
"Tapi kenapa lo tau bentuk wajah bapak gue?"
Gadis yang masih dengan pakaian hitam-hitam itu kemudian berjalan menghampirinya, berjongkok di depan laki-laki yang ia pasung sendiri di kursi roda, membuat Elga hanya menukikan alis saat Naya mulai mendekatkan jarak mereka.
"Bapak kamu korban juga kan? Tapi aku gatau bapak kamu dimana. Cuma professor itu yang tau." katanya, mendadak Elga merasa jantungnya berpacu lebih cepat, seluruh tubuhnya pun kini gemetaran setelah mendengar bahwa ayahnya adalah korban? Ah tidak mungkin. Bagaimana bisa? Berarti kalau begitu ayahnya tidak pernah kemana-mana. Dia masih di sekitar sini? Baiklah.. instingnya memang tidak akan pernah salah.
"M-maksud gua, kenapa lo tau dia bapak gua?" Elga mulai bertanya lagi, membuat gadis yang sedang ia tanya menyeringai kemudian, membalas tatapan dinginnya dengan tatapan meremehkan, "Aku nyelinap ke TU, dan aku nyari tau tentang kalian." cukup. Penjelasan itu susah cukup membuatnya mengerti, dasar gadis aneh yang menyeramkan. Umpat Elga dalam hati.
Sekarang ia hanya berharap, Dika dan Jena datang untuk menyelamatkannya, seperti ia menyelamatkan Jena waktu itu, oh ayolah, Naya benar-benar seorang psikopat.. Elga tidak ingin mati dengan cara seperti itu. Ngeri.
"Aku udah pasrahin Dr.M Barta Danoel sama Aldan, sekarang aku udah gasanggup lagi buat hidup.." ujar Naya sembari tertawa kecil, ia pun menundukan kepala hingga isakannya terdengar lagi, "aku..udah hancur." kemudian air matanya meluncur menerobosi pipi, ia mencoba menunduk sedalam mungkin untuk menyembunyikan wajahnya dari Elga. Sakit, sesak, putus asa, lelah dengan segala dendam Hanya itu yang memukulnya saat ini, ia ingin berlari.. menjauhi hiruk pikuk dunia. Tapi entah harus ke arah mana.
Setelah beberapa detik terisak, gadis itu dengan cepat menyeka air matanya, tersenyum lagi. Senyuman yang terlihat banyak sekali ke putus asaan di dalamnya, "tapi aku gamau sendiri, ayo kita terjun bareng-bareng ke sungai arasoma." mendengar itu Elga seketika melotot, hingga matanya nyaris melompat keluar saking terkejutnya, apa? Dia memang sudah gila. Anak itu terus saja merutuk setiap kali Naya menatapnya seperti itu. Tatapan orang gila yang sedang putus asa, dan dia semakin terlihat gila ketika mengajak orang lain untuk bunuh diri bersamanya.
Oh tuhan, tolong selamatkan Elga. Dia tidak punya kekuatan supernatural sama sekali untuk menyelamatkan diri dalam keadaan seperti ini.
"Lo gila ya? Lepasin gua! Gua bukan orang putus asa jadi kenapa lo ngajak-ngajak gua." suaranya terdengar sarkas dan marah, membuat Naya tersenyum manis melihatnya, ya Elga semakin terlihat manis ketika sedang marah. Ia bisa akui itu. Tanpa menjawab apapun lagi kemudian Naya pun berdiri hendak mendorong kursi roda Elga keluar. Sedangkan anak yang sedang berada di atas kursi itu hanya menggeliat tergesa sembari berkata. "lepasin gua woy."
__ADS_1
Tapi.. langkahnya mendadak terhenti ketika ada dua orang yang menerobos masuk dengan napas memburu, berdiri di depan Elga dan Naya, membuat gadis itu seketika tercekat di tempatnya, "haah haah stop it! stop it! Jena gaakan tinggal diem ya haah lepasin.. Elga! haah" ujar Jena sedikit kelabakan karena sesak napas. Membuat Elga yang tangan dan kakinya masih terpasung itu tersenyum selebar mungkin, ia tahu teman-temannya pasti akan datang.
"Naya?" sedangkan Dika malah tampak melotot kecil menatap keberadaannya, merasa tidak percaya. Oh omong-omong mereka tidak sedang di gudang sekarang melainkan di basement kecil rumahnya. "Kenapa lo nyulik Elga?" pertanyaan itu sudah dua kali ia dengar, tatapi untuk kali ini ia tidak akan menjawabnya.. ia harus.. melarikan diri.
Namun dengan cepat Dika dan Jena mencengkram kedua tangannya, hingga Naya tak bisa keluar dan tubuhnya tiba-tiba saja di lempar kedalam. Keempat mata itu kemudian menatapnya dengan tatapan menuntut. Entah mengapa jantungnya kini berdebar tidak karuan, padahal ia sendiri bukan yang merencanakan semua ini? Dia termasuk seorang penjahat, mengapa ia harus takut pada mereka sekarang?
"Jawab gue!" suara Dika naik dua oktaf, membuat Naya tersentak kecil. "Dika." namun satu panggilan pelan dari Elga kembali mengheningkan seisi ruangan, anak itu menatap Dika dengan tenang, kemudian matanya turun kebawah menunjuk tangan dan kakinya yang masih terpasung, oh astaga Dika hampir melupakan itu.. namun gerakannya kalah cepat oleh Jena yang tiba-tiba terduduk di depan Elga, mencopoti tambang besar yang melilitinya dengan tergesa, dan astaga.. bahkan tambang itu kini membuat tangan dan kaki Elga tampak lecet, mungkin karena saking kencangnya.
Gadis itu mengusap pelan lengan Elga yang sedikit berdarah, mencoba meredakan rasa nyerinya, membuat Elga secara tidak sadar menatapinya terang-terangan. Jena sangat baik dan perhatian, dia gadis pemberani yang hiperaktif, entah mengapa kini jantungnya berdebar tidak karuan.
"Elga.. apa ini sakit?" Ah seharusnya Jena menanyakan itu kepada dirinya sendiri, bukankah lututnya juga terluka? Sementara anak yang di tanyainya hanya menggelengkan kepala, masih menatapnya dengan pipi yang nyaris memerah. Ada perasaan takut, senang dan juga lega yang menyelimuti hati Elga secara bersamaan.
Karena salah tingkah sendiri, Elga pun reflex menarik tangannya, membuat Jena mendongak hingga gerakannya terhenti dan ia menatap Elga yang wajahnya sudah memerah bak jambu matang dengan tatapan polos. Seperti tidak punya rasa bersalah.
"A-apan sih.. gausah di cium juga." ujar Elga kemudian memalingkan wajah. Salah tingkah, "kata mama Jena, kalo lukanya di cium itu bakal lebih cepet sembuh dari pada obat." balas Jena masih menatapnya setenang air, ah tidak.. itu terlalu polos untuk tindakan tidak tahu malunya tadi, Hingga Dika dan Naya yang menyaksikan itu sampai lupa dengan urusan mereka.
"Jadi apa maksud lo nyulik Elga?" Dika akhirnya bertanya kembali kepada Naya yang masih berdiri mematung, berusaha meminta penjelasan dengan tatapan menuntut. Namun sialnya, ia malah di balas dengan air mata.
__ADS_1
Baiklah Naya tidak gila, dia.. hanya nyaris gila karena rasa depresi dan traumanya yang berlebihan, tidak ada alasan pasti untuk menculik Elga, dia hanya tidak suka ada grup intel yang menyerupai grupnya dulu, dan dia ingin menghancurkan mereka. Mungkin itu yang bisa Elga pahami untuk saat ini, meski ia nyaris saja di ajaknya untuk bunuh diri, oh ayolah itu menyeramkan.
"Biar gue yang jelasin, bawa dia ke dokter sikologi, setelah ini bantu gue buat nyari bapak gue." Elga angkat bicara, menatap Dika yang masih tampak marah, kini tatapannya berubah tenang ketika berpaling ke arah temannya yang masih di atas kursi roda itu. Tapi.. ada yang aneh disini. "Bukannya bapak lo tadi ada ya?"
Hingga satu jawaban singkat namun jelas dan padat, membuatnya seketika tersedak ludah sendiri. "Dia bukan bapak gue." jawab Elga datar. Sedangkan Jena hanya menatap mereka dengan tenang, seperti sudah tahu semuanya, ah apakah dia memang sudah menyadari itu sejak awal?
Anak itu kemudian perlahan bangkit dari kursi roda. Mencoba memberdirikan kakinya yang entah mengapa terasa keram di tambah lagi lukanya yang masih terasa perih. Membuat jalannya agak sedikit pincang, ah walau bagaimana pun ia harus banyak-banyak bersyukur karena takdir sudah menolak kematiannya hari ini.
"Sini biar Jena gandeng." gadis itu dengan cempat menarik lengan Elga tanpa meminta persetujuan darinya lebih dulu. Bersamaan dengan Dika yang memborgol kedua lengan Naya dengan tiba-tiba membuat Naya sedikit memberontak, entah sejak kapan laki-laki itu membawa borgol Jena sendiri pun tidak tahu. Ah biarkan saja.. sepertinya Dika memang sudah memprediksikan hal ini akan terjadi.
Ke 3 orang disana pun kemudian keluar dari ruangan, membawa Naya dan juga Elga yang sudah tampak melemas, namun ada yang lebih membuat mereka terkejut lagi, saat baru saja sampai di depan pintu, mereka melihat para ajudan itu sudah tergeletak mengenaskan di atas lantai teras rumah. Di tambah lagi ada Arka dan juga Bin disana, mereka membawa.. Aldan?
Astaga.. mengapa mereka kesini? Bukankah ini masih jam sekolah?
TO BE CONTINUE...
__ADS_1
Elga's mom?? Cantiks kan? Iya kek anaknya, eh anaknya ganteng dong masa cantiks:{