DETEKTIF TUMUS

DETEKTIF TUMUS
Episode 22 (Teka-Teki Gadis Bertopeng)


__ADS_3

Song Recomendation : LATHI - Weird Genius Ft Sara Fajira ( Cover By Missing Madeline)


"Itu kayak suaranya Aldan!!" Jena langsung berteriak histeris setelah menyadari bahwa suara yang ada di dalam Vn itu persis sekali dengan suara Aldan, dan Dika yang juga ikut terkejut pun kemudian menatap Jena dengan tatapan yang sama. Meski sempat menutupi kupingnya karena linu akibat teriakan Jena tadi, "Berarti cewek topeng tadi itu Naya?/Berarti cewek bertopeng tadi itu Naya?" tanya mereka bersamaan. Reflex karena keterkejutan yang luar biasa.


"Ck..astaga." karena mulai lelah dengan semua teka-teki itu, Dika mengusap wajahnya dengan kasar lantas beralih mengacak-acak rambutnya yang semula memang sudah terlihat agak berantakan, dia hanya tidak habis pikir, sebenarnya misteri macam apa ini? Aldan menguntit mereka? Lalu dengan motif apa? Bukankah mereka bahkan tidak pernah berurusan dengan siapa pun sebelumnya?


Ahk Dika pusing sekali memikirkan ini. Apa lagi Jena yang kembali dilema, pasalnya mereka harus menyelesaikan yang mana dulu.. misteri tentang ayahnya Elga atau Naya dan Aldan? Atau malah.. ini sebuah kasus berantai yang saling berhubungan? Rasanya tidak mungkin. Tetapi mereka harus tetap mencaritahunya.


"Ayo Dika! Gaada waktu!" gadis itu pun menarik pergelangan tangan Dika dengan paksa, setelah sebelumnya mengitari pandangan ke seisi ruangan, mencoba untuk mencari petunjuk. Jena membawanya ke sebuah lorong yang sangat gelap, tidak ada lampu satupun di lorong itu, hanya saja karena temboknya terbuat dari perak silver, jadi tidak terlalu gelap untuk sekedar melewatinya.


Lorong itu tidak cukup panjang, mereka sampai dengan cepat ke sebuah ruangan yang di penuhi dengan alat-alat eksperimen seperti zat kimia dan peralatan operasi lainnya, seperti halnya gabungan antara professor dan kedokteran. Mereka sama sekali tidak tahu tempat apa itu dan kemana mereka pergi sekarang, tapi agaknya.. Jena dan Dika harus segera mencari petunjuk tentang siapa Dr. M Barta Danoel, Naya, dan kemana mereka membawa Elga pergi.


Hingga saat Jena mengacak-acak ruangan tersebut, ia menemukan sebuah logo kedokteran berlambang plus (+) yang sepertinya baru saja di copot, karena benang-benang kecil bergerantulan disana. Itu adalah logo yang di pakai Dr.M Barta Danoel ketika menyamar, hanya saja ia tidak menemukan jas yang di pakainya selama dokter itu disini.

__ADS_1


Jena memasukan benda tersebut kedalam tasnya, kemudian mengitari tempat yang lain untuk mencari sesuatu yang sekiranya dapat ia temukan lagi. Dan tiba-tiba tubuhnya mematung kaku ketika mendapatkan sebuah foto yang terpajang di salah satu meja disana, Ia pun mengambilnya perlahan sembari memicingkan mata tidak percaya, bukankah itu.. "Dika! Ini Aldan kan?" tanyanya pada Dika yang ternyata sedang sibuk mengotak-atik laptop.


"Ini aneh, seharusnya  kalo polisi kesini.. mereka pasti ngambil laptop punya professor gila itu..." ujar Dika dengan tiba-tiba setelah sebelumnya mendecak tidak menyangka, mengabaikan Jena yang baru saja bertanya padanya, hingga kemudian monitor dari laptop yang sedang ia pegang pun memunculkan gambar-gambar yang berasal dari docs rahasia milik Dr.M Barta Danoel, Dika dengan hati-hati mengulurkan layar itu kebawah... ya benar, itu adalah foto-foto orang yang telah menjadi korban atas tindakan ilegal yang telah di lakukan Dr.M Barta Danoel.


