
"Sekarang.. ayo kita buktikan, siapa yang lebih pinter disini." ujar seorang gadis yang baru saja membuka topengnya dengan kasar, membuat Elga yang baru saja terbangun dari pingsannya mendadak tercekat di tempat. Naya.. apa dia tidak salah lihat? Dan di belakangnya.. mengapa ayahnya tersenyum seperti itu? Seperti bukan ayahnya.
Elga kemudian menggeliat tergesa, mencoba melepaskan diri dari kursi roda yang membuatnya tak bisa bergerak lebih, tangannya di pasung dan kedua Kakinya diikat dengan tambang. Entah sejak kapan, rasa perih di kakinya kini mulai menjalar ke seluruh tubuh. Sepertinya tambang itu membuat kaki Elga lecet atau bahkan berdarah.
Tak mengatakan apa pun, ia hanya memandangi kedua orang disana dengan tajam, alisnya tertukik dan matanya yang memerah bekas menangis tadi kini semakin terlihat nyata. Elga tidak habis pikir.. ia malah dijebak, dan orang yang menjebaknya adalah teman dan ayahnnya sendiri, ah bukan.. teman yang pernah ia kenal dengan singkat. Memangnya ia pernah melakukan kesalahan apa pada mereka.
Hingga detik selanjutnya, ia di buat terkejut setengah mati ketika ayahnya tiba-tiba saja menarik wajahnya sendiri.
Srett...
Dan wajahnya benar-benar tercopot, kini ia berubah menjadi wajah orang lain, dan senyuman yang ia lontarkan setelahnya membuat Elga seketika sesak napas seperti mau mati rasanya. Astaga.. dia ternyata bukan ayahnya, dia orang lain, orang lain yang menyamar sebagai ayahnya menggunakan topeng kulit. Sekali lagi, Elga di jebak untuk yang kedua kalinya.
"A-ayah..." lirihnya nyaris menangis lagi, sementara orang yang baru saja ia sebut dengan nama ayah hanya tertawa sarkas di belakang Naya, kemudian tangannya yang lain mengibas-ngibas bagian dadanya, "Sial saya hampir pingsan karna obat sialan ini, hey nona." katanya yang malah di tertawai oleh Naya. Ya benar, ia menaburkan sedikit melatonin bubuk ke atas bajunya sendiri untuk mengelabuhi Elga, karena ia yakin, setelah Elga melihatnya, anak itu akan langsung memeluknya dan menangis seperti bayi, dimana ia tidak akan sengaja mengisap baju yang telah ia tuangkan dengan obat tidur sementara.
"Ekting anda bagus banget, pak" Naya tersenyum asimetris setelah mengatakan itu, memandangi Elga dengan tatapan 'aku salah sangka, dia emang bodoh', namun entah mengapa, tatapan dingin Elga yang juga ikut membalasnya kini lebih terlihat mendominasi.
Seperti peraduan antara mafia dan monster. "Lepasin gua!! Apa salah gua sama lo anjrit?!" teriak Elga setengah ditahan, merasa sangat marah di tambah lagi tangan dan kakinya yang mulai terasa semakin perih. Kedua sorot mata kelam yang sama-sama tajam itu saling beradu, membuat suasana seketika menjadi menegangkan. Namun karena Elga bukanlah seseorang yang akan takut pada siapa pun, bahkan seorang pembunuh sekalipun, ia akan selalu membalas tatapan menakutkan itu dengan sama.
"Salah lo ya?," ujar Naya lantas tertawa, menahan kata-katanya untuk beberapa detik, "lo.. dan temen-temen lo yang sok pinter itu hampir aja menjarain kita."
__ADS_1
Elga menukikan alis lagi, "kita?" tanyanya yang di angguki oleh Naya, kemudian gadis itu membelakanginya.. membuat Elga semakin mengerutkan dahi tidak mengerti.
"Professor Barta Danoel, aku udah berusaha keras buat ngehancurin orang ******** itu.. kamu taukan dia udah bunuh ibu aku? Lalu kenapa? Kamu malah ngehalang-halangin rencana aku buat bunuh dia juga!" mendengar itu, Elga mendadak terbungkam seribu bahasa, "kalo aja Aldan ga dateng, mungkin kalian bakal menjarain aku kan?" tanyanya yang mana itu membuat si pendengar langsung memicingkan mata tidak percaya, hanya itu? Elga pikir tidak akan sesederhana itu, Naya pasti.. punya motif yang lain.
"Terus kenapa lo nyulik Jena? Dan tau kalo Jena udah gapunya bapak?" pertanyaan yang bagus, kini Elga berhasil membuat Naya tercekat di tempatnya, tak langsung menjawab ia kemudian berbalik.. menatap Elga dengan tatapan dingin, lebih baik ketimbang yang tadi, "Aku tau kalian detektif, anak-anak yang suka memecahkan teka-teki dan misteri, nama kalian udah hampir di kenal sampe ke sekolahku, dan cerita kalian sama kayak ceritaku dulu, dulu aku juga punya grup intel, kami mecahin setiap misteri bareng-bareng, kami.. udah kayak keluarga, dan aku gabisa ngebayangin hidup tanpa mereka, tapi.." gadis itu menunduk hingga tanpa sadar, air matanya meluncur tanpa di perintah, membuat Elga semakin menatapnya tidak mengerti, "tapi kami di hancurkan.. salah satu teman kami, di bunuh, dan sejak itu.. kami saling menghancurkan satu sama lain."
mendadak Elga tercenung, jadi seperti itu ya.. Naya hanya tidak suka ada grup intel yang nyaris sama persis seperti grupnya dulu? Pikir Elga, setidaknya ada sedikit yang ia tangkap dari penjelasan Naya tadi, entah sengaja atau tidak tapi sepertinya.. Naya tidak sadar jika ia sedang membongkar semua rencananya sendiri.
