
Mereka sekarang sudah sampai di depan gerbang sekolah, namun Dika tidak berani masuk karena ternyata ini masih jam 2 siang, tentu saja jam pelajaran belum berakhir. Pada akhirnya pun ia meminta tolong pada Bin dan juga Arka untuk mengambilkan buku miliknya ke kantin bu Imas. Karena katanya mereka tidak membolos.. mereka hanya izin keluar dan sudah menerima surat tanda tangan persetujuan izin dari guru piket.
Namun sebias suara yang berat dan terdengar sarkas, seketika membuat Dika terperanjat hingga nyaris terjungkal, "Heyo Dika!" Astaga itu guru BK.
Kebetulan macam apa ini ia harus bertemu dengan guru BK? Kenapa tidak ibu kantin? Atau pak satpam saja? Oh.. bertemu dengan pak satpam garang itu sama saja ia sedang cari mati.
"B-bapak..." Dika meringis sembari menggaruk-garuki punduknya yang dirasa tidak gatal sama sekali, sementara sang guru BK yang bernama pak Atang disana, langsung memelototinya hingga bola mata itu nyaris keluar. Membuat Dika seketika tersedak ludah sendiri.
"Kenapa ga sekolah? Sakit? Kalo sakit terus kenapa kesini?" mendengar pertanyaan yang beruntun itu. Dika hanya tersenyum keki, entah sejak kapan jantungnya berdebaran tidak karuan seperti sekarang, oh, agaknya dia memang harus berbohong untuk kali ini saja, meskipun di dalam lubuk hati paling dalam, Dika meminta maaf sebesar-besarnya pada tuhan sebelum mengatakan, "iya pak, anu.. saya lagi mau nyari oskadon disini, kebetulan warung di sekitar rumah saya pada tutup, pak." ujarnya agak kelagapan yang hanya di tanggapi dengan anggukan kecil oleh pak Atang.
Namun satu sahutan yang klimaks dan terdengar menyeramkan, membuat ia terbelalak hingga terkentut-kentut. "Bohong! Ayo ikut bapak keruang BK!" kemudian ia merasa sesuatu tiba-tiba saja menarik kupingnya hingga reflex Berjinjit. Sakit, rasanya seperti mau patah, dasar si pencari masalah! Pada akhirnya pun Dika malah merutuki dirinya sendiri karena telah membolos sekolah dan malah memberikan alasan yang tidak masuk akal tadi.
"AA sakit, pak! Sakit!"
"Belajar bohong sama orang tua kamu ya?!"
-
"Elga, liat itu!" Jena menunjuk bunga pansy dalam pot dengan perpaudan warna ungu dan putih di samping kursi taman, bunga kesukaannya tentu saja. Sementara Elga hanya diam sembari memperhatikan bunga tersebut, "Jena suka banget sama bunga pansy, cantikkan?" lanjutnya, membuat Elga mengulum bibir beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, "semua jenis bunga sama aja." mendengar itu, Jena menukikan alis dengan tatapan tidak setuju.
__ADS_1
"Tapi bunga pansy lebih cantik." semprot Jena.
"Setiap benda di dunia ini sama, terdiri dari kumpulan molekul, kalo molekulnya di zoom atau di pecah pecah maka akan keliatan kumpulan atom, nah kalo atomnya di pecah lagi, ketemu atom nucleus, dan kalo di pecah terus-terusan sampe atom terkecil, ketemulah dengan quark, quark atau quantum bisa di sebut sebagai penyusun dari semua benda benda ini. Jadi semuanya sama.. sama sama di susun dari quark." mendadak Jena terperangah mendengarkan definisi panjang lebar dari Elga yang menurutnya memusingkan itu.. oh astaga dia mulai lagi dengan pelajaran fisikanya.
"E-elga tau dari mana?" tanya Jena kembali menjatuhkan rahang, tidak percaya. Pasalnya itu bukanlah pelajaran anak SMA. Setahu Jena materi seperti itu hanya akan muncul di dunia perkuliahan. Ah ia sungguh tidak ingat kapan bu Fatma memberikan mereka materi seperti ini.
