
"Dari mana anda tahu ini racun ricinus communis, dek?" tanya pak Agus lagi pada Elga yang hanya memampangkan ekspresi polos bak anak tetangga. "Saya pernah baca ini di blog, pak ... tapi saya ingat-ingat lupa." kawab anak itu dengan tenang, yang kemudian mendapatkan tatapan tidak enak dari pak Hendra.
"Keliatannya mencurigakan ya." ujar pak Hendra sembari menimang dagu, membuat Jena melotot seketika, terkecuali Elga yang hanya mengeskpresikan wajah datar ala lugunya.
"Hmm ... gaada yang mencurigakan di sini, baiklah nak, trimakasih atas waktunya." mendengar itu Elga dan Jena reflex berdiri, diikuti oleh kedua polisi di sana, lantas berjabatan tangan. Oh itu adalah budaya indonesia sekali, tidak perduli dengan siapapun.
"Kalo gitu kita pergi dulu, pak." pak Agus dan pak Hendra mengangguk, meskipun ekspresi mereka tentu sangat berbeda jauh. Ya! Sepertinya pak Hendra ini type polisi yang sangat galak, astaga Elga ingin tertawa sebenarnya, tapi di tatap seperti itu ... ia pun tidak bisa untuk tidak tegang.
Setelah beberapa saat bersalaman, Jena menarik lengan Elga dengan cepat, membawanya pergi dari area tersebut meski sayub-sayub ia dengar banyak orang membicarakan mereka.
"Lo ga usah ikut campur sama polisi deh." sungut Jena masih was-was. Melihat respon tidak menyenangkan itu Elga hanya mengedikan bahu. "Lagian awalnya kan gue cuma mau nanya doang itu mayat siapa, takutnya kenalan gue."
"Ya tapi klo semisal lo di tuduh pelakunya gimana? Elga lagi-lagi jangan nekat ya, Jena takut tau."
"Iya maap beb."
"Cih."
"Gimana klo kita jangan pulang dulu? Boring nih, ke pantai yuk." ujar Elga sesantai mungkin. Yang malah membuat Jena seketika mematung di tempat sekaligus berdebar tidak karuan.
"Ng-ngapain?" tanya Jena. Gugup.
"Mmm ngapain ya? Snorkelling? Naek perahu? Atau mancing?" mendengar itu Jena mendengus tidak percaya. "Menurut Elga? Mau mancing di pinggiran pantai gitu? Disangka orgil mah iya. Suka gaada otak."
"Hehe ... yaudah klo gitu kita pacaran aja." Jena melotot hingga bola matanya nyaris lompat keluar.
"Tapi boonk."
"Ish AKI SUMANNNN, JENA UDAH BAPER PADAHAL."
"hahaha ...."
"yaudah yuk pacaran sehari."
"sehari aja? Berarti besok kita mantan?" jena tertawa.
"iyah."
"yaudah yuk."
ahahaha mari ketawakan kedua anak dakjal ini.
*
"Lo ngapain sih anj*ng noel-noel pantat gua!" teriak Dika ketika Arka dengan jailnya memainkan bokong Dika dan juga Bin.
"Tau! Gue ceburin ke got lu!" -Bin
"Hehehe."
Oh omong-omong mereka sedang dihukum sekarang, berdiri di tengah lapangan sembari menghormati bendera, sebenarnya sudah hampir 1 jam yang lalu mereka berdiri di sana, sampai-sampai Bin nyaris tidak bisa merasakan apa-apalagi di sekitar tangannya.
"Heh Sarmiah jam berapa nih?" Dika yang tidak tahan akhirnya berteriak, memanggil nama salah-satu temannya di depan koridor kelas, hingga gadis itu tersedak teh jus yang diminumnya.
"Anjib kaget!" ceplos Sarmiah.
"JAM BERAPA ELAH!"
"3:15!!!"
"Ou ongey."
"Anjeb!"
"Ngegas mulu kek motor oyok!"
"Doyok anj*ngh!" - Arka menyendul kepala Dika.
__ADS_1
"Berani-beraninya sama mertua."
"Eh iya AMPUN BANG JAGO."
"tetetoettt." Bin menggoyangkan pinggulnya.
"Astagfirullahaladzim kudu tobat setelah ini." -Dika
"Tarik sissssss." - Arka
"Sudongoo." - Bin
"Semongko govl*kh." - Arka menyendul kepala Bin.
"Sia-sia emak mitrahin pala gue anjeb." -Bin
"Ya emang pala lu pan ga guna." - Dika
"Kamu jangan soimah!" -Bin
"Yo woyo woyo woyo ... woyo woyo woyo .... woyo woyooooo ... woyo woyo." - Arka
"HOOBAH!" - Bin
Dika mengusap wajah kasar ketika dua temannya itu malah berjoget ria ditengah lapangan, sementara ia menyadari ada beberapa siswa yang sedang merekam ke gobl*kan mereka di sana sembari tergelak hingga terjuangkal-jungkal.
"Woy kampret, ****** lo berdua kalo viral." bisik Dika. Geram.
"Jadi artis ye ga?" - Arka to Bin
"Artis pala lo peang, yang ada dimasukin hastag #sekumpulanoranggobl*kh."
