DETEKTIF TUMUS

DETEKTIF TUMUS
Episode 11 (Penipuan Nomor Togel)


__ADS_3

"HUUUUUUUUU."


"ANJ*RAN SAKIT PERUT GUE JANC*K!!"


"LANJUT BANG! AH SHE UPPP."


"WOY UDAH WOY SAKIT PERUT GUE."


"COCOK AHAHAHAHA."


"ARKA LAGI MAU NYUMBANG PERTUNJUKAN SARIMIN AHAHA."


"KONSER LAWAK GRATISAN CUYY."


"SANDIWARA MACAM APA INI HAHAHA."


Suara bising tawa di sekitar lapangan terdengar sangat lepas, membuat Elga dan juga Jena ikut tergelak karenanya. Apalagi saat Arka benar-benar menuruti perintah mereka untuk berjoget ala monyet di tengah lapangan. Semua siswa-siswi yang sedang jamkos pun langsung berhamburan keluar untuk menonton pertunjukannya, mendadak Arka ingin sekali mengutuk kedua temannya itu.


Ah, mereka tega sekali membuatnya malu. Mau di taruh di mana mukanya nanti. "5 menit lagi!" teriak Elga saat si empunya mulai mengeluh karena suara tawa dari anak-anak kelas lain semakin membuat suasana menjadi riuh. Namun belum juga 1 menit setelah mengatakan itu, sosok Pak Ghoni yang sangat tampan menurut emaknya pun muncul dengan tongkat kayu yang selalu ia bawa kemana-mana, merelai kerusuhan yang terjadi sembari memukuli pantat siapa saja yang tertawa. Membuat mereka bungkam dalam hitungan detik.


"Apa ini ha? Suara kalian kedengeran sampe kantor! Punya otak ga sih ha? Ini masih jam belajar! Kenapa pada luar?!" omelnya sembari masih memukul-mukuli pantat orang-orang sial. Seketika Elga dan Jena merasa bersalah karena telah menjadi dalang atas kerusuhan tersebut.


"Joget monyet kok ga bawa kaleng.." dan kalimat Pak Ghoni barusan pun membuat anak-anak kembali tergelak.. namun tidak jadi karena Pak Ghoni kembali memukul-mukuli pantat mereka dengan tongkat.. sembari menyuruh, "masuk! Masuk! Kalo ga masuk! Bapak yang masuk! Kalo bapak yang masuk, bapak hukum kalian semua lebih dari joget monyet!"


"Terus joget apa pak?"


"Joget India."


-

__ADS_1


"Ah anj*r lu emang, Ga" eluh Arka kemudian menutupi wajahnya sendiri dengan topi, sedangkan yang di umpatnya sedari tadi hanya tertawa kecil. Memperhatikan Jena dan juga Dika yang entah sedang membicarakan apa disana. Ya benar, dia sedang duduk di bangku milik Wati sekarang, tepat di depan meja milik Arka dan juga Bin, karena katanya anak itu sedang tidak masuk sekolah hari ini.


"Salah lo lah! Lo udah buat si Naya di bully satu sekolah, dan sebagai cowok, lo juga harus bisa tanggung jawab." ujarnya dengan wajah santai tanpa rasa bersalah. Padahal dia sendiri pun sudah membuat Arka hampir di tertawakan satu sekolah.


"Eh BTW udah-"


Emang lagi syantik.. tapi bukan so syantik.. syantik-syantik gini hanya untuk dirimu…


Handphone Arka yang tiba-tiba berbunyi seketika menyekat ucapannya yang baru saja ingin menanyakan perihal Naya yang sudah terselesaikan kasusnya atau belum. Pada akhirnya pun ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena telvon sialan itu. Padahal dia sangat kepo, "Siapa?" tanya Elga sembari menumpu kedua kakinya.


"Nomor togel."


"Oh. Angkat aja, siapa tau penting."


Setelah dirasa telvon sudah terhubung, Arka pun menganggat handphonenya untuk menjawab seseorang yang entah siapa dan kenapa menelvonnya di saat jam kelas. Beruntungnya kelas mereka sering sekali mendapatkan jam kosong di jam pertama dan kedua.


Mendengar itu laki-laki yang paling unik di antara mereka pun kemudian tertawa geli. Hey! Bagaimana mungkin kakeknya Arka suka memeras uang cucunya. Ah lucu sekali,


"Abah lu matre!" Sahut Bin ikut tertawa juga.


"Nj*r abah gue kaga biasanya dah! Handphone dia kan jadul.. gimana mungkin minta pulsa sebanyak itu, bisa internetan aja kagak," bahkan Arka sendiri pun tidak percaya jika yang menelvon tadi adalah abahnya, "tapi suaranya mirip banget anjay" ujarnya lagi.


