DETEKTIF TUMUS

DETEKTIF TUMUS
Episode 20 (Di jebak pt.2)


__ADS_3

"Dokter Barta adalah profesor dari perusahaan tekhnologi swav, Dubai," Elga menempelkan satu photo bergambar perusahaan swav ke atas scanning persegi panjang, kemudian mengambil photo-photo lainnya sembari berujar, "Bantu gue, inget.. kita harus tenang biar ga keliru." namun nyatanya, meskipun mencoba untuk tenang, tapi entah mengapa satu kalimat itu semakin membuat Jena berdebar setengah mati, apa lagi waktu di atas boom yang kini tinggal tersisa 30 detik lagi.


Dika mengingat-ingat apa saja yang dia temui kemarin malam. Lantas langsung menyahut ketika ingat akan sesuatu, "dia nyiptain hybrid android di lab kimia!" Elga yang mengerti itu dengan cepat meraih photo bergambar lab dengan effect colorize, kemudian menempelkannya di kotak ke dua. Ada 10 photo dan mereka hanya boleh memasang 5 photo untuk bisa keluar.


"Elga cepet! 23 detik lagi." sahut Jena dengan tubuh yang sudah gemetaran saking ketakutannya, "Chaesan Cambrio yang mana nih?" tanya Elga sembari mengangkat dua photo dengan gambar pemuda yang berumur sama, satu berambut kuning langsat sedangkan satu laginya berambut hitam panjang sebahu. Dika sebenarnya tidak tahu, tapi karena ia pikir yang rambut panjang lebih mirip dengan orang jepang.. jadi ia memilih laki-laki berambut kuning. Lantas mesangkan photo tersebut di kotak ketiga, sedangkan kotak keempat di isi dengan photo Dr.M Barta Danoel sendiri yang memakai jas dokter dengan name tag berbeda.


"Satu lagi!" Jena segera menginterupsi kedua temannya yang mulai kebingungan. Astaga jika sudah tersisa satu selalu saja terasa mentok. Pikir Dika, ia bahkan sudah mendecak sekitar 50 kali karena kelabakan. Ini benar-benar teka-teki yang cukup extrim, "10 detik lagi!" Jena kembali menyadarkan Elga yang nyaris tenggelam dengan pikirannya sendiri. Kemudian laki-laki itu bersegera mengambil photo bergambar ranjang dengan kaca hologram secepat kilat lantas memasangkannya di kotak terakhir, berfikir kalau itu adalah tempat dimana Dr.M Barta Danoel mulai mengoperasi orang tua bangka itu. Dan...


3


Jena, "Astagaa kenapa ga kebuka-buka?"


2


1


Jena menutup matanya dengan kedua tangan, hingga suara pintu terbuka dan bom yang off secara bersamaan membuat kedua temannya menghembuskan napas lega.

__ADS_1


Pip!


Kemudian Jena membuka matanya, lega setengah mati saat menyadari pintu benar-benar sudah terbuka..ah astaga dia seharusnya tidak perlu meragakukan lagi bagaimana kedua temannya itu berpikir. Saat baru saja berdiri..tiba-tiba seseorang masuk kedalam ruangan tersebut dengan baju ketat serba hitam, membuatnya terlihat seperti heroin di flm-flm, oh ayolah tapi heroin disini malah terlihat menyeramkan. Pikir Jena. Yang lebih mengejutkannya lagi, dia memakai topeng ke seluruh wajahnya.


"S-siapa kamu?" Jena memicingkan matanya saat gadis setinggi dirinya bersila tangan disana. Dan detik selanjutnya membuat mereka lebih terkejut lagi. Ada 2 orang ajudan yang datang dari belakang, mereka membawa...


"Ayah?" Jena dengan cepat menoleh ke arah elga, yang baru saja menyebut nama 'ayah'?.. sementara Dika hanya bisa terkejut di tempatnya, ada banyak pertanyaan kini yang menyelimuti isi kepala gadis itu, ayah Elga? Benarkah? Jena juga ingin bertanya mengapa pria itu memakai pakaian narapidana.


"Ayah?" Elga mengulangi pertanyaannya, mendekat perlahan.. kemudian mata indahnya yang selalu terlihat tenang dan menyebalkan itu, kini berubah sendu. Alisnya terangkat. Terlihat ingin menangis.


Sedangkan pria tua yang baru saja ia sebut 'ayah' hanya mematung kaku di tempat, sembari sesekali menggeliat. Mencoba melepaskan diri karena tangannya yang terpasung dengan borgol, ia menatap Elga dengan tatapan yang sama.. namun air matanya meluncur lebih dulu ketimbang Elga yang kini malah menukikan alis tajam. Merasa marah.


Sangat bahagia, seperti meninggalkan dunianya yang kejam. Seperti membuang sampah-sampah yang sudah tak berguna lagi, Elga merasa muak setiap kali harus mengingatnya. Ayahnya yang begitu jahat.. kini kembali kehadapannya dengan keadaan seperti ini, menangis..tanpa meminta maaf, dia benar-benar kecewa.


