DETEKTIF TUMUS

DETEKTIF TUMUS
Episode 31 (Mayat Siapa?)


__ADS_3

"Ew sadis," Elga tergelak kemudian, "Yauda ntar kita bareng-bareng kursus bela diri di sesepuh." lanjutnya sembari memencet-mencet tombol keyboard handphone dengan cepat, mendengar itu Jena seketika terbatuk.


"Ternyata Elga wibu." umpatnya, membuat Elga tertawa geli meski tidak mengalihkan atensi sama sekali. "Sok tau, orang aku fanboy k-pop." aku? Oh ada yang aneh disini.. dia baru saja mengatakan dirinya sendiri degan sebutan aku? Bukan Elga sekali.


Tanpa sadar.. bibir Jena tertarik dengan sendirinya, memaparkan sebuah senyum yang entah apa artinya itu, apakah merasa geli? Atau malah gemas dengan ucapan temannya tadi. Sumpah! Anak itu sungguh menggemaskan ketika menyebut dirinya sendiri dengan kata 'aku'. Pikir Jena.


"Jen?" Jena menoleh ketika dirinya merasa terpanggil, mendekat ke arah Elga dan mengalihkan atensinya pada sebuah handphone yang ia pegang. Sembari membaca chat dari grup WA mereka yang berjudul DETEKTIF TUMUS.


Dika Mahesa Er.


Bajiran kita di tangkep pak Atang.


Dika Mahesa Er.


Ga, sori kagak bisa jemput.


Mendadak, Elga dan Jena tertawa terbahak-bahak. Bukannya kaget atau merasa kasihan kedua anak itu malah mentertawai teman-temannya yang sekarang ini mungkin sedang menerima hukuman dari guru BK. 


"Mampusin bajir! Segala bolos." mendengar umpatan dari Elga dengan gelak tawa itu, Jena seketika terdiam. Kembali dengan wajah datarnya, "kan Elga juga bolos." katanya yang membuat si empu ikut menghentikan tawa juga. "Oh iya." kemudian Elga tersenyum kuda karena merasa dirinya pun tadi sempat membolos dari sekolah. Entah akan seperti apa nasibnya esok ... Elga tidak mau memikirkannya, agaknya memang cukup mengerikan.


Berhadapan dengan guru BK yang tidak ada menyenangkannya sama sekali dari segi manapun, mau itu dari segi wajah ataupun gaya bicaranya. Ia bahkan sudah merasa terintimidasi meski hanya sekedar membayangkannya saja.


"Hayooooo! Elga pasti besok di hukum." goda Jena sembari mentertawai temannya yang kini tampak canggung karena membahas perihal guru BK mereka.


"Kalo Dika ketangkep, lo juga pasti ketangkep." ujar Elga tak mau kalah.


"Ha?! Kan Jena udah izin sakit."


"Tapi kan lo member geng kita, semua orang udah tau."


"Ih tapi kan jena ga ketauan."


"Masa?! Kalo guru BKnya ga percaya terus lo ikut ketauan gimana?"

__ADS_1


"Enggaklah pasti." Jena memalingkan wajah karena kesal.


"Masa?"


"Jena bisa ngeles kalo Jena beneran sakit."


"Awas beneran sakit loh. Lagian kan lo ga punya surat diagnosis dari dokternya buat barang bukti."


"IH ENGGA POKOKNYA, JENA BAKAL CARI CARA!"


Elga reflex menutup kedua kupingnya karena Jena baru saja berteriak dengan suara 20 oktaf, membuat orang-orang di sekeliling mereka sontak mengalih atensi pada kedua anak itu dengan tatapan 'sedang apa mereka disana?', astaga selalu saja berakhir seperti ini, Jena pasti akan berteriak di sela-sela perdebatan mereka, mungkin itu sebabnya Elga tidak ingin sering-sering berdebat dengannya. Bisa-bisa kupingnya terbelah menjadi dua, atau bahkan dunia bisa saja hancur karena teriakannya.


Ngeri.


"Aduh kuping gue mimisan!!" umpat Elga setengah di tahan, terlebih lagi ia mendadak merasa malu karena orang-orang di sekitar malah memperhatikan mereka dengan tatapan sarkas, seperti mengatakan 'dasar anak-anak jaman sekarang tidak tahu malu'. Ah sialan gadis ini, umpatnya dalam hati.


Karena terlanjur kesal Jena pun langsung membalikan badannya, berjalan mendahului Elga yang kini malah sibuk mengeceki kupingnya apakah bedarah atau tidak. "Gimana kalo yang di bilang Elga bener? Uaa Jena gamau di hukum guru BK." Tapi meskipun sempat tidak mau kalah ketika beradu argumen dengan Elga, Jena tetap saja di buat tidak nyaman karena apa yang di katakan laki-laki itu selalu saja ada benarnya.


GUK! GUK!


Mendadak keduanya melotot ketika mendengar suara hewan yang begitu menggema dari arah sana, Jena yang lebih kaget ketimbang Elga langsung saja menempelkan telapak tangan ke arah jantungnya yang kini berdebar hebat. Nyaris melompat keluar.


