DETEKTIF TUMUS

DETEKTIF TUMUS
Episode 29 (Elga dan Jena ship)


__ADS_3

"Eh, lu ama Jena nganterin sepeda gandeng ini ye, gue lupa kalo buku matematika gue ketinggalan di kantin bu Seli, mana besok ada tugas lagi." ujar Dika sembari menyerahkan sepeda gandeng ke arah Elga yang malah melongo di tempat, Sedangkan Jena menanggapinya dengan sangat antusias, bermain sepeda dengan Elga ya? Oh ayolah itu seru sekali, selama ini ia belum pernah bermain sepeda dengan Elga.


"Sialan, terus kita pulangnya jalan? Jauh bangetlah bege." Elga mengumpat dengan segala kekesalannya, apa-apaan mereka itu, Dika yang mengambil sepedanya dia yang harus mengembalikan.. ah anggap saja itu sebagai balas budi.


"Ya kagak lah bazer, ntar kita balik lagi sambil bawa sepeda lo berdua." mendengar itu Arka dan Bin mengangguk sebagai respon, entah mengapa juga mereka jadi agak alim sekarang. Sementara Elga hanya mendengus samar kemudian, mencoba menaiki sepedanya dengan hati-hati sembari menunggu Jena naik di bagian belakang. Meskipun di depan sana, ada Arka yang tampaknya sedang cemburu.


"Kita tunggu di taman aurora ya..." teriak Jena setelah Elga tiba-tiba saja melajukan sepeda tanpa mengatakan apapun lagi, bahkan tidak untuk sekedar pamit. Dasar anak menyebalkan itu.


Kota Jakarta seperti biasanya selalu ramai.. gedung-gedung tinggi yang menjulang, appartement dan segala macam pedagang kaki lima, menghiasi kota dengan sangat indah.. mungkin lebih terbilang padat dan panas, ya memang pemandangannya tidak terlihat membosankan tetapi tidak bisa di pungkiri bahwa kota dengan keramaian seperti ini, jauh lebih panas dari desa.


Jena dan Elga menggoes sepeda dengan santai, pandangan mereka mengitari ke sekelilingnya, sesekali juga menyapa orang-orang yang mereka lewati dengan senyuman meskipun tidak kenal. Mungkin lebih banyak Jena yang menyapa di sini.


Karena Jena bukanlah type orang yang suka dengan keheningan, dia pun menyahut, "Elga..." sedangkan yang merasa terpanggil hanya berdehem sebagai jawaban.


"Maaf ya..." mendengar itu, kemudian Elga melirik Jena dari ekor matanya, tanpa sadar bibirnya tertarik.. tidak tertawa, hanya tersenyum tapi entah mengapa ia merasa ada yang menggelitik perutnya. Minta maaf untuk apa? Gadis itu memang selalu aneh.


"Justru gue mau terimakasih sama lo Jen, gara-gara lo keras kepala mau nyari tau tentang bapak gue, gue jadi bisa nyelametin bapak gue, kalo ga entah gimana nasibnya dia nanti." Elga tersenyum lagi, sembari melajukan sepeda dengan hati-hati karena ia menyadari jikalau lutut temannya sedang tidak baik.


"Sebenernya.. itu Dika yang ngajak bolos tadi-"


"Yaudah yang penting kalian udah bantu gue, meski awalnya gue gamau, makasih ya, gue bahagia banget hari ini." Ah rasanya bahagia sekali bukan? Melihat seseorang yang kita sukai bisa berbahagia karena kita? Meskipun hal kecil tetapi itu adalah sebuah keberuntungan besar bagi Jena, bukankah selama ini ia sering sekali membuat Elga kesal? Sekarang ia juga bisa membuat Elga bahagia seutuhnya, mungkin.


"Kok Jena baru denger ya.. Elga ngomongnya manis kayak gini?" Jena menaikan sebelas alis, merasa agak heran karena Elga bersikap tidak seperti biasanya, Elga yang menyebalkan dan suka toxic mendadak hilang dan berubah menjadi anak manis.

__ADS_1


Sementara yang di tanyai, hanya tergelak kecil sebagai tanggapan. Selang 10 menit setelah perjalanan klise mereka, Elga dan Jena pun turun dari sepeda, memberikan benda tersebut kepada pemiliknya meski si pemilik bilang, "Nak, kaliankan nyewanya 4 jam? Kurang 1 jam lagi." yang hanya di balas dengan cengiran anak-anak itu kemudian.


"Bosen mang, kita mo jalan-jalan ke taman ajalah." ujar Elga sembari tersenyum manis, wah.. sepertinya anak itu memang sedang bahagia hari ini. Entah bahagia karena bertemu ayahnya atau malah bahagia sudah ikut membolos dari sekolah.


"Perasaan neng ini jalannya bukan sama kamu." meskipun begitu, agaknya si amang hapal betul dengan pengendara sepeda gandeng berwarna biru muda itu sebelumnya, baju, bentuk dan tinggi badannya terlihat beda, meski si amang tidak melihat dengan jelas dimana perbedaan wajah mereka.


