
Cherry terbangun dengan mandi keringat. Tidak menyangka jika dirinya akan kembali bermimpi itu lagi. Ia tahu jika mimpi itu adalah ingatannya. Hanya saja, ingatannya kali itu terlihat lebih jelas dari sebelumnya.
"Mimpi itu semakin jelas. Ada apa, ya? Pria itu juga menyebut nama perempuan, Arletta. Siapa dia?" gumam Cherry, mengusap keringat yang mengalir dari pori-pori kulit keningnya.
Tring…
Nama kakaknya lah yang tersemat menelponnya.
"Iya, Kak?"
'Kamu di mana? Kami sudah menunggu di cafe sebelah,'
"Oh, baiklah. Aku akan segera datang. Sebentar, aku harus mandi dulu, oke?" jawab Cherry.
'Cepatlah! Kami masih menunggumu di sini!'
Cherry segera mempersiapkan diri dan segera turun menemui semuanya. Ketika keluar dari kamarnya, ternyata Yasha—pria yang ia tabrak siang tadi menginap di sebelah kamarnya.
'Lah, pria itu ternyata menginap bersebelahan kamarku? Astaga, kenapa aku malah merasa tidak asing dengannya, ya?' gumamnya dalam hati.
Berjalan dengan pelan, Cherry memukul kepalanya sendiri, "hais, lupakanlah! Semuanya sudah menungguku di cafe. Aku tidak boleh terlambat!" serunya.
Di sisi Yasha, ia sangat mengenali Cherry dengan jelas. Melihat wanita itu membuat Yasha kembali teringat kejadian malam dua bulan lalu.
"Aku tidak menyangka saja, aku bisa kembali bertemu dengan wanita malam itu," Yasha bergeming, menatap kepergian Cherry yang terlihat terburu-buru.
Lamunannya dikejutkan oleh asisten pribadinya—Melvin. Sang asisten bertanya, "Tuan, apa perlu saya mencari informasi tentang wanita itu?"
Yasha menyeritkan alisnya. Pria itu sebenarnya tidak peduli dan pertemuan keduanya bersama wanita yang tidur dengannya 2 bulan lalu. Namun seperti ada magnet yang menarik Yasha untuk peduli pada Cherry.
"Baiklah, kau bisa selidiki dia. Jangan sampai ada informasi sedikit saja yang terlewat," perintahnya.
"Baik, Tuan!"
Diketahui, kenyataan setelah Yasha berhubungan badan dengan Cherry, pria itu tak mampu lagi melakukan hubungan badan dengan wanita lain. Setiap dirinya sedang bercumbu dengan wanita lain, pasti selalu teringat dengan ******* ******* kecil Cherry dan wajah manisnya itu.
**
__ADS_1
*
Bianca sampai di cafe. Mereka bertiga sudah menunggunya dengan raut wajah yang tidak baik. Akan tetapi, dengan tanpa rasa bersalahnya, Cherry datang dengan senyum polos serta tingkah laku yang konyol.
"Um, Tuan putri kita sudah datang. Tidur panjang, Non?" ledek Zinad, menarik kursi sebelah untuk diduduki sang adik.
"He-he-he, maaf," Cherry hanya tertawa saja. "Wah, banyak sekali makanannya!" serunya.
"Lihatlah dia, merasa tidak bersalah karena sudah terbuai dengan makanan yang tersedia untuknya," imbuh Zinad.
Semua pun terkekeh melihat reaksi wajah Cherry yang begitu dimanjakan oleh Kakak perempuannya. "Ayolah, Cher. Ini makanan memang dipesan hanya untukmu," celetuk Frans.
Tentu saja membuat Cherry jadi melongo. "Serius untukku?" tanyanya dengan mulutnya berbentuk o lebar.
Sonam pun mengangguk, "iya, yang ini di pesan oleh Kakakmu. Katanya ini menu yang paling kamu sukai. Ayo, makanlah," sahutnya.
"Uwu, very sweet. Thank you, my beautiful sister!" sanjung Cherry pada kakaknya.
Zinad menyentil dagu sang adik, "sama-sama adikku yang baik. Ayo, makanlah selagi masih hangat,"
Jika sudah menyangkut makanan, Cherry memang semangat. Wanita ini sangat menghargai makanan karena teringat ketika dulu masih kecil ia sering kesusahan untuk mendapatkan makanan enak.
Huek … Huek …
Semua menjadi panik ketika Cherry mual tapi tidak muntah begitu menghirup aroma makanan kesukaannya.
