
Di Kota, kehidupan Lui masih saja urakan meski semua hidupnya ditanggung oleh Frans. Cinta Frans benar-benar sudah tiada lagi untuk Lui. Frans melakukan itu hanya bersikap selayaknya manusia yang memiliki hati nurani saja. Seorang yang pernah terluka memang sulit untuk membina hubungan dengan orang yang telah membuatnya terluka
"Frans, kamu mau kemana?" tanya Lui yang pagi itu sedang bersantai di ruang tengah rumah Frans.
"Bukan urusanmu!" sahut Frans ketus.
"Frans, kamu ini kenapa, sih? Harusnya kamu tuh mikirin aku, mikirin anak kita! Kenapa selama aku bersamamu, sikapmu selalu dingin begini, Frans?" Lui mulai protes dengan sikap Frans.
Memang, selama bersama sekitar lima bulan terakhir, Frans memperlakukan Lui tidak seperti dahulu. Pasalnya, Frans sudah terlanjur kecewa dan sulit untuk kembali seperti sebelumnya.
"Frans, anak ini anak kamu. Bagaimana bisa kamu seperti ini padaku?"
"Lui, sebenarnya apa yang kamu inginkan? Aku sudah menampung mu di sini sampai anak itu lahir. Ya kalau itu adalah anakku, jika bukan? Siapa yang rugi? Aku, 'kan? Kau seharusnya bersyukur karena aku masih memiliki hati nurani untuk berbuat baik padamu. Apa ini masih kurang?" kesal Frans.
Terjadilah pertengkaran diantara mereka. Selama tinggal bersama, memang tidak pernah ada keharmonisan di antara mereka. Lui masih semena-mena dengan Frans, beranggapan bahwa dirinya memang sepenuhnya adalah miliknya.
Di sisi lain, Frans memperlakukan Lui berbeda dari dulu, karena memang sudah tidak ada lagi rasa yang sama. Demi anak yang tidak bersalah, itu sebabnya Frans mempertahankan Lui di rumahnya.
Usai berdebat, Frans keluar dan pergi ke rumah Cherry. Sudah lama baginya tidak mendatangi Cherry karena selalu dilarang oleh Lui. Frans belum tahu jika Cherry sudah tak lagi di rumah keluarganya sejak lima bulan yang lalu.
"Aku sudah lama tidak kesini. Kandungan Cherry juga pasti sudah besar, bagaimana kabarnya, ya?"
"Sial, selama ini ternyata nomor Cherry di hapus juga oleh Lui. Lui ini bersikap seolah aku adalah miliknya. Huft, ini sangat merepotkan!" keluh Frans.
Frans terus mengetuk pintu rumah Cherry. Berharap Cherry yang keluar, tapi lain kenyataannya malah Zinad yang keluar menemuinya. "Frans? Kamu … kamu datang? Masuklah!" tatapan Zinad seolah terkejut karena Frans baru datang setelah sekian lama.
Zinad mempersilahkan Frans duduk dan meminta pelayan rumah untuk membuatkan minuman. "Cherry kemana?" tanya Frans.
"Kamu—belum tahu kah kalau Cherry pergi dari rumah?"
__ADS_1
"Apa? Pergi dari rumah? Sejak kapan?" tanya Frans mulai panik.
"Kupikir kamu sibuk dengan Lui dan calon anakmu. Sampai Cherry pergi pun kamu tidak tahu. Aku pikir juga Cherry sudah memberitahumu, itu sebabnya kamu tidak datang kemari selama lima bulan terakhir," Zinad sedikit kecewa dengan Frans.
Zinad pun menceritakan semuanya kejadian lima bulan lalu kepada Frans. Betapa menderitanya Cherry harus pergi dari rumah demi nama baik keluarga. Frans sendiri jadi gelagapan, ia menanyakan dimana Cherry berada sekarang dan jawaban Zinad pun tidak memuaskan dirinya.
"Aku tidak tahu dia kemana. Tapi selama ini komunikasi kami lancar. Ini hasil usg dari anaknya yang kemarin dia kirim kepadaku," Zinad menunjukkan hasil usg yang dikirim oleh adiknya.
Hasil usg nya sangat bagus, janinnya sehat dan terlihat menawan. Frans menyalahkan diri sendiri karena tidak ada disaat Cherry kesulitan. Tak lama setelah itu, tiba-tiba saja Lui datang dan menuduh Frans ada main
belakang dengan Zinad.
