
"EH EH! GUE DAPET SURAT!" Ujar Arka kemudian menghampiri Elga dan Jena yang sedang asik mengobrol, meskipun ekspresi Elga saat itu jelas sekali tidak mengenakan.
"Nih gue baca ya," ujarnya, lantas membuat Dika dan Bin juga ikut bergabung, penasaran akan isi surat tersebut. Potongannya bahkan sama persis seperti yang ada di kolong meja Dika beberapa Jam yang lalu. Hingga tak lama kemudian, Arka mengacungkan kertas yang di pegangganya seperti hendak membacakan proklamasi. "Berbicara bagai rahang yang terpaku
Keramaian adalah kesunyian"
Astaga, apa'an tuh? Aneh lagi aja, pikir Elga.
"Jangan ampe aing masuk ambulance gegara gelut argumen ieu mah," Semprot Dika, yang membuat Jena seketika tertawa geli, "aku teh juga ingin memecahkan riddle" itu suara Bin.
Sedangkan yang lain hanya menatapnya dalam diam, guna menunggu jawaban dari laki-laki berambut agak ikal disana. Tapi ternyata.. “jadi maksudnya apa ya?"
Sialan. Umpat para rekannya dalam hati.
“Betewe kamu teh jangan buat aku ingin baku hantam," Marah Arka kepada rekannya yang sangat menjengkelkan itu. "Menurut Jena itu puisi tentang intovet deh, orang yang ga bisa beradaptasi dengan lingkungan." sahut Jena serempak membuat ke 4 rekannya menoleh bersamaan, kemudian mengangguk-anggukan bak bak singa barong. Tidak.
Dalam pikiran mereka mungkin ada definisi lain, terlihat dari raut wajah Dika dan Elga yang seperti ingin berargumen tapi takut akan terjadi baku hantam lagi, jadi mereka lebih memilih mempercayai Jena saja, lagian memang tidak penting juga puisi itu.
Memangnya siapa orang iseng yang mau membuat otak mereka berputar keras hingga sempat baku hantam seperti beberapa jam yang lalu.
Tak lama kemudian, pintu kelas pun terbuka, tidak! Itu seperti di dobrak, Arka dengan kelatahan luar biasanya lantas berjengit, berdiri tegak sembari berteriak, "asiaappp"
Hingga anak-anak kelas yang tadinya ikut terkejut pun reflex tertawa, bukan karena kelatahan Arka, tapi karena Bin yang terjatuh dari kursi setelah Arka tidak sengaja menyenggolnya.
Jena, Elga dan Dika juga tak kuasa mengakak, saling meremati perut, bahkan hingga ABS Elga bertambah 12 kotak. Wow.
By the way, yang datang tadi bukanlah guru piket atau anak kelas lain yang biasanya suka menawar-nawarkan makanan. Melainkan-
Wali kelas. Iya wali kelas mereka memang seperti itu, suka membuat para muridnya setruk level high, kalau tidak mengajar dengan kekuatan limbat, seperti menggebrak-gebrak meja sampai patah misalnya, ya mendobrak pintu.
__ADS_1
Untung saja engselnya terbuat dari gigi Bino, jadi kuat.
"Bapak kalo dateng bisa ga sih bawa sapuu gitu?" Sahut Jena kesal, setelah sebelumnya puas mentertawai Bin dan Arka. Bapak Ghoni yang notabenenya adalah Wali kelas disana hanya tertawa, tertawa meledek seperti biasanya, terkadang guru itu memang terlihat sangat kekanak-kanakan sekali, mereka tidak habis pikir. Tapi justru karena itu.. mereka bisa lebih mengenal keunikan dari karakter pak Ghoni.
"Emang kenapa harus bawa sapu?" Tanya pak Ghoni kalem, "Kan biar sekalian terbang pak, nyeludup lewat cendela, jadi ga usah nabrak pintu lagi" celetuk Jena tak tahu malu, sampai akhirnya humor anak-anak di kelas pun jadi semakin meningkat, bahkan ada yang perutnya mendadak keram karena tidak bisa berhenti tertawa.
Pak Ghoni tampak mendengus sembari mengekspresikan mimik wajah 'Abaikan', melihat mimik wajah itu, Jena seketika tersenyum kuda sembari mengacungkan dua jarinya ke samping wajah. Sedangkan Elga dan Dika malah sibuk berebut balpen.
"Oh ya anak-anak, bapak punya info yang menaaaariiiikk bangetttt" ujar si guru paruh baya berambut klimis itu dengan penuh antusias, bahkan sudah bisa membuat anak-anak di kelas sekarang jadi tampak terkepo-kepo.
