
Sepulang sekolah seperti yang sudah di rencanakan Jena tadi, Elga tidak langsung pulang, dan ternyata Dika, Arka dan Bin pun setia kawan untuk tidak langsung pulang duluan, mereka sekarang sedang menunggu intruksi dari Jena yang katanya menemukan sesuatu yang aneh dari Naya.
Terlihat dari jarak sekitar 5 kaki, Naya baru saja keluar dari kelas, dan Jena yang diam-diam mengintilinya dari belakang, tapi setelah Naya berbelok ke arah yang berlawan dari tempat Elga, Dika, Arka dan juga Bin, Jena lebih memilih untuk tidak mengikutinya, lantas langsung menghampiri para rekannya itu.
Tampak sekarang wajah Bin dan Arka yang datarnya seperti jalan tol, lain halnya dengan Alis Dika dan Elga yang selalu menukik tajam setiap kali merasa bingung.
Jena pun melirik sebentar ke arah Naya, menyipitkan matanya sesekali, memastikan kalau gadis itu benar-benar sudah menghilang dari lorong sekolah. Kemudian...
"SIYYAL! DIA MANIAC!" teriaknya tertahan, menahan segala umpatan di ubun-ubun.
Sedangkan Elga, Dika, Arka mau pun Bin tebelalak akhirnya, apakah maniac yang di maksudkan Jena itu adalah pencinta p*rn*. Atau malah pembunuh bayaran? "Lo jangan asal tebak dong, yang bener aja" sahut Elga terheran-heran. Nyatanya memang tebakan Jena tadi sedikit tidak logis. "Begini ceritanya, waktu gue ngobrol sama dia gue ga sengaja liat photo-photo orang di gantungan tasnya."
Iya, memang tadi setelah Jena mengobrol dengan Naya, gadis itu menemukan sesuatu yang aneh, dari awal Naya yang tak berani menatapnya saat mengobrol, juga gantungan tas yang berisikan photo-photo orang asing. Berusia anak SMA.
Jena tahu saat ia tak sengaja membalikan gantungan yang tadinya dalam posisi terbalik. Itu sebab mengapa Jena reflex memampangkan 1001 ekspresi seperti yang dilihat Elga sebelumnya. Mendengar itu, Elga kalah telak, kalau memang benar, berarti itu sangat mencurigakan.
"Halah, mungkin itu photo cowok-cowok yang dia suka, cewek kan suka gitu, ga berani bilang ya masang photonya," sahut Dika yang di sambut dengan anggukan setuju dari para antek-antekannya. Pada akhirnya pun mereka tetap tidak bisa percaya.
Jena langsung saja berkecak pinggang, Dika tidak tahu apa pun tapi sudah sok tahu, pikirnya. "Tapi di photo itu banyak ceweknya, tadi jena itung sekitar ada 12 photo, terus juga seragam sekolahnya beda-beda, tapi ada juga yang make baju bebas, dan Jena yakin itu bukan photo-photo artis ataupun ulzzang" ujarnya meyakinkan, lantas membuat ke 4 rekannya tampak bingung seketika. Ah tidak juga, sepertinya Bin dan Arka sedang memikirkan hal lain.
"Abis ini beli pangsit yuk" ajak Arka pada Bin, anak itu kemudian merangkul Arka dari samping. "Traktir yo"
"Asiapp" dan bayangkan bagaimana mimik wajah Jena, Elga dan juga Dika sekarang, yang tampak cengo karena kebegoan kedua oknum itu.
__ADS_1
"ARKAAAA! BINOOOO!" teriak Jena tak tanggung-tanggung, sontak membuat Elga reflex menutup kupingnya, entah apa yang akan terjadi jika saja gendang telinganya pecah, apakah ia harus menggantinya dengan gendang masjid? Oh ayolah itu mustahil.
Beruntungnya sekolah sudah sepi, kalau tidak.. tamat riwayat mereka karena bisa saja di bully satu sekolah. Ah Jena itu benar-benar menyebalkan kalau sudah berteriak. "Lu juara nyanyi kagak, tapi falsetnya udah level high." Elga kesal sendiri, sedangkan gadis yang sedang di umpatinya hanya mengikik Kecil menyadari eskpresi Elga yang jika sedang kesal malah terlihat imut.
