
Note : Sekedar saran, bacanya sambil dengerin soundtrack detektiv conan vers indo cover by Sanca ya.π
"Jadi ini kita mau apaa?!!"
"Pergi ke laboratorium professor Barta Danoel." jawab Dika dengan datar.
"Astaga itu jauh banget Dikaaaa, kita mau ke Dubai sambil ngangkang?"
"Ya kagaklah anjrit, laboratoriumnya ada di sekitar sini, Naya pasti pernah kesana. Kalo ia dia bersekongkol sama professor gila itu."
"Terus gimana nyarinyaa..."
"Ah ngeluh mulu lo! Tenang dah gue lacak!"
-
Elga entah sejak kapan merasa resah sendiri di tempat duduknya, ia yakin sekali ketidak hadiran Dika dan juga Jena bukanlah sebuah kebetulan, pasti ada yang mau mereka rencanakan, hey! Secarakan Dika sudah 3 tahun ini jarang sekali tidak masuk sekolah, atau bahkan Jena yang list ketidak hadirannya nyaris kosong melompong. Sekarang, mereka tidak berangkat secara bersamaan. Bukankah..itu aneh?
Ah, dia hanya takut kalo mereka masih mengungkit-ungkit perihal ayahnya yang entah masih hidup atau sudah mati. Nyatanya..meski di umpati sekalipun ke dua oknum itu memang terkenal agak keras kepala dan ceroboh. Mereka akan tetap pada pendiriannya meskipun itu akan sangat berbahaya.
"Elga?" hingga satu sautan dari pak Ibnu yang notabenenya adalah guru bahasa inggris, membuatnya seketika salah tingkah. "Ngelamunin apa hm? Oke, coba kamu berikan contoh kalimat look up to menggunakan bahasa inggris lengkap."
Mendengar itu, Elga langsung memejamkan matanya, bahkan sekarang ia telah menjadi pusat perhatian seisi kelas. Oh ayolah! Selalu saja seperti itu, kenapa pula ia harus sering di tanyai hal semacam ini hanya karena sempat tidak memperhatikan.
"Astaga, cari masalah mulu emang Elga."
"Kalo dia bisa jawab, fiks.. dia beneran genius!"
Setelah berhasil mencoba fokus, Elga pun mendongakan kepala kemudian berdiri, menjawab sekenanya. "Maria is a successful businesswoman. Her son looks up to her and wants to be a businessman when he grows up. (Maria seorang bisnis wanita yang sukses. Anaknya melihatnya dan ingin menjadi bisnis pria ketika dia tumbuh.)"
"Revere(memuja)!"
"As a doctor, she has saved many lives. People rever her as her hero. (Sebagai dokter, dia telah menyelamatkan banyak hidupnya. Orang memujanya sebagai pahlawannya.)"
"Repect(hormat)!"
__ADS_1
" My boss is intelligent and hard-working. I respect her a lot. (Bosku pandai dan kerja keras. Aku banyak menghormatinya.)"
"Apologize.(Permintaan maaf.)"
"Sorry because i can't focus to your lesson, sir. (Maaf karena aku tidak bisa fokus ke pelajaran anda, pak.)" anak itu kemudian menunduk, membuat pak Ibnu yang berada di depan seketika tertawa kecil. Lucu! Guru itu memang terkenal imut karena gigi-giginya yang kecil. "No big deal Elga, your answered is very good. (tidak apa-apa Elga, jawabanmu sangat memuaskan)"
Sedangkan yang lainnya hanya diam dan saling tatap.
-
Keduanya saling berlarian, menerjangi tumpukan kardus yang sempat menghalangi jalan, juga tembok yang luar biasa kotornya karena coretan pilok warna-warni. Tapi di sepanjang jalan ituΒ Dika mulai merasa pening karena gadis di belakangnya terus saja mengintrogasi.
"Lo yakinkan aman?"
"Iya."
"Eh tapi kalo dia mafia gimana?"
"Bukan, kita cuma mau cari tau bukan nyerang."
"Ya tapi tetep aja Dikaaa kan serem kalo ketauan terus kita di sandra-"
"AH ANJRIT IKUTIN AJA NAPA."
Begitu kira-kira perdebadan kecil yang terjadi di sana, hingga beberapa detik setelahnya Jena tak sengaja menubruk Dika dari belakang karena laki-laki itu berhenti secara mendadak, seperti rem yang baru di ganti. Astaga benar-benar menyebalkan Dika ini.
Di depan sana, berjejer 4 orang gengster, 2 di antaranya menyeringai bak psikopat sedangkan 2 lainnya hanya tertawa sembari mengepung Jena dan juga Dika hingga kedua anak itu reflex saling membelakangi. Mendadak Jena panas dingin karena takut di apa-apakan, apalagi dia tidak pandai dalam urusan berkelahi.
"PAAN DAH GAJE BET." teriak Dika lantas mencengkram pergelangan lengan Jena sekencang mungkin, membuat gadis itu tambah berdebar setengah mati.
