Desahan Cinta Satu Malam

Desahan Cinta Satu Malam
Hari Pertama Bekerja


__ADS_3

"Kenapa saya harus ikut?" tanya Cherry jadi heran.


"Saya memang diutus oleh Tuan ke kantor untuk menemui Anda, Nona Keith. Tuan tahu jika Anda pasti akan tiba lebih awal di kantor. Jadi daripada menunggu kedatangan Tuan terlalu lama, maka Tuan meminta saya untuk menjemput Nona di sini," jelas Asisten Melvin.


Membuat Cherry heran sampai mulutnya menganga. Ia sendiri sampai tidak menyangka jika Tuan Yasha mau menemuinya di apartemen pribadinya.


"Tunggu! Maksudnya apa, Asisten Melvin? Mengapa dia harus ke apartemen Tuan? Apa hubungannya dengan pekerjaan? Lalu, dimana posisi dia bekerja di perusahaan ini?" Tanya Sekretaris Sarah panik sendiri.


Sekretaris Sarah sampai mengikuti langkah asisten Melvin dan juga Cherry.


"Sekertaris Sarah, maaf. Itu di luar jangkauan pekerjaan saya. Saya hanya diminta untuk menjemput Nona Keith saja. Pertanyaan Sekertaris Sarah ini, bisa ditanyakan langsung kepada Tuan, permisi,"


Sekretaris Sarah tetap kekeh ingin tahu mengapa Tuhan Yasa ingin berjumpa dengan Cherry di apartemen pribadinya. Bahkan sampai mengutus asisten pribadinya untuk menjemputnya secara langsung.


"Tolong hentikan ini sekretaris Sarah!" tepis asisten Melvin, kala sekretaris Sarah menyentuh lengannya.


"Jika Anda memang ingin tahu mengapa Nona Keith dipanggil oleh Tuan ke apartemennya, silakan Anda bertanya sendiri pada Tuan Yasha," tegas asisten Melvin.


Sekertaris Sarah pun tercengang. Ia yang menyukai Tuan Yasha sejak lama, merasa tidak terima jika karyawan baru seperti Cherry di perlakuan khusus. Apalagi memang latar belakang Cherry yang sengaja disembunyikan membuat ia kesal. Sejak dirinya masuk ke perusahaan, ia rela belum menikah meski usianya hampir memasuki kepala tiga hanya demi mengejar cinta Tuan Yasha.


Itu sebabnya, Sekertaris Sarah ini tidak pernah menyukai adanya wanita cantik yang dekat dengan Tuan Yasha.


'Ini tidak boleh terjadi. Ranjang Tuan Yasha yang mana, yang sudah wanita itu naik? Bisa-bisanya dia mendapat perhatian lebih dari Tuan Yasha,' batin Sekretaris Sarah.


Asisten Melvin segera meminta Cherry untuk ikut bersamanya. Masih tidak menyangka, wanita itu hanya diam dan patuh mengikuti langkahnya.


Di mobil saja Cherry hanya diam tanpa terlihat tegang. Ketenangan Cherry membuat asisten Melvin semakin yakin jika Ibu satu anak itu bukanlah wanita sembarangan.


Ketika sampai di jalan masuk ke apartemen juga pun Cherry memilih diam tanpa bertanya apapun. Wanita ini hanya ikuti alur yang sudah Tuhan atur saja, demi uang dan masa depan putrinya.


"Nona, masuklah,"


Asisten Melvin mempersilahkan.


"Tuan, Nona Keith sudah datang,"


Di sana, Tuan Yasha ternyata tidak sendiri. Ada seorang pria yang bersamanya. Diketahui, pria itu bernama Fredly Brian, atau bisa dipanggil dengan panggilan Brian—berusia 35 tahun, seorang dokter dan telah menduda dengan anak satu. Sahabat Tuan Yasha sejak kecil.


"Hei, siapa dia? Ini pertama kalinya kau mengajak wanita ke apartemen pribadimu ini, bukan? Apakah dia istimewa?" bisik Fredly.


