DETEKTIF TUMUS

DETEKTIF TUMUS
Episode 1 (Kasus Puisi Salib)


__ADS_3

Latar : Jakarta, 2020


Langit yang luas bagai sahara kini tampak menenangkan di atas sana, awan-awannya yang putih dan tebal pun menghiasi seisi antariksa dengan indahnya, ngomong-ngomong cuaca akhir-akhir ini selalu cerah, tidak mendung juga tidak terlalu panas, namun entah mengapa setiap pagi wanita cantik yang terkenal dengan sebutan putri gunung karena wajahnya yang selalu sejuk itu selalu saja merasa mendung setiap kali menghadapi anaknya yang malasnya naudzubillah. Karena kesal ia pun berteriak.


"ELGAAA!!" anak yang merasa namanya di teriaki itu mendadak terperanjat dari ranjang. Namun tangannya yang masih bergerak-gerak di atas handphone tak juga kunjung lepas. Rupanya meski terkejut pun Elga tidak bisa untuk menghilangkan fokusnya dari bermain game.


Tak perduli nanti mamanya akan datang sembari membawa sapu lidi untuk memukulnya sekalipun, Elga tidak akan jera. Karena sejujurnya..ia sudah terbiasa sekali di teriaki setiap pagi. Terbiasa dalam arti yang sesungguhnya.


"IYA MAA..." jawabnya balas berteriak, "UDAH JAM 7..KALO TELAT MAMA GA AKAN BUKA PINTU BUAT KAMU YA!!" seperti mantra yang selalu di lantuntan setiap pagi, laki-laki berwajah tirus dengan paras mirip orang korea itu pun beranjak dari tempat tidurnya dengan tergesa sembari meraih ransel hitam polos yang tergeletak di atas lantai dengan cepat. Kemudian..berlari menuruni anak tangga.


Terlihat mamanya sedang menyirami bunga di luar, ekor mata bak dewi itu lantas menatapnya dengan tidak suka.


"Kamu tuh! Sekolah aja susah..gimana nanti suruh kerja!" omel wanita paruh baya yang cantiknya melebihi kadar manusia itu dengan sebal. Sedangkan anaknya yang sedang di umpat sedari tadi malah sibuk mencuri-curi roti selai coklat yang sudah siap di atas meja. Ah padahal roti miliknya justru yang berisi sayuran.


"Enak kerja ma, dapet duit," katanya dengan mulut yang masih terkepung makanan, kemudian menyalimi tangan halus sang mama, "Elga berangkat..." dan kaki panjangnya itu pun berlari dengan kekuatan nonjutsu.


"EHHH..SUSU KAMU ITU LO MASIH BANYAK..NANTI DI SEMUTINN!!"


"EL UDAH TINGGI..."


Mendengar sahutan itu lagi, si mama kemudian memijat-mijat pelipisnya, merasa prustasi dengan agak sedikit menyesal karena telah melahirkan anak semacam Elga Maharaja.


Ya! Elga maharaja namanya, kelahiran 1 Juni 2004 di Jakarta, si anak genius yang tidak pernah dapat rangking di sekolahnya. Namun yang lebih spesifiknya lagi, ia di kenal sebagai orang paling menyebalkan di dunia.




Triiinnggggg


Bell istirahat berbunyi nyaring sekali, menandakan kegiatan belajar mengajar sudah bisa di mulai, bahkan anak-anak yang sedang asik tertidur di dalam kelas saat jamkos pun seketika terbangun. Lebih tepatnya kaget. Terkecuali Elga.


Si Elga ini kalau hibernasi macam kadal inalillahi. Mengingat perihal bagaimana semalaman ia hanya tidur sedikit karena ingin menyelesaikan misi gamenya supaya mendapatkan gelar gold. Membuat matanya menghitam bak orang yang tidak tidur selama 2 hari.


Bagaimana tidak? Bell istirahat terdengar sangatlah merdu melebihi suara Umi Elvi Sukaesih. Tapi sayangnya tak kunjung menarik perhatian laki-laki tampan super bening itu. Jena dengan senyum cantiknya kemudian menghampiri sang pangeran be like. Siapa lagi jika bukan Elga Maharatu, maksudnya Maharaja.


Jena menempelkan pipinya pada meja sembari menghadap sang pujaan jantung, karena ya, anak itu sudah tertidur kurang lebih 3 jam yang lalu, dan khusyu sekali. Jena sendiri merasa terkacangi karena itu.


"Elga mimpiin Jena ya? Ih rindu bilang ajaa" Ujarnya, tidak, katakanlah ia sedang berbisik, membuat si pendengar yang berada di depan mereka langsung bergidik geli. Dika.

__ADS_1


"Eh Jen! Bangungan gih!" titah Dika, menunjuk Elga dengan matanya, "Hah bangunan? Jena bukan Petani!" jawab Jena lantas manyun-manyun amit.


"Yeh! Kepiting China dasar, nih gue punya kasus penting" Dika bersegera menghambil sesuatu dari kolong mejanya, Entah apa itu, hingga membuat Jena langsung terkepo-kepo.


Sebuah kertas kecil yang sudah bertuliskan tinta, tulisan yang sangat jelek, seperti masa lalu penulis. 'Apa itu?' Pikirnya lewat ekspresi. Sementara Dika, bersiap-siap untuk membacakannya pada Jena yang tengah kebingungan setengah hidup.


"Tangan kiri membuka pintu,


Tancap salib di dinding putih,


Kursi hitam singgasanaku," Dika terkekeh, dia sendiri bingung dengan coretan kalimat aneh yang tertera disana. Siapa juga yang menyimpannya di kolong meja Dika? Ah mungkin saja orang itu ingin mengetes seberapa tinggi kemampuan IQnya. Baiklah, mari kita tunjukan seberapa hebat kemampuan analitis mereka.


