Desahan Cinta Satu Malam

Desahan Cinta Satu Malam
Mantan Meresahkan, dan Mimpi Desahan Itu


__ADS_3

Lelaki itu hanya perlu menuruti apa yang dikatakan Cherry. Saat itu, memang hanya Cherry yang baik padanya. Beruntung sekali Frans belum menghapus semua pesan dan bukti tentang perselingkuhan mangan kekasihnya itu.


"Asal kalian tahu saja. Gadis yang sedari tadi berceloteh dan menyalahkan kami ini, dia tak lebih buruk dari seorang pecundang!" seru Cherry, menunjuk Lui.


"Apa maksudnya?"


"Iya, apa maksudnya?"


"Aku juga tidak tahu,"


"Gadis ini bernama siapa tadi, Lui? Hmm, seperti pernah dengar,"


Beberapa dari mereka mulai bergumam.


"Kami bersahabat sudah cukup lama. Tapi tak kusangka dia pun akan mengkhianati diriku. Suatu hal yang menjijikkan dan membuatku ..." ucapan Cherry terhenti, air matanya mulai mengalir.


Sakit itu memang tak bisa Cherry tutupi lagi. Kekecewaan kepada sahabatnya yang malah menuduhnya selingkuh dengan mantan kekasihnya membuat Cherry tidak bisa lagi mempertahankan hubungan persahabatannya.


"Tapi tidak lagi. Aku sudah sangat kecewa dengannya. Aku selalu membantunya dalam segala hal. Sampai hati kamu memfitnah diriku, Lui!"


"Kotor sekali hatimu itu!" kekesalan Cherry dilepaskan dengan air mata yang mulai bercucuran.


Malam itu juga Cherry membongkar semua perilaku tak terpuji sahabatnya. Semua perselingkuhannya dibongkar dan diceritakan di depan umum. Kemudian kenyataan yang dilakukan ketika Lui memaksanya menjadi seorang pelayan di club' malam, juga Cherry beberkan malam itu. Hatinya sudah sangat sakit ketika terus di fitnah. Pada kenyataannya, Lui sendiri lah melakukan perbuatan buruk tersebut.


Semua sudah jelas, orang-orang di sana percaya dengan apa yang dikatakan oleh Cherry dengan bukti bersamanya. Lui kemudian pergi begitu saja.


Beberapa orang di sana juga menyoraki kepergian Lui yang diiringi rasa bencinya terhadap Cherry. Beberapa orang disana yang sebelumnya memukul Frans juga mulai meminta maaf.


Ada kalanya, persahabatan itu, ada yang memendam perasaan, cinta dalam diam sebuah hubungan persahabatan biasanya akan menjadi petaka bagi suatu hubungan tersebut.


"Maafkan aku," ucap Cherry, ketika mengoles salep di bagian lebam Frans.


"Untuk apa kamu meminta maaf?" tanya Frans dengan suara lembut.


"Ya, jika kamu tidak menjemputku dari acara ulang tahun putrinya bos Sonam, maka hal seperti ini tidak akan pernah terjadi," sesal Cherry, lirih.


"Sudahlah, memang dia saja yang memiliki temperamen buruk," sahut Frans. "Aku jadi tahu sifat aslinya. Selama ini ternyata aku sudah dibutakan kecantikannya saja. Apalagi mulut manisnya yang bagaikan racun itu." tukasnya.


Tak dapat dipungkiri lagi, kekecewaan di wajah Frans begitu nampak jelas. Mulai saat itu, Cherry juga tak akan lagi mengungkit masalah Lui di depannya.


Selama di jalan pulang, Frans mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh mantan kekasihnya tentang Cherry benar-benar salah. Lui mengatakan jika Cherry adalah seorang gadis yang sangat buruk. Siapapun pria yang menanyakan tentang Cherry, pasti selalu dijawab ketus oleh Lui.


"Sekarang aku tidak peduli lagi apa yang dia katakan tentang diriku. Seburuk apapun dia dan seburuk apapun aku, karena itu akan menemui tujuannya masing-masing," tutur Cherry.

__ADS_1


"Um, aku tidak memintamu untuk mampir, ya. Ini sudah sangat larut. Malam ini aku akan tidur di rumah ini dulu, besok aku sudah tinggal di rumah Kak Zinad," lanjut Cherry, tidak tahu mengapa dia menjelaskan hal itu.


"Haha, tenang saja. Aku paham akan itu, kok. Besok pagi, aku akan menjemputmu lagi," papar Frans, dengan senyum menawannya. "Mulai saat ini, kita adalah sahabat, bagaimana?" lelaki itu juga menawarkan sebuah persahabatan.


la juga mengulurkan tangannya sebagai bukti bahwa dirinya serius mengajak Cherry berteman.


Sejenak, Cherry pun berpikir akan tawaran persahabatan tersebut. Tak lama kemudian, ia meraih dan menjabat tangan Frans dan menerima persahabatan itu.