Hingga detik selanjutnya, anak itu menarik kedua bibirnya, mencoba tersenyum.. namun senyuman itu semakin terlihat menyakitkan ketika air mata tiba-tiba saja terjatuh dari sana tanpa di perintah, hatinya sakit, dan ia mencoba meredamnya dengan tawa kecil yang terkedangar begitu pilu.


"Ayah masih hidup ya?" katanya dengan nada bergetar sembari menundukan kepala, merasa tidak sanggup untuk sekedar menatap wajah itu lebih lama lagi. Wajah yang begitu kelelahan, namun ia terlanjur menyimpan begitu banyak dendam di dalamnya. Katakanlah ini memang salah, tapi Elga tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi. Marah, sedih, rindu, kecewa, bahagia.. semuanya tercampur aduk secara abstrak, membuat ia tidak bisa berkata-kata lebih kecuali menangis. Bahunya bergetar dan ia menundukan kepala dalam-dalam, kehilangan seribu bahasa.

__ADS_1


Jena dan Dika yang baru pertama kali melihat Elga menangis pun tampak kualahan dalam diam, Elga yang ceroboh.. dan Elga yang menyebalkan, kini berubah menjadi sosok lain, ternyata.. kehidupan aslinya seperti ini, Jena dan Dika tidak pernah tahu sebelumnya, mereka bahkan tidak pernah bisa mengerti perasaan anak itu karena Elga yang tak pernah menceritakan apa pun tentang masalahnya. Jika bukan mereka sendiri yang mencari tahu.


Anak itu..selalu berpura-pura kuat. Anak itu selalu ceroboh dalam menghadapi masalahnya sendiri, dia seharusnya sadar bahwa dia selalu membutuhkan orang lain di dalam egonya yang terlalu kuat itu.


Hingga keheningan yang begitu menusuk pembulu darah mereka, akhirnya pecah ketika Elga mulai bersuara lagi, "ayah kemana aja? Apa ayah hidup bahagia selama ini?" suaranya semakin memelan di akhir, ia masih menundukan kepala.. di temani suara isakan kecil yang mendominasi seisi ruangan. "Ayah tau?.. aku kecewa.. kita ga pernah bisa hidup bahagia setelah ayah pergi.. mama mencintai ayah sampe sekarang.. dia ga mau berpaling dari ayah, padahal ayah udah jahat.. itu yang buat aku benci sama ayah."


"Elga..." Jena hendak meraih pundak temannya, namun gerakannya terhenti ketika Elga tiba-tiba saja melangkahkan kaki. Meraih tubuh ayahnya yang kemudian di hindari oleh kedua ajudan, memeluknya dengan air mata yang semakin meluncur deras..rasa sakit juga rindu yang selama ini ia tahan, kini memudar begitu saja. Sebegitu kuat rasa rindunya hingga Elga melupakan segala hal yang hendak ia tuju.


"Elga benci ayah, dan akan terus benci ayah sampe kapanpun..." tuturnya, yang mana itu membuat ayahnya mulai gemetaran hebat, air matanya pun ikut meluncur deras, seiring ingatan masa lalu keluarganya yang mengiringi suasana itu dengan tiba-tiba, bahkan ia sekarang tampak kesulitan untuk sekedar meminta maaf..rasanya kata maaf saja sudah tidak bisa untuk menebus segala dosa-dosanya.


Detik selanjutnya, kedua anak disana dibuat terkejut setengah mati karena Elga tiba-tiba saja terjatuh dari pelukan ayahnya, tubuh bagus itu jatuh meluruh ke atas lantai, dan matanya yang terpejam rapat membuat Jena berdebar hebat. Ia ingin meraih Elga namun satu gerakan yang menyerangnya secara tiba-tiba, membuat ia tercekat.


Gadis yang memakai pakaian serba hitam itu menotok lehernya, membuat seluruh tubuhnya terasa kaku, dan entah mengapa ia tidak bisa bergerak, bahkan nafasnya pun mulai terasa sesak. Jurus apa ini? Pikirnya. Sementara Dika hanya menatap datar orang-orang di hadapannya, tak bergerak sama sekali. Padahal tentu saja di dalam tatapan itu, ia menyimpan begitu banyak keterkejutan. Yang membuat Dika sampai tidak bisa berkata-kata atau sekedar bergerak. Ah selalu ingatlah bahwa Dika tidak seceroboh Elga. Dia selalu akan berpikir panjang ketika hendak melakukan sesuatu.


"Kalo kalian bener temennya," gadis disana kemudian tersenyum smirk di dalam topengnya. Sebelum akhirnya berujar lagi, "berusahalah sekuat tenaga buat nyelametin dia ya."


To Be Continue...

__ADS_1



Uwaa aku pun mulai pusingggg...:'D


__ADS_2