Sementara yang di tanya malah mengedikan bahu dengan gaya acuh, "pernah baca kayaknya." astaga, dia sendiri pun ragu dengan jawabannya tadi.
"Siklus hidup semua bunga juga sama, sebelum jadi cantik dia awalnya biji dulu, dan sebelum jadi Jena dia awalnya ****** dulu." mendengar itu Jena reflex menampol si empunya, sembari mengumpat dalam hati dengan kalimat 'dasar otak mesum' sekaligus membenarkan semua kalimat Elga baru saja, ya.. semua benda dan makhluk hidup yang ada di dunia ini semuanya sama, jika dilihat dari siklus hidupnya, tidak ada yang berbeda, yang hanya bisa dibedakan ialah nasib dan takdir.
Si anak genius ini entah mengapa membuat Jena semakin menyukainya. Oh tolong itu tidak baik. Jena tidak masalah jika hanya menyukainya, Tetapi dia hanya tidak ingin terlalu terobsesi. Bagaimana pun mereka hanyalah anak remaja kelas 10 SMA yang masih terbilang labil.
Elga senang terlahir di jakarta, hanya saja.. di era modern seperti ini ia merasa kota besarnya telah di isi dengan banyaknya pengkhianat dan kemunafikan. Itu yang membuat Elga agak sedikit tidak betah. Mungkin bisa di bilang ia tidak rela jika nama baik kotanya tercoreng seperti sekarang.
Mereka mengelilingi pinggiran jalan dengan sesekali mengobrol kecil, mengobroli hal-hal yang tidak penting demi memecahkan keheningan.. ya siapa lagi yang lebih banyak bicara disini selain Jena? Meskipun Elga tidak menanggapinya dengan dingin, tetapi ia tidak cukup banyak bicara untuk menjawabi semua ocehannya yang tidak jelas itu.. kebanyakan Elga hanya menanggapinya dengan tawaan.
"Gue mau belajar bela diri." ujar Elga sembari tersenyum kepada seorang nenek tua yang sedang berjualan sayur di pinggir jalanan. Hey bagaimanapun, Elga tetaplah anak yang sopan meski ia sangat menyebalkan dan suka toxic.
Yang merasa di ajak bicara pun kemudian menatapnya dari samping, menelisik garis rahang temannya yang seperti goretan sunset di sore hari, indah. Pujinya dalam hati, tak berani berbicara langsung karena ia yakin Elga bisa saja merasa ilfeel.
__ADS_1
Yang pada akhirnya Jena malah bertanya, "buat apa?" Oh.. pertanyaan yang terlalu klise, seharusnya dia sendiri pun tahu tujuan Elga belajar bela diri itu untuk apa, selain untuk membela dirinya sendiri dari para penjahat, Elga juga ingin melindungi teman-temannya bukan? Ya semoga saja perkiraannya ini benar adanya.
"Buat nonjok palanya Riyo." Mendadak Jena melunturkan senyumannya, tidak sesuai ekspetasi.. ternyata Elga ingin belajar bela diri malah untuk balas dendam kepada seseorang, ya! Riyo adalah anak kelas tetangga, anak yang sering sekali berkunjung ke kelas mereka, dan anak yang sering mengatai Elga dengan sebutan 'bocah belagu sok pinter'. Meskipun Elga tidak pernah menggubrisnya, tapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, tetap saja ada perasaan tidak terima dan marah.
Namun, Elga bukan seseorang yang suka menampakan kemarahannya secara langsung.
"Gausah ya." Jena mencubit lengan Elga hingga membuatnya reflex mengaduh.
"Ah iya iya, buat ngelindungin diri gue sendiri kok." ujar Elga sembari mengusap-usap tangannya sendiri. Mencoba meredakan rasa panas setelah di cubit oleh Jena, ya ampun..selain gadis aneh, ternyata dia juga seluman kepiting. Rutuk Elga dalam hati.
"Kalo gitu Jena juga ikut." Elga menoleh dengan cepat ketika mendengar jawaban itu, "buat apa?" tanyanya seakan mengulangi pertanyaan dari Jena beberapa detik yang lalu.
"Buat nonjok pala kalian semua."
To Be Continue...
Jena As You Know... ♡^♡
__ADS_1