Desahan Cinta Satu Malam

Desahan Cinta Satu Malam
Mengandung Benih Cinta Tuan Yasha


__ADS_3

Cherry baru saja mengingat sesuatu. Ia melihat ponselnya dan mendapati melewatkan menstruasi sejak datang ke rumah Zinad sampai saat itu. Kemudian, ia juga mengingat jika dua bulan lalu, dirinya melakukan kontak tubuh dengan pria asing yang tidak ia kenali.


"Cher, ada apa?" tanya Frans jadi bingung. "Hei, kenapa diam, sih? Sorry jika pertanyaanku tadi menyakiti perasaanmu. Aku bukan menuduhmu, tapi—"


"Semua mungkin terjadi, Frans," sahut Cherry.


Perkataan Cherry membuat Frans jadi bingung. Ia pun menyeritkan alisnya. "Maksudnya?" tanyanya.


Cherry sudah sangat percaya dengan teman prianya itu. Maka dari itu, Ia pun menceritakan kisah cinta semalamnya dengan pria asing yang tidak ia kenali. Ia juga mengatakan jika ia diminta oleh Frederica—kakaknya Lui, untuk masuk ke ruangan di mana Yasha berada.


"Apa? Jadi kamu dan pria itu ... Cher, kita pulang sekarang dan periksa saja, bagaimana? Jika kamu memang hamil sungguhan, baru kita bisa cari solusi terbaik," usul Frans.


"Tapi aku takut, Frans. Aku mengecewakan keluargaku yang sudah sangat baik padaku. Bagaimana aku akan menjelaskan pada mereka?" Cherry mulai panik.


"Cher, jika kamu mau tau hasilnya. Maka memang sudah seharusnya kamu periksa. Aku akan menemanimu, tenang saja. Semuanya pasti akan baik-baik saja!"


Frans begitu perhatian pada Cherry, melebihi perhatiannya pada Lui dulu. Persahabatan mereka memang sudah sangat lekat, sampai Frans saja tidak tersadar bahwasanya dirinya telah menaruh hati pada gadis yang penuh perjuangan itu.


Gadis itu pun terus berpikir. Sebelumnya ia tak langsung menerima usulan teman prianya. Namun karena tidak ada cara lain, akhirnya mau menerima usulan darinya.


Tanpa menunggu lama, mereka pun kembali dari berbincangnya, lalu makan bersama dengan Zinad dan Sonam. Keduanya melakukan hal terbaik jadi supaya Zinad dan Sonam tidak mengetahuinya.


Setelah makan, barulah Cherry dan Frans berpamitan untuk pulang lebih dulu.


"Loh, ada apa memangnya? Kenapa kalian terburu-buru mau pulang?" tanya Sonam.


"Temannya bilang kalau ada tugas yang harus diselesaikan. Sebenarnya aku sudah katakan kalau bisa diurus nanti saja. Eh, Cherry malah tidak mau menundanya, katanya sayang jika dia harus mengulang lagi," jawab Frans berbohong.


Kebohongan itu membuat Cherry tidak menyangka jika Frans bisa mencari alasan seperti itu. Bodohnya lagi, Zinad dan Sonam pun percaya, mereka mengizinkan Cherry untuk pulang duluan.


"Hmm, baiklah. Kalian pulang dulu saja tidak apa-apa. Jika urusan sudah selesai, bisakah kalian menyusul lagi kesini," ucap Zinad, sambil menyuap.


Cherry dan Frans kompak hanya tersenyum dan mengangguk saja sebagai jawaban.

__ADS_1


"Ada apa dengan mereka?" gumam Zinad, "jadi curiga jika mereka juga memiliki sebuah hubungan yang lebih dari sahabat?" Imbuhnya.


"Kita tidak tahu apa yang terjadi. Semoga saja mereka tetap fokus ke pendidikannya dulu. Akan sangat disayangkan jika mereka terlibat cinta dan merusak fokus mereka dalam belajarnya," sahut Sonam.


"Benar juga. Aku melihat jika adikku yang cantik ini cukup sangat cerdas. Makanya sangat disayangkan jika dia sampai putus di pendidikannya."


•••


Di perjalanan pulang, Cherry dan Frans menjadi hening. Mereka hanya diam saja, bahkan juga tidak saling memandang. Sebenarnya hal itu membuat Cherry begitu tidak tenang dengan perasaannya.


