
Sekitar pukul sepuluh siang, Cherry sampai di perusahaan yang dipimpin oleh Tuan Yasha, tanpa sepengetahuannya. Ia terlihat tergesa-gesa masuk ke perusahaan karena waktunya sudah mepet dan hampir saja terlambat.
"Aku harus cepat atau aku akan ketinggalan wawancaranya," gumamnya sambil merapikan pakaiannya.
"Huftt, begini sudah kalau repot sejak pagi," keluh Cherry..
Saat mau masuk, tidak sengaja ia menabrak salah satu calon karyawan lainnya juga.
Bug!
Seorang wanita yang Cherry tabrak.
'Astaga, apa ini? Kenapa aku menabrak seorang wanita? Bisa runyam urusannya jika begini,' batin Cherry.
Cherry paham betul Jika dia berurusan dengan seorang wanita maka akan jauh lebih sulit ditangani ketimbang Ia memiliki urusan dengan seorang pria.
"Aduh!" rintih wanita itu.
"Maaf, apa kamu baik-baik saja?" Cherry berusaha membantu wanita itu.
"Ck, kalau jalan tuh perhatikan sekitar, dong! Kamu buta, ya? Lihat, bajuku yang mahal jadi kusut lagi!" sentak wanita itu.
Dari kejauhan, Tuan Yasha tak sengaja melihat adegan di mana wanita yang mulai mengganggu hidup dan pikirannya dimarahi habis-habisan oleh wanita yang telah di tabraknya.
'Dia lagi?' gumamnya dalam hati.
Awalnya, Tuan Yasha hendak melerainya dan langsung membawa Cherry pergi. Tapi apa yang terjadi? Ternyata Cherry yang dianggap lemah oleh Tuan Yasha, rupanya mampu mengatasi masalahnya sendiri.
"Heh, kenapa kamu tidak bicara? Cepat, bagaimana caramu akan mengganti rugi padaku?"
ketus wanita itu. "Apa kamu mau, selamanya akan memiliki masalah denganku? Dasar gadis miskin!" hina wanita itu.
Tak hanya kata-kata itu saja yang keluar dari mulut wanita itu. Segala hinaan dan juga caci makian dikeluarkan habis oleh wanita itu dari mulutnya. Bagaimana wanita itu tidak gemas kepada Cherry, jika Cherry saja tidak menanggapinya.
"Heh! Kamu tuli apa bagaimana?" hina wanita itu lagi.
"Ck, siapa sih, kamu?"
Wanita itu mencoba mencari identitas Cherry, namun berhasil Cherry tepis.
__ADS_1
"Kenapa kamu begitu berisik?" desis Cherry.
Wanita itu terkejut dengan ucapan Cherry. Dia sendiri juga tidak menyangka bahwa gadis yang terlihat lugu seperti Cherry ternyata bisa membalasnya.
"Hei, aku hanya menyenggol sedikit saja tanpa kamu terjatuh. Bajumu juga tidak rusak sedikitpun, apa hubungannya baju mahal dengan bajumu yang kusut? Kusut ya di setrika lah!" seru Cherry mengabaikan wanita itu.
Ia pergi meninggalkan wanita itu dengan menyenggol bahunya. Wanita itu sampai goyah dari tempat berdirinya.
Senyum licik Tuan Yasha terlukis di bibirnya. Asisten Melvin yang melihatnya di buat heran dengan Tuannya. Pasalnya, Tuan Yasha memang jarang tersenyum. Bahkan juga tak pernah ramah dengan siapapun juga.
'Ada apa dengan Tuan Yasha? Apakah karena gadis itu? Apa gadis itu yang namanya Cherry Keith? Ternyata gadis itu mampu membuat Tuan Yasha yang memiliki julukan si monster ini, tersenyum? Sungguh aneh!' gumam Asisten Melvin dalam hati.
"Panggil dia, dialah Cherry Keith itu. Minta dia langsung keruangan-ku!" perintah Tuan Yasha.
"Tapi, Tuan—" asisten Melvin tidak jadi melanjutkan ucapannya karena sudah mendapat tatapan tajam dari Tuan Yasha.
"Baik, Tuan!"
Sudah saatnya Asisten Melvin melerai perdebatan di antara Cherry dan juga wanita yang sebelumnya marah-marah kepadanya. Asisten Melvin menyebut nama Cherry dengan halus dan sopan.
"Nona Cherry Keith, itukah Anda?" tanyanya.
"Bagaimana Tuan Melvin? Apakah Tuan Yasha hadir di acara wawancara nanti?"
"Iya, apakah beliau datang? Saya tidak sabar ingin bertemu dengan beliau,"
"Um, sebenarnya Tuan Yasha memang sudah ada di kantornya. Tapi beliau sedang sibuk. Silahkan kalian semua tenang dalam menanti ketika sedang menunggu diwawancarai. Terima kasih karena sudah mau mendengarkan ucapan saya dengan baik" kata Asisten Melvin.
"Ayo, kemarin Nona Cherry, saya harus membawa Anda kepada seseorang," lanjut Asisten Melvin dengan serius.
Beberapa calon karyawan yang ada disana bergumam membicarakan mengapa Cherry bisa dipanggil secara khusus oleh Asisten pribadi dari Tuhan Yasha. Hal itu tentu saja membuat beberapa perempuan di sana merasa iri Bahkan tak sedikit dari mereka atau memandang fisik dia nggak yang terlihat seperti orang miskin.
"Apa? Dia kenapa pergi bersama Tuan Melvin?"
"Ada apa ini?"
"Apakah dia adalah orangnya, Tuan Yasha?"
"Astaga, jangan berpikir buruk! Tidak mungkin gadis ngenes sepertinya memiliki hubungan khusus dengan Tuan Yasha.
__ADS_1
"Tapi—Apa kamu tidak dengar tadi? Tuan Yasha meminta Asistennya sendiri untuk memanggilnya. Lantas, bagaimana jika memang dia adalah orang dari Tuan Yasha?"
Argumen-argumen mulai muncul dari beberapa calon karyawan itu. Meski Cherry sendiri juga bingung mengapa ia dibawa ke tempat yang belum pernah Ia kunjungi secara khusus. Akan tetapi, seorang Asisten seperti Asisten Melvin mengajaknya untuk masuk menemui pemilik perusahaannya secara langsung adalah hal yang paling membuatnya heran.
Cherry pun mulai takut. Ia takut saja jika pemilik perusahaan bersikap buruk padanya. Ketika ia dalam kegelisahan, tiba-tiba ia mengingat senyuman dari sang putri kecilnya dan menambah semangat dalam bekerja.
Tok… Tok… Tok…
Suara pintu diketuk. Tuan Yasha mempersilahkan Cherry dan Asistennya masuk ke ruangannya. Setelah itu, Cherry tak sengaja berpapasan dengan Sekretaris Sarah juga yang saat itu memasang wajah juteknya.
"Tuan sudah mengizinkan masuk, Nona Cherry. Jadi, saya harus keluar. Silahkan, Tuan yang akan mewawancarai secara dengan langsung," ucap Asisten Melvin meninggalkan Cherry sendirian di depan pintu.
"Eh, Anda mau kemana? Saya jangan ditinggal sendiri, dong!" seru Cherry mencari aman, ia sebenarnya hanya gugup saja
Seketika kegugupan Cherry kumat lagi. Tuan Yasha pun memanggil namanya dan memintanya untuk segera masuk. Mendengar suara Tuan Yasha yang menggelar, Cherry merasa tidak asing lagi dengan suaranya.
'Tunggu, ke-kenapa—sepertinya, aku mengenali suara ini,' gumam Cherry dalam hati.
Wanita itu menghentikan langkahnya.
"Apa aku harus menggelar karpet merah demi memanggilmu kemari? Masuk dan segera lakukan wawancaranya!" tegas Tuan Yasha.
"Eum! Iya, baik, Tuan!"
Itu kali kedua mereka bertemu. Seingat Cherry, ia juga hanya pernah melihat Tuan Yasha saat di hotel saja. Lalu, di sisi lain … Tuan Yasha ini malah diingatkan kisah cinta satu malamnya dengannya selama itu.
'Gadis ini benar-benar dia? Apakah anaknya yang waktu itu adalah anakku? Aku harus menyelidiki ini sendiri juga melalui tubuhnya,' Tuan Yasha tak sabar juga rupanya.
"Duduk!" Tuan Yasha mempersilahkannya untuk duduk.
Wanita itu patuh saja.
Dengan memegang data diri milik Cherry, Tuan Yasha beranjak dari kursinya dan mendekatinya. Pertanyaan demi pertanyaan mampu Cherry jawab dengan baik. Ia mengatakan bahwa motivasinya bekerja diperusahaan itu adalah demi putrinya.
"Jika kamu bekerja full time nanti bersamaku, maka anakmu akan bersama siapa?" tanya Tuan Yasha.
"Bagaimana anda tahu kalau saya sudah memiliki anak?" tanya Cherry. "Mengerikan sekali pria ini," gumamnya lirih.
Brak!
__ADS_1