Desahan Cinta Satu Malam

Desahan Cinta Satu Malam
Masih Bertikai


__ADS_3

Malam hari setelah acara ulang tahun anak dari pemilik toko bunga, Cherry menghubungi Zinad supaya bisa menjemputnya di rumah pemilik toko bunga tersebut. Pasalnya, memang Cherry masih sungkan jika tiba-tiba pulang ke rumah Zinad.


'Astaga, Cher. I'm really sorry, I can't pick you up. I'm sorry I didn't tell you since this afternoon,'


"Kenapa begitu? Ya sudahlah, aku akan pikirkan nanti bagaimana caraku pulang, Kak," Cherry sedikit kecewa.


"Sorry, Cher ..." Zinad menjadi tidak enak hati tentunya. Bagaimana tidak, seperti biasa Cherry selalu ada untuknya jika sedang membutuhkan. Namun malah sebaliknya, disaat Cherry sedang membutuhkannya, Zinad malah tidak bisa membantu.


Ketika Cherry merasa bingung bagaimana cara akan pulang, Sonam—Bosnya, keluar dan terkejut melihatnya belum pulang. "Eh, kamu ... Kamu belum pulang?"


Cherry menoleh ke arah belakang. Melihat siapa yang bertanya padanya. "Eh, Pak Bos!" seru Cherry dikejutkan olehnya.


Betapa terkejutnya dia melihat Sonam sendiri sudah ada dibelakangnya. Duda berusia 30 tahun itu sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri. la sebagai anak tunggal, ingin sekali merasakan memiliki seorang saudara atau saudari. Itu sebabnya, Sonam selalu menganggap Cherry seperti adiknya sendiri.


"Kamu belum pulang?" tanyanya.


Cherry menggeleng dan tersenyum manis. la mengatakan jika seseorang tidak bisa menjemputnya karena sangat sibuk. Raut wajahnya yang sedih itu membuat Sonam tidak tega.


"Bagaimana jika saya yang mengantarmu pulang?" Sonam menawarkan diri. "Hmm, tidak baik juga jika terlihat orang, gadis seusiamu pulang sendirian malam-malam," celetuknya.


Cherry langsung menolak. Dia tidak ingin sampai merepotkan bosnya. Tak peduli bagaimana Sonam sudah memaksa dan membujuknya. Gadis itu tetap menolak.


Sampai dimana Frans pun datang.


"Cher, ayo kita pulang. Maaf jika aku datang terlambat. Ban motorku bocor tadi," ajaknya, tanpa kongkalikong terlebih dulu dengan Cherry.


Kehadiran tanpa undangan Frans malah membuat Cherry semakin bingung sendiri. Ia merasa tidak pernah meminta lelaki itu untuk menjemputnya. Tapi, hal itu bisa dijadikannya sebagai alasan supaya bisa menolak tawaran Sonam—bosnya.


"Ah, santai saja. Aku juga tidak terburu-buru pulang, kok!" seru Cherry dengan senyuman.


Tanpa menyakiti perasaan siapapun, Cherry bisa pulang dengan tenang.


Ketika sudah jauh dari perumahan yang ditempati Son tinggal, barulah Cherry memberanikan diri untuk bertanya. "Kenapa kamu datang menjemputku?"

__ADS_1


"Hmm, sepertinya aku tidak memintamu datang menjemputku. Apa aku yang kelupaan?" imbuhnya.


Frans tersenyum. "Kakak angkat kamu yang menelponku tadi untuk menjemputmu. Kebetulan, aku memang sedang diluar," jawabnya.


"Ah, aku merasa tidak enak ini. Maaf telah merepotkan dirimu, Frans," ucap Cherry merasa tidak enak hati.


"Santai saja ..." sahut Frans tenang.


Mereka juga tidak langsung pulang. Cherry mengatakan jika dirinya belum ingin pulang dan masih lapar. Alhasil mereka makan jajanan di pinggir jalan yang masih banyak yang buka.


"Ini jika saja Lui tahu kita jalan berdua malam-malam, bagaimana respon Lui?" tanya Cherry, dalam keheningan malam.


"Apa alasan dia marah? Kami sudah putus. Bukankah kamu sendiri yang menjadi saksi putusnya hubunganku dengannya?" jelas Frans.


"Ahh, jangan menggodaku seperti itu. Aku malah jadi tidak enak hati karena permasalahan kalian," timpal Cherry.


Frans tidak menjawab.


"Apakah memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi?" lanjut Cherry.


