DETEKTIF TUMUS

DETEKTIF TUMUS
Episode 4 ( Kasus Bukan?)


__ADS_3

"Lo juga ngapain? Cewek-cewek keliaran sendiri disini? Dahal gerbang bentar lagi di tutup," itu suara Dika.


"Y-ya, ya.. aku nungguin papa jemput" Naya tampak gelapapan, sedangkan Elga yang hanya menatapinya sedari tadi kemudian menyipitkan mata curiga. Menunggu papanya ya? Tapi kenapa sewaktu berbicara di dalam telvon, bahasanya terdengar formal sekali?


"Nungguin papa mertua ya?" Tanya Elga yang langsung membuat Dika maupun Naya nyaris terjungkal. Saking terkejutnya.


"Whot?!! Whot the hell?!" kaget Dika, sementara Elga hanya menatapnya polos.


"Kenapa? Lo cemburu?" tanyanya empeng, yang mana itu terdengar sangat sangat sangat menyebalkan.


Naya seketika terperangah di tempatnya, "A-ah kalo gitu aku mau pulang, mm bye! Hati-hati" dan pada akhrinya pun ia memilih untuk segera pergi dari sana. Mungkin dia gugup lama-lama mengobrol dengan Dika dan Elga, bukan karena gombalan mereka. Tapi karena pembicaraan mereka yang selalu saja tidak jelas kemana arahnya. Meskipun tidak mengenal mereka, tapi Naya bisa memaklumi kalau seandainya kedua oknum itu memang memiliki kepribadian yang cukup menyebalkan.


Setelah dirasa Naya sudah benar-benar pergi, Elga pun mengikik kecil. "****, harusnya kita yang bilang hati-hati ya kan?" sementara Dika hanya menanggapi dengan kekehan. "Mungkin kita terlalu tampan, sampe cewek pada gugup"


"Wahgelaseh."


"Bapak dapet salam," ujar Jena sembari kicep-kicep amit. Gadis itu sedang berusaha menggoda pak satpam tampan sedari tadi, meskipun gombalannya berkali-kali garing hingga membuat Arka nyaris mati karena tidak kuasa menahan tawa.


"Dari siapa?" Tanya pak satpam kalem. Sebut saja namanya adalah Sujono wijoyo. Meskipun namanya terkesan jawa, tapi ketahuilah bahwa dia adalah asli berdarah sunda. Ya benar, asalnya dari Bandung. Soal namanya pun tidak ada yang tahu mengapa orang tua pak Jono menamainya dengan nama khas jawa. Padahal semua keluarganya benar-benar asli dari suku sunda.


Setelah hening beberapa saat, gadis cantik yang tidak pernah waras itu pun tersenyum lebar. "Dari Yadi"


"Yadi siapa?"


"Yadirikuuu, ciaaaahhhhh!"


Mendengar gombalan itu bang Jono, eh pak Jono reflex menarik kedua sudut bibirnya, bukan baper, tapi hanya tidak habis pikir saja mengapa sekolah ini memiliki murid seperti Jena.

__ADS_1


Dapat 10 saja murid seperti itu, ah sudahlah. Kalian mungkin bisa membayangkan sendiri bagaimana jadinya.


"Jena, baperin abang juga dong" sahut Arka lantas tersenyum lebaarrr sekaliii, "hueks" sementara yang di mintai malah berpura-pura mual. Merasa ogah-ogahan.


Hanya dengan melihat ekspresi itu saja sudah mampu membuat hati Arka hancur berkeping-keping, wajar. Kelebaiannya memang sudah stadium akhir, sama seperti Jena. Baiklah mungkin saja mereka berjodoh.


"Elga, Dika mana nih? Lama amat, jangan-jangan...." walaupun kalimat Bin terpotong dan membingungkan, tapi entah kenapa otak Jena dan Arka fast respond sekali. Mereka pun melotot berjama'ah lantas segera berlari ke dalam sekolah untuk mencari keberadaan Elga dan Dika. Astaga jangan-jangan mereka…


"Wah gaswat" rutuk Arka di tengah lariannya, sedangkan pak Jono hanya menggeleng-gelengkan kepala. Merasa miris, mengapa anak murid disini semakin hari semakin aneh-aneh saja.


Sesampainya mereka di lapangan, orang yang sedang dicari pun muncul, dengan tanpa rasa bersalahnya kemudian mereka menghampiri ke 3 rekannya itu sembari ketawa-ketiwi tidak jelas.