Ada anjing disana, entah anjing siapa tapi sepertinya itu anjing liar karena perawakan hewan itu yang kurus kering dan bulu coklat kotor seperti tidak terurus. Membuat ia tampak menyeramkan.


Jena memundurkan langkah perlahan-lahan ketika ia merasa anjing diasana mulai bersuara lagi, suara yang begitu nyaring hingga membuat anak-anak yang sedang sibuk bermain disana langsung saja bersembunyi di balik punggung ibunya masing-masing, sembari menahan napas, Jena menggenggam lengan Elga yang entah mengapa ikut kaku. "E-elga ...."


Namun tiba-tiba Elga dengan cepat membawanya berlari ... membuat anjing disana seketika ikut berlari juga, mengejar mereka yang kelabakan karenanya, semua orang tertawa menyaksikan itu, ketika Jena dan Elga di kejar anjing sembari berteriak ketakutan, dan wajah mereka yang tampak syok berat. Bayangkan saja bagaimana lucunya.


Terlebih lagi, tangan mereka saling berpautan, yang mana sebelumnya itu menjadi hal yang sangat di benci seorang Elga Maharaja. Ah bukan benci, itu karena dia adalah anak yang sangat religius jadi menurutnya berpegangan tangan dengan yang bukan mukhrim adalah hal yang 'tidak boleh ia lakukan'. Baiklah mungkin yang ini reflex.


"ELGA ANJINGNYA KENCENG BANGET LARINYA." Jena berteriak nyaring sembari masih berlari menerobosi orang-orang, melewati belokan-belokannya yang sangat memusingkan itu membuat Jena merasa mual, lainhalnya dengan Elga yang begitu lincah seperti klan uchiha di animasi naruto. Ah bukankah Elga sangat menyukai kedua karakter itu? Sehingga ia pun ingin menjadi seperti mereka?


GUK! GUK!

__ADS_1


Sialan, mengapa anjing itu terus mengejari mereka? Apa salah mereka? Elga terus saja bertanya dalam hatinya meski ia mulai merasa sesak napas karena terlalu kencang saat berlari, apalagi yang sedang ia bawa saat ini adalah perempuan yang lutunya sedang terluka, jadi ... ia sangat was-was jika saja Jena akan terjatuh lagi, karena tidak ada pilihan lain. Elga pun menarik lengan Jena sekuat tenaga hingga gadis itu ikut terjatuh bersamanya di balik semak-semak.


Sekarang.. bukan hanya lutut yang terluka, tapi sikut mereka juga. Atau bahkan jantung mereka pun ikut terluka saking terlalu banyak dibuat terkejut sedari tadi pagi.


"Sss ...." Elga reflex menautkan alis saat merasa ada sesuatu yang menyakitkan di balik pantatnya, saat dia menoleh. ternyata dia menubruk batu. Astaga beruntung tulang ekornya tidak patah, kalau iya dia bisa saja lumpuh permanent. Karena tempat itu penuh sekali dengan bebatuan runcing dan semak belukar yang berduri, sial.. Elga salah memilih tempat. Tapi mau bagaimana lagi? Anjing itu tidak punya akhlak sama sekali.


"Elga kenapa?" tanya Jena saat tak sengaja melihat si empunya meringis kesakitan. Sementara ia santai-santai saja karena tidak jatuh ke arah bebatuan, melainkan menubruk tubuh Elga yang membuatnya aman.


"Pantat gue kejedot batu tajem ini anj*r." Elga mulai mengadu.


"Ya ampun  berdarah ga? Coba mana lihat?" mendengar pertanyaan yang entah mengapa terkesan ambigu itu, Elga seketika melotot. Ya tuhan Jena ini terlalu polos atau bagaimana? Suka sekali berucap tanpa berpikir lebih dulu.


"Mesum!" umpat Elga yang membuat Jena langsung mencibir tidak suka.


"Jena ga pernah mes-"


"Ajddiebdkejrk"


"Wkdkenxlei"


Keduanya menoleh secara bersamaan ketika mendengar suara riuh-picuh dari arah seberang jalan, disana ... ramai sekali dengan orang-orang yang entah sedang mengerubungi apa, tetapi mereka baru sadar bahwa di sekitarnya ada area pembatas dan juga para polisi yang sedang melakukan autopsi.


Entah sejak kapan kericuhan itu terjadi, yang pasti mereka baru bisa mendengar lebih jelasnya sekarang. Jena dan Elga pun kemudian mencoba bangkit dan menghampiri kerumunan itu dengan sedikit berlari setelah sebelumnya saling lempar tatap. Sembari berinsting 'itu pasti ada kecekalaan'.


Dalam hati Elga dan Jena berdoa semoga siapa pun korban dari insiden kecelakaan tersebut bukanlah orang-orang yang mereka kenal.. ya semoga saja.


Karena penasaran mereka pun bersegera menerobosi kerumunan dengan lincah, mencoba untuk melihat lebih dekat korban kecelakaan itu. Namun sialnya, si korban sudah di bungkus dengan kantong pembungkus mayat.


To Be Continue ....


aku sukak Jenaaa uwuu


__ADS_1


__ADS_2