"Oleh karena itu aku berusaha buat nyari tau lebih banyak tentang kalian.. aku juga bakal ngehancurin kalian, aku benci orang-orang kayak kalian, aku benci grup intel, dan aku benci setiap misteri!" ujar Naya semakin pelik, nada suaranya meninggi dan ia terisak tanpa sadar. Dadanya sungguh sakit, betapa banyak dendam yang ia pikul sendirian..betapa banyak rasa sakit yang tak terobati. Tentang kematian ibunya yang di operasi prof. Barta Danoel, dan tentang kehancuran teman-teman yang paling ia sayangi.. membuatnya nyaris gila. Sampai mau mati rasanya.
Naya seperti kehilangan semuanya, hatinya begitu sakit, entah mengapa ia hanya ingin meloloskan semua itu dengan mengulangi semua perbuatan mereka terhadap dirinya.
Astaga ini rumit, sebenarnya Elga tidak begitu curiga padanya, hanya saja.. ia terlalu mengandalkan insting. Dan ternyata instingnya memang mengatakan seperti itu. Laki-laki itu menundukan kepala kemudian, menatapi setiap keramik di bawahnya sembari berpikir keras, ada banyak sekali yang ia pertanyakan kini... namun ia harus berhati-hati dalam bertanya atau ia malah tidak akan mendapatkan jawabannya sama sekali.
"Lo.. seharusnya lo gabakal sekolah di sini, kalo lo takut.. kita bakal ngehalangin semua rencana lo." ujar Elga dengan hati-hati. Berusaha menempatkan kata demi kata yang akan membuat si empunya menjawab dengan reflex.
"Udah aku bilang, aku benci orang-orang kayak kalian, dan aku bakal ngehancurin kalian lebih dulu, sebelum aku ngehancurin prof. Barta Danoel." pemikiran yang sangat dangkal, astaga Elga tidak habis pikir, apakah dia tidak sempat bepikir bahwa tindakannya itu bisa saja memicu masalah yang lebih besar lagi, ataukah memang benar Naya sudah kehilangan separuh akal sehatnya karena di selimuti dengan rasa dendam. Membuat ia tidak bisa berpikir logis dan bahkan berani mengabaikan segala resikonya.
Dia bilang dia pernah menjadi salah satu member dari grup intelnya bukan? Berarti seharusnya.. dia bisa lebih teliti dalam merencanakan sesuatu yang berbahaya seperti itu.
__ADS_1
"Terus.. apa Aldan bener-bener mantan pacar lo?" tanya Elga sembari menatap gadis itu dengan tenang. Mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang setengah mati. Naya kemudian mendongakan kepala untuk membalas tatapannya.
"Aldan adalah anak tiri prof. M Barta Danoel, ibunya adalah salah satu korban si ******** itu.. dia bukan mantan aku, dia hanya pengen ngelindungin aku dari ancaman polisi, karena dia juga pengen balas dendam sama ayah tirinya." meskipun penjelasan itu rangkap dan nyaris menuju ke titik terang semua misteri yang belum terungkap, entah mengapa Elga masih tetap tidak bisa mengerti sepenuhnya.
"Maksudnya?" tanya Elga di balik keterkejutannya yang luar biasa. Ada dua fakta lagi yang telah terungkap, Aldan adalah anak tiri Dr. M Barta Danoel dan ibunya adalah salah satu korban professor asal dubai itu juga. Setelah itu.. Aldan dan Naya adalah 1 komplotan yang sedang merencanakan aksi kejahatan balas dendam. Ahk padahal penjelasan itu tidak begitu rumit, tapi Elga maasih tetap saja merasa pusing memikirkannya.
"Professor itu udah dua kali kesini, waktu pertama kali dia kesini, dia menikahi ibunya Aldan.. dan dia juga yang negubunuh istrinya sendiri demi nyempurnain ciptaan hybrid andoridnya. Alasan lainnya.. karena dia hampir kepergok istri pertamanya kalo dia udah berkhianat." Elga mematung di tempat.. jadi ternyata sepeti itu, baiklah dia sekarang sudah mengerti, tapi apakah Naya tidak sedang membohonginya sekarang?
Hingga beberapa detik kemudian, Elga baru teringat akan sesuatu. "Tapi kenapa lo tau bentuk wajah bapak gue?"
To Be Continue...
Topeng kulitnya begini ya guys, ini adalah silicon material yang bisa di bentuk sesuka kita..
**Gimana? apakah episode kali ini udah ada di bagian titik terang? atau masih setengah persen? 😁👏
Tetap ikuti cerita ini dan jangan bosan-bosannya, Author sangat menunggu Like, dan komentar kaliannn sebagai jejak**.
__ADS_1