Jena menghembuskan nafas dalam, daalam sekali. Hingga ia merasa paru-parunya mulai mengempis, "Jena kira kalian lagi Boy in love an astaga" katanya empeng, walau pun empeng tapi sudah mampu membuat Dika maupun Elga saling mengumpat. Matanya yang sama-sama melotot menandakan sekali bahwa mereka seterkejut itu.


"Jena, jangan gitu dong sama abang, abang masih normal kok, kalo Elga sih gatau." Dika mengedikan bahu polos. dengan tatapan maut ala limbat, Jena pun langsung menatap oknum berinisial E itu dengan sangat tajam. Tatapan yang akan membuat siapa pun merasa terintimidasi olehnya.


Elga melangkahkan kakinya lebih dulu, mencoba untuk keluar dari sekolah yang semakin lama semakin sunyi itu, cukup menyeramkan kalau sepi, terlihat seperti gedung anker, pikirnya.


Lantas tak berapa lama, ke 4 rekannya pun reflex mengintili Elga dari belakang, dengan sedikit perbincangan kecil yang membuat grup mereka terkenal sekali akan kebawelannya.


"Tadi Naya masih di sekolah, gue gatau dia lagi apa, katanya sih nungguin bokapnya," ujar Dika yang membuat Jena bersegera menatapnya.


"Mencurigakan!" semprot Jena tiba-tiba. Laki-laki yang berada di posisi paling depan itu pun menoleh kemudian, "Kenapa emang? Ga mencurigakan sih, alasan yang cukup logis." Itu suara Dika.


"Menurut Jena itu ga logis!"


Jena menghampiri ke 4 rekannya itu, menyuruh mereka untuk membuat baris lingkaran seperti kelompok yang hendak berdiskusi pada umumnya.

__ADS_1


"Kalo misalnya dia nunggu bokap, kenapa dia ada di dalem sekolah, harusnya kan dia nunggu di luar, ga mungkin kan papanya mau nyari dia ke dalem sekolah?"


Benar juga.


"Ya mungkin dia mau ngambil barang yang ketinggalan." Arka ikut menyahut.


"Kalian tadi ketemu dimana?"


Elga menatap Jena sebentar. Menatapnya sembari mengingat-ingat, agaknya dia memang sedikit pelupa. "Mm di Wc cowok, deket perpus, kelas 12 kimia B"


Arka, Dan Bin menadak terdiam di tempat, kelas itu cukup jauh dari kelas mereka, kelas itu berada di ujung, sedangkan kelas mereka terbilang dekat dengan gerbang. Kenapa? Naya malah pergi kesana? Ah mungkin saja dia tersesat. Pikir mereka.


"Dia kan anak baru, dia belum ikut eskul apa-apa, emang dia mau ngambil apa? Kelas kita kan jauh dari situ," Jena menyipitkan matanya serius, kali ini wajahnya hampir mirip seperti Roy Kiyoshi, ah tidak, hanya ekspresinya saja. Dika mau pun Elga tampak tersadar kemudian. Dengan tatapan 'benar juga'.


"Waktu Jena nanya sama dia, dia bilang ga punya temen di sekolah ini." Gadis itu lagi-lagi merasa curiga, dia tak habis pikir mengapa ke dua temannya yang terbilang cerdik itu tidak menyadarinya sama sekali. Kalau Arka dan Bin, mereka memang pintar, tapi hanya sedikit malas berfikir saja.


"Kalo gitu emang mencurigakan sih" Balas Elga acuh tak acuh, pasalnya dia memang tidak mengetahui secara detail apa yang aneh dari gadis yang sedang di bicarai itu.


Sedangkan Arka dan Bin entah kemana perginya.


"Weh Bin! Tungguin woy Jigong tuyul!!!" umpat Dika kemudian berlari menyusul Arka dan Bin yang ternyata ada di tukang bakso. Tepat di depan gerbang. Pak Jono pun sepertinya sedang memborong makanan bulat itu,


"Yodah yuk makan dolo" ajak Elga lantas berlari dengan kekuatan hokage. Jena menatap ke 4 temannya itu dengan abstrak, antara miris dan tidak habis pikir. Oh ayolah mengapa alur ini begitu amburadul. Pikir Jena. Dia ingin menangis. Lihat saja bibirnya sudah melengkung seperti bukit.


To Be Continue...


__ADS_1


Dika As You Know...


__ADS_2