
"Udah gue duga kalian ada disini." semprot Arka dengan alis tajamnya yang tampak tidak menyeramkan sama sekali menurut Jena. Sedangkan teman-temannya hanya mematung sembari menatap mereka dengan kaku, kira-kira seperti mengatakan 'what the hell?' Kemudian, beralih ke arah 2 ajudan yang kini sedang tidak sadarkan diri disana
"K-kalian apain.. ajudan itu?" Elga tampak gagap karena terkejut, entah sudah yang keberapa kali untuknya, karena ia merasa jantungnya sudah nyaris copot di dalam sana, atau bisa saja ia akan terkena serangan jantung beberapa saat lagi. "Ini." kemudian, Arka mengangkat tangannya, memperlihatkan 2 jarum suntik kepada mereka. Oh.. bukankah Elga, Jena dan Dika juga sempat pingsan karena jarum suntik itu?
"Ada suntikan di kantong belakang ajudan-ajudan jelek ini, yaudah kita ambil aja, ternyata isinya obat bius ya?" ujar Arka lantas tertawa kecil, merasa lucu. "Cemen amat dah pake acara bius-biusan, pengecut lo semua!" dan pada akhirnya anak itu malah mengumpati mereka yang jelas-jelas tidak akan bisa mendengarnya.
Di balik itu, tanpa sadar ternyata Aldan dan Naya sedang saling tatap, tatapan yang...
BRUK!!
Dika terjerembab saat Naya menubruknya dengan keras dari depan, begitupun Aldan dan Bin yang sedari tadi memeganginya, kedua anak itu mencoba kabur dengan tangan yang sama-sama di borgol, namun satu gerakan cepat membuat Aldan dan juga Naya tiba-tiba saja jatuh pingsan, ya benar.. Arka baru saja menyuntikan sisa obat bius itu ke leher mereka dengan dua tangan. "Wow cepet banget ya kerjanya." begitu gumamnya.
Sedangkan orang-orang di belakang yang sedang memperhatikan dengan tegang, hanya menghela napas kemudian. Astaga 2 orang gila itu. Umpat Elga dalam hati, tak berapa lama Jena pun mulai mengeratkan pegangannya membawa ia berjalan meski agak sedikit tertatih, bukan modus. Itu karena kaki Elga benar-benar terasa keram, seperti ada yang menusuk telapak kakinya setiap kali melangkah.
Sedangkan Dika dan Bin yang baru saja tersungkur, mencoba untuk bangkit dan berdiri, sial.. pantat gue sakit, umpat keduanya dalam hati secara bersamaan.
-
Sekarang mereka kembali lagi ketempat dimana mereka terjebak untuk yang kedua kalinya, ya benar, gedung rahasia milik prof. Barta Danoel, mari kita memanggilkan dengan sebutan professor saja, karena dia sama sekali bukan dokter, benar?
__ADS_1
Elga tercenung saat Aldan membawa mereka keruang bawah tanah, ya! Mereka datang kesana dengan membawa Aldan, bermaksud untuk membantu mereka mencari ayah dari Elga.
Arka bilang, Aldan juga sudah mengaku semuanya, perihal ia yang menyembunyikan ayahnya sendiri, dan perihal ia menyembunyikan Naya untuk membantunya membalaskan dendam. Elga, Dika, Bin maupun Jena sempat tercekat sebelumnya, namun mereka tak begitu menggubris terlalu lama karena bagaimana pun mereka tidak punya banyak waktu untuk menyelamatkan Ayahnya Elga yang entah sudah berapa lama dikurung oleh prof. Barta Danoel.
"Dimana? Apa masih jauh?" Dika mengeratkan pegangannya pada bahu Aldan, membuat anak yang kini memimpin perjalanan mereka tampak gemetaran, entah karena takut di apa-apakan, atau malah takut kalau harus melihat ayahnya lagi yang entah sekarang sedang apa dan bagaimana kondisinya.
"S-sebentar lagi." jawab Aldan dengan suara lirih, Jena, Bin dan Arka pun mengintili mereka dari belakang, pandangannya mengitari seisi ruangan bawah tanah yang tampak menyeramkan, tidak ada penerangan sama sekali, bahkan lampu pijar sekalipun, astaga Jena tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi tempat ini jika malam nanti, apakah akan sangat gelap seperti di alam kubur? Jena pikir jika ia yang di kurung mungkin ia akan mati dalam semalam karena sesak napas.
Hingga tak berapa lama, mereka pun telah sampai di ruangan yang agak sempit, berdiri di depan sel besi yang tampak berkarat.. kemudian sama-sama memandangi orang di dalamnya yang hanya meringkuk tanpa selimut ataupun kasur, terkecuali Aldan yang hanya menunduk sedari tadi. Ketakutan.
"Professor..." hingga satu panggilan dari Elga membuat orang tua yang kini tampak mengenaskan disana menoleh dengan gerakan lemas, terkejut kecil saat menyadari kedatangan mereka yang sangat tiba-tiba. Dengan tatapan 'siapa anak-anak itu?'.
Professor itu tak bergeming, tubuhnya melemas dengan pakaian kaos yang sudah sangat kotor, wajah tua itu kini semakin terlihat nyata, di tambah lagi.. mata sayubnya yang nyaris mirip seperti orang sekarat.
"Dimana? Anda sembunyikan ayah saya?," Elga berdiri dengan kaku di tempatnya, hatinya sakit, sesak, dan hancur setiap kali ia harus mengingat wajah sang ayah. Entah benci atau malah rindu, ia bahkan tidak bisa untuk mengerti perasaannya sendiri, "professor.. anda pasti tahu, orang yang bernama Burhan Prasetya, itu.. adalah ayah saya." kemudian bibirnya bergetar, entah sejak kapan air mata membendung disana.. rasanya memang sesakit itu, ayahnya memanglah seseorang yang tidak patut ia cari.. ia sudah merusak rumah tangganya sendiri, dia ayah sekaligus suami yang tidak bisa bertanggung jawab. Tapi walau bagaimana pun ia masihlah sesosok ayah yang harus Elga akui sampai kapanpun.
Sedangkan yang di tanya hanya menggerakan tangannya dengan lemas, menunjuk sel lalu mengarahkan tangannya ke atas membentuk hurup V. Dari sana Elga hanya bisa memahami.. "Penjara vip?" ya, hanya itu yang bisa ia pahami, dan ternyata benar, pertanyaan itu di angguki dengan samar oleh si professor.
"Dimana?" tanyanya lagi sembari masih menahan segala amarahnya di ubun-ubun, mencoba untuk tidak menangis atau berteriak detik itu juga. Hingga satu jawaban yang pasti membuatnya menoleh dengan cepat, "gue tau tempatnya" itu suara Aldan.
__ADS_1
"Kalo gitu anter kita kesana." Aldan yang kini juga nampak tak berdaya hanya mengangguki perintah dari Dika. Namun agaknya dia nyaris melupakan sesuatu, "apa lo gamau lepasin ayah lo dari ruangan ini?" oh ayolah Elga, disaat seperti ini pun kamu masih mau berbaik hati. Utamakanlah ayahmu dulu.
Namun sialnya, Aldan hanya membalas pertanyaan itu dengan gelengan kepala.. ternyata Aldan masih menyimpan dendam sebesar itu, hingga ia berani memperlakukan ayahnya sendiri seperti ini, ah ayah tiri.
"Terserah sama ayah lo, sekarang ayo anter kita ke tempat persembunyian ayahnya Elga." Jena yang sedari tadi diam pun kemudian menyahut. Geram dengan keheningan yang terjadi setelah Aldan menggelengi pertanyaan dari Elga. Hingga satu anggukan lagi yang di berikan anak itu membuat mereka mau tak mau harus mengikutinya dari belakang. Termasuk Elga yang hanya menatapnya dengan datar. Tanpa ekspresi apapun.
Mereka melewati satu lorong lagi, namun yang ini tidak terlihat begitu menyeramkan seperti tadi, meski tidak ada lampu, tetapi karena temboknya memakai tembaga silver, jadi tempat ini tidak terlalu gelap. Ruang Vip ya? Sepertinya prof. Barta Danoel tidak sekejam itu mengurung para calon korbannya, karena mungkin ia tidak ingin para calon korbannya sakit atau bahkan mati didalam sana sebelum operasi dimulai. Semoga ayahnya baik-baik saja, dan semoga kekhawatiran Elga kini tidaklah benar.
Hingga selang beberapa menit setelah perjalanan klise mereka, sampailah mereka pada tempat tersebut, tempat yang dimaksudkan prof. Barta Danoel beberapa menit yang lalu, Disana.. terlihat ada orang tua yang sedang meringkuk tanpa selimut dengan kasur persegi panjang yang lumayan luas.
Mendadak Elga merasa jantungnya berhenti seketika saat melihat sosok ayahnya yang benar-benar berada di dalam sana, hingga tanpa sadar.. air matanya pun meluncur, kemudian menjatuhkan kedua lututnya dengan sisa-sisa tenaga yang nyaris terkuras habis.
Sebenarnya Jena ingin sekali menghampiri Elga dan memeluknya, memberi anak itu kekuatan, namun di situasi seperti ini sepertinya mereka tidak akan bisa melakukan apa pun kecuali membiarkan temannya menangis atau bahkan marah sejadi-jadinya.
"Ayah..."
To Be Continue...
__ADS_1
Kenalin, dia kak mark, pacar aku🤗. Tapi boong😜