
"ELGA! JENA MAU IKUT SHOLAT!"
Laki-laki yang merasa namanya terpanggil itu menoleh dengan cepat, sejenak ia menjadi ambigu dengan kalimat Jena barusan, "Apa? I-ikut sholat?" tanya Elga terbingung-bingung, hingga alis yang tadinya tampak tenang itu kini menukik tidak percaya.
"Iya"
Ah sungguh, dia ingin sekali mengatakan 'tapi lo kan kristen' yang entah mengapa membuat lidahnya terasa kelu, Elga ingin mengatakan kalau Jena tidak boleh memasuki masjid, tapi ia takut kalau kata-katanya nanti akan menyinggung perasaannya. Hingga sebias suara yang lain pun akhirnya mampu memecahkan keheningan di antara mereka.
"Jen, makan yuk." itu suara Dika, dan di belakangnya ada Arka dan juga Bin. Mendengar tawaran itu, Jena kemudian mengalihkan atensisnya dan menatap Dika dengan tatapan polos, "Dika ga sholat?"
"Lagi M"
"Astaga Dika ternyata bisa menstruasi?"
Arka, "M\=Males bukan menstruasi sayang"
Dika, "Diriku Waria kali ah!"
Bin, "Jena terlalu polos apa terlalu g*blok ya?"
Elga, "Terlalu mengejutkan."
Elga tertawa tanpa suara yang membuat dia seketika itu jadi terlihat tambah tampan dari segi apa pun. Ah senyuman yang sangat manis, senyuman yang sangat Jena tunggu-tunggu dari sosok menyebalkan seperti Elga.
"Duluan ya..." laki-laki yang baru saja di puji senyumannya itu kemudian berbalik, meninggalkan ke 3 temannya yang tampak bergeming di tempat. Dan menyusul Nanad yang ternyata sedang menunggunya disana. Seketika itu Jena mendecih tidak suka, "Elga jadi sering senyum setiap kali sama Nanad." melihat wajah imut teman ceweknya yang menjadi dongkol itu, Dika lantas menyunggingkan bibirnya.
"Gue kenal Elga lebih dulu dari lo Jen, kayaknya lo cuma perlu satu cara buat bisa dapetin dia," ujar Dika yang membuat Jena langsung menoleh ke arahnya, "apa?" Jena bertanya lagi.
"Buat dia cemburu."
"APA?!"
__ADS_1
~
Bell pulang sekolah sudah berbunyi nyaring dari arah kantor sana, membuat seluruh siswa maupun siswi bersegara merapihkan barang-barang mereka, kemudian berlarian antusias keluar gerbang. Hari ini benar-benar membosankan. Pikir Jena, dari jam pertama sampai masuk waktu dzuhur kelas mereka bahkan di penuhi jamkos.
Dan Elga malah sibuk dengan Nanad, Jena kesal setengah hidup..tapi, bukan itu yang membuatnya lebih kesal lagi. Dia memikirkan kalimat Dika beberapa jam yang lalu.
"Buat dia cemburu" apa yang Dika maksud sebenarnya? Bahkan setelah mengatakan itu Dika selalu saja mengubah topik pembicaraan, membuat Jena lagi-lagi lupa apa yang mau dia tanyakan.
Jadi maksudnya? Jena harus membuat Elga cemburu kepada Nanad, atau cemburu kepada dirinya sendiri? Ah itu menyebalkan! Dia tidak akan terima kalau Elga cemburu kepada cewek lain.
Karena kesal gadis itu pun menendangi benda-benda di sekelilingnya, hingga berjatuhan meski ia harus sesekali membenarkannya lagi, kalau tidak..dia akan di umpati satu sekolah. Hingga tak sengaja ia berpapasan dengan seseorang yang sempat ia pikirkan sejak tadi. Nanad.
"Jena belum pulang?" tanyanya sembari tersenyum, senyum yang..sangat manis. Sedangkan si empu hanya tersenyum masam. Merasa cemburu karena kecantikannya sudah tersaingi. Pantas saja Elga betah sekali dengan Nanad, rupanya cewek itu mempunyai aura yang tidak main-main.
Ah-Jena mau memakai hijab seperti Nanad, dia benar-benar terlihat sangat anggun dengan baju seragam yang tertutup itu.
"Mau pulang bareng?" mendengar pertanyaan selanjutnya, Jena kemudian menggelengkan kepala dengan cepat, "Jena di jemput kok, duluan ya..." jawabnya, tak mau sampai melanjutkan pembicaraan dengan temannya yang kini hanya menatap dengan kebingungan.
