Desahan Cinta Satu Malam

Desahan Cinta Satu Malam
Cherry's Story


__ADS_3

'Kau pikir aku bodoh, hah? Kau putri orang kaya, pengusaha ternama di luar Negri pula. Masa masih memelas begini?' umpat Tuan Yasha dalam hati.


Tuan Yasha malah kesal sendiri dengan kebodohan Cherry. 'Haih, orang seperti apa dirimu ini Cherry. Kenapa aku juga sulit sekali menolakmu,'


Cherry masih diam, dia hanya tidak ingin memperkeruh suasana dan menjadi orang sok pintar di depan Bosnya yang memiliki pengalaman jauh lebih banyak darinya.


"Bangunlah!" pinta Tuan Yasha.


"Makan dulu makan siangmu ini. Setelah kita kenyang nanti, baru pikirkan hukuman apa yang pantas untukmu," ucap Tuan Yasha menarik lengan Cherry supaya bisa berdiri.


Masih dengan keadaan canggung, Cherry makan dengan lahap makanan yang dibawakan oleh Asisten Melvin sebelumnya. Itu kali pertama bagi seorang Tuan Yasha makan bersama dengan wanita lain, kecuali memang wanita yang sudah diatur untuk kencan buta dengannya.


Melihat Cherry makan dengan lahap, seketika mengingatkan dia dengan mantan kekasihnya yang telah lama pergi.


'Kenapa aku terus mengingat dia? Aku melihat dia dalam wanita ini. Ada apa ini? Apa hubungan wanita ini dengannya?' rupanya pria angkuh ini terus bergelut dengan hatinya.


Wanita yang pernah singgah di hatinya, meski sudah lama pergi, masih saja tetap duduk manis di tempat. Tuan Yasha mulai merasa sebak dengan ingatan masa lalunya.


'Selama ini aku jarang sekali mengingatnya. Tapi hadirnya wanita ini malah mengingatkan aku padanya. Ini sangat mengganggu!'


"Tuan, apa anda tidak suka sayur buncis?" suara Cherry memecah lamunan Tuan Yasha. "Hmm, bagaimana jika kita bertukar?" sambungnya.


"Begini, saya akan memakan sayur buncis itu ... lalu Tuan makan kentang ku. Aku tidak suka kentang soalnya," celetuk Cherry sudah mengambil sayur buncis dari kotak makan Tuan Yasha.


"Ak—"


Bibir Tuan Yasha terasa terkunci ketika ingin menolak Cherry yang saat itu sudah menukar sayur buncisnya dengan sayur kentang miliknya.


"Sejak kapan aku menyetujui pendapatmu ini? Ini terdengar kamu bukan bawahanku, melainkan temanku. Apakah aku serendah itu?" Protes Tuan Yasha mengalihkan pikirannya tentang buncis dan kentang.


Nyali Cherry jadi ciut, dia seketika terdiam. Kemudian kembali meminta maaf. "Maaf, Tuan. Saya sudah terlalu lancang. Tapi serius, ketika bersama dengan Tuan, saya merasa kalau kita ini memang teman lama, ada hawa akrab seperti itu,"


"Nona Keith, apa kamu sudah lelah menjadi pelayanku?" tanya Tuan Yasha.

__ADS_1


"Aaaa, tidak! Saya masih semangat bekerja. Saya akan diam! Silahkan Tuan makan lagi," segera Cherry melahap sayur buncisnya dengan lahap.


Melihat tingkah Cherry yang seperti anak kecil itu membuat Tuan Yasha tersenyum. Seketika, pandangan mata pria ini menjadi hangat pada wanita yang telah melahirkan putrinya.


"Kamu mau menyebut dirimu dengan sebutan 'aku' juga tidak masalah, Nona Keith. Lagipula, kamu juga bukan karyawan resmi di perusahaan ini," ujar Tuan Yasha disela-sela makan siang.


"Lalu, jika saya bukan karyawan resmi di perusahaan ini ... jadi saya ini karyawan seperti apa? Karyawan lepas gitu? Memang ada hal seperti itu?" Pertanyaan Cherry memang tidak terkira.


"Kamu adalah Asisten pribadi, pelayananku. Kamu sama halnya dengan Asisten Melvin. Jadi, bukan karyawan resmi. Itu sebabnya kamu tidak memiliki id card, tapi bisa masuk sesukamu di perusahaan ini, paham?" terang Tuan Yasha.


"Terus jika putriku bertanya, 'Mami, apa posisi kerja Mami di perusahaan besar itu?' lalu, saya harus jawab apa, Tuan? Masa iya saya jawab kalau saya ini adalah pelayan pribadi Tuan. Apakah dia tidak malu jika ditanyai di sekolahnya tentang pekerjaan ibunya?" Cherry menjadi murung.


Tuan Yasha merasa iba lagi. Ia pun mengatakan bahwa Cherry bisa menjawab bahwa dirinya menjadi Asisten pribadi dari pemilik perusahaan. Supaya terlihat berkelas.


"Apa anakmu itu sangat penting bagimu?" tanya Tuan Yasha.


"Tentu saja! Dia sangat, sangat penting. Saat ini dia adalah penyemangat bagiku," jawab Cherry bersemangat.


Mungkin memang takdir mereka. Cherry sendiri juga malah mengatakan dengan lantang tanpa saringan tentang masa lalunya. Kisah yang begitu rumit, akan di mulai hari itu.


