
"Lagi ngapain kalian?"
Dan pada akhirnya pun keheningan yang mencengkram itu terpecahkan oleh sebias suara yang entah mengapa membuat jantung Jena nyaris saja lompat keluar.
"N-nanad." itu suara Elga.
"Ada kasus lagi?" perempuan cantik dengan hijab segi empat yang selalu membuatnya terlihat anggun itu kemudian berjalan, mendekati ke 4 oknum yang kini tengah mematung kaku berkat kedatangannya yang mendadak.
"I-iya" hingga Jena pun rasanya seperti terintimidasi meski Nanad sepertinya tak akan mengadukan hal ini ke pihak BK, jika ia tahu bahwa mereka datang ke lab komputer karena ingin menyelesaikan kasus. Ya, jadi Nanad ini ketua rohis disana, perihal mengapa ia tahu kalau Elga and the geng suka menyelesaikan kasus itu jawabannya mudah sekali, MEMANGNYA SIAPA YANG TIDAK TAHU MEREKA? oh ayolah, mereka sudah terkenal hampir satu sekolah.
"Soal apa?" tanyanya lagi yang kemudian di jawab oleh Arka dengan watadosnya. "Soal nomor togel melarat yang suka mintain pulsa ke orang-orang, mereka pake edit suara biar suara mereka mirip kayak orang yang kita kenal, biar kita percaya."
Yang bertanya hanya mengangguk kemudian menodongkan tangannya ke arah Dika, "sini, udah ketemu alamatnya? Aku aja yang nelvon papa biar ngirim polisi kesana." ah-Elga hampir lupa kalau papanya Nanad adalah seorang polisi. Kalau begitu kebetulan sekali, mereka tidak perlu lagi repot-repot pergi kesana untuk memanggil polisi. Sedangkan Jena dan kawan-kawan hanya mematung di tempat. Tidak mengerti. Sepertinya mereka belum tahu hal ini. Tentang jabatan ayah dari gadis manis yang selalu memakai hijab itu.
"Makasih ya Nad, lu emang pengertian banget." nyatanya meskipun mengatakan trimakasih adalah hal yang wajar ketika kita di baru saja bantu, tapi ucapan Elga tadi rupanya baru saja membuat Jena emosi. "Apaan sih! Kenapa harus sama papanya dia coba?! Biasanyakan kita lakuin ini sendiri."
Mendengar itu, Elga mendongak sarkas, menatap Jena dengan tatapan dingin seperti biasanya, "bapak dia polisi, makasih kek, marah-marah mulu lo." ujarnya yang kemudian membuat Jena seketika melotot tidak percaya. Dan mendadak suasana menghening.
"Nih, Daerah Bekasi jalan mangga 1 dengan nomor bangunan 50. " ujar Dika di tengah-tengah keheningan sembari memberikan sobekan kertas yang ia tulis tadi pada Nanad.
Dan..."A-ah maapin Jena ya Nanad, Jena gatau sumpah, maapin Jena maapiiinnnn."
":)"
~
Semenjak jam istirahat tadi Jena agak gabut karena Elga belum juga kembali ke kelas, katanya dia pergi ke kantin dengan Dika tapi ternyata sewaktu dia menyusul mereka kesana, mereka sudah tidak ada.
Persoalan Arka dan Bin, dia tidak tahu mereka kemana, siyalnya teman-temannya itu selalu menghilang setiap kali Jena berinsting kalau orang-orang akan mengerubungi mereka dalam hitungan menit. Dan benar saja. Jena seketika di kepung oleh teman-teman satu kelasnya.
Ah-Jena pusing, apa lagi sedari tadi dia terus di tanyai perihal Naya dan juga penipuan nomor togel itu. Bukan hanya 1 atau 10 orang, bahkan dari kelas lain pun kerap sekali mendatanginya hari ini.
__ADS_1
Yang paling menghebohkan sih..perihal Naya itu. Wah, siapa memangnya yang tidak tahu? Apakah sekarang kita boleh mengumpat Arka yang seenaknya mengupload status sembarangan ke publik? Atau mengumpat si penulis cerita ini? Yang pasti mari kita umpat saja pemainnya.
"Jen, gimana? Udah selesaikan?"
"Udahh."
"Alamatnya dimana?"
"Daerah bekasi jalan mangga no 1."
"Soal Naya itu beneran? Gimana sih awal ceritanya? Kok bisa ketauan?"
"Ya begitulah."
"Kalian nangkepnya dengan cara kayak apa coba? Bisaan amat."
"Duh Jena pusing kalo jelasin satu-satu, ceritanya lebwaaaarrrr banget kek pantat sapi."
"Tenang aja itu maah..."
"Jen-"
"Aduh Jena sakit perut nih, ke Wc dulu ya." aktingnya kemudian segera beranjak pergi dari segerombolan orang-orang kepo tingkat dewa, ah Jena benar-benar pusing kalau harus menanggapi semua pertanyaan itu, bisa-bisa sampai subuh pun wawancara mereka tidak akan selesai. Lalu Jena di serang tumor ganas karena terlalu banyak berpikir, sampai akhirnya..death. Oh ayolah Jena benar-benar tidak mau mati sia-sia, dia belum boleh masuk islam karena belum melampaui kriteria, katanya..tunggu 2 tahun lagi sampai ia benar-benar berumur 17 tahun.
Padahal Jena ingin sekali sholat seperti Elga dan yang lain, lihat betapa menderitanya ia setiap dzuhur di tinggalkan mereka untuk melaksanakan sholat berjamaah. Sedangkan Jena malah di kerubungi orang-orang kepo, yang selalu saja membuatnya prustasi hingga terkentut-kentut.
Setelah sampai di ambang pintu, ia tak sengaja melihat Elga dan Nanad sedang ketawa-ketiwi di kelas tetangga yang membuatnya mendadak beku di tempat. Hatinya tertohoq. Demi tuhan, Elga benar-benar kerdus..Jena baru menyadari itu. Sudah berapa kali ia disakiti olehnya sekarang?
Drama apa lagi ini? Jena sungguh kecewa. Ia sudah menunggu Elga sejak 2 jam yang lalu, tapi ternyata cowok itu malah jalan bersama cewek lain. Ah Jena menyesal, Elga memang jahat! Sepertinya sebentar lagi ia akan menyanyikan lagu 'hati yang telah kau sakiti' ciptaan mba Rosa. Jadi sebaiknya mundur saja jika kalian tidak ingin telinga kalian terbelah menjadi dua.
"Jena dari dulu emang ga pernah suka sama Nanad. Dasar pelakor!" Kemudian, ia memajukan bibirnya sepanjang 1 meter.
__ADS_1
~
"Kelas gue hari ini full jamkos anj*r." ujar Elga sembari masih tertawa, entah karena merasa bangga tidak belajar satu hari full, atau malah mentertawakan guru-gurunya yang seperti malas sekali mengajar di kelas mereka? Hey! Asal kalian tahu, betapa brutalnya kelas mereka itu. Sampai guru-guru pun baru masuk selangkah dari pintu, sudah seperti mau gila rasanya.
"Kelas gue sih belajar terus, cuma sekarang aja lgi jamkos, Bu Bae lagi nungguin anaknya di rumah sakit, katanya anaknya demam." Nanad tersenyum ala kadarnya, yang mendengarnya pun hanya menanggapi dengan kekehan kecil.
"Semoga cepet sembuh ya anaknya bu Barbie, btw menurut lo.. lucu ga kalo cita-cita gue jadi tukang angkut sampah?" meski pertanyaan itu terdengar serius dan biasa-biasa saja, tapi entah kenapa membuat Nanad terbahak-bahak akhirnya, padahal ia sudah menetralkan tawa mati-matian sedari tadi, demi menjaga image. Tapi hanya karena satu kalimat itu, humornya jadi anjlok 10 kali lipat.
Omong-omong Elga memang sudah sering sekali memanggil bu Bae dengan sebutan Barbie, karena mungkin menurutnya beliau sangat mirip sekali dengan boneka barbie. Wajar saja, Elga memang suka mengada-ngada.
"Ya allah Ga! Lo itu pinter! Detektif lagi.. gue pikir lo cocoknya jadi Jaksa atau ga polisi, kok tukang angkut sampah sih ga berbobot amat." Nanad kembali tertawa. Sedangkan yang sedang di kritik hanya memainkan bola matanya kesana kemari. Menandakan bahwa ia sedang berfikir.
"Menurut gue tukang angkut sampah itu termasuk pahlawan tanpa jasa. Apa lagi sampah masyarakat." Ohh Nanad tahu apa maksudnya, baiklah, dalam opini ini dia baru saja kalah telak.
"Iya iyaaa.. apapun pekerjaan lo nantinya, gue sih percaya lo pasti selalu berguna buat orang lain."
"Asal jangan dateng pas ada butuhnya aja si."
"Gue engga kok."
"Ha?"
"Engga, eh udah dzuhur tuh, ayo sholat." mendengar ajakannya yang entah mengapa terasa menyentuh, Elga diam-diam tersenyum penuh arti.
"ELGA! JENA MAU IKUT SHOLAT!"
To Be Continue...
Nanad As You Know...;D
__ADS_1