
"Tuan, boleh aku nambah?" tanya Cherry memecah keheningan malam itu.
"Tentu, ini milikmu semuanya. Habiskan saja!" sahut Tuan Yasha.
"Masakan anda rupanya lezat sekali. Saya belum pernah makan dari masakan tangan seorang pria. Bahkan di restoran saja saya hmmm ... mmmmm ...." Cherry bicara sampai tidak terdengar apa yang dikatakannya.
Tuan Yasha jadi diam dan hanya fokus makan malam. Begitu juga dengan Cherry yang kemudian diam saja kala makan. Suasana menjadi hening dan canggung. Sampai di mana, asisten Melvin menelpon jika dirinya tidak bisa menjemput karena mobilnya mogok saat mengantar sekretaris Sarah.
"Sial!" umpat Tuan Yasha.
"Ada apa, Tuan?" tanya Cherry, terkejut dengan umpatan itu.
"Asistenku tidak bisa menjemput karena masih mengantar sekertaris Sarah. Bagaimana caraku pulang? Hujan juga semakin lebat di luar," jelas Tuan Yasha.
"Anda datang kemari tidak membawa mobil, kah? Lalu kalian pulang dari sekolah tadi bagaimana?" tanya Cherry.
Tuan Yasha melenguh lembut. Bahkan ia pun menganggap dirinya bodoh karena meminta orang kantor untuk mengambil mobilnya.
"Lah, kenapa?" tanya Cherry. "Kenapa anda meminta orang kantor untuk mengambil mobil itu? Apakah sebelumnya Tuan mengira jika asisten Melvin bakal bisa jemput?" Cherry malah banyak bertanya.
"Hmph! Adikku membutuhkan mobil itu," jawab Tuan Yasha, tidak memberikan keterangan lain lagi.
Membuat Cherry bingung, dia juga tidak tahu harus bagaimana. Mobil miliknya dibawa oleh Kakaknya dan tidak ada mobil lain kecuali mobil miliknya sendiri yang rusak. Terpaksa, Tuan Yasha harus menginap malam itu.
"Menginap?" tanya Tuan Yasha sedikit terkejut.
"Ada baju milik Papaku. Tuan bisa memakainya untuk ganti. Bukankah baju yang Tuan pakai ini juga pakaian yang sudah sejak pagi di pakai?" Cherry perhatian juga.
Usul Cherry membuat pria berperawakan tinggi itu merasa sedikit tenang. Tapi bisa saja ia menahan diri supaya tidak terlihat.
"Baiklah, aku akan ke kamar mandi dulu. Kamu bisa siapkan pakaian itu di atas ranjang atau di manapun itu," Tuan Yasha, untuk pertama kalinya sedikit gugup menghadapi perempuan.
Cherry pun mengarahkan Tuannya mandi di kamar mandi miliknya yang ada di dalam kamar.
"Pakai kamar mandi saya saja, kebetulan kamar mandi tamu terkunci dan kuncinya hanya pengurus rumah yang tahu," ujar Cherry.
Tanpa mengangguk atau menjawab apa, Cherry sudah mengerti jawaban dari Tuannya itu. Setelah Tuan Yasha masuk ke kamar mandi, barulah Cherry pergi ke kamar orang tuanya untuk mengambilkan kaos dan celana santai.
"Pakai yang mana, ya?" gumam wanita itu.
"Jika warna ini ... Ah tidak! Apa yang ini ... Hmm, iyaa! Ini saja sudah bagus,"
"Jika dia tetap kelihatan tidak bagus, ya pasti karena tampangnya yang tidak cocok. Baju ini baju mahal, masih baru juga, labelnya aja belum dilepas," celetuk Cherry.
Cherry kembali masuk ke kamarnya. Awalnya ia gugup ingin mengetuk pintu kamar mandi, tapi ia mulai memberanikan diri.
Tok... Tok... Tok...
"Tuan, bajunya saya taruh di atas ranjang, ya!" seru Cherry.
"Baiklah! Aku segera selesai!" sahut Tuan Yasha, terdengar suaranya yang menggema dari dalam sana.
Naas, ketika Tuan Yasha hendak memakai handuk, kakinya terpeleset oleh cairan pembersih apem nylempit milik Cherry yang tumpah di atas lantai. Cairan pembersih tersebut belum sempat Cherry lap, padahal teksturnya kental dan pastinya akan membuat orang terpeleset jika menginjaknya.
__ADS_1
BUG!
