Desahan Cinta Satu Malam

Desahan Cinta Satu Malam
Hari Paling Indah


__ADS_3

"Maksud mempertimbangkannya?" tanya Lui.


"Kita bicarakan nanti. Tapi yang pasti ... Cherry sedang hamil delapan bulan saat ini, maybe. Dia hamil dengan pria yang kalian atur malam itu. Siapa pria itu?" Frans bertanya dengan sorot matanya yang tajam.


Dari sorot matanya Frans sudah sangat terlihat jelas jika pria itu menahan emosi di depan Lui. Tidak mungkin mengatakan kebenarannya karena Lui sendiri tidak tahu menahu tentang pria malam itu, gadis yang telah menjadi seorang ibu itu hanya diam.


"Lui, kenapa kamu diam saja?" tanya Frans lagi.


Lui masih terdiam sejenak. "Frans, apakah Cherry mengatakan semua itu secara gamblang?" tanyanya.


"Cherry hanya bilang dia dipaksa, matanya tertutup dan tidak melihat siapa pria tersebut. Tapi—Cherry yakin jika pria itu mengenalinya. Sebab, meski pria itu mabuk dan kurang dalam kesadarannya, matanya tidak terpejam," jelas Frans.


"Sangat jelas jika pria itu memang tidak ingin membuat Cherry melupakan kejadian malam itu," tuduh Frans.


Lui kembali mengingat malam itu. Feredica dan Lui hanya menerima uang dari asistennya. Soal siapa Tuan kaya itu, ia tidak tahu karena pada saat itu Tuan kaya tersebut sudah ada di dalam ruangan.


"Apa kamu tahu bagaimana wajah Asistennya?" tanya Frans.


Lui menggeleng. "Dia memakai topeng," jawabnya iri, seperti mengetahui sesuatu. "Aku jadi merasa bersalah dengan Cherry. Apa dia sudah menemukan siapa pria itu?" tanyanya.


"Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, orang tuanya pasti tidak terima dengan semua itu. Mungkin itu sebabnya, Cherry pergi dari rumahnya," jelas Frans lagi.


Lui yang masih belum tahu tentang Cherry pun menjadi bingung. Frans menjelaskan semuanya, tentang keluarga kandung Cherry dan juga mengapa Cherry selama ini menjauh dari Lui. Itu semua karena tak ingin Lui menjadi kecil hati berteman dengannya.


Cherry tahu betul perasaan sensitif mantan sahabatnya itu. Membuat Lui semakin merasa tidak enak hati. Sejak menjadi seorang Ibu, jati Cherry mudah bergerak dengan hal yang dapat membuatnya sedih.


"Lui, kamu harus berubah demi anakmu," katanya.


"Hmm, Cherry selalu memikirkan dirimu meski dia sendiri sedang menderita. Apakah kamu masih iri hati padanya? Sedangkan memang dia memiliki segalanya saat ini dan dia tidak pernah mengungkapkan jati dirinya di depanmu?" lanjut Frans.


"Semua itu juga karena untuk menjaga hatimu," tuturnya.


***


Dua hari berlalu. Frans masih setia merawat ibu dari putranya di rumah sakit. Perlakuannya juga sudah berbeda dari sebelumnya untuk Lui. Terlihat jika Frans sudah kembali hangat sama seperti saat dirinya masih menjadi kekasih Lui tempo lalu.

__ADS_1


Selama dua hari itu, Frans juga menggendong bayi laki-lakinya dengan sepenuh hati. Sampai dimana, hasil DNA itu sudah keluar.


"Bukalah, aku sudah terima dengan lapang dada jika memang anak ini bukan anakmu, Frans?" ucap Frans menundukkan kepala.


"Jujur, aku sudah sangat menyayanginya. Anak ini begitu manis, wajahnya mirip sepertimu. Sulit bagiku untuk membiarkannya pergi dari pelukanku," ungkap Frans menatap bayi dalam gendongan.


"Tapi aku tidak ingin membebanimu dengan membesarkan anak orang lain, Frans. Sekarang bukankah kita mau melihat sama-sama hasilnya?" sahut Lui.


Frans pun membuka secara perlahan kertas hasil DNA tersebut. Membacanya dengan seksama, kenyataannya … bayi laki-laki itu memang anak kandungnya.


"Dia anakku?"


Hati Lui seketika menjadi dingin. Ia ingat betul, jika Frans memanglah ayah biologis dari putranya. Hal itu mampu ia pastikan karena memang terakhir kali dia melakukan hubungan badan bersama dengan Frans. Om-om yang sebelumnya hanya perlu ditemani saja tanpa melakukan hubungan ranjang lainnya.


"Dia anakku? Kenapa aku meragukanmu waktu itu. Maafkan aku, Lui. Aku bersalah padamu," sesal Frans.