"Saya merasa bahwa ayah kandung dari putri saya masih ada. Ini memang bukan sepenuhnya salah saya, Tuan," ungkap Cherry, mulai mengingat masa lalu.


"Dulu ketika usia saya menginjak belasan tahun, tepatnya 5 tahun yang lalu, saya bekerja di salah satu bar dengan penutup mata. Entah kenapa aku malah diminta melayani seorang laki-laki, di mana laki-laki itu sedang mabuk juga," Cherry mulai bercerita.


"Saya tidak ingin menyalahkannya. Mungkin memang dia mengira kalau saya ini adalah orang lain, karena ketika kami melakukan hubungan ranjang itu ... Pria itu terus saja menyebut nama Aletta," sambung Cherry, mulai lirih.


Begitu mendengar nama mantan kekasihnya di sebut, membuat Tuan Yasha jadi terkejut.


"Sebenarnya saya sempat menarik liontin yang ada pada lelaki itu. Dengan harapan ... suatu saat nanti putri kecil saya bisa bertemu dengan ayah kandungnya," lanjut Cherry mengepalkan tangannya.


Tuan Yasha terdiam. Ia baru sadar jika liontin miliknya memang hilang sejak lama. Namun ia tidak menyangka jika Cherry lah yang mengambil liontin tersebut. Liontin itu dibuat khusus untuknya dari Ibu kandungnya.


"Apa kamu tidak mau menuntut pria itu? Zaman sudah canggih, kamu bisa menggunakan publik untuk mengungkap pemilik dari liontin itu, bukan?" Tuan Yasha mengetahui isi hati Cherry.

__ADS_1


Cherry pun menggeleng. "Tidak!" jawabnya.


"Saya tidak bisa melakukan hal itu, Tuan," lanjutnya menatap Tuan Yasha.


"Kenapa? Kamu bisa mendapat keuntungan dari hal itu, bukan?" tanya Tuan Yasha lagi.


Kembali Cherry menggelengkan kepala.


"Hm, saya sempat mendengar dari seorang pelayan lain juga. Pria yang tidur dengan saya malam itu adalah orang yang ternama. Saya tidak ingin membuat namanya menjadi hancur, jelek ataupun buruk di mata publik. Saya tidak sejahat itu, Tuan. Saya tahu dia juga melakukan itu dengan tidak sengaja," ungkap Cherry lesu.


Nafas panjang itu menandakan jika Cherry memang sudah berdamai dengan takdirnya. Kehidupannya yang sebenarnya sudah hancur sejak 6 tahun yang lalu, tetap tidak membuat dirinya gentar karena sudah bisa melahirkan seorang putri yang cantik seperti Ryujin.


"Jadi, saya anggap ini hanyalah sebuah kecelakaan. Tapi bohong jika saya bisa lupa dengan kejadian malam itu. Sekuat tenaga, saya akan melupakan kejadian malam itu, meski sulit," Cherry masih bisa tersenyum.


Tuan Yasha menjadi merasa bersalah pad Cherry. Ia berpikir Cherry adalah wanita yang sangat baik dan lembut. Ia semakin tidak tega jika hanya memanfaatkan keadaannya saja.


"Jadi selama kamu hamil, kamu pergi kemana?" tanya Tuan Yasha lagi.


Siang itu, Cherry dengan mudahnya menceritakan semuanya pada pria yang telah merenggut hal berharganya. Cherry menceritakan bagaimana hidupnya sejak kecil, kemudian mengetahui bahwa orang tua yang merawatnya sejak bayi bukanlah orang tua kandungnya.


Lalu, ia juga bercerita bagaimana pertemuannya dengan keluarga kandungnya setelah terlibat cinta satu malam dengan Tuan Yasha. Ia juga mengatakan bahwa dirinya hidup sederhana ketika hamil, ia tidak ingin mencoreng nama baik keluarganya sendiri juga.


Tak terasa Cherry bercerita tentang perjalanan hidupnya sampai sore hari. Sampai bel kantor berbunyi, tanda jam kerja sudah habis. "Maaf, Tuan. Saya banyak bicara sampai Tuan tidak bekerja," sesalnya.


"Memang, kamu telah membuang waktu kerjaku. Jadi, sebagai hukumannya—kamu boleh pulang lebih awal hari ini. Aku akan makan malam di luar hari ini, jadi kamu tidak perlu memasak untukku, ujar Tuan Yasha dengan santai.


"Tuan, Anda tidak marah, 'kan? Saya akan melakukan apapun untuk menebus waktu 4 jam terakhir anda, Tuan!" Cherry takut jika dirinya sampai kehilangan pekerjaannya.


"Pulanglah. Ini hari pertamamu bekerja. Jadi besok saja lemburnya, oke? Aku juga akan menghadiri pertemuan malam ini. Jangan lupa, aku dan kamu hanya bisa digunakan ketika kita berdua saja. Jika ada karyawan lain selain Asisten Melvin, kamu harus bicara formal padaku, mengerti?"


Cherry mengangguk senang. Ia segera merapikan diri dan bersiap untuk pulang bertemu dengan putri kesayangannya. Meski Tuan Yasha memintanya untuk bicara nonformal, tetap saja Cherry tidak bisa melakukan itu.


Baru pertama kali bekerja, tidak mungkin ia ingin bersikap kurang ajar pada Tuannya sendiri. Senyum manis Cherry tersemat begitu Tuan Yasha mengizinkan ia pulang lebih awal.

__ADS_1


__ADS_2