Bagi Cherry sendiri penjelasan itu sudah cukup. Tak ingin lagi dirinya menanyakan hal yang lebih. Mereka malah bicara tentang kehidupan pribadinya masing-masing.


"Sudahlah, kita bahas yang lain saja. Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Frans mengakhiri kegundahan dalam hatinya.


Tak disangka, Lui melewati keduanya di saat dirinya sedang duduk mengendarai taksi.


"Sialan, mereka berdua malah menikmati indahnya malam hari ini. Aku tidak menyangka jika Cherry bisa semurah ini merebut pacar temannya sendiri!" kesalnya.


"Aku belum mendapatkan banyak hal dari Frans. Cherry malah membuatnya putus denganku, gadis sialan,"


Dia pun turun menghampiri mereka berdua. Lui tidak sadar diri, bahwa dirinya lah yang telah memutuskan hubungan dengan Frans. Tapi tetap saja menyalahkan Cherry atas segala hal. Dia menggunakan kesempatan itu untuk mengolok-olok Cherry dan memutuskan persahabatan mereka yang sudah terjalin cukup lama.


"Oh, jadi seperti kelakuan kalian di belakangku?" cetus gadis licik itu, datang langsung menuduh keduanya yang bukan-bukan.

__ADS_1


Memang pintar sekali mencari kesempatan, Lui ini. Pas sekali suasana sekitar tempat tongkrongan sedang banyak muda-mudi yang sedang berkumpul menikmati indahnya malam yang cerah.


"Apa maksudnya ini, hah?" lanjut Lui dengan wajah ketusnya. "Tega sekali kamu padaku, Cher!"


"Dasar gadis gila, untuk apa kamu datang pada kami lagi?" Frans tersulut emosi.


Mendengar tanggapan dari Frans membuat Lui tak berkutik. Dia segera menatap ke sekitar, kemudian berpura-pura menangis. Menyalahkan keduanya dengan kata sebuah pengkhianatan. "Jadi kamu putusin aku karena dia? Sahabatku sendiri? Kenapa kamu sejahat ini, Frans?"


"Dan kamu. Katanya kamu sahabatku, kenapa kamu mengambil kekasihku? Persahabatan macam apa ini? Kita sama-sama perempuan, kenapa kamu sejahat ini padaku?" dalih Lui dengan air mata kepalsuannya.


"Jika memang kalian saling mencintai, setidaknya jangan lukai perasaanku seperti ini. Aku pun rela, demi sahabatku ... Bisa saja memberikan cintaku. Tapi kenapa caranya seperti ini?" imbuh drama Lui.


Semua orang menatap mereka dengan tatapan merendahkan. Bahkan tak sedikit dari mereka menuduh Cherry adalah sahabat terburuk yang pernah mereka lihat. Saat itu Frans pun menjadi kesal sendiri. Lelaki itu sampai menampar Lui di depan semua orang.


Plak!


Tamparan itu sangat keras, sampai sampai membuat Lui terhuyung. Suasana menjadi ricuh karena itu. Semua orang menjadi semakin salah paham pada Frans. Beberapa remaja lelaki memukul perut dan wajah Frans tanpa perasaan.


"Cukup!" teriak Cherry, tak tega.


"Jika kalian masih memukuli temanku lagi, aku pastikan kalian akan diproses ke kantor kepolisian!" lanjut Cherry sudah mulai kesal.


Para pemuda itu berhenti memukulnya. Datanglah beberapa pemudi yang mendekati Lui yang saat itu masih terlihat sedih dan seolah mereka sangat peduli dengan Lui. Mengusap bahunya dengan lembut.


"Kamu kenapa sungguh tidak tahu malu begini?" ucap salah satu pemudi kepada Cherry.


"Kamu ini perempuan, katanya sahabatnya juga. Kenapa begitu jahat bermain di belakangnya seperti ini?" lanjut pemudi itu.


"Merebut kekasihnya pula. Dan lihat, sekarang malah jalan berdua di belakangnya. Itu sungguh perbuatan yang tidak terpuji," tuturnya.


Melihat senyum licik terukir di bibir Lui, membuat Cherry tak bisa lagi bungkam. la meminta ponsel Frans dan membuktikan jika gadis yang sedang mereka bela-lah yang bersalah.


"Berikan ponselmu," pinta Cherry. "Frans, aku pinjam ponselmu sebentar," bisiknya.

__ADS_1


"Untuk apa?" tanya Frans masih menahan sakit akibat pukulan beberapa orang di sana.


"Berikan saja!" Cherry memaksa.


__ADS_2