***


Pada tengah malam, Cherry mulai kembali bermimpi aneh tentang malam di mana ia menjadi pelayan dan menjalani cinta satu malam bersama seorang pria kaya.


'Jangan lepaskan, aku ingin mengakhiri dengan yang nikmat bersamamu—'


******* demi ******* terdengar sangat jelas di mimpi itu. Cherry bermimpi berada ditempat yang sama, kemudian melihat dua orang yang tak lain adalah dirinya, sedang bercinta dengan seorang pria yang disebut Tuan kaya itu.


"Siapa pria itu? Mengapa aku tidak bisa melihatnya dengan jelas? Wajahnya begitu samar aku pandang," gumam Cherry terus mengusap matanya, berusaha mendekati dua orang yang sedang beradegan ranjang itu.


"Uh, tolong—Tuan,"


"... jangan seperti ini, kumohon lepaskan aku,"


"Ini sangat—sangat ...." ucapan Cherry jelas terhenti ketika bibir seksi pria itu menjamah telinganya.


Alarm berbunyi, menghancurkan semua mimpi Cherry yang belum sempat ia lihat siapa pria itu. Gadis ini terbangun dengan sekujur tubuh berkeringat.


"Siapa pria itu?"


"Kenapa sampai sekarang, aku belum bisa menemukan pria itu?"


"Jantungku kembali berdebar? Sialan!"


Cherry tidak memiliki bukti kuat untuk mencari siapa pria itu. Dia hanya mengingat suaranya, lekuk tubuhnya dan goresan luka di lengan kirinya. Selain itu, Cherry tak tahu apapun mengenal pria itu karena matanya tertutup kain. Berbeda dengan pria itu, yang sadar bagaimana wajah Cherry malam itu.


"Lupakan! Aku harus segera ke kampus,"


Segera Cherry beranjak dari ranjangnya.


Pagi itu, Cherry ada jadwal kuliah. Dia harus meminta izin pada Zinad—pemilik restoran, juga Sonam—pemilik toko bunga karena dirinya akan terlambat masuk bekerja. Beruntung sekali Cherry ini dikelilingi orang-orang yang baik. Sehingga membuatnya tidak merasa kesepian pasca neneknya meninggal.


Tiiiin!


Suara klakson terdengar menusuk di telinga. Mengganggu aktivitas paginya saja ketika sedang membersihkan rumahnya. Segera Cherry membuka pintu, dan ternyata Adalah Frans.

__ADS_1


"Hai!" sapa Frans.


"Selamat pagi, Cher,"


"Pagi juga, Frans," balas Cherry.


"Um, pagi sekali kamu datang. Suara klaksonnya hampir saja menusuk gendang telingaku," Cherry sedikit kesal.


Frans pun terkekeh.


"Oh, astaga. Maafkan aku," ucapnya.


"Aku jenuh di rumah. Sebelum aku putus dengan Lui, aku sudah pergi harus menjemputnya. Tapi sekarang aku tidak lagi bersamanya dan teringat dengan dirimu," lanjut Frans. "Tenang saja, aku datang tidak dengan tangan kosong," Frans mengangkat tangannya, menunjukkan apa yang ia bawa.


Melihat ketulusan Frans membuat Cherry tidak tega menolaknya. Ia pun mempersilahkan lelaki itu masuk. Bahkan Frans pun mulai membantu membersihkan rumah yang sebentar lagi akan dikosongkan.


"Semuanya sudah selesai. Mari, kita sarapan dulu. Lihatlah apa yang aku masak," Frans menunjukkan berbagai masakannya.


"Wah, apa kamu sendiri yang menyiapkan semua ini?" tanya Cherry.


Frans mengangguk. Pantas saja Lui selalu memanfaatkan Frans. Kebaikan yang dimiliki oleh Frans ternyata bukan hanya di royalnya saja. Perhatiannya cukup diperlukan oleh seorang perempuan ada pada Frans juga.


"Baiklah, aku ambil piringnya dulu," ujar Cherry.


Ketika sedang menikmati sarapan berdua, sang mantan kekasih Cherry datang membuat keributan.


"Woy, Cher!"


"Cherry!"


"Woy, keluar kamu!" teriaknya.


Melihat pintu rumah Cherry yang tidak ditutup, membuat Max menerobos masuk begitu saja. Melihat pemandangan mesra, (dari sudut pandang Max) membuatnya kesal dan menganggap begitu cepat Cherry move on darinya.


"Apa-apaan ini?" sentaknya. "Cherry, kamu meminta putus dariku karena dia, 'kan?" sulutnya.


"Dasar wanita murahan!"


Cherry dan Frans saling menatap. Mereka merasa dejavu. Tak menghiraukan kehadiran Max, keduanya melanjutkan sarapan dengan saling bersenda gurau.


"Wah, aku tidak menyangka jika kamu semurah ini, Cherry," Max masih belum pergi.


"Kamu—"

__ADS_1


"Kamu! Wanita murahan!" tuduh Max dengan kejam.


__ADS_2