"Coba liat," Elga pun meraih handphone temannya yang mulai kebingungan sendiri, kemudian melihat nomor togel yang katanya adalah abahnya. Saat menyadari sesuatu.. mendadak ia mematung di tempat. "Inikan.. hampir sama kayak nomor yang waktu itu nelvon gue."


-


Aldan sudah berdiri di depan sel selama 30 menit, setelah mengantar Naya ke rumah sakit jiwa.. ia langsung bergegas pergi ke kantor polisi untuk memenjarakan ayahnya sendiri yang bahkan tak di sangka-sangka sudah menjadi buronan sejak lama. Ya! Dr.M Barta Danoel adalah Ayahnya.


Aldan ingin menangis saja rasanya setiap kali mengingat betapa kejam ayahnya, betapa tega saat pria itu hampir saja menjual anaknya sendiri ke luar negri, dan entah sudah berapa banyak korban yang telah ia bunuh. Dia benar-benar tak habis pikir...

__ADS_1


"Ayah.. ayah harus bertanggung jawab.. Ibu.. meninggal karena ayah.. dan aku ga minta ayah buat tebus nyawa, ayah cuma perlu.. bertanggung jawab." nyatanya pun sekuat apapun Aldan menahan tangis, ia tetap tidak bisa. Perihal bagaimana ia menangkap ayahnya sendiri, ia mengepung sekawanan ayahnya yang sedang ada di lab laboratorium dengan beberapa polisi yang lumayan banyak.. lab laboratorium adalah tempat yang sering sekali ayahnya kunjungi, mungkin hanya Aldan yang tahu tempat itu. Mungkin.


Awalnya dia pun ingin menyembunyikan ke bejatan ayahnya, karena merasa tak punya siapa pun lagi selain pria yang sedang tertidur di dalam sel itu, tapi kali ini Aldan tidak bisa.. meskipun itu adalah ayahnya sendiri.. Aldan harus bersikap tegas. Apa lagi salah satu korbannya adalah ibunya sendiri.


Ibunya kritis saat itu, dan ayahnya langsung mengklaim bahwa sang istri telah meninggal, ia pun membedah organ dalamnya dan di jual keluar negri. Ah- Ayahnya sungguh tidak punya hati.


Tangisnya pun memecah ketika sudah mulai tak mampu menatap wajah pria tua yang sudah lumayan beruban disana, "Ayah.. harus berubah setelah ini.. Aldan udah maafin ayah." lalu ia berbalik, hendak meninggalkan Ayahnya yang entah mengapa tidak mau bangun dari dalam sel atau sekedar membuka mata, tapi Aldan yakin ayahnya sedang tidak tidur, karena saat ia mulai beranjak pergi dari sana, air mata pun seketika mengalir dari ekor mata Ayahnya.


-


"Dika, Jena kemaren di telvon nomor togel yang ngaku-ngaku emak Jena, padahalkan emak Jena lagi ada di dapur..." ujar Jena sembari menulis rangkuman yang kemarin di tugasi guru IPA. Dika tak begitu menanggapinya, tapi karena penasaran ia pun bertanya. "Dia bilang apa?"


"Katanya emak Jena di penjara gara-gara nabrak bocah, terus polisinya minta pulsa 400rb," mendengar itu mendadak Dika tersedak ludahnya sendiri. Ah penipuan macam apa itu lucu sekali! "Tipu-tipu jangan percaya!" katanya.


Jena tertawa kemudian. "Gimana kalo kita tangkep penipunya? Kita kan kemaren bisa nangkep psikopat, masa ga bisa nangkep penipu beginian, kalo ga dia bisa ngambil lebih banyak korban lagi." ya Jena benar, tapi.. bagaimana caranya? Ngomong-ngomong memikirkan soal penipuan semacam itu Dika jadi ingat sesuatu.


"Anjr masa gue di telvon nomor togel yang ngaku bapak gue, terus dia minta bantuan sama gue buat ngeluarin dia dari penjara dengan cara bagi pulsa."


"Bapak lu mang dimana?"


"Bapak sama emak gue pan dah lama pisah, lagian gue juga kagak tau dia dimana, dah lama kagak kontekan, terus dari mana dia tau nomor gue coba*?”


"ELGA!" teriak Dika tiba-tiba hingga membuat Jena seketika terperanjat dari tempat. Dan bukunya yang tak sengaja ia coret sendiri.


To Be Continue...



Mari kita selidiki penipuan nomor togel.😂

__ADS_1


__ADS_2