
"Aku maafin kamu, tapi jangan pernah bilang ke Jena kalo kamu papa tiri dia."
"Iya aku janji."
Wanita itu, wanita cantik dengan porselan anggun yang selalu terlihat indah di porsi tubuhnya kemudian berjongkok, menggapai bahu lemah sang mantan suami yang sedari tadi bersujud dikakinya. Meminta maaf.
"Kamu juga harus minta maaf sama mamanya Elga."
"Aku ga berani pulang."
Xiela mendengus tidak percaya. Bagaimana bisa ada seorang pria seculun dirinya, berani berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab.
"Kenapa?"
"Citra pasti benci banget sama aku."
"Dia lebih benci aku yang jelas-jelas udah ngerebut kamu dari mereka."
Oh menyakitkan sebenarnya mendengar kalimat itu dari mulut sendiri, tapi ... memang benar bukan? Tanpa sadar ia sudah menjadi seorang pelakor meski tidak tahu bahwa mantan suaminya ternyata masih memiliki istri sah ketika mengatakan padanya bahwa ia duda beranak satu.
"Mama/ayah." keduanya menoleh dengan cepat kearah sumber suara yang tiba-tiba saja meneriaki mereka secara bersamaan, nyaris terbungkam seribu bahasa saking terkejutnya.
"Jadi pak Burhan papa tiri Jena? Dan Jena sama Elga sodara tiri?"
Kedua single parent di sana saling pandang kemudian.
"Ma!!! Kenapa harus sama pak Burhan?!"
Jena merengek, dadanya sangat sakit dan ia masih tidak menyangka dengan kenyataan pahit didepan matanya. Apalagi kini mamanya hanya terdiam kaku seperti patung.
"Mama juga gabilang kalo sahabat kecil Jena waktu itu Elga! Kenapa juga mama sempat mindahin Jena buat sekolah di china? Jadi ini alasannya?!"
Elga melirik Jena yang kemudian menangis seperti bayi sembari mengusap air matanya dengan kasar, dari wajah merahnya tampak jelas sekali bahwa ia sangat kecewa.
"Sayang, maafin mama ... tapi kita udah pisah."
Jena mengusap ingus dan air matanya dengan dasi milik Elga, hingga membuat anak laki-laki itu nyaris jantungan saking jijiknya.
"Bagus kalo gitu."
"Jangan nangis lagi ya?"
"Jena cuma kaget, tapi gapapa kalo udah cerai, jadi Jena sama Elga bukan sodara lagi."
"Random banget sih lu, Jen." bisik Elga. Geram. Sebenarnya Jena ini mau marah atau bagaimana? Oh dia benar-benar PEA.
"Jena juga terharu ketemu lagi sama sahabat kecil Jena."
"Ayah! Kenapa waktu Elga temenan sama Jena ayah ga bawa Elga ke jepang? Untung Elga ga ikut-ikutan PEA."
"K-kok kamu tau ayah pernah ke Jepang?"
Elga tersenyum sebelum akhirnya menunjukan layar handphonenya yang menunjukan nama IG sang ayah.
"Ayah sering upload foto-foto di Jepang 3 tahun yang lalu."
"Dapet nama IG ayah dari mana?"
"Apa yang DETEKTIF ini gatau."
"DETEKTIF TUMUS SIAP MEMBONGKAR RUMUS!" seru Jena dan Elga bersamaan sembari memperagakan simbol detektif mereka. Yang mana membuat kedua oknum di sana tertawa geli, oh moodboster dari mana ini? Seharusnya hari ini menjadi moment tersial bagi Jena, setelah mengetahui bahwa ia adalah saudara dari orang yang ia sukai.
"Udah sana mandi, udah erorr." Xiela berjalan mundur memasuki rumahnya, masih dengan keadaan tertawa, begitupun dengan Burhan, sedangkan Jena dan Elga hanya terdiam ditempat sembari menautkan kedua alis. Kesal.
"Mamaklu kenapa sih? Masa dia bilang kita erorr?" Elga menggerutu pelan.
"Dia kira dia abis ngelahirin NASA kali ya bukan anak manusia."
"Buset nasa kegedean! Lobang emak lu segimana woy." laki-laki itu kemudian mencubit hidung si empunya dengan gemas.
"Ya B AJA DONG JAMAL AHK!"
"awokawok, dahla, pulang gue ... capek liat muka lu, Jen." mendengar itu Jena melotot dan nyaris melemparnya dengan sepatu jika saja Elga tidak cepat-cepat lari menghindarinya.
"ELGAAA!! AWAS YA KALO JENA UDAH GLOW UP TERUS ELGA SUKA!"
"gausah glow up! Lu udah @*$;@*!" teriaknya dari keajauhan, Jena baru saja ingin berteriak lagi tapi anak itu sudah hilang di telan jalan.