"Aduh!"
Tubuh besar Tuan Yasha terbanting di lantai kamar mandi. Bahkan Cherry yang berada di luar saja sampai mendengar suara Tuan Yasha terjatuh. Panik, khawatir dan juga takut, Cherry langsung masuk dan tidak tahu jika Tuan Yasha sedang telanjang bulat.
"Ah, saya tidak melihat apapun!" seru Cherry langsung memutar tubuhnya.
"Apa kamu buta? Kamu sudah melihatnya tadi, terlihat jelas bagaimana matamu itu melotot melihat belalai gajah yang menempel di lipatan indah," rupanya Tuan Yasha kesal, jelas dari nada bicaranya. Antara malu dan kesakitan menjadi satu.
"Aaa, maaf, maaf, maaf—"
Segera Cherry mengambilkan handuk dengan menjaga pandangannya. "Apa Tuan sudah menutupinya?" tanya Cherry memberikan handuk tersebut, padahal jaraknya masih jauh.
"Iya, tapi aku tidak bisa berdiri. Cairan apa yang kamu tumpahkan sebelumnya? Aku tergelincir karena itu, Cherry!" jawab Tuan Yasha, meringis kesakitan.
"Maafkan saya, Tuan," ucap Cherry.
"Bisakah kamu membantuku berdiri dulu? Aku sungguh tidak bisa berdiri sendiri, kakiku sangat sakit. Hais, bahkan tubuh bagian belakang juga sakit," pinta Tuan Yasha.
Tak ada orang lain yang dimintai tolong, maka Cherry harus mau turun tangan sendiri. Ia memberikan tangannya pada Tuan Yasha. Malu, memang, tapi Cherry juga merasa bersalah karena telah menumpahkan cairan pembersih tersebut. Ia memapah tubuh besar Tuan Yasha ke ranjang.
Masih dengan bertelanjang dada, pandangan itu membuat mata Cherry ternodai. 'Tubuh yang bidang dan ... hmm, tadi besar sekali miliknya itu.'
Ting~
'Astaga, kotor sekali pikiranku? Mataku juga ... aish, jangan sampai Tuan Yasha tahu jika aku sedang memikirkan miliknya yang besar itu,'
'Tubuh ini kenapa terasa tidak asing bagiku?' gumamnya lagi dalam hati.
Akibat melamun, kaki Cherry tak sengaja menginjak jepit rambutnya sendiri hingga membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Aduh," rintih Cherry.
Keduanya hampir terjatuh di lantai, tetapi Tuan Yasha dengan sigap menarik tubuh Cherry dan menjatuhkan diri ke ranjang.
"Cherry!"
"Uh ..." ******* Tuan Yasha membuat Cherry teringat dengan pria malam itu.
Untuk melindungi Cherry, Tuan Yasha sampai memeluknya. Jadi keduanya terjatuh tepat di ranjang, hanya saja, Cherry terjatuh di bawah tubuh Tuan Yasha yang kekar, plus bertelanjang daada itu. Wajah keduanya semakin dekat, bahkan suara detak jantung saja keduanya masih bisa mendengarnya.
'Nafasnya, aroma tubuhnya dan postur tubuh ini ... benar-benar sama dengannya. Apakah—dia adalah pria itu?' Cherry semakin yakin saja.
Mereka masih ada di posisi itu. Membuat Cherry jadi semakin bertanya-tanya tentang perasaan yang dirasakannya. 'Hanya ada satu cara untuk membuktikan jika pria itu adalah pria yang sama!' seru Cherry dalam hati.
Tiba-tiba Cherry menggila, dia mengecup bibir Tuan Yasha begitu saja. Membuat pria yang masih berada di atas tubuhnya itu menjadi terkejut, sampai membulatkan matanya. Tak menyangka jika Cherry akan menciumnya. Setelah beberapa detik, Cherry pun melepaskan ciumannya.
'Rasanya benar mirip, apakah dia ...?' batin Cherry.
"Kamu mengambil keuntungan dariku, Cherry Keith. Kamu harus bertanggung jawab akan itu," bisik Tuan Yasha menatap mata Cherry begitu dekat.
"Tolong jangan salah paham aku ha—hmmm...."
__ADS_1
Ucapan yang belum terselesaikan itu terbungkam oleh lembutnya ciuman dari Tuan Yasha. Ciuman itu sangat menggairahkan sampai membuat tubuh yang merasa panas. Nyatanya, sudah lama sekali tubuh Cherry memang tidak terjamah oleh seorang laki-laki.