~
Langkah kakinya begitu terdengar hampir di seluruh ruangan, sampai mau gempa rasanya. Dan wanita yang sedang sibuk memasak nasi goreng di dapur itu pun sepertinya tau siapa yang baru saja datang dari luar.
Oh ayolah, dia sangat hafal tingkah anaknya yang selalu lupa mengucapkan salam setiap pulang sekolah. Yang pada akhirnya pun harus dia dulu yang mengatakan 'waallaikum sallam' untuk mengkode anaknya.
Dan ucapan 'assalamuallaikum' pun menjadi yang terakhir, di tambah lagi cengiran tanpa dosa anak itu yang selalu saja membuat kesal.
"Ma, menurut mama, kalo misalkan El kristen nih ya, boleh ga, El pindah agama sekarang-sekarang?" Elga bertanya dengan tiba-tiba setelah menyalimi lengan mamanya, sembari duduk di kursi berkaki 4 tanpa mau menaruh tasnya lebih dulu. Atau sekedar minum seperti biasanya.
Wanita yang sedang memakai celemek itu pun lantas tertawa. "Setau mama sih, kalo udah umur 17 tahun..baru boleh pindah agama." jawabnya sembari memotongi bawang daun dengan cepat dan kemudian menggorengnya. Sedangkan yang baru saja bertanya malah terdiam di tempat.
"Kenapa? Kamu kan pinter di pelajaran agama sama PPKN, kok tanya mama sih." hingga pertanyaan dari sang mama pun akhirnya membangunkan dia dari alam bawah sadar.
__ADS_1
"Eh, sebenernya nilai agama El cuma 3 sih." katanya dengan wajah tanpa rasa bersalah, mendadak ia menelan saliva saat mamanya tiba-tiba saja berhenti menggoreng sembari menunjukan mimik wajah yang..
"APA?! 3? KENAPA JADI 3? BUKANNYA KAMU BILANG MAU BELAJAR SERIUS HA? KAMU TU DAH MAU ULANGAN!! KAMU BOHONG YA SAMA MAMA?!" Elga reflex menutup kupingnya saat sang mama berteriak nyalang, teriakan yang sangat menggelegar, bak petir yang siap meruntuhkan tiang listrik.
~
"Jena minta maaf ma, nanti Jena beresin lagi kok photo-photo Elga, maafin dong ma" anak itu berlarian mengejari mamanya yang entah mengapa sudah marah-marah sejak ia datang ke rumah tadi, Katanya dia menemukan banyak foto Elga di dalam kamarnya, dan sekarang Jena harus terus meminta maaf berulang kali sembari mengintili orang tua itu memutari seisi rumah.
Ah-mamanya itu kalau sudah marah benar-benar menyeramkan, dia memang tidak akan berteriak atau sekedar memaki-maki..tapi..dia akan lebih menyaramkan jika marah dengan cara diam. Bahkan bisa saja Jena tidak akan di beri jatah makan beberapa hari yang akan datang.
"Jauhi Elga!" hingga sebias suara yang penuh penekanan itu pada akhirnya membuat Jena menghentikan langkah, menatap punggung mamanya yang juga berhenti di depan kloset.
"Kenapa?," anak itu bertanya dengan suara pelan, tak mau membuat mamanya semakin marah, "Mama denger, kamu suka memecahkan kasus di sekolah, jadi mama pikir..kamu juga bisa cari tahu sendiri kenapa mama ga mau kamu terlalu deket sama Elga." jena tertunduk dengan reflex saat mendengar kalimat itu, kalimat yang rupanya tak mau ia dengar sama sekali.
Sebenarnya tidak masalah jika mamanya sendiri yang menyuruhnya untuk menjauhi Elga, tapi.. dia hanya tidak ingin jika ternyata ada masalah serius di antara mereka.
Dia..takut, dan entah kenapa, instingnya mengatakan ada hal buruk yang tidak boleh ia ketahui, atau hubungannya dengan Elga akan hancur lebur melebihi musuh lawan musuh. Ah! Jena tidak boleh berpikiran seperti itu, memangnya dia tahu apa? Dia bahkan tidak mempunyai indra ketujuh untuk melihat masa depan.
"Aku harus cari tau?" meski pun enggan untuk berbicara lebih jauh tentang topik itu, tapi ia tetap tidak bisa untuk tidak bertanya.
"Iya, kamu harus cari tau.. kalo mama yang bilang, kamu ga akan pernah percaya."
To Be Continue...
ELGA'S HOUSE...
**JENA'S HOUSE...
__ADS_1
Aku akan selalu memberi gambaran-gambaran dalam cerita melaui foto-foto di setiap akhir episode ya.😂🤗**