__ADS_1
Hmm meresahkan sekali ya.
#
"Jadi saya selaku presiden kelas IPA 2, ingin menyampaikan susuatu." ujar Dika. Dengan gelagat menyebalkan yang mana membuat seisi kelas menghujatnya dengan berbagai macam teriakan seperti.
"Demo ganti presiden 2020!"
"Presiden pala lu!"
"Punya otak ditaro di kepala sih!"
"Rakyat tidak meerima presiden macam kau!"
"Audzubillahiminasyaitoniraziim."
"Kayaknya waktu pencoblosan ada yang nyoblos kepalanya jadi begitu."
"Syalan Dika gue lagi makan seblak, jadi bengek, idung gue kerasukan."
"Psstttttt diam semuanya ya!! Ia tau kita itu terlalu jauh dari kata jamet." Arka menengahi dengan estetik.
"Mau apasih hah?!" yang pada akhirnya dibentak oleh sang presiden kelas IPA 2 asli. Yang tak lain adalah Rena Maulida, si ketua kelas tergalak sepanjang masa.
Arka dan Bin terperanjat saking terkejutnya.
"Nih! Ada formulir pendaftaran calon pengurus osis sama ketua MPK periode 2020/2021." Dika kemudian memberikan kertas-kertas yang dipegangnya dengan sembarangan hingga berserakan di atas meja Rena.
"Lah kan kita masih kelas 10!"
"Emang kenapa kalo masih kelas 10? Kalo nyalon jadi ketua osis tuh baru butuhnya kelas 11."
"YAKAN-"
"Psssstttt jangan ribut sama gue ntar jatuh cinta lo." Rena memukul kepala laki-laki itu dengan buku paket matematika setebal buku caratan dosa ketika Dika tiba-tiba saja memberi winkle dengan random ke arahnya.
"Sakit BEGO!"
"Cowok genit perlu dibunuh."
"Aku rela, asalkan mati ditanganmu."
"Kalian tau ga? Kalian yang bolos aku yang dimintai pertanggung jawaban sebagai ketua kelas!!"
"Iya iya ampun ibunegara!" -Bin
"Gausah di tarik juga robek baju mahal gua anjib!" -Dika
"Sayang lepaskan akuh!" - Arka
Sial, mereka menyesal sempat ikut memilih Rena waktu pencalonan ketua kelas.
"Gue santet lu ya Rena!" teriak Dika kesal setelah sampai di lapangan dan ditinggalkan oleh sang ketua kelas dengan gelagat menyebalkan.
"Santet balik!" -Rena
"Udahlah jangan memarahi calon istri."
"Najis ih gila gue punya istri begitu." Dika memukul-mukuli jitatnya dengan kepalan tangan. Mencoba mencekam takdir bila mana mereka berdua benar-benar berjodoh. Oh ... bahkan dia sudah bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti jika 1 rumah dengan Rena.
"Elga sama Jena mana sih? Kagak mau ikutan dihukum apa?" Bin yang sedari tadi diam pun angkat bicara.
"Aa cemburu jadinya." ujar Arka. Memelorotkan wajah.
"Eh tunggu! Ada apa tuh ribut-ribut?" Arka dan Bin menoleh dengan cepat ke arah Dika, kemudian berpaling ke arah kelas IPA 3 yang entah kenapa ramai sekali.
Sepertinya memang benar, ada yang sedang ribut di dalam sana, bahkan anak-anak dari kelas lain pun ikut menonton dari balik cendela.
"Liat kuy!" Ajak Bin lantas berlari menghampiri Aldo yang juga sedang menonton, di susul oleh Arka dan Dika.
"Lo punya masalah apa sih sama gue!"
"Aku bener-bener ga nyuri uang khas, Amanda!"
Buk
Amanda mendorong gadis yang sedari tadi sedang diintrogasinya dengan keras hingga reflex terjatuh bersamaan dengan kacamatanya. Beruntung karena tidak retak.
__ADS_1
Resa, dia adalah Resa ... anak baru kelas IPA 3 yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan 1 sekolah selain Aldan dan juga Naya, Resa ini dikenal sebagai anak culun, sering dibully dan bodoh. Katanya sih sejak dia sekolah di sekolahannya yang dulu.
Hmm Dika tidak tahu pasti, yang jelas dia harus cepat menerobos masuk ke dalam sebelum Amanda berlaku kasar kepada gadis itu.
"Cepet ngaku! BARANG BUKTINYA UDAH ADA DI LO SEMUA!" teriak Amanda yang hanya dijawab gelengan kepala oleh si empunya.
"BICTH!"
Amanda menggepalkan tangannya ke atas, nyaris meninju atau bahkan menampar Resa kalau saja Dika tidak cepat-cepat datang dan mencengkram pergelangan tangannya.
