DETEKTIF TUMUS

DETEKTIF TUMUS
Episode 23 (Satu Fakta Baru)


__ADS_3

Dika dan Jena mengendarai sepeda gandeng itu dengan cepat, posisi Dika di jok depan dan Jena yang mengikutinya di bagian belakang. Kini banyak sekali pejalan kaki yang memperhatikan mereka secara terang-terangan,  bukankah seharusnya sepasang kekasih mengendari sepeda seperti itu dengan romantis, tapi mengapa yang ini malah terlihat brutal sekali, pikir mereka.


Tak mau menyia-nyiakan banyak waktu, Dika pun melajukan sepedanya semakin cepat, membuat Jena mau tak mau harus mengikutinya, mereka melewati jalanan yang agak sempit karena tidak mungkin di situasi seperti ini mereka melajukan sepeda di jalan raya, bukan hanya akan terkena macet, mereka juga bisa saja menabraki orang-orang yang sedang berjalan kaki atau para pedagang kaki lima disana.


Setelah sekitar 10 menit menempuh perjalanan yang agak menyeramkan, karena nyaris menabraki tembok-tembok rumah saking tergesanya, mereka pun sampai di tempat tujuan dengan selamat tanpa lecet sedikit pun, dan benar saja.. mobil yang sering Naya kendarai kini sudah terparkir di depan rumahnya, bersama dengan para ajudan yang sejak tadi berdiri di depan pintu rumah tersebut.. oh tunggu dulu, sejak kapan Naya memiliki ajudan? Seingat Jena.. sewaktu dia berkunjung ke sini, tidak ada ajudan sama sekali yang berjaga di pintu rumahnya.


Apakah jangan-jangan? Gadis bertopeng yang menculik Elga beberapa puluh menit yang lalu adalah benar dia orangnya? Astaga, entah mengapa jantung mereka kembali berdebar hebat. Pasalnya kalau ini memang benar, berarti Naya tidak bisa di anggap main-main.


"Kita mau apa sekarang?" bisik Jena pada Dika yang sedang menyembunyikan sepeda mereka di balik semak-semak, lantas berjalan mengendap ke arah mobil milik Naya, bersembunyi disana. Tentu saja itu adalah miliknya, karena plat BT1806 TX adalah plat mobilnya.


"Siapa yang mau masuk?" mendengar pertanyaan itu Jena seketika menoleh ke arah Dika yang masih menatap para ajudan disana dengan sengit, lantas bertanya dengan agak heran. "Ngapain nanya begitu? Kita harus masuk kesana bareng-bareng." ujar Jena dengan sedikit berbisik, kemudian kembali memandangi sekeliling rumah tersebut, bermaksud mencari jalan untuk menyelinap masuk tanpa ketahuan.


"Gaada cara lain, kalo gitu lo harus narik perhatian ajudan itu, nah gue yang masuk, gimana?" kedengerannya itu sangat mustahil, bukan, bukan mustahil tetapi berbahaya, bagaimana jika Dika sampai berhasil masuk kemudian dipergok dan dia malah ikut terkurung. Astaga.


"Ga! Kita harus masuk bareng-bareng." Jena masih tidak menyetujui sarannya, sementara Dika hanya menghela napas pelan, mencoba tenang, "kalo gitu..." katanya dengan kalimat yang diputus, kemudian tiba-tiba saja ia menarik lengan Jena keluar dari persembunyian, membuat mereka terpergoki, dan seketika itu Jena melotot tidak percaya. Apa lagi saat para ajudan disana mulai berteriak. "Siapa disana?!"


Dika merapatkan tangan mereka yang masih saling bertautan, menggenggam Jena dengan erat, lantas dengan cepat ia membawanya berlari karena para ajudan itu mulai menghampiri mereka dengan sorot mata yang sama-sama tajam. Dan ya! Tidak salah lagi, itu adalah ajudan yang baru saja mereka temui beberapa puluh menit yang lalu di gedung lab rahasia tempat eksperimen milik Dr.M Barta Danoel.

__ADS_1


Karena merasa tidak ada pilihan lain dan Jena masih tetap ingin pada pilihannya, bahwa mereka harus pergi bersama-sama, maka tidak akan ada yang bisa mereka lakukan kecuali mereka harus mengelabuhi para ajudan tersebut dan melangkahi setiap resiko bersama-sama pula. Asalkan kedua tangan mereka yang saling bertautan itu tidak terlepas, Dika yakin mereka pasti bisa selamat.


Namun sialnya, kaki Jena tiba-tiba saja terasa keram, ia sudah tidak sanggup berlari lagi dan akhirnya.. tubuhnya pun ambruk ke atas aspal, seketika itu Jena mulai meringis kesakitan, karena ternyata benturan yang tidak di sengaja itu terlalu keras menyentuh aspal, hingga lututnya sedikit tergores dan berdarah.


Dika yang kalang kabut sendiri pun kemudian mencoba menggendongnya, melempar tubuh mereka sendiri ke dalam semak-semak yang cukup rindang untuk bersembunyi, karena para ajudan itu ternyata sudah terlalu dekat dengan posisi mereka.


Dika menukikan alis hingga dahinya tampak kusut, kemudian menutup mulut Jena yang masih tampak kesakitan, mencoba untuk mengheningkan suara beberapa saat selama ajudan itu belum benar-benar pergi dari sana, mereka sempat berhenti di depan semak-semak sembari menetralkan napas masing-masing.


Mereka juga bisa mendengar bahwa para ajudan disana sedang saling mengumpat, "anak apa setan si larinya cepet amat!" ujar salah satu dari mereka yang wajahnya sudah memerah akibat sesak napas. Ia kemudian menyeka keringatnya beberapa kali.


Akan tetapi kekhawatirannya pada Elgalah yang lebih ingin membuatnya menangis. Saat Dika mulai menoleh ke arahnya, air mata tiba-tiba saja meluncur dari mata gadis cantik itu, ia menunduk.. memegangi darah di lututnya yang agak kotor. Seketika Dika merasa sangat bersalah padanya karena telah membuat Jena bolos sekolah dan ikut terperangkap dalam situasi seperti ini. Padahal ia sudah menjamin tidak akan terjadi apa-apa, dan mereka tidak akan terluka sedikit pun.


Tapi nyatanya, ia tidak bisa menepati janji.


"Maaf," ucap Dika lirih, membuat gadis itu reflex mendongak, "gue jadi buat lo luka dan nangis kayak gini, seharusnya kita ga bolos." Mendengar itu Jena kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dika salah, insiden ini mungkin saja akan terjadi meski ia tidak membolos dari sekolah, Naya pasti akan menjebak mereka kapan saja meskipun Dika tidak mencaritahunya lebih dulu. Insiden ini pasti akan terjadi.


Lagi pula Jena menangis bukan karena menyesal telah membolos, tapi ia hanya sangat mengkhawatirkan pujaan hatinya itu, "Jena cuma khawatir banget sama Elga" ujarnya kemudian. Membuat Dika sempat melotot kecil, dia nyaris tidak ingat dengan Elga karena memikirkan kondisi Jena.

__ADS_1


"Terus lo gimana? Bisa jalan? Gue gendong aja deh ya." Dika membungkukan tubuhnya lagi sembari berbalik memunggungi Jena, tetapi gadis itu malah memukulnya dari belakang, "ga usah! Kalo di gendong yang ada kepergok,  udah ayo Jena masih bisa jalan kok, asal jangan lari cepet-cepet ya." jawabnya dengan agak sedikit berbisik. Karena Dika sangat tahu karakter Jena yang sangat amat tidak bisa di bantah, pada akhirnya pun ia hanya mengangguk, kemudian membantunya untuk berdiri.


Setelah dirasa para ajudan itu sudah pergi dari sana, mereka pun dengan cepat menghampiri rumah Naya, meloloskan langkah kaki yang awalnya enggan untuk masuk. Kini mereka sudah bisa melihat dengan jelas bagaimana keadaan rumah gadis itu sebenarnya, setelah mengetahui beberapa fakta tentang Naya, Dika jadi agak sedikit merinding meskipun pernah sekali memasuki rumah ini.


Sebelum para ajudan datang, mereka harus lebih cepat bergerak untuk menemukan tempat dimana Naya menyembunyikan Elga, karena Jena yakin sekali ia pernah melihat tempat itu disini, rumah Naya sangat luas dan ia sempat iseng-iseng mengelilingi rumah Naya beberapa hari yang lalu setelah insiden kedatangan Aldan yang kemudian membawa Naya pergi 'untuk di bawa kerumah sakit jiwa', dan seingatnya.. ia pernah mengunjungi tempat yang ada di dalam video life instagramnya dengan akun Dr.M Barta Danoel beberapa puluh menit yang lalu.


-


"Sekarang.. ayo kita buktikan, siapa yang lebih pinter disini." ujar seorang gadis yang baru saja membuka topengnya dengan kasar, membuat Elga yang baru saja terbangun dari pingsannya mendadak tercekat di tempat. Naya.. apa dia tidak salah lihat? Dan di belakangnya.. mengapa ayahnya tersenyum seperti itu? Seperti bukan ayahnya.


To Be Continue...



**Selamat malam.. salam dari para cogan DETEKTIF TUMUS yang sekarang ini lagi kejebak misteri. 😁🤗 Dukung mereka terus ya sampe misteri itu terpecahkan.😂✊


dengan memberi Vote, like dan Komentarrr**.

__ADS_1


__ADS_2