
"Huaaaaaaaaa..." pada akhirnya pun Jena tidak bisa terima kalau harus menjauhi Elga.. setelah mamanya pergi ke supermarket tadi Jena langsung masuk ke dalam kamarnya dan merengek seperti orang gila..memukul-mukuli bantalnya hingga mengeluarkan busa. berterbangan.
Bahkan sekarang kamarnya sudah terlihat berantakan macam kandang bebek. Hingga mