
Malam semakin larut, hujan juga semakin deras dan udara semakin dingin. Membuat keduanya ingin melakukan hubungan itu lagi selagi masih di jalan.
"Sayang," panggil Sonam lirih.
"Hm?"
"Katanya mau tidur? Kok, masih terbangun saja dari tadi?" tanya Sonam.
"Aku tidak bisa tidur, Kak. Suasananya mencengkam gini, takut jika tiba-tiba ada pohon tumbang," jawab Zinad.
Keduanya memang belum ada rencana mau menikah. Hidup bebas dan tidak ada yang mengekang membuat keduanya sampai berhubungan sejauh itu.
"Berikan tanganmu, biarkan aku menghangatkan tubuhmu malam ini," ujar Sonam, mengulurkan tangannya.
Tentu saja cinta membutakan wanita ini, Zinad pindah posisi duduknya. Ia duduk di pangkuan sang kekasih dengan tubuh menyerong seperti baby yang sedang dalam gendongan sang ibu. Sonam menyentuh pipi halus Zinad, lalu mengangkat wajahnya. Dibawah cahaya redup malam itu, Sonam mengecup bibir tipis wanitanya dengan lembut.
Ciuman yang awalnya biasa itu telah menjadi lebih menggairahkan ketika Zinad membalasnya dengan memasukkan lidahnya ke mulut Sonam. Naluri sebagai seorang pria, terpancing hawa nafsu membuat tangan Sonam semakin nakal hingga berani menyusup ke bukit salju, kemudian mendakinya.
"Uh …"
"Sayang, kenapa?" bisik Sonam, ketika mendengar ******* manis wanitanya.
"Aku … aku ingin,"
Tak ada kata penundaan lagi. Melihat sang kekasih sudah kelojotan tak karuan, Sonam pun semakin bersemangat. Mereka bermain di dalam mobil tanpa mencari penginapan terlebih dahulu. Malam itu sebanyak tiga kali dengan posisi yang berbeda-beda.
Tak terhitung sudah berapa kali mereka melakukannya. Hanya saja, memang keduanya belum ada rencana mau menikah. Jangankan menikah, mereka juga tidak ingin memiliki anak terlebih dahulu. Bagi Zinad sendiri, anak dari Sonam dan hadirnya Ryujin saja sudah cukup baginya untuk di berikan kasih sayangnya.
Selesai berolahraga malam, mereka masih memainkan alat olahraga satu sama lain. Keinginan untuk melanjutkan masih ada, tapi tenaga mereka yang sudah tidak bisa lagi diajak kerja sama. Hingga akhirnya, mereka tertidur.
***
Keesokan harinya, Cherry menyiapkan sarapan untuk putrinya dibarengi menyiapkan untuk Tuan Yasha juga. Kesukaan mereka sama, jadi Cherry tidak perlu menambah lagi bahan masakan.
"Mami, are you oke? Kenapa Mami bangun sepagi ini?" tanya Ryujin masih mengucek matanya.
"Loh, Ryu? Kenapa kamu juga bangun di jam segini? Apa mimpi buruk?" tanya Cherry kembali.
"Aku memang selalu bangun di jam segini, Mami," jawab Ryujin lucu. "Wah, Mami masak untukku? Ini ... aromanya sangat wangi sekali. Pasti rasanya juga lezat!" seru gadis mungil itu.
Cherry tersenyum manis pada putrinya. Minta sang Putri untuk menunggu dan bernyanyi untuknya. Suara Ryujin memang terdengar merdu.
**
__ADS_1
Pagi di lewati dengan baik oleh pasangan ibu dan anak ini. Usai sarapan, Cherry mengantar dulu putrinya ke sekolah.
"Mami, hari ini aku akan memperkenalkan Mami pada dua teman baruku. Namanya Zoey dan Daniel, apa Mami mau? Pasti Mami senang berkenalan dengan mereka," celetuk Ryujin bersemangat.
"Oh, ya? Mami jadi tidak sabar bertemu dengan teman-temanmu. Sebaik apa sih, mereka ini. Sampai-sampai putri kesayangan Mami jadi semangat sekolahnya," sahut Cherry bangga pada putrinya.
Sesampainya di sekolah, Zoey dan Daniel rupanya sudah menunggu kehadiran Ryujin di depan pintu sekolah. Mereka melambaikan tangannya pada Ryujin.
"Eh, mereka di sana!" tunjuk Ryujin.
Tak disangka, Zoey yang dimaksud oleh putrinya adalah Zoey anak dari sahabatnya dulu. "Apa itu putrinya Lui dan Frans?" gumamnya lirih.
Cherry menggenggam tangan putrinya dan mengantarnya sampai di depan pintu sekolahan.
"Bibi Cherry," panggil Zoey. "Selamat pagi, bagaimana pagi Bibi?" sapanya.
"Mami kenal Zoey?" tanya Ryujin penasaran.
Cherry hanya tersenyum, kemudian mengangguk pelan. Tak menyangka jika anaknya akan bersahabat dengan anak sahabatnya dulu. Setelah berjumpa dengan sahabat anaknya, ia pun berpamitan.
"Mami berangkat kerja dulu, ya. Beberapa menit lagi Mami akan terlambat soalnya," ucap Cherry lirih.