"Diamlah!" tepis Tuan Yasha.


"Kau, ikutlah bersamaku," ajak Tuan Yasha menunjuk Cherry.


"Saya?" tanya Cherry polos.


"Tentu! Siapa lagi?"

__ADS_1


Suara Tuan Yasha memang tidak asing di telinganya. Cherry terus saja mengingat dan bagaimana mungkin suara itu mampu membuatnya sedih. Hatinya selalu kacau jika mendengar suara Tuan Yasha.


"Hei, apakah kamu akan melakukannya? Apa kamu sudah tidak sabar, Yasha? Yasha! Aku masih di sini, woy!" teriak Fredly.


"Melvin, usir dia!" perintah Tuan Yasha.


"Ini ...,"


"Kau pergilah! Jangan menggangguku, urusan kita sambung lagi nanti," usir Tuan Yasha kepada Fredly.


Duda satu anak itu pun merasa tak terima. Ia kesal dan hampir mau mengamuk. Tapi karena memang Tuan Yasha sudah sering kali bersikap seperti itu, membuatnya mengurungkan niatnya ingin mengamuk.


"Siapa gadis itu? Apakah dia adalah gadis yang sama, dengan gadis yang ditidurinya lima tahun lalu?" gumam Fredly lirih.


Beberapa menit lalu, mereka memang sedang membicarakan tentang Cherry. Meski Tuan Yasha tidak menyebutkan siapa gadis itu, tapi Fredly tahu pasti jika Cherry lah orang yang dimaksudkannya.


"Melvin—"


"Tuan, jangan mempersulit saya. Saya tidak tahu apa-apa. Jadi jangan mencari informasi dari saya," jawab Asisten Melvin sebelum Fredly bertanya


"Astaga, aku bahkan belum bertanya! Hish, sudahlah! Aku pulang saja, katakan kepada Tuanmu untuk meminum obatnya tepat waktu,"


Fredly akhirnya pergi. Melawan sahabatnya itu, memang bukan kuasanya. Pasalnya, memang Tuan Yasha sudah memiliki watak seperti itu sejak kecil. Seorang Fredly yang sudah bersamanya sejak lama pun hanya memaklumi saja.


*


*


"Duduklah," pinta Tuan Yasha.


"Tuan, kenapa kita ke sini?" tanya Cherry.


"Kau akan bekerja denganku. Apakah kau tidak butuh kontrak?" Tuan Yasha berbicara santai sekali.


"Oh, iya benar. Tapi, kenapa tidak di kantor saja? Ini sangat merepotkan Tuan dan Asisten Melvin, sampai harus menjemput saya ke kantor," ujar Cherry.


"Kau jangan percaya diri dulu. Tapi jika kau ingin menungguku di kantor, maka kembali lah sekarang juga! Lalu, hari kerja mu akan aku undur," jelas Tuan Yasha, berkuasa.


Mendengar pekerjaannya akan di undur, Cherry langsung patuh dan memilih untuk mengunci bibirnya rapat-rapat. Ia mengatakan jika dirinya sudah siap menerima kontrak dari Tuan Yasha. Demi memastikan bahwa Cherry tidak memiliki mantra atau sihir padanya, Tuan Yasha meminta Cherry untuk tetap di sisinya sebagai Asisten pribadinya.


"Tuan, ini bukankah sama hal nya aku menjadi pelayan Anda?" tanya Cherry selesai membaca kontrak.


"Maksudnya apa? Gajimu berlipat-lipat ganda dari karyawan lain. Bahkan, dengan gaji asisten pribadiku saja, masih banyakan gajimu. Apa kau tidak bersedia?" Tuan Yasha mulai mengeluarkan kekuatannya.


Yakni, uang.


"Tapi ... Merapikan rumah, membuatkan sarapan, makan siang bersama, masak malam untuk Tuan. Bukankah ini saya harus 24 jam bersama, Tuan?" tanya Cherry lagi.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Itu namanya profesional kerja, bukan?" angkuhnya Tuan Yasha.