"Oh, ini yang kamu lakukan di belakangku, Frans? Kamu ada main dengan kakak angkat Cherry ini, hah? Pantas saja kamu memperlakukanku dengan dingin selama ini!" sulut Lui.
"Maksud kamu apa datang-datang dengan marah-marah seperti ini? Kamu waras, 'kan?" Zinad mulai kesal
"Tidak adiknya, tidak kakaknya—sama saja! Tukang rebut laki orang! Lihatlah! Perutku sudah sebesar ini, hamil anak Frans, dan kamu mau jadi orang ketiga diantara kami? Kamu yang sudah tidak waras!" emosi Lui mulai menjadi-jadi.
Plak!
Zinad pun sampai terkejut kala Frans menampar Lui dengan sangat keras.
"Kamu menamparku karena dia, Frans? Karena jalan ini?"
Plak!
Kembali Frans menampar Lui. Saat hendak mendaratkan tamparan ketiga, Zinad menahan tangan Frans dan meminta Frans untuk pulang membawa Lui. "Cukup, Frans. Kamu akan menyakitinya,"
"Apa kamu tidak melihat? Dia memanggilmu jalan, Zinad. Apakah dia juga tidak ingat, jika dia juga ******? Tidur dengan banyak pria dan hamil entah siapa ayahnya?" Frans sudah sangat marah.
__ADS_1
"Dia sedang hamil, emosinya juga pasti tidak stabil. Untuk apa kau seperti ini? Sikapmu ini malah akan membentuk bayi yang tidak bersalah itu menjadi bayi yang memiliki ketakutan akut nantinya," tutur Zinad.
"Sebaiknya, kau bawa saja dia pulang. Datanglah lagi kalau memang kamu ingin menanyakan tentang Cherry,"
"Apa? Bertanya tentang Cherry? Kamu ini kenapa, Frans!" sahut Zinad dengan amarahnya lagi.
Tanpa jawaban apapun, Frans menarik tangan Lui dan membawanya pulang terlebih dahulu. Zinad menghela napas dan merebahkan diri ke sofa. "Huft, sangat melelahkan!"
"Kenapa juga mereka datang di saat seperti ini," gumam Lui lemas.
Tak lama kemudian, Sonam pun datang membawakan makanan ringan untuknya. Sonam mengatakan bahwa dirinya berpapasan dengan Frans di jalan. "Sayang, apakah Frans baru saja datang?" tanya Sonam.
"Heem," Zinad mengangguk.
"Dia juga bersama wanita yang sedang hamil. Bukankah wanita itu juga teman Cherry? Mengapa mereka datang kemari?" lanjut Sonam.
"Sayang, berhentilah bertanya. Aku lelah menghadapi mereka, dan sekarang kamu datang bertanya-tanya juga? Pulang saja jika kamu mau membuat beban di pikiranku!" sulut Zinad memijat kepalanya sendiri.
Sonam langsung duduk, mendekati Zinad dan memijat kepala kekasihnya itu. Pijatan itu membuat Zinad sedikit rileks dan bisa berpikir dengan tenang kembali.
"Bagaimana? Apa sudah mendingan?" tanya Sonam.
Zinad mengangguk. Pijatan itu turun ke bahu dan tak. lama kemudian turun ke tangan dan akhirnya Sonam memeluknya dari belakang.
"Aw, kenapa kamu sangat nakal sekali? Ada bibik di rumah!" bisik Zinad.
Sonam pun melepaskan pelukannya. "Yah, padahal aku sudah ingin sekali. Ya sudahlah, kita makan saja dulu. Lihatlah, apa yang aku bawakan untukmu,"
Sonam dan Zinad memang memiliki hubungan khusus. Selama menjalani hubungan tersebut, keduanya selalu melakukan adegan ranjang yang membuat hubungannya semakin kuat. Sonam tulus dengan Zinad. Begitupun dengan Zinad yang tergila-gila dengan Sonam. Zinad juga menerima anaknya Sonam dengan baik. Memperlakukan anaknya Sonam selayaknya anak sendiri. Mereka juga selalu jalan bersama di kala ada waktu senggang.
__ADS_1
Selesai makan, Zinad meminta pelayan rumah untuk membelikannya makanan ke luar. Itu Zinad lakukan demi bisa bersama dengan Sonam lebih intim lagi di kamarnya. Pelayan rumah pun mengikuti apa yang Zinad mau, ia segera pergi meninggalkan Zinad dan Sonam di rumah berdua. Uhu, apa yang akan terjadi?