"Baiklah, Mami. Mami hati-hati di jalan, ya. Jangan telat makan siang. I love you Mami ...,"
"Cher?" sebut Frans lirih.
"Hai, selamat pagi. Anak kalian sekolah di sini juga rupanya. Sungguh dunia sangat sempit, ya," ucap Cherry, masih gugup.
"Iya, kamu sendiri ngapain ke sini?" tanya Lui, tatapannya tidak seperti biasa.
"Mami, ayo segera berangkat kerja sana, atau Mami akan terlambat nanti!" seru Ryujin menyentuh tangan Ibunya dengan lembut.
Frans dan Lui pun menatap Cherry, kemudian melihat Si kecil Ryujin. Sekilas, mereka memang sangat mirip. Tak heran jika sebelumnya, keduanya memang merasa tidak asing ketika bertemu dengan Ryujin.
"Jadi ... gadis manis ini adalah putrimu?" tanya Lui, membungkuk melihat jelas wajah Ryujin.
Cherry mengangguk. "Aku sudah terlambat bekerja, Lui. Lain kali jika ada waktu, kita ngobrol lagi, ya," ucap Cherry setelah melihat arlojinya.
"Ryu, Mami berangkat dulu, ya. Tata—"
Lui terus menatap langkah mantan sahabatnya. Dulu mereka sedekat nadi, tapi saat itu keduanya terlihat rasa asing. Bahkan masing-masing memiliki rasa canggung sendiri.
'Cher, apa kabar?' batin Lui. 'Aku menyesal telah membuatmu terluka. Maafkan aku ....'
__ADS_1
Suaminya—Frans menyentuh bahunya. Mengatakan jika Kulit tidak pernah marah padanya. Frans mengatakan jika Cherry masih membutuhkan waktu untuk menghadapinya setelah beberapa tahun berlalu.
"Mama Zoey!" panggil Ryujin.
Lui menoleh.
"Hmm, Mama Zoey kenal sama Mamiku, ya?" tanya Ryujin.
Lui menganggukkan kepala.
"Mami sangat sibuk, dia kerja terus semenjak aku lahir. Jadi kalau mau bertemu dengan Mami, biasanya di waktu malam, Mama Zoey. Tidak apa-apa, 'kan?" celetuk Ryujin.
Frans pun tersenyum, lalu meminta anak-anak untuk duduk dan makan jajan bersama. Sementara itu, Cherry sangat terburu-buru karena sudah hampir terlambat menyiapkan sarapan untuk Tuan Yasha.
"Untung saja! Huftt hampir terlambat," gumam Cherry menatap arlojinya.
"Ngomong-ngomong Tuan Yasha kemana?" Cherry langsung masuk ke apartemen karena memang sudah mengetahui kode pin nya.
Sur... Sur...
Suara air mengalir ketika Cherry mengecek kamar Tuan Yasha. Ia segera merapikan tempat tidur dan menyiapkan pakaian untuknya. Setelah itu, segera menyiapkan sarapan yang ia bawa dari rumah.
Tuan Yasha keluar dari kamar mandi. Melihat seisi kamarnya sudah rapi, dan mendapati ada pakaian di atas ranjangnya, ia mengira Asistennya yang telah datang. Ia pun melihat jam dinding kamarnya.
"Kenapa dia datang di jam segini? Biasanya juga tidak mungkin sepagi ini. Apa dia sedang rajin?" gumam Tuan Yasha.
Melihat perpaduan pakaian yang disiapkan di atas ranjang berbeda dengan biasanya, membuat Tuan Yasha tertawa. "Haha, sejak kapan dia berubah? Tumben sekali baju dan celananya pas. Apa dia sedang jatuh cinta dengan seorang gadis?"
Pasalnya, memang Asistennya tidak pernah bisa menyiapkan baju yang pas untuk dikenakan ke kantor maupun sedang santai. Melihat ada yang kurang, Tuan Yasha pun bergegas keluar dan menanyakannya.
"Melvin, kau tidak menyiapkan pakaian dalamku? Apa kau—" ucapan Tuan Yasha terhenti kala melihat Cherry yang berada di dapur sedang sibuk menyiapkan sarapan.
"Nona Keith?" gumamnya.
Saat di pikir kembali, Tuan Yasha baru ingat. Jika memang tidak mungkin asistennya menyiapkan stelan yang cocok untuknya. Ia pun hendak mengerjai Cherry dengan mengagetkannya.
Pria angkuh ini berdiri di belakang Cherry yang saat sibuk mengelap piring yang hendak ia gunakan. "Em, aku butuh mangkok. Di mana aku bisa mendapatkan mangkok itu? Dapur ini masih asing bagiku," ucapnya lirih.
Ketika ia mundur, tak sengaja menabrak Tuan Yasha. Seperti hal nya Tuan Yasha yang terkejut ketika Cherry mendongak ke atas dan menatapnya.
Tatapan mereka terhenti satu sama lain. Saling memandangi dan seketika membuat jantung masing-masing berdebar. Tepat sekali asisten Melvin datang dan melihat keduanya.
Pandangan Asisten Melvin memang berbeda dengan Tuan Yasha yang hanya mengenakan handuk, lalu Cherry yang menempel pada dada Tuannya, membuat berpikir jika mereka sedang berpelukan dari belakang.
__ADS_1
Apa yang akan asisten Melvin lakukan?