar.


"Kamu susah sekali diberitahu, Cher. Aku akan tetap memberikan gaji full kepadamu, meski kamu hanya bekerja tiga jam di cafe. Kenapa keras kepala seperti ini?" Zinad sedikit geregetan.


"Kak, aku harus memikirkan kebutuhan untuk putriku di luar negri sana," sahut Cherry. "Kak, semuanya serba mahal pastinya di sana. Aku tidak ingin putriku membenciku suatu saat nanti karena sama sekali tidak mencukupinya," imbuhnya.


Zinad memutar bola matanya.


"Iya tapi tidak seperti ini juga, Cherry Keith. Jangan diforsir tenagamu itu. Kamu juga harus kuliah, kerja di toko Kak Sonam, belum lagi sore di cafe dan malam seperti ini ke bar. Kalau kamu sakit, bagaimana?" Zinad benar-benar khawatir.


Apapun itu, Zinad hanya melarang adiknya untuk bekerja keras seperti itu. Apalagi ia sangat tahu betul jika penghasilan dari usaha yang ada di desa pelosok itu juga lumayan untuk menambah uang jajan putrinya— baby R nantinya.


Meski begitu, Cherry tetap kekeh ingin bekerja. Ia sudah terbiasa hidup keras sejak kecil. Tak ingin membuat keluarganya pusing, makanya ia bekerja keras untuk mendapatkan apa yang ia mau.


Sejak malam itu juga, Cherry terus saja menemani pelanggannya sampai pelanggannya banyak. Bukan menemaninya olahraga di ranjang, hanya menemani ngobrol dan memijatnya saja dengan manja. Ia semakin tambah umur semakin menawan.


'Aku bekerja seperti ini lagi karena ingin mengetahui siapa ayah kandungan Ryujin,' batin Cherry.


Sementara itu, Frans mengajak Lui dan putranya kembali ke London untuk membesarkan putra mereka di sana. Lui juga belum bisa mengurus anaknya sendiri, akhirnya ia pun harus meminta bantuan orang tua Frans untuk membantunya.


***


Kerja keras Cherry selama lima tahun tak sia-sia. Ia berhasil lulus kuliah dengan nilai yang memuaskan. Hanya saja, usahanya menjadi orang kaya dengan hasil keringatnya belum terpenuhi. Sebab, di samping kuliah, ia juga harus mencari tentang siapa Ayah kandung dari putrinya.


Ya, lima tahun telah berlalu. Kini, bayi mungil baby R itu telah tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik, lincah dan ceria seperti Cherry waktu kecil. Meski diasuh oleh kakek dan neneknya di luar negeri, Ryujin tetap tahu jika ibunya adalah Cherry.


Pagi itu, Cherry dibantu oleh Zinad sibuk menyiapkan penyambutan untuk kepulangan buah hati tercintanya. Meski sudah berjalan lima tahun, hubungan Zinad dan Sonam juga masih sama saja. Masih di tahap menjadi sepasang kekasih.


Mengapa begitu?

__ADS_1


Zinad masih belum menjalani sebuah ikatan pernikahan. Masih banyak hal yang ingin ia lakukan untuk diri dan keluarganya. Maka dari itu, ia hanya ingin memiliki hubungan yang ringan saja dengan Sonam.


Meskipun Sonam sangat mendem sebuah pernikahan yang indah kembali, namun rasa cintanya kepada Zinad membuatnya tak bisa memaksakan cintanya. Apalagi, ia juga sayang sekali pada anaknya, itu sudah cukup baginya.


"Ryujin dan orang tua kita sudah sampai bandara. Jadi, kita harus segera menyelesaikan ini semua," ucap Cherry semangat, hendak menyambut kedatangan putrinya.


"Cie, yang semangat mau ketemu princess," goda Zinad.


"Eh, dimana baju yang mau aku pakai tadi, ya?" saking repotnya, Cherry sampai lupa jika baju yang akan ia kenakan, sudah ia bawa di bahunya.


Semangat itu, Zinad, Soma dan pelayan rumah sampai tertawa melihat kelakuan Cherry yang random. Pasalnya, memang Cherry ini meski sudah berusia 23 tahun dan masih saja bertingkah seperti anak remaja. Pekerja keras, tapi tingkahnya sangat konyol.


Kue, dekorasi dan beberapa cemilan yang Cherry buat sendiri telah selesai disiapkan untung sang buah hati. Ia tak ingin melewatkan satu apapun yang kurang, akhirnya dia kembali mengeceknya kembali.


"Astaga, Cher. Ih, kamu mau cek berapa kali? Ini sudah yang kesepuluh kalinya kamu mengecek semuanya loh!" Zinad sampai bingung melihat tingkah adiknya.


