
Malam yang dingin seperti udaranya menusuk sampai tulang. Di kamar yang sunyi sepi, hanya terdengar suara detik jam saja. Malam itu, Cherry masih terjaga dan memikirkan sesuatu yang selalu membuatnya kepikiran sejak keluar dari tempat kerjanya.
"Suara Tuan Yasha itu ... kenapa tidak asing terdengar di telingaku, ya? Seperti pernah dengar gitu, tapi di mana?" gumamnya.
"Suaranya itu ..."
Cherry berusaha terus mengingat, ia merasa tidak mungkin salah mengingat tentang Tuan Yasha. Saat ingatannya mulai kembali, ia baru sadar jika Tuan Yasha itu pernah bertemu dengannya di hotel.
Malah itu yang ada di ingatan Cherry.
"Ah, iya! Lima tahun lalu, kita pernah bertemu di hotel!" serunya. "Pantas saja suaranya dan perawakannya tidak asing. Wong sudah pernah bertemu, kok!"
Ternyata, Cherry tidak ingat jika dirinya pernah bergelut di atas ranjang dengan pria berusia 35 tahun itu.
"Hahaha, pantas saja, kan? Bisa-bisanya aku sampai melupakan hal itu. Bahkan juga dia sempat menarik tanganku,"
Di sisi lain, Tuan Yasha sendiri juga tidak bisa memejamkan matanya. Ia teringat terus dengan bayangan wajah imut Cherry dengan senyum manisnya. Berharap, ia segera menemukan cara untuk bisa keluar dari jerat wanita itu yang telah membuatnya tak leluasa berhubungan dengan wanita lain.
"Ash! Sial! Mengapa harus dia?" gumamnya.
"Wanita kecil, anak kecil, masih berusia 23 tahun. Berarti dulu ketika aku tidur bersama dengannya, dia sedang berusia 18 tahun? Astaga … Yasha, Yasha, kau adalah seorang yang mesum, dasar pedofil!"
Tuan Yasha terus menyalahkan dirinya sendiri. Sangat menggelikan dalam pikirannya bahwa dirinya bercinta dengan anak di bawah umur—lima tahun yang lalu.
Malam panjang bagi keduanya itu terasa sangat sebentar. Mereka baru saja terlelap dan tiba-tiba sudah pagi saja.
***
Hari itu, hari pertama Cherry bekerja di perusahaan besar. Zinad dan Ryujin menyiapkan sarapan khusus untuknya.
"Pagi, Mamiku yang cantik," sapa Ryujin dengan manis.
"Pagi, Sayangku. Sudah rapi saja, mau sekolah, ya?" sahut Cherry, membalas dengan ciuman di pipi putrinya.
"Aku buatin Mami sarapan. Semoga Mami suka, ya ...." ucap Ryujin memberikan piring yang berisikan pancake dengan taburan gula halus dan potongan stroberi di atasnya.
__ADS_1
"Wah, terima kasih cintaku, anak Mami yang paling manis. Kamu pengertian sekali, Nak," Cherry terharu dengan usaha niat baik putrinya itu.
Dengan lucunya, Ryujin mengatakan bahwa Zinad lah yang membantunya membuat pancake tersebut. Dirinya hanya membuat adonan dan menghiasi saja. Gadis kecil itu memang selalu berkata jujur.
"Pagi-pagi sekali dia sudah membangunkan aku. Memaksaku untuk membuatkan sarapan untuk Maminya," sahut Zinad keluar dari dapur. "Lihatlah betapa cerahnya wajahnya yang kecil itu. Tak sabar ingin melihat Maminya tersenyum bahagia," imbuhnya, meletakkan sarapannya di atas meja.
"Aaaa, terima kasih, Sayang. Terima kasih juga untukmu, Kak. Kalian baik sekali padaku, aku jadi terharu," ucap Cherry dengan mata berkaca-kaca.
Bahagianya Cherry memiliki keluarga yang selalu mendukungnya. Kakak yang menyayangi dirinya, bahkan bisa terbilang menyayangi Cherry lebih dari menyayangi dirinya. Di tambah lagi, memiliki seorang putri yang sangat perhatian kepadanya.
"Kamu manis sekali, Mami jadi merasa bersalah tidak merawatmu sejak kamu bayi. Maafkan Mami, ya ..." kaya Cherry menggenggam tangan mungil Ryujin.
"Mami, sudahlah. Mami tidak bisa merawatku karena Mami sedang belajar. Nenek dan Kakek merawatku dengan baik, tapi aku jajan juga menggunakan uang Mami. Jadi, Mami jangan merasa bersalah, aku tau kalau Mami juga tidak ingin jauh dariku," ungkap Ryujin begitu dewasa dengan menyentuh pipi ibunya.
Zinad merasa terharu melihat pasangan Ibu dan anak so sweet itu. Pandangan mata Zinad, kedua gadisnya itu memang sangat mirip. Mereka memiliki sifat yang legowo dan selalu berpikir positif. Zinad hanya takut, keponakannya akan mudah dibodohi oleh orang lain seperti ibunya dulu, ketika dibodohi oleh wanita yang dinamakan sahabat—Lui dan Max, mantan kekasihnya.
"Ryu, nanti kalau di sekolah, kamu jangan sembarangan berteman sama teman sekolahmu, ya," kata Zinad, memberinya nasihat.