"Saya dapat cewek cantik, pak" ujar seorang gadis yang masih mengenakan seragam sekolah, langkah kaki anggunnya kini terdengar hampir di seluruh ruangan yang nyaris di penuh dengan alat eksperimen tersebut. Ya benar. Laboratorium.
"Bagus, saya akan membayarmu 2000$ jika kamu sudah berhasil mendapetkan dia."
Balas si tetua, maksudnya seorang pria berumur dengan rambut lumayan beruban dan jas hitam yang sangat arogan. Ia memunggungi gadis yang sedang berbicara dengannya sembari memasukan kedua tangan kedalam kantung celana. Merasa sudah di berikan penjelasan yang cukup. Gadis itu pun membungkuk lama, "Mengerti" ucapnya singkat, jelas, padat kemudian bergegas pergi.
"Kamu juga cantik, ini adalah sasaran yang terakhir, setelah itu.. kamu." monolog si pria paruh baya itu. Lantas tersenyum smirk.
"Yaudah yok, pulang!" ajak Arka, walaupun terkesan menyebalkan, nyatanya tetap saja di angguki oleh para rekannya, Dika yang sedari tadi diam pun kemudian menyahut, "Eh!" Jena menoleh, Elga menoleh, Arka dan Bin menoleh, kodok, cebong, undur-undur, kupu-kupu, capung, ulat bulu, ulat keket semua menoleh. Mendadak suasana menjadi hening.
"Ada apa Dika?" Tanya Jena yang di angguki oleh Elga. "Kayaknya gue mau kencing dulu, anter yok El" oh ayolah.. itu jawaban yang benar-benar menyebalkan.
Tak berapa lama setelah kepergian Elga dan Dika. Jena, Arka mau pun Bin berniat untuk menunggu mereka di gerbang, niat awalnya sih ingin sedikit berbincang dengan pak satpam. Di tambah lagi pak satpamnya lumayan tampan, jadi sudahlah, Jena boy type sekali.
"Apasih maksudnya Jena? Gue ga paham" tanya Dika sembari berjalan beriringan dengan Elga menuju WC, "Gue tau maksud dia, tapi gimana caranya nyari tau siapa Naya? Masa kita mau nyurigain anak baru? Males amat. Segala jadi maniak lagi." Elga mengedikan bahu tidak percaya.
"Tapi ada yang aneh juga sih, sewaktu gue liat mukanya, puceet banget" ujar Dika lagi sembari sedikit berekting. "Maksud lo dia pampir? Wah sinting!"
Saat hendak sampai tiba-tiba saja terdengar suara aneh dari lorong depan, tepat di samping ruang perpustakaan, juga di depan WC cowok yang mau Dika dan Elga kunjungi.
__ADS_1
Kedua cowok itu akhirnya menyadari kalau ternyata disana ada manusia, entah manusia atau Jin yang menjelma Elga tidak perduli, tapi nyatanya dia memang masih memakai seragam sekolah ini. Bukan guru ataupun satpam.
"Stttt" Dika reflex berisyarat sembari menutup mulut Elga, saat temannya itu baru saja hendak lepas suara, entah kaget atau memang reflex ingin menanyakan sedang apa gadis itu disana?
Kemudian dengan cepat mereka memepetkan diri ke tembok, mendengarkan perbincangan kecil yang sedang di lakukan oleh oknum di depan sana seorang diri. Karena seorang laginya sedang berada di dalam telvon.
Elga menyipitkan mata curiga, sedangkan Dika mengulurkan daun kupingnya agar bisa mendengar lebih jelas.
Tapi nihil, suaranya sudah menghilang, bahkan ketika mereka menimbulkan kepala untuk melihat keberadaan sesosok itu pun, entah sajak kapan dia sudah menghilang dari sana. Benar-benar ngeri kalau memang sekolah ini angker.
"Eh antunio fergusoh" Latah Elga akhirnya. "Tadi teh manusia kan? Bulu ketek gue kok tiba-tiba gatel ya?" mendengar itu..Elga kemudian menoleh dengen penuh estetik. "Itu mah pen tumbuh lagi kambyng!" semprotnya pada Dika yang kemudian memelorotkan wajah so imut.
"Besok cukur lagi lah"
"Pake apa'an?"
"Pemotong rumput wkwkwk"
"Hahaha ***** garing dah." Karena kesal Elga pun menoyor kepala temannya hingga sedikit terpental.
"Kalian ngapain disini?"
To Be Continue...
__ADS_1
Jena As You Know...♡o♡