"Tawanan nih haha."
"Dah lama ga nonjokin orang, tangan gue ngebuluk."
"Yang cewek bolehlah buat kita."
__ADS_1
Dika menggeram hebat diam-diam, dengan ekspresi datarnya yang bahkan hanya mendeskripsikan sedikit rasa marah. Namun kelihatan lebih banyak rasa tenang ketimbang Jena yang kini mau menangis.
Tanpa memberikan aba-aba lebih dulu, kemudian dengan cepat Dika menarik lengan Jena, menariknya sekuat tenaga hingga gadis itu terbantil dan reflex menubruk salah satu gengster di sana.
BRUK!
Namun satu teriakan dari rekannya membuat Jena langsung tersadar. "Tendang!!" ia pun secepat kilat menendang bagian tersensitif seseorang yang ada di bawahnya, hingga membuat laki-laki dengan gaya preman itu seketika mengerang kesakitan.
Dan Dika yang tiba-tiba saja di serbu komplotan gengster membuatnya terkejut setengah mati di tambah lagi jantungnya yang tak mau berhenti berdebar. Tapi ketika baru saja ingin mengejar Dika yang berjuang sendirian, kakinya tiba-tiba saja di cengkram dari bawah.. hingga Jena merasa kekesalannya sudah mulai naik ke puncak kepala.
Karena emosi, gadis itu pun mendecih tidak suka kemudian berujar dengan santai. "Mau cium kaki gue? Nih!"
BUK!
Lalu menendang wajah seseorang yang menjadi korbannya hingga berbalik. Setelah merasa lawannya yang satu sudah cukup tidak bisa bergerak, Jena pun segera berlari ke arah komplotan yang menyerang Dika disana. Kemudian mengambil kayu basah yang kebetulan tergeletak di dekatnya untuk berjaga-jaga.
Ketika hendak memukul salah satu dari mereka, seseorang tiba-tiba saja menyerobot masuk ke dalam kerumunan, bertindak lebih cepat dari Jena sembari menendangi beberapa gengster disana hingga nyaris berjatuhan.. tapi ada juga yang masih sempat menghajarnya. Ya benar. Itu Elga.
Entah apa yang menyerang pikirannya kini, hanya saja.. Jena mulai lemas karena di buat terkejut sedari tadi. Sementara Dika yang nyaris bonyok sehabis di pukuli, kemudian berlari ke arahnya.. menarik lengan gadis itu dengan paksa kemudian dengan cepat membawanya pergi dari sana. meninggalkan Elga yang tampaknya masih meladeni para bedebah itu.
Laki-laki yang kini hanya sendiri bersama para **** hutan.. maksudnya manusia yang sikapnya nyaris menyerupai **** hutan, kini mulai sesak napas.. ia kehilangan banyak pasokan oksigen, karena merasa sudah lelah, Elga pun melempari bebatuan ke arah kepala para sasarannya, dan beruntungnya tepat sekali. Para gengster itu mulai berjatuhan dengan kening lecet dan juga keringat yang bercucuran bak gerimis di awal musim.
Ah.. dia bersyukur sekali sempat mengikuti ekstrakulikuler sewaktu SMP hingga tamat, dan ternyata.. kegiatan itu benar-benar sangat berguna terutama untuk keadaan mendesak seperti ini. Setelah merasa para lawannya sudah berada pada titik lemah, ia pun kemudian berlari secepat kilat meski sempat menubruki beberapa barang rongsokan disana karena saking tergesanya.
Setelah sampai di penghujung lorong yang ternyata memiliki pintu, Elga dengan cepat mendorong papan yang terbuat dari logam itu serapat mungkin, lantas menguncinya dengan 4 kayu yang di rendengkan, seperti kunci pintu pada jaman dahulu. Menetralkan nafasnya beberapa saat mendadak ia teringat akan Jena dan juga Dika.. ia pun kembali berlari keluar area dengan seragam dan rambut yang lebih dari sekedar berantakan. Hey! Dia terlihat seperti gelandangan sekarang.
"Dika udah haah haah..." Gadis itu terduduk.. tak sanggup lagi untuk sekedar berlari karena kakinya yang sudah mulai terasa keram, juga pasokan oksigennya yang mulai menipis membuat ia harus berkali-kali menarik nafas dengan sekuat tenaga. Dika yang menyadari itu kemudian berjongkok di depannya, menarik ke dua lengan Jena bermaksud untuk memberikan gadis itu tumpangan. Namun sebias suara yang sangat familiar dalam sekejap menghentikan pergerakan mereka.
"Udah aman!" teriak Elga yang baru saja keluar dari tikungan. Ia kemudian menghampiri kedua oknum yang tampak kelelahan itu dengan Alis menukik tajam bak polisi yang sudah mulai jengah dengan incarannya.
"Maaf Elga,"
To Be Continue...u
__ADS_1
Khusus Elga bayanginnya dari samping aja...ππ