Membuat Cherry harus menghela napas. Kemudian meletakkan kontrak itu dengan pelan seperti meletakkan bayi yang baru ia berhasil menidurkannya.


"Tuan, saya tidak bisa 24 jam kerja bersama dengan Tuan. Saya memiliki anak berusia lima tahun yang masih membutuhkan saya. Bagaimana bisa saya meninggalkannya?" jelas Cherry.


"Baiklah, kau bisa pulang setelah menyiapkan makan malam untukku. Lalu untuk sarapan pagi, kau bisa bawa ke kantor, bagaimana?" Tuan Yasha mulai melunak.


"Em ...." Cherry masih memikirkannya lagi.


"Ck, aku tambahkan 20 juta untuk itu," kekuatan uang kembali muncul dari Tuan Yasha yang kaya raya.


"Setuju! Saya setuju dan akan menandatangani kontrak ini,"


Perjanjian selsai. Uang memang hal utama yang dibahas dalam sebuah bisnis. Cherry merasa mimpi mendapatkan gaji bulanan sebesar itu, meski dirinya juga sudah menjadi orang kaya.


'Putri kedua dari keluarga Lucas, apakah sangat membutuhkan uang? Bukankah gaji segini juga ayahnya mampu memberikannya? Ada apa dengan gadis ini? Kenapa dia lain dengan kakaknya?' gumam Tuan Yasha dalam hati.


Setelah menandatangani surat kontrak, Tuan Yasha mengajak Cherry ke kantor bersama. Ia sudah bisa duduk di samping Tuan Yasha selama di mobil. Sebab, yang di depan adalah supir pribadi dan juga Asisten Melvin.


"Tuan ..."


"Apa lagi?" tanya Tuan Yasha ketus ketika Cherry mulai membuka mulut dan bertanya.


"Sekertaris Sarah bilang, jika bekerja di perusahaan Anda ... harus memiliki id card. Id card juga menunjukkan identitas kalau kita bekerja di perusahaan. Apakah saya akan mendapatkan id card itu?" tanya Cherry dengan polosnya.


"Tapi dengan posisi saya yang saat ini ... Bukankah tak jauh beda dengan asisten rumah tangga?" imbuhnya.


Sebelumnya Tuan Yasha menutup matanya, kini ia membuka matanya karena pertanyaan konyol dari Cherry tentang id cardnya. "Kau lihat, apakah Melvin memiliki kartu itu?" tanya Tuannya.


Cherry langsung menatap Asisten Melvin, kemudian Asisten Melvin membantu menjawab dengan menggelengkan kepala.


"Tidak, 'kan?" kata Tuan Yasha.


"Hmm, jadi untuk apa kau membutuhkan kartu itu?" lanjut Yasha.


"Selama kau di sampingku dan di sisi Melvin, kau bebas masuk perusahaan sesukamu, Nona Keith!" tegas Tuan Yasha dengan senyum liciknya.


Tiba-tiba Cherry menjadi murung. Membuat Tuan Yasha malah semakin kesal dibuatnya.


'Apa ini? Apakah dia kesal karena tidak kuberi ID card? Huftt, merepotkan sekali!' kesal pria gagah itu.


Sehingga membuatnya sampai meminta asistennya untuk membuatkan id card itu untuk Cherry.


"Baik, Tuan," ucap Asisten Melvin, semangat.


"Tuan, terima kasih. Akhirnya, setelah pulang nanti, saya bisa menunjukkan kartu itu kepada putriku. Ah, pasti dia sangat senang melihatku bekerja," Cherry begitu girang.

__ADS_1


'Tuan, serius? Luluh dengan Nona Keith dengan mudahnya? Wahhh, nona Keith sangat hebat. Sudah sekian lama aku mengikuti Tuan, tapi belum ada yang membuatnya menurut seperti itu. Wah ...." Asisten Melvin sampai takjub sendiri.


__ADS_2