Tuan Yasha juga menggigit kecil bibir Cherry. Membuat Cherry mendesah dan semakin keluar hasrat dari Tuan Yasha. Adegan yang sama persis dengan malam enam tahun lalu.
Ciuman bibir Tuan Yasha turun ke leher dan meninggalkan gigitan gigitan kecil di leher putih milik Cherry
"Shh, ah ..." desah Cherry.
"Hmph! Tuan—"
Ketika tangan Tuan Yasha membuka kancing baju Cherry, tangannya ditahan olehnya. "Jangan," lirihnya, menolak tangan kekar itu.
"Aku sudah tidak tahan lagi, Cherry. Kamu yang telah memancing gairahku, bukan?" bisik Tuan Yasha.
Sama seperti waktu lalu, naluri hati Cherry melepaskan genggaman tangannya yang sebelumnya digunakan untuk menahan tangan Tuan Yasha waktu itu akan membuka kancing pakaian tidurnya.
Tangan nakal Tuan Yasha menjamah bukit salju yang telah mekar. Kemudian tangan yang satunya lagi menyelinap masuk ke lainnya. ******* demi ******* juga terdengar jelas di kamar itu. Akan tetapi di luar hujan sangat deras, sehingga tidak membuat suara ******* keduanya terdengar.
'Ini sangat memalukan, aku benar-benar kalah pada pria ini. Rasanya, suasananya, semuanya sama pada malam itu. Tuan Yasha ... Apakah dia?'
Benar-benar Cherry seperti tersihir oleh Tuan Yasha malam itu. Sampai pada akhirnya, mereka kelelahan dan tertidur. Keduanya tidur sambil berpelukan, hingga pagi menjelang.
***
Keesokan harinya, mereka masih terlibat dalam pelukan hangat. Sampai Ryujin yang tak sengaja masuk membangunkan mereka.
"Mami, aku mau—ops!" Ryujin terhantu.
"Aku tidak melihat, aku tidak melihat apapun. Aduh, kenapa kamar Mamiku gelap sekali, ya? Sepertinya Mamiku masih tidur. Hmm, alangkah baiknya jika aku akan ambil sendiri," ucap Ryujin langsung memutar tubuhnya.
"Aish, kakiku kenapa juga melangkah ke kamar Mami. Harusnya aku tidak masuk karena kamar Mami juga tidak dikunci," Ryujin bergumam.
Cherry dan Tuan Yasha dipaksa bangun, mereka saling menatap satu sama lain. Melihat masing-masing yang masih telanjang, membuat keduanya heboh sendiri saling berebut selimut.
"Tuan, apa yang kamu ... Kita lakukan?" tanya Cherry panik.
"Maafkan aku, Cherry. A-ku ... semalam aku, ahh kamu bukanlah yang memancingku dulu? Katakan, siapa yang berani kurang ajar dulu padaku?" Tuan Yasha mencari alasan.
Tiba-tiba suasana menjadi hening, mereka menghentikan aktivitas tarik menarik selimut.
"Ah, baiklah!" teriak Tuan Yasha.
"Oh, astaga. mengagetkan saja," keluh Cherry sampai membulatkan kedua matanya.
"Aku hanya ingin menunjukkan kalau akulah pria yang tidur denganmu enam tahun yang lalu," ujar Tuan Yasha keceplosan.
"Iya tapi kan tidak seharusnya kita melakukan ini. Tuan, aku baru saja selesai datang bulan tiga hari yang lalu. Bagaimana jika aku hamil lagi seperti dulu, hah?" kesal Cherry. "Bukankah itu masa di mana peluang hamil tinggi?" imbuhnya.
"Terus bagaimana?" tanya Tuan Yasha polos. "Baik, kita pikirkan nanti lagi. Tapi sekarang, kita pikirkan bagaimana cara menjelaskan pada Ryujin? Dia melihat kita tadi?" lanjutnya.
Cherry menjadi semakin pusing memikirkannya. Jika Ryujin adalah orang dewasa, akan mudah menjelaskannya. Namun gadis itu masih kecil dan baru saja akrab dengan ayah kandungnya. Cherry hanya tidak ingin merusak hubungan antara Ayah dan putrinya itu. Ia pun meminta Tuan Yasha untuk segera mandi dan dirinya akan mandi di kamar Ryujin.
Apa yang akan mereka jelaskan?
__ADS_1