"Apa itu, pak?" Tanya salah satu siswi berambut sebahu. Jena reflex melirik kesamping saat seseorang tiba-tiba saja tersenyum kepadanya di balik cendela luar, seorang gadis cantik, berambut hitam legam, dan juga dia memiliki lesung di pipinya. Sejak itu pula dia bisa menebak kalau gadis disana itu adalah anak baru di kelas mereka. Elga pun juga tak sengaja melirik ke arahnya karena menyadari pergerakan Jena yang cukup menonjol.
Dia bisa melihat gadis disana tersenyum padanya, senyum yang- Astaga..sepertinya.. Jena kali ini memiliki saingan.
"Oke kita sambitt!" Sahut Pak Ghoni tiba-tiba,
"LADIES AND GENTLE LADIES!" Teriak Pak Ghoni tak cuma-cuma, kemudian mengulurkan satu tangannya ke depan pintu seakan seperti seorang pangeran yang ingin mengajak dansa sang putri.
Tak lama setelah itu, seorang gadis yang dimaksudkan Pak Ghoni akhirnya muncul. Maksudnya datang, dengan langkah yang cukup arogan seperti seorang princess, bahkan mampu membuat beberapa laki-laki disana terperangah, kecuali Dika, cowok itu sepertinya terlalu polos untuk menilai kecantikan seorang wanita.
Ah wajar saja, dia itu menjomlo hampir separuh hidupnya.
"Ihhh Elga jan liat lama-lama!!!" mendengar perintah dari Jena yang duduk di depannya, Elga kemudian melengos, malas sekali dengan kelakuan Jena yang selalu mengintili dan mengekangnya. Memangnya siapa dia?
Arka,"Ya allah, cantikss brother,"
Bin,"Bidadari from where eta teh gusti?"
Arka,"Bidadari ku tetap eneng Jena seorang,"
__ADS_1
Bin,"Masa sih engga tergiur?"
Arka,"Bolehlah poligami hehehe."
"Perkenalkan nama saya Naya Almahera, pindahan dari SMA Airlangga" anak baru disana pun kemudian mengenalkan diri, "Siapa katanya? Naya almarhumah?" tanya Dika dengan wajah polosnya, ah tidak polos, lebih tepatnya datar dan sok benar. "Eh buseng, yakali almarhumah, yang ada dia setan dong?" semprot Elga tidak terima.
"Iya dia setan! Jadi Elga jangan suka sama dia!" bantah Jena juga tidak mau kalah.
Tak menjawab apa pun, Elga pada akhirnya hanya membuang muka sembari memasang wajah masam, bagaimana pun, Elga bukanlah tipikal cowok yang berani ribut dengan perempuan, karena ia tahu, membra laki-laki akan tetap kalah dengan membra perempuan, jadi meskipun melawan juga tidak akan pernah bisa menang.
Naya yang tadinya terlihat begitu elegen dan berkarisma, sekarang entah mengapa malah jadi sangat lesu sembari menundukan kepala lantas tak melanjutkan kalimat apa pun lagi, Pak Ghoni yang menyadari itu dengan segera membawa Naya ke tempat duduknya yang berada di samping Jena. Mungkin dia masih sangat canggung, pikirnya. Karena kebetulan semenjak Novi teman sebangkunya itu pindah sekolah, dari awal semester dua Jena memang duduk sendirian.
"Hai" sapa Jena duluan, teman sebangku barunya itu kemudian tersenyum, senyum yang__Jena dengan cepat merubah ekspresinya. Menjadi sangat datar dengan sedikit bumbu-bumbu sendu, salahkan Jena yang memang kadar kelebaiannya sudah stadium akhir.
"Kamu kenapa? Tadi itu senyum kamu manis banget lo, kenapa sekarang jadi lesu?" Tanya Jena blak-blakan setelah memperhatikan Naya yang sedari tadi hanya menundukan kepala, tak berani menatap orang-orang asing di sekelilingnya.
Gadis itu tak menjawab. Elga awalnya tidak ingin perduli dengan percakapan mereka, tapi karena sedari tadi ia terus salah fokus kearah Jena yang sudah memampangkan 1001 ekspresi, ia pun kemudian menyahuti mereka.
"Udah napa, ngobrolnya nanti aja" mendengar sahutan dari Elga, Jena sontak langsung mendekatinya. Lalu berbisik. Elga yang memang tipikal cowok terkepo tingkat sekolah langsung saja menengadahkan kupingnya tanpa di perintah.
"Ada yang mau Jena omongin, nanti pulang sekolah jangan dulu pulang," mendengar itu Elga hanya mengangguk samar, "Elga rambutnya wangi banget deh." Bisik Jena lagi, kali ini membuat Elga sedikit malu-malu kucing karena wajah mereka yang eheum-sudah melewati batas minimal.
"Berisik! Sana kebangku lagi!” balas Elga dengan wajah jaimnya. Yang hanya di balas dengan cengiran tanpa dosa gadis itu.
To Be Continue...
Elga In Beside...;)
__ADS_1