"Anjeb." - Arka and Bin.
"Elga mana?" ketiga orang di sana menoleh bersamaan ketika suara mulus nan lembut tiba-tiba saja menyahut. Nanad.
"Sama Jena, gatau gue mereka kemana, napa emang?" Dika menaikan sebelah alis. Curiga.
"Bagiin aja langsung kekelas."
"Elga kan KM, sekalian mau kumpulan antar KM tentang pencalonan ketua MPK nanti pas pulang sekolah."
"Sini titip di gue aja, Elga lagi bolos."
"Tapi kumpulannya sekarang."
"Yaelah kan ada wakil KM, tuh si Rena."
Nanad tampak tidak suka ketika Dika menyebut nama Rena.
"Napa muka lu gitu?"
"Gue ... lagi musuhan sama Rena."
"***** musuh-musuhan." Arka tertawa keras mendengar itu.
"Diem lo rengginang kayu!"
"Bijimana ceritanya ada rengginang kayu." bisik Bin. Berpikir.
"Yaudah sini titip di gue aja."
"Lo kan lagi di hukum-"
"Ah lama." Nanad terperanjat ketika Dika menjambret kertas-kertas yang dibawanya dengan sengaja. Kemudian berlari memasuki kelas tanpa menunggu persetujuannya, hm agaknya Arka tahu niat Dika ini mau apa.
"Gue bantuin yak!" ujar Bin ikut berlari mengikuti Dika.
__ADS_1
"Gue juga, awas lo kalo bilang pak Beka, gue potong **** lu!" mendengar itu Nanad reflex menutupi dadanya, hingga Arka dan yang lain pergi dari sana dengan raut wajah menyebalkan.
"Astagfirullahaladzim, kenapa mereka berdosa banget." gadis itu kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Tidak menyangka sebelum akhirnya pergi juga dengan segala keterkejutannya.
Benar-benar mereka itu. Perlu di rukyah.
-
"Udha jam 3:20 nih, pulang yuk, Elga belum sholatkan?" Jena melirik Elga yang hanya termenung sembari memandangi langit abu di ujung lautan luas.
"Belum." jawab Elga. Singkat.
"Elga mau cerita ga?" tanya Jena lagi. Agak sedikit canggung dengan wajah anak itu yang kembali murung, sepertinya ia sedang merindukan sesuatu.
"Cerita apa?"
"Apa aja, tentang ... masa lalu mungkin? Atau masalah yang sekarang lagi di pendem? Kita ini kan sahabat Elga, kenapa harus ditutup-tutupin terus? Apalagi sekarang Jena lagi jadi pacar kontrak Elga." gadis itu menatap si empunya dengan polos, yang membuat Elga seketika tergelak.
"Anjer."
"Ayolah ... mumpung bedua nih kita, janji deh gabakal cerita ke yang lain."
"Gimana ya ... hmmm."
"Ceritain tentang ayah Elga yang ganteng itu dong."
"Bapak gue emang ganteng."
"Iya makanya ceritain, dia pasti dulunya banyak yang suka."
mendengar itu, Elga reflex menunduk, Jena yang melihatnya seketika merasa bersalah karena telah asal bicara.
"Maaf ga bermaksud nyinggung."
"Iya lo bener, dia banyak yang suka, saking banyaknya, dia sampe gabisa setia."
"Maksudnya?"
"Ga usah nanya, gue tau lo ngerti."
Jena mengulum bibir beberapa saat sebelum kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sebuah foto ... ya, foto yang sempat ia ambil dari facebook lama sang mama, foto mereka berempat. Dirinya, Elga, pak Burhan dan mamanya.
Tentu saja Elga tidak bisa untuk tidak terbelalak atau hanya sekedar terkejut biasa ketika Jena memberikan foto tersebut padanya.
"L-lo dapet dari mana foto itu?" Elga masih tidak percaya dengan gambar di dalam cetakan foto yang sudah buram itu, ya, Jena berhasil mencetaknya meskipun tidak bisa menyelamatkan kualitas gambar dari foto di sana.
"Elga tau ini maksudnya apa?" Elga menggeryit semakin dalam. Entah kenapa hatinya tiba-tiba menjadi sakit, dan ia tidak bisa mengatakan apapun selain terbungkam seribu bahasa.
"Elga?" sahut Jena lagi yang mana dibalas dengan tingkah aneh temannya, laki-laki itu tiba-tiba berdiri ... menatapnya dengan marah sembari mengatakan, "Gue hitung 10 detik, lo harus bilang putus." yang mana membuat Jena reflex ikut berdiri saking terkejutnya.
"1 ... 2 ...."
"K-kan baru 1 jam, katanya 1 hari?"
" 3 ... 4 ... 5 ..."
"E-elga kenapa?"
"Ayo bilang putus!" anak itu menjadi semakin aneh, Jena yang kebingungan setengah mati kemudian menggaruk-garuki dahi. Panik.
"6 ... 7 ... 8 ... 8 setengah."
"J-jena belum mau putus."
"Tapi kita sodara." mendengar itu Jena seketika melotot tidak percaya, apa katanya? S-sodara?
.......TO BE CONTINUE.......
__ADS_1
hayoloooo sodaraaannn😭