"Come on, baby! Tidak ada yang kurang sedikit saja. Hmm, kamu tenang saja, oke? Bahkan satupun kurang juga pasti putrimu tidak akan kecewa," lanjutnya, berbisik.


"Untuk putriku, tidak boleh ada yang kurang. Atau aku akan menyesal!" ujar Cherry, tegas juga.


"Mami!" teriaknya.


"Mami, aku datang! Sambutlah aku!" serunya.


Suara yang sebelumnya ia dengar hanya lewat telepon. Saat itu mampu ia dengar secara langsung. Hati paling terdalam Cherry sampai tersentuh, hatinya langsung dingin sejuk seperti di pegunungan.


"Aku gugup sekali bertemu dengan putriku yang sudah besar. Lima tahun, waktu yang tidak cepat, pasti


..." sempat-sempatnya Cherry ngelamun dulu.


Melihat putrinya tumbuh dengan baik, membuatnya begitu terharu. Tuan dan Nyonya Lucas juga selalu menceritakan kebaikan tentangnya, itu sebabnya meski tidak tinggal bersama, Ryujin selalu merindukan Ibunya.


"Nak, ini kamu? Kamu sudah besar sekali, cantik pula!" Cherry hampir meneteskan air mata.


Namun, air mata itu ditadah oleh gadis kecil menggemaskan itu dengan menggunakan telapak tangannya. Kemudian, menyeka air mata yang di pipi Ibunya.

__ADS_1


"Kenapa menangis? Mami ternyata lebih cantik dari pada di foto dan video. Suara Mami juga jauh lebih lembut daripada di telpon," celetuk Ryujin.


"Kamu juga lebih cantik dan selalu cantik dari Mami. Ayo, kita masuk dan segera bertemu dengan Bibimu," ucap Cherry tak henti-hentinya menciumi pipi putrinya.


"Bibi Zinad? Dia juga menyambutku? Yeay!" seru Ryujin girang. "Bibi Zinad … aku datang!"


Cherry juga menyambut kedua orang tuanya. Mereka saling memeluk dan melepaskan rindu. Tak lupa Ia juga mengucapkan terima kasih kasih atas apa yang dilakukan oleh orang tuanya selama itu.


"Putrimu sudah masuk. Ayo, segera kesana. Tak tahu apa yang ingin dia lakukan nanti. Sejak di jalan, dia selalu bertanya tentang dirimu. Bawel sekali!" keluh Nyonya Fazura, bercandaan.


Semuanya tertawa, senang dan ramai menyambut satu putri saja.


**


**


*


Di malam hari, Ryujin tak henti-hentinya melihat ke arah ibu dan juga bibinya. Sampai kepalanya ikut miring, persis seperti Pia waktu lalu.


"Hey, ada apa? Makananmu hampir dingin dan masih memandang kita berdua? Apakah ada yang salah dengan Bibimu dan Mamimu ini?" tegur Zinad, lembut sekali.


"Aku sedang mengamati antara Bibi cantik dan Mami. Ternyata, lebih cantik Mami, ya? Kalau di foto, Bibi cantik lebih cantik. Kok, bisa?" jawab Ryujin, menggemaskan.


Jawaban lucu Ryujin ini membuat Zinad yang baru saja melahap makannya menjadi tersedak. Segera Cherry mengambilkan air minum untuk kakaknya.


"Sayang, Nak, kamu tidak boleh seperti itu. Mami dan Bibimu kan sama-sama cantik, jadi tidak boleh lebih dan bilang lebih," tegur Nyonya Fazura.


"Oh … Sorry Bibi cantik. Mulutku jahat, tidak akan ada lain kali, janji!" Ryujin menunjukkan jari kelingkingnya.


Cherry pun dibuat tersenyum oleh kegemasan. Tak heran jika Ryujin sendiri tumbuh dengan baik. Memang ajaran kedua orang tuanya sangat bagus, sehingga membentuk karakter anak yang bagus juga. Zinad sama sekali tidak marah, malah ia semakin menggoda keponakannya itu.


Makan malam yang biasanya hanya berdua saja, kini semakin ramai dengan kehadiran Ryujin dan Tuan, Nyonya Lucas. Hanya saja, Tuan dan Nyonya Lucas besok sudah harus kembali. Pekerjaan mereka tak bisa mereka tinggalkan begitu saja.


Sengaja mengantarkan lebih awal karena Ryujin akan masuk ke sekolah di waktu yang tepat. Awalnya, Tuan dan Nyonya Lucas sudah berencana akan membawa cucunya pulang setelah usianya menginjak sembilan tahun. Hanya saja, sang ibu—Cherry yang sudah tidak tahan ingin tinggal dan hidup bersamanya putrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2