Oh ... jadi ingat sewaktu Elga mencengkram lengan Naya ketika hendak menolong Jena, sepertinya ini akan menjadi story romantis masa sekolah.
"Jan maen hikam sendiri." ujar Dika. Asal. Yang di sahuti oleh anak-anak kelas IPA 3.
"Hakim goblo."
"Oghey."
"Ngapain sih lo!" Amanda yang kesal kemudian membanting lengannya dengan keras, membuat Dika mengaduh karena nyaris melintir.
"Ya biasa aja dong, aduhh."
"Ga usah ikut campur dong woy!" sungut Amanda. Tidak suka.
"Emang ada apaan sih, gausah kasar, kek cowok aja berantemnya, selesain baik-baik mbak." Arka mengangguki perkataan Bin.
"Dia nyuri uang khas kelas." Dika menoleh ke arah Resa yang reflex menggeleng saat tatapan mereka bertemu. Hm, Dika yakin gadis itu terus menolak ketika dituduh hingga membuat Amanda sangat marah dan nyaris memukulnya.
"Ada buktinya?" tanya Dika pada akhirnya, mencoba bersimpati.
"Uang khasnya ada di dompet pensil dia semua!"
Gadis yang masih tersungkur di sana tetap mengelak bahkan ketika anak-anak kelas menatapnya dengan tajam. Mereka yakin ini hanya sebuah tuduhan, dan Resa tidak benar-benar melakukannya.
"Coba jelasin kronologinya."
"Kok lo kepo? Bisa bantuin emang?" solot Amanda.
"Kok lu nyolot, tinggal ceritain aja apa susahnya?"
"Ceritain aja Amanda." sahut salah-satu temannya dari belakang sana.
"Iya udah ceritain aja." itu suara sang ketua kelas yang entah kenapa malah sibuk sendiri.
"Ketua kelasnya aja ga peduli anjib." rutuk Arka. Heran.
"Awal mula gue mau beli peralatan kebersihan, terus bunga bilang uang khasnya ilang, kita pikir ga mungkin kalo bukan anak kelas kita sendiri yang nyuri, karena waktu kelas olahraga kelas kita di kunci, dan yang piket hari ini Resa, dia juga yang megang kunci, waktu kita geledah tasnya emang gaada dan ternyata dia nyimpennya di dompet pensil." jelas Amanda dengan wajah nyolotnya, seakan-akan sudah jelas bahwa si pencuri itu adalah Resa.
Tapi anehnya, Resa terus-terusan mengelak tanpa mau berdiri atau bangkit dari posisi jatuhnya, mungkin dia takut Amanda akan mendorongnya lagi atau memang kakinya sudah melemas karena tuduhan tersebut.
"mana kuncinya?" Dika mengulurkan tangan, hendak mengambil kunci yang dia pegang. Seketika Alisnya mengkerut saat menyadari ada susuatu yang aneh di sana.
Kemudian Dika beralih ke arah meja Resa, mengambil dompet pensilnya yang ia letakan di atas meja.
"Dompet pensil lu ada di sini selama jam pelajaran olahraga?"
Resa mengangguk.
"Berarti tandanya dia ga salah, mungkin pencurinya ... adalah lo sendiri."
Amanda kembali marah ketika Dika tiba-tiba menunjuknya dan mengklaim bahwa dia adalah pencurinya. "Apa-apaan-"
"Konsepnya begini, kalau misal dia emang naro uang khas di dompet pensil, seharusnya dia ga nyimpen benda ini di atas meja, kan? Kenapa? Karena otomatis dompet pensil ini bakal mengembung, dan setiap dia ngebukanya uang-uang itu bakal keliatan, toh pensil-pensil ini masih ada di dalam dan dia pasti butuh kapan pun, kenapa ga dia sembunyiin lebih detail? Sebego-begonya orang mereka pasti paham soal nyembunyiin barang yang ga boleh orang lain liat dari dia."
Amanda semakin menautkan kedua alisnya. Geram.
"Dan seharusnya yang marah bukan lo, tapi bunga, yakan? Dia mungkin yang lebih kaget karena uang khasnya ilang, dia bisa aja diminta buat ganti rugi."
Bunga yang sedari tadi diam pun mulai terhasut dengan perkataan Dika, memang benar, seharusnya dia yang memarahi Resa bukan Amanda, tapi kenapa seakan Amanda ingin sekali Resa diserbu satu kelas?
"Emangnya ada buktinya kalo gue yang nyuri? Jelas-jelas uangnya ada di dia-"
"Uangnya pindah tempat ... dari tangan lo."
"??"
__ADS_1
maapkeun kalo bertemu banyak kasus ya🤣🤣🤣