"Cher, kamu kemana?" saat itu yang duduk paling dekat dengan Cherry adalah Frans. "Kamu masuk angin atau gimana?" Tanyanya lagi.
"Jangan-jangan dia kecapekan. Bagaimana jika aku mengantarmu ke rumah sakit terdekat saja?" Zinad begitu khawatir.
"Ini pantai, bagaimana mungkin ada rumah sakit terdekat dari sini?" timpal Sonam.
Cherry terus memegangi perutnya. Ia bergumam jika tadi siang masih baik-baik saja dan tiba-tiba menjadi tidak selera makan, padahal perutnya sudah keroncong.
"Mengapa selera makanku jadi hilang begini?" gumamnya. "Aku sangat lapar padahal," imbuhnya dengan wajah memelas.
Yasha melihat dari kejauhan. Usianya memang sudah jauh dewasa dari usianya Cherry, ia pun menduga jika wanita yang pernah tidur dengannya itu sedang hamil. Menjadikan Yasha teringat akan cinta satu malamnya bersama gadis yang baru saja mulai bahagia itu.
__ADS_1
"Ck, menyebalkan!" desis pria itu.
Tanpa di paksa, naluri Yasha tiba-tiba saja membuatnya mendatangi Cherry dan langsung mengajaknya pergi dari meja makan. Sontak, perlakuan Yasha membuat semua orang yang satu meja dengan Cherry terkejut.
"Ikutlah denganku!" seru Yasha, sedikit memaksa menarik tangan mungil Cherry.
"Maaf, Anda siapa, ya?" tanya Zinad, menjadi lebih panik dari sebelumnya. "Mengapa Anda memegang tangan adik saya?" imbuhnya dengan nada ketus.
Yasha menatap wajah pucat Cherry, sangat jelas jika wajah itu adalah wajah wanita yang ia tiduri dua bulan lalu. Sebelum menyatakan siapa dirinya, Asistennya datang dan memberikan kabar bahwa ada masalah dengan perusahaan di luar negeri dan dirinya harus segera ke sana.
"Tuan!" Asisten Melvin berbisik, "ada kabar bahwa—"
"Apa? Baiklah, ayo kita segera ke sana!"
Yasha melepaskan tangan Cherry dan pergi begitu saja. Melihat itu, baik Cherry, Zinad, Frans dan Sonam hanya saling menatap. Jika dipikir lagi memang begitu mengherankan karena tiba-tiba seorang pria datang menarik tangan Cherry dan memaksanya ikut dengannya. Lalu pria itu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.
"Siapa pria itu, Cher?" tanya Sonam.
"Saya sendiri juga tidak tahu, Kakak Bos," jawab Cherry juga masih bingung.
"Yakin, kamu tidak kenal dengannya? Dia sempat menggenggam tanganmu, loh!" timpal Zinad.
"Serius aku tidak mengenalnya!" jawab Cherry dengan yakin.
"Cher, ikut denganku!" Frans yang sedari tadi diam, tiba-tiba mengajak Cherry keluar dan membicarakan masalah sebelumnya.
Cherry mengerti, dia pun meminta izin kepada kakaknya untuk bicara sebentar dengan Frans. Sebagai sahabat, Frans sedang memikirkan sesuatu yang mengganjal di saat sahabatnya itu mual dan hilang selera makan beberapa waktu lalu.
"Frans, ada apa?" tanya Cherry penasaran.
"Kapan kamu terakhir menstruasi?" tanyanya.
Pertanyaan aneh itu malah membuat Cherry tidak paham Bagaimana tidak heran, tiba-tiba saja teman prianya menanyakan kapan terakhirnya mengalami menstruasi.
Cherry sedikit melangkah jauh dari Frans. Tatapan mata yang tajam itu menandakan jika dirinya tidak paham dengan pertanyaan teman prianya.
"Maksudnya apa, sih?" tanya Cherry menyulut.
__ADS_1
"Aku melihatmu mual dan mengalami hilang selera tadi. Cher, aku takut jika kamu hamil, ini karena aku juga pernah melihat Mamaku seperti ini," lanjut Frans.
"Sorry, Cher. Hmm, bukan maksudku hendak menuduhmu yang tidak-tidak, tapi ... jika ini diketahui oleh kakak dan orang tuamu, mereka pasti akan kecewa padamu," Frans sangat baik sekali sampai memikirkan sejauh itu.