"Tadi abis berubah ala airemen mang." mendengar itu Jena mendadak tergelak, tangannya yang sedari tadi ia simpan di samping paha pun ia gerakan untuk memukul Elga. Sementara itu.. Jena di buat terkejut saat Elga tiba-tiba saja mendapati pergelangan tangannya, membawa ia pergi dari sana dan memasuki area taman aurora setelah sebelumnya berpamitan pada si pemilik sepeda. "Kita pergi dulu ya mang."


-


"Elga, kita mau kemana si?" tanya Jena yang sedari tadi mengintili anak itu sembari terus memutari taman aurora. Astaga dasar kaki robot, apa dia tidak punya rasa lelah begitu? Rutuk Jena dalam hati. Tapi agaknya jalan-jalan bersama Elga seperti ini.. memang tidak melelahkan, Sungguh.


Hingga satu sahutan yang menarik membuat Jena dengan cepat menolehkan kepala. "Photoin gue." Lalu secara reflex bibirnya tertarik ke samping, menonjolkan 2 kempot kecil di pipinya yang terlihat imut, "photo?" tanya Jena sembari tergelak tidak percaya. Sementara yang di tanyai hanya membalasnya dengan anggukan.


"Yaudah sini dimana?"


"Di depan bunga sakura." tunjuk Elga pada pajangan bunga sakura yang rindang dengan nuansa jepang. Astaga padahal itu bukan bunga sakura asli, itu hanyalah sebuah tembok yang di lukis buram sehingga ketika orang-orang berfoto disana, mereka akan terlihat nyata seperti ada di depan bunga-bunga tersebut dengan kamera SLR. Elga ini lucu.. banyak pemandangan yang bagus seperti berfoto dengan robot, pocong, vampir dan lainnya.. tetapi ia malah memilih berfoto dengan lukisan bunga sakura yang kebanyakan di minati oleh perempuan.


"Sini kameranya." Jena mengulurkan tangan, bermaksud untuk meminta handphone anak itu, namun Elga malah mengambil handphonenya yang ada di kantong kecil tasnya. Dan menaruh benda tersebut ke atas telapak tangan Jena, "pake kamera lo" katanya.


Ah, Jena tahu pasti kamera handphone Elga tidak HD dan kusam, mungkin itu yang membuat Elga jarang berfoto dan malah meminjam kamera handphonenya untuk bereskis. Memikirkan itu Jena jadi ingin tertawa keras.


Elga pun melangkah maju, berdiri di depan tembok yang di lukisi pemandangan bunga sakura dengan kaku.. membuat Jena seketika tergelak karenanya. "Kaku banget sih, ga lucu." mendengar itu, Elga mencibir.

__ADS_1


"Angkat tangan dong Elga, lenturin badannya.. gaya sedikit ya..." titah Jena yang kemudian di turuti oleh si empunya. "1.. 2.. 3..."


Jekrek.



"Udah-udah gue capek." ujar Elga sembari berlari menghampiri Jena yang malah tertawa kecil memandangi hasil jepretannya sendiri. Benar-benar seperti berada di kebun bunga sakura, entah mengapa Elga jadi terlihat seperti orang korea di foto itu.


Ngomong-ngomong Elga juga sudah berganti pakaian setelah mengantarkan ayahnya ke kontrakan dan sholat dzuhur. Baju yang kebesaran itu tentu saja milik ayahnya.


"Baru satu kali udah capek, Elga ga tau aja.. perempuan kalo foto sampe puluhan kali, yang di upload cuma 1-3 foto." Jena tersenyum pada Elga yang kemudian mengalihkan atensi pada handphonenya, menatap dirinya dengan tatapan 'ganteng juga'.


"Iyakah? Lo juga pasti?" tanya Elga tanpa melirik ke arah Jena dan masih memperhatikan poto dirinya yang entah mengapa lebih terlihat seperti di foto oleh juru kamera, baiklah Jena berbakat dalam bidang potographi.


"Iya." mendengar jawaban singkat itu Elga langsung di buat tertawa, "kalo gitu sini gue foto sekali, abis itu langsung di upload ya." Katanya, kemudian menekan tools kamera dengan cepat, dan mendorong Jena untuk berphoto juga. Tetapi yang lebih mengejutkannya lagi, ia malah mengambil tas ibu-ibu dengan alasan meminjamnya untuk membuat penampilan Jena jadi lebih menarik.


Terlebih lagi Elga memfotonya tidak sekali dua kali, dia bahkan menjepretkan kameranya beberapa kali membuat Jena kebingungan harus bergaya seperti apa lagi, astaga dia dibohongi.. apa Elga mencoba membuatnya kesal atau malah mau membuat memori handphonenya penuh? Sialan bocah itu.


"ELGAAAA!!!"


"hahaha..." Elga reflex berlari saat Jena mengejarnya setelah sebelumnya memberikan tas itu lagi kepada si pemilik,  entah mengapa Jena merasa kesal.. baru pertama kalinya juga ia jadi ingin sekali mencabik Elga, hingga berakhirlah mereka dengan kejar-kejaran.


**To Be Continue...

__ADS_1


Hmmm apakah Jena sudah menang banyak disini? Ataukah Elga yang malah caper?☻**


__ADS_2