'Perasaan yang buruk sekali, aku benci dengan suasana seperti ini,' batin Cherry.


Ia mulai mual lagi tapi berhasil ia tahan. Perjalanan sedikit membutuhkan waktu lumayan lama. Jadi Frans pun memintanya untuk tidur terlebih dahulu.


"Kamu tidur dulu saja, perjalanan kita masih jauh. Akan aku bangunkan jika kita sudah sampai nanti," pinta Frans.


Cherry hanya mengangguk, namun ia tidak memejamkan matanya. Hanya mengistirahatkan kepalanya bersandar di bahu Frans.


"Nona Cherry!"


Perasaan gugup menyelimuti hati Cherry saat masuk, bahkan kaki dan tangannya ikut gemetar. Frans harus terus meyakinkan Cherry supaya tidak takut dan segera mengetahui hasilnya. Pria ini juga mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Tenang, aku disini ada untukmu. Semuanya akan baik-baik saja, Cher ...."


"Baiklah," Cherry mengangguk tenang.


Meski gugup, Cherry berusaha masuk dengan pikiran tenang. Sekitar beberapa menit, akhirnya ia keluar dengan raut wajah gelisah. Ia segera berjalan mendekati Frans dan mengajaknya bicara di tempat lain.


"Kenapa? Apa hasilnya?" tanya Frans begitu penasaran.


"Sebaiknya kita bicara saja di tempat lain. Aku tidak ingin membicarakan hal ini di sini," jawab Cherry dengan muka pucatnya.


Kemudian Frans pun mengajak Cherry untuk ke rumahnya. Di rumahnya sama sekali tidak ada orang. Akan lebih aman dan Cherry bisa bercerita leluasa di sana. Kembali menempuh perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di rumah Frans.

__ADS_1


Sebelum mereka masuk, mereka memastikan agar tidak ada orang yang mengetahui Frans membawa seorang gadis malam-malam pulang ke rumah untuk menghindari sebuah fitnah.


"Aku ambilkan minum dulu," kata Frans, setelah mereka berhasil masuk ke rumah dengan aman.


Setelah mulai tenang, barulah Cherry mengatakan kenyataan pahit itu pada teman prianya. Apa yang di duga oleh Frans rupanya benar. Cherry hamil dan usianya sudah hampir tiga bulan lamanya jika yang dihitung dari terakhir menstruasi.


Deg!


Deg!


Cherry sangat bingung malam itu. Pikirannya menjadi kacau balau. Takut segalanya dan tak tahu harus bagaimana lagi.


"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Frans. Bahkan aku saja tidak tahu bagaimana bentuk wajah pria itu, lalu dengan siapa aku meminta pertanggungjawaban?" Cherry mulai menangis.


Perasaan Frans jadi sangat sakit melihat sahabatnya seperti itu. Reflek, ia pun memeluk Cherry dengan erat dan berusaha menenangkan sahabatnya itu.


"Cher, kita pasti akan menemukan cara untuk memecahkan semua masalah ini. Kamu tenang saja, aku akan selalu ada bersamamu," lagi-lagi ucapan Frans itu mampu membuat Cherry jauh lebih baik.


Begitu perhatiannya pria itu pada Cherry. Malam itu, bisa-bisanya Cherry tidur di kamar tidur untuk tamu karena takut pulang. Meski begitu, ia masih belum bisa memejamkan matanya. Bagaimana bisa ia tidur tenang, jika dirinya sedang ada dalam masalah yang besar.


Bukan hanya dirinya saja yang akan malu dengan hamil di luar nikah dengan pria asing. Masih ada nama keluarga dan kepercayaan keluarga yang harus ditanggung jawabkan nantinya.


"Bagaimana ini? Apakah aku harus menggugurkan anak ini?" gumamnya.


"Tapi, bukankah itu berarti aku adalah termasuk golongan orang tua yang kejam?"


"Tuhan, kenapa ini bisa terjadi padaku?"


***


Di malam yang sama , Yasha melakukan perjalanan ke luar negeri. Tidak ada yang tahu dirinya akan kembali di waktu yang tepat atau tidak. Namun, semua informasi yang didapatkan dari Asistennya sudah lengkap dan berada dalam genggaman tangannya, genggam dengan erat.


"Cherry Keith," sebut Yasha begitu ingin memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2