DETEKTIF TUMUS

DETEKTIF TUMUS
Episode 6 (Geram)


__ADS_3

Pagi ini, Jena datang kesekolah dengan raut wajah yang tidak mengenakan sekali, pasalnya sejak kejadian kemarin, Jena jadi malas bertemu dengan Elga.


Jena sungguh sakit hati, orang yang sudah lama ia anggap sebagai pujaan hatinya itu, ternyata malah menganggap dirinya hanya sebatas saudara, tak lebih.


Rasanya hari ini memang sudah cukup, apakah sekarang Jena akan berhenti mengejar cowok yang tak pernah bisa peka itu? Padahal Jena sudah membuktikannya terang-terangan. Kalau ia menyukai Elga. Tapi tetap saja sia-sia.


Dengan langkah yang gontai seperti habis mabuk, Jena kemudian menghela nafas panjang, tak perduli wajahnya kini sudah benar-benar melorot. Jena bahkan mengacangi orang-orang yang baru saja menyapanya.


"Elga emang jahat, padahal Jena udah berjuang keras" rutuknya agak keras, hingga anak-anak yang sedang berada di sekeliling koridor pun tampak memperbincangkannya sembari berbisik-bisik, mungkin mereka pikir, hari ini Jena sedang tidak waras.


Gadis China itu tak merespon, sebenarnya ia ingin sekali tidak masuk sekolah hari ini, tapi sayangnya, pelajaran tetap nomor 1, kalau ia tidak lulus hanya karena Elga, bisa-bisa seluruh organ tubuhnya di eksplor ke luar negri oleh mamanya.


Kemudian tiba-tiba saja seseorang menghadang jalannya, Jena merasa kesal, sebenarnya ia tau siapa yang berada di depannya itu dan tidak berniat untuk marah. Tapi tetap saja Jena tak bisa mengontrol emosinya.


"Ngapain sih Naya, minggir deh! Jena lagi emosi tau ga!" bentaknya yang kemudian berhasil membuat gadis itu terkejut. Lantas


ia pun tersadar. "M-maaf"


"Gapapa, Jena belum makan kan? Ayo makan" ajak Naya, agaknya gadis itu memang baik, dia salah menilainya. Naya anak yang pengertian dan mudah bersahabat, lihat saja! bahkan senyumnya mampu membuat semua orang ingin terjun ke lautan.


"Ayok!" Semprot Jena antusias, kemudian secara spontan merangkul bahu sempit teman barunya itu.


"Asik deh, makan sama temen baru." katanya sembari berjalan menuju kantin dengan Naya. Tanpa tahu sebenarnya sejak tadi Elga dan Dika sedang memperhatikan mereka dari belakang. Mereka menatap kepergian kedua gadis itu dengan tatapan yang sama. Sama-sama datar.


Rasanya hati Elga tidak nyaman setiap kali melihat sosok Naya, ia takut, tapi entah apa yang ia takuti darinya.


Elga rasa gadis itu bukanlah siluman srigala atau pampir seperti yang ada di flm GGS, tapi tetap saja melihat Naya agaknya memang sedikit menyeramkan.


"Jena, nanti pulang sekolah boleh minta bantuan ga?" tanya Naya, Kemudian memperhatikan oknum di depannya yang sedang sibuk melahap spageti keju. "Boleh, bantuan apa?" jawab si empu setelah menelan makanannya.


"Anu, aku ga ngerti soal matematikanya, jadi aku mau kamu ajarin aku,"


"Maksudnya kamu ngajak Jena belajar bareng? Edi bagus tuh!"


"Iya" mendengar itu, Jena bersegera mengelap bibirnya dengan tissue, lantas menghadap ke arah lawan bicaranya dengan antusias, "Kalo gitu ngerjainnya di rumah Jena aja." dan entah kenapa Naya tampak gelagapan kala itu juga. "Eh, a-anu, aku ga bisa."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Soalnya mama aku ngelarang aku maen, jadi biar mereka percaya, kamu yang kerumah aku aja." Gadis itu meramu kemudian, meminta persetujuan dari lawan bicaranya.


Agaknya Jena juga tidak terlalu keberatan, lagi pula ia kan sedang galau dan gabut di rumah, jadi tidak ada salahnya main ke rumah teman barunya.


"Boleh deh, tapi Jena ijin mama dulu ya" katanya yang hanya di balas dengan anggukan dan senyum semanis permen lolipop dari temannya.


"Makasih ya, Jen,"


"Sama-sama deh."


°


"Firasat gue ga enak terus" rutuk Elga, walau pun dia sedang berbicara dengan dirinya sendiri, tapi tetap saja di sahuti oleh Dika. Secara.. dialah teman yang paling dekat dengan posisinya.


"Kenapa lo?" tanya si empu yang sedari tadi tampak bosan mendengar helaan nafasnya. Sementara Elga hanya menoleh sebentar ke arahnya, kemudian menyandarkan kepala ke atas meja.


Dika tahu kalau seperti itu berarti Elga sedang berfikir, memikirkan apa yang sedang mengelilingi kepalanya, tapi entah kenapa Dika juga merasa ada yang mencurigakan di sekitar sini. Ia jadi ingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Yang sempat menggemparkan sekolah mereka.


"*Ketua Resi meninggal"


"Katanya di culik, terus pas di temuin dia udah meninggal, tapi badannya masih utuh kok"


"Ih ngeri banget astagaa"


"Padahal dia cantik banget, primadona sekolah kita loh, aku ga nyangka"


"Ya tuhan"


"Biasanya kalo penculikan gitu di ambil organ tubuhnya?"


"Engga tau, tapi badannya masih utuh, terus juga ga bisa di otopsi*"


Dika yakin, alibi penculikan itu mungkin sedang mengincar Jena sekarang, secara kan gadis itu memang agak lumayan parasnya,

__ADS_1


"Lo satu pikiran ga sama gue?" tanya Dika seperti biasa sembari bersila tangan. Menatap papan tulis dengan estetik.


Yang merasa di tanya pun kemudian menoleh, meskipun dengan tidak begitu perduli, "lo mikir tentang penculikan itu kan?" tanyanya bak Roy Kiyoshi.


"Tau juga lo, kea limbat"


"Roy Fidoran smart ahelah!"


Elga bukannya kesal, hanya saja moodnya tiba-tiba saja jadi tidak membaik, apalagi dia yakin sekarang ini gadis yang sedang ada di dalam pikirannya itu pasti sedang marah padanya.


Dia sangat hafal Jena, anak itu jika sudah marah susah sekali di bujuk, sekalinya bisa di bujuk ya minta yang aneh-aneh, seperti minta di belikan gunung tangkuban perahu misalnya. Ah-Elga pusing tujuh keliling.


Tak berapa lama kemudian, mereka pun dapat mendengar suara yang sangat tak asing lagi di telinga, entah itu Elga mau pun Dika lantas sama-sama menoleh ke arah pintu. Mereka tidak terkejut karena sangat hapal dengan suara 20 Oktaf milik Jena, yang bahkan dari radius 1 km pun suaranya sudah bisa di dengar.


"Bocah kuper suaranya ga bisa pelan amat," desah Elga lagi, "Kuper-kuper tapi lo khawatir kan?" tanya Dika. "Iya sih."


Kedua cowok itu kembali menatap gerak-gerik Jena, mengamati setiap langkah mereka yang tampak sama-sama anggun. Hingga ia sampai ke tempat duduknya bersama Naya.


"Ngapa liat liat? Suka lo ama gue?" tanya gadis yang merasa dirinya di perhatikan sejak tadi, lantas memelototi ke 2 orang tersangkanya. Jena.


"Emang ngapa kalo gue suka sama lo? Marah? Apa nerima?" dan pertanyaan itu entah mengapa berhasil membuat pipi Jena melepuh, mendadak jantungnya berdebar cepat sekali, nyaris seperti baru istirahat dari lari maraton. Hingga ia pun reflex menempatkan telapak tangannya di bagian jantung, “kaget aku!” ceplosnya.


Nyatanya meskipun begitu, Jena masih berharap Elga cemburu setelah mendengar penuturan Dika barusan, tapi ternyata, "Jadian aja lo berdua, gue dukung kok" tapi ternyata tidak.


Ucapan enteng serta wajah polos Elga seketika menarik perhatian oknum berinisial D dan J itu untuk segera menoleh ke arahnya. Jelas sekali bahwa mereka sangat terkejut, sembari menjabarkan ekspresi terbelalak dengan mimik wajah tidak enak. Mimik wajah yang basi, dan bisa saja membuat seseorang mendadak sakit perut melihatnya.


"Ga!!!" bentak Jena dan Dika bersamaan, yang langsung membuat Elga terperanjat dari tempat. Apa lagi kini anak-anak kelas mulai memperhatikan mereka secara terang-terangan. Namun karena kelas ini termasuk kelas yang kompak, jadi mereka tidak begitu menggubris kelakuan ke 3 orang disana yang selalu saja begitu. Mencoba memaklumi meski sempat terkejut setengah mati. Karena pasalnya.. hanya mereka orang-orang paling ramai di kelas 10.A.2.


"Nama Elga dari mana sih!! Kok jahat?!! Kok kejam?!! Padahal Jena cuma suka sama Elga!" Teriak Jena tak tahu malu, hingga berhasil mengundang ekspresi geli dari teman-teman kelasnya. Bahkan ada juga yang tergelak hingga terjungkal-jungkal saking kocaknya Gadis China itu.


Elga yang sedari tadi terkejut pun, seketika bungkam. Karena saking terkejutnya ia sampai tak bisa bergerak. Sementara Jena sudah membuang muka dengan dongkol. Merasa geram dengan ketidak pekaan seorang Elga Maharaja, oh ayolah.. Elga bukannya tidak peka, hanya saja-


"Nama gue ya? Penulis yang ngasih, gue cuma babu."


To Be Continue.

__ADS_1



Arka Andrian As You Know...


__ADS_2