"Tidak masalah, Frans. Aku berhasil memperjuangkan hak anak kita. Jika dulu aku juga memutuskan untuk melenyapkannya, maka yang ada hanya akan penyesalan saja," Lui sampai bicara dengan suara bergetar.


"Dia anakku. Betapa jahatnya aku jika aku tidak mengakuimu, Nak,"


Hanya saja, Frans masih membutuhkan waktu untuk mengatakan kenyataan itu kepada keluarganya. Lui mampu menunggunya, yang terpenting baginya, putranya tidak kehilangan sosok ayah dalam hidupnya nanti.


Anak mereka, diberi nama Kwoni Leon—dipanggil Woni.


***


Sementara di desa, Cherry masih sibuk dengan usahanya. Begitu banyak di sayang oleh semua warga Bianca di desa itu. Para karyawannya juga tidak satupun yang membagikan perkataannya.


Sampai sebulan berlalu dan akhirnya Cherry melahirkan di bantu dengan warga desa. Semuanya menjadi ricuh karena berdebat antara Cherry harus lahiran di bidan desa atau rumah sakit.


"Rumah sakit saja! Masa iya Nona Cherry harus lahiran di tempat biasa?"


"Masalahnya waktu yang yang tidak cukup, bro!"


"Loh, terus mau dimana kemana ini? Kasihan sudah kesakitan begini, kalau terlambat bagaimana?"

__ADS_1


Tak ada cara lain, para pemuda desa membawa Cherry ke rumah sakit Kota kecil itu menggunakan gerobak motor. Masih dipantau sesepuh desa untuk memastikan keadaannya masih baik atau tidak.


Jalanan memang sudah mulus, tapi jaraknya yang sangat jauh membuat Cherry sudah tak tahan lagi hingga melahirkan bayinya di gerobak motor.


Melihat sang bayi sudah lahir, pemuda desa yang mengendarai gerobak motor tersebut membawa laju kencang kendaraannya. Supaya Cherry dan bayinya segera mendapatkan perawatan.


"Haduh, berkahmu ini. Jangan pernah dijual gerobak motor bututmu. Percayalah ... Pasti suatu saat nanti akan membawa berkah karena telah dipakai lahiran," ujar sesepuh desa.


"Benar, bayinya juga sangat cantik, loh! Persis seperti … ibunya juga cantik, tapi hidung, bibir dan matanya, pasti seperti Ayahnya," sahut Pia.


"Cherry, apakah benar? Hidung mata dan bibirnya mirip dengan Ayahnya?" Pia mengarahkan bayi mungil tersebut kepada Cherry.


Tak bisa menjawab, Cherry hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Meski ia belum pernah melihat bagaimana wajah Ayah dari anaknya, tapi ia sangat yakin jika putrinya memang mirip seperti Ayahnya.


Sesampainya di rumah sakit kota, Cherry dan bayinya segera di beri penanganan yang bagus. Bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu juga menangis dengan kencang ketika kelahirannya, sampai semua orang yang ada di pinggiran sawah pada mendengarnya.


"Pia, bisakah kamu menelpon Ayahku? Aku memberinya nama my Hero?" pinta Cherry meminta tolong kepada Pia.


"Iya!" seru Pia semangat.


Selama di pelosok desa, Cherry memang dekat dengan Ayahnya. Meski dengan dengan sang ayah— bukan berarti Zinad sudah tidak akrab lagi, hanya saja sang adik memang selalu menghubungi Tuan Lucas dan begitu juga Tuan Lucas selalu memberikan perhatian lebih pada putri keduanya.


"Cher, tidak di jawab," ucap Pia, murung.


"Coba kamu telpon dengan yang namanya Kak Zinad," Cherry masih berpikir positif.


Benar saja, setelah menelpon Zinad, sang kakak langsung menjawabnya. Pia mengatakan bahwa Cherry sudah melahirkan anak perempuan yang cantik.


'Apa? Benarkah? Tolong berikan telponnya kepada adikku,' pinta Zinad.


Pia memberikan ponsel itu pada Cherry dan membiarkannya menyapa sang kakak yang telah lama sudah tidak berkabar.


'Cher, benarkah keponakanku seorang princess? Bagaimana dia? Bagaimana kesehatannya? Cher, aku sangat ingin melihatnya, bisakah aku mengunjungimu? Aku sangat merindukanmu, Cherry,' seperti biasa Zinad memohon untuk Cherry mengizinkan dirinya menjenguknya.


Untuk saat itu, Cherry mengizinkan sang kakak dan keluarganya datang menjenguknya. Ia pernah kehilangan keluarga kandungnya, ia tidak ingin putrinya juga mengalami nasib yang sama tak mengenal siapa keluarga kandungnya. Akhirnya, untuk pertama kalinya bagi Cherry mengizinkan keluarganya datang.

__ADS_1


__ADS_2