"Menurut lo apa maksudnya?" Lanjut Dika.


"Tangan kiri membuka pintu.


Tangan kiri bisa diartikan sebagai sesuatu yg buruk, Pintu terbuka mengartikan bahwa mereka akan terbuka dan tidak melakukannya secara tertutup, jadi maksudnya mereka bakal meraja lela? Atau mungkin mengundang dan mempersilahkan orang-orang buat ikut bergabung sama mereka?," bukan, itu bukan pendapat Jena, melainkan pendapat Elga yang entah sudah sejak kapan terduduk tegap di samping Jena sembari bersila tangan. Jena dan Dika pun tak bisa untuk tidak terkejut. "Tancap salib di dinding putih, berarti membunuh, menusuk, meruntuhkan sesuatu yg baik"


"Jadi menurut Elga begitu?"


Jena sepertinya tampak kontra dengan pendapat Elga, ya memang Jena akui, pangerannya itu sangatlah Genius, dan memiliki deduksi yang cukup peka. Tapi..mungkin saja ada deduksi lain di balik sesuatu buruk yang di maksud oleh Elga tadi.


"tangan kiri membuka pintu


tancap salib di dinding putih


kursi hitam singgasanaku, kalau misal..tangan kiri analogi dari sesuatu yang buruk atau jahat.


Terus membuka pintu itu analogi dunia yang terbuka. Terus tancap salib itu.. tancap berartikan menorehkan bekas, atau berarti jadi memiliki arti menanamkan. Sedangkan salib di syair itu berarti analogi dari kebaikan. Jadi tancap salib mungkin juga bisa di artikan 'menanamkan kebaikan?' Nah berarti arti dinding putih itu.. mereka yang masih bersih suci dan belum ternodai dengan berbagai hal ideologi dll.. jadi tancap salib di dinding putih berarti menanamkan kebaikan pada bibit-bibit baru? Kursi hitam singgasanaku.. berarti kejahatan yang berkuasa. Maka, maksud secara keseluruhan dari syair itu berarti...?"


Jena be like; Pingsan. Bicara apa rekannya itu, oh ayolah Jena mau muntah karena pusing.


"Jadi ini yang bener yang mana?" Tanya Jena yang hampir sakaratul maut saking tidak pahamnya. Terkadang otak Jena itu masih sering sekali membutuhkan servis. Karena terlalu banyak jenis Elga di dalamnya hingga membuatnya sumpek dan lelet berfikir.


"Coba teliti lagi" titah Elga, kemudian Dika menurut, membaca kembali coretan tersebut, membacanya berulang-ulang hingga perutnya pun mulai terdengar keruyukan.


"Penjelasan disana udah jelas banget kalo dia menyinggasanai kursi hitam, terus apa yang bisa di bilang suci kalau warna hitam itu sangat di dominasikan oleh hal-hal buruk?," sepertinya Elga berhasil membuat Dika kembali berfikir, "tancap salib di dinding putih, Dinding putih melambangkan kebaikan, berarti dia lagi berusaha merusak kebaikan, atau bisa di bilang dia akan membuat kesuraman pada dunia." Jelas Elga sembari menepuk-nepuk pipi Jena yang sepertinya nyaris muntah busa.


"Bisa jadi begitu, bisa jadi juga bukan, karena menurut gue, menancap itu seperti artian menanamkan, mungkin juga dia pengen tobat dari kisah-kisah suramnya lewat dinding putih yang artinya penyucian diri kan? Mungkin dia lagi ngelakuin pengampunan dosa."

__ADS_1


"Eh brother! Jadi detektif jangan selalu posthink, gimana mau dapet penjahat kalo pikiran lu postink mulu,"


"Kata bapak gue, jadi orang jangan posessif terus, gimana mau bener kalau kita udah nuduh-nuduh duluan yang belum tentu bener,"


"Kok nyeramahin balik?"


"NGAJAK RIBUT LO?!"


"AYOK!"


"DASAR KINT*L!"


"EH B*BYK!"


Akhirnya, cakar-cakaranlah mereka berdua karena tidak bisa saling menghargai pendapat satu sama Lain.


Kita sebagai umat manusia yang selalu di ceritakan pada pelajaran sosiologi bahwasannya manusia haruslah memiliki toleransi yang baik, hargailah dan hormati pendapat yang berbeda, agama, ras, budaya dan apa pun yang berbeda, karena kalau tidak, akan terjadilah hal-hal seperti tadi.


Jadi jawaban yang benar adalah, dia sedang melakukan mengampunan dosa dengan mengagungkan tuhannya di dinding putih, maksud dari tancap salib yaitu menempelkan salib pada dinding putih, penggunaan kalimat menancap hanya sebagai analogi saja agar tidak terlalu mencolok.


Ada yang setuju dengan pendapat Dika? Karena jawabannya adalah benar. Tancap salib pada dinding putih artinya menanamkan kebaikan.


Apakah ada yang sempat berbeda pikiran dari Elga dan Dika tadi? Kalau ada berarti bagus, kalian mau berfikir, si penulis memberikan 4 jempol. Janganlah jadi seperti Jena.


Jena,"Hing"


"EH EH GUE DAPET SURATT"


To Be Continue...



Visit next episodes...



Then.. that is several players who will appear frequently in this drama...


__ADS_1


And if you want to know the description of the story in more detail. 'Mistery' is genre of this story too.


__ADS_2