"Kakak, kenapa begitu bicaranya? Biarkan saja Ryu berteman dengan siapa saja. Bukankah itu akan bagus jika dia memiliki banyak teman?" tanya Cherry, polos.
"Aku tidak ingin ada Cherry dua. Sudahlah, kalian makan dulu. Sudah hampir terlambat untuk berangkat bekerja dan sekolah,"
Sampai ia harus kehilangan harga diri dan mahkotanya demi sebuah uang. Padahal jika bekerja paruh waktu juga banyak sekali tempatnya. Malah ia termakan ajakan manis dari Lui dan kakaknya—Frederica. Belum lagi memiliki pacar seperti Max yang menjadikannya pelacur untuk keuntungannya sendiri.
***
Usai sarapan, Zinad mengantar keduanya ke kantor dan sekolahan. Ia terlalu menyayangi adik dan keponakannya tercinta. Hanya mau melakukan apapun untuk membuat keduanya bahagia. Hidup selama 19 tahun, ia selalu sendirian dan tak pernah mendapat kesempatan membahagiakan keluarga. Hidup sebagai anak tunggal juga selalu merasakan kesepian dalam hidupnya.
Hadirnya Cherry sudah membuatnya sangat bahagia. Ditambah lagi sekarang adanya keponakan yang lucu, membuat Zinad merasa tak kehilangan momen masa kecil bersama Cherry. Zinad masih membuka cefe nya. Selain kuliah dulu, ia juga fokus meniti karir kulinernya. Kini, semuanya juga sudah memiliki banyak cabang di Kota itu.
***
Di kantor, Cherry segera masuk ke ruangan Tuan Yasha. Ketika ia hendak masuk, Sekertaris Sarah mencegahnya. "Kamu siapa?" tanyanya.
"Oh, perkenalkan—nama saya Cherry Keith saya datang kemari atas perintah Tuan Yasha," jawab Cherry memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Apa kamu datang untuk wawancara?" tanya Sekertaris Sarah lagi.
"Tidak, saya sudah melakukan wawancara kemarin," jawab Cherry percaya diri.
Sekretaris Sarah mengamati Cherry dari atas sampai kebawah. Merasa jika dirinya tidak pernah mewawancarainya kemarin. "Aku rasa ... kemarin aku belum mewawancarai dirimu. Lantas, siapa yang mewawancaraimu?" tanyanya.
"Tuan Yasha!" jawab Cherry dengan lantang.
Seketika membuat Sekertaris Sarah tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak tertawa, Sekertaris Sarah memang tidak pernah melihat Tuan Yasha mewawancarai calon karyawannya. Itu juga bukan pekerjaannya untuk mewawancarai.
"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Cherry bingung.
"Kamu," jawab Sekretaris Sarah kembali dingin.
"Saya?" tanya Cherry polos.
"Tentu saja, siapa lagi?" sahut Sekretaris Sarah.
Helaan nafas panjang itu terdengar jelas jika Sekertaris cantik itu tidak percaya dengan pernyataan Cherry yang diwawancarai eh Tuan Yasha.
"Kamu bilang, kamu di wawancarai oleh Tuan Yasha, 'kan? Kamu menghayal, kah? Tuan tidak bekerja untuk mewawancarai karyawan. Lagipula, jika kamu sudah diwawancarai, lalu dimana id card-mu?" Sekretaris Sarah menanyakan hal penting.
Benar, tanpa id card memang karyawan atau tamu tidak bisa masuk sembarangan ke perusahaan. Lantas, mengapa Cherry bisa masuk sesuka hati? Sekretaris Sarah juga mempertanyakan hal tersebut. Namun, sebelum Cherry bisa menjawab, Asisten Melvin datang tepat waktu.
"Selamat pagi," salam Asisten Melvin, ramah sekali.
"Pagi juga, Asisten Melvin," jawab Sekretaris Sarah, merasa sok manis.
Sifat yang berubah drastis itu membuat Cherry tidak heran lagi. Seketika ia teringat dengan perkataan kakaknya di rumah. Zinad mengajarkan bahwa di kantor, pasti akan banyak orang yang memiliki wajah tak cukup satu saja. Di depan baik, dan di belakang buruk. Ada juga yang menjadi penjilat dan suka semaunya sendiri.
"Nona Cherry, mengapa Anda datang sepagi ini? Tuan akan datang jam 10 nanti, dan ini baru jam 8. Apakah, sebelumnya Tuan belum mengatakannya?" tanya Asisten Melvin.
"Apa? Jadi dia ini memang di wawancarai oleh Tuan?" tanya Sekertaris Sarah terkejut. Dia seolah-olah tak percaya jika Tuan Yasha sendiri langsung mewawancarai karyawan.
"Iya," jawab Asisten Melvin singkat.
__ADS_1
'Sialan! Eh, mengapa bisa seperti ini? Ada apa ini? Kenapa Tuan Yasha malah turun tangan sendiri? Apakah kinerjaku buruk atau memang wanita ini yang lanjang (di balik)?" batin Sekertaris Sarah mulai panas.
Semakin panas ketika Asisten Melvin mengajak Cherry untuk menemui Tuan Yasha secara langsung di apartemennya. Ini bukan di kantor lagi, tapi langsung mengundang karyawan baru seperti Cherry ke apartemen pribadinya yang di mana tidak ada yang diperbolehkan masuk sembarangan.