Sudah banyak ternyata, dan salah satu korbannya termasuk.. "Ini pan bapaknya Elga?!" Jena menunjuk 1 foto yang paling menonjol disana dengan histeris, kemudian alisnya yang sedari tadi menukik tajam kini semakin terlihat, hingga dahinya tampak kusut. Sementara Dika yang sepertinya baru mengerti.. langsung saja menekan foto itu dengan 2 kali tap.


"Bapaknya Elga belum jadi korban, dia calon korban, dan tanggal operasinya di mulai sekitar 1 minggu lagi dari sekarang," ujar Dika setelah membaca deskripsi di bawah foto yang baru saja ia tap, astaga, Jena tidak habis pikir.. misteri ini ternyata berantai dan sambung-meyambung, jadi sebenarnya ayahnya Elga bukanlah salah satu dari mereka, tetapi ayahnya Elga adalah korban? Kalau begitu.. "Dan gue yakin professor gila itu ga lagi di penjara, karena gue pikir masih banyak banget bukti tertinggal disini, polisi ga mungkin sebodoh itu buat ninggalin barang-barang ini." lanjut Dika yang mana itu membuat Jena seketika melotot kecil, astaga..ini buruk, mengapa semuanya menjadi berantakan. Pikirnya.


Karena terlalu hanyut dalam pikirannya ia sampai melupakan sesuatu, "oh iya Dika, ini beneran fotonya Aldan kan? Kalau iya, kenapa dia sama Dr.M Barta Danoel?" tanya Jena pada Dika yang kemudian mengalihkan atensi padanya, menoleh pada sebuah foto yang masih tampak bagus, tetapi dari muka-muka orang yang berada di dalam foto tersebut jelas sekali bahwa itu sudah lumayan lama.


Selang beberapa detik setelah hening, tiba-tiba saja laptop yang ada di hadapan mereka menyala dengan sendirinya, memampangkan video live dari instagram Dr.M Barta Danoel, dimana di dalamnya hanya ada sebuah ruangan kosong tanpa siapa pun. Karena sangat penasaran Dika dan Jena pun bersegera memperhatikan video tersebut. Hingga detik selanjutnya membuat jantung mereka kembali berdebar dengan cepat. Itu Elga! Dia masih tertidur di kursi roda dengan gadis bertopeng tadi yang mendorongnya.


Gadis itu kemudian mendekati kamera, tertawa sarkas sembari bersila tangan. Lantas menatap kamera dengan tatapan meremehkan.. astaga, bahkan dia sekarang sedang membuat siaran live ke publik. Itu sama saja dia sedang menjebak dirinya sendiri bukan? Hingga tak berapa lama setelahnya, monitor tersebut tiba-tiba mati.. entah laptopnya yang mati atau malah live itu sendiri yang dimatikan, yang jelas.. mereka tidak bisa menangkap apa pun dari sana, membuat Dika kembali mendecih sarkas. Prustasi.

__ADS_1


"Dika! Jena tau tempatnya!" gadis itu kemudian angkat bicara, mengalihkan perhatian Dika yang nyaris saja kehilangan kesadaran karena terlalu banyak berpikir. Lantas dengan cepat, ia menarik kembali lengan Dika untuk segera pergi dari ruangan tersebut, ini gedung.. dan tentu saja masih banyak tempat-tempat yang belum mereka kunjungi, tetapi.. Jena malah memilih untuk keluar dari sana.


"Kita mau kemana?" tanya Dika pada gadis yang kini sedang membawanya pergi keluar area, kemudian menghampiri tukang sewa sepeda gandeng di seberang sana dengan sedikit berlari.. menyewa satu sepeda untuknya dan juga Dika, "kita harus ke rumah Naya." ujar Jena setelah di tatapi tidak enak oleh Dika sedari tadi. Mendengar itu Dika pun bersegera menaiki sepedanya, kemudian melajukan sepeda itu dengan cepat, nyaris membuat si tukang sewa terjerembab ke atas tanah.


Anak-anak itu sungguh ajaib, pikir si tukang sewa sepeda.


-


"Sekarang.. ayo kita buktikan, siapa yang lebih pinter disini."


To Be Continue...


__ADS_1


Kira-kira bertopeng seperti ini, tapi topeng yang di pake gadis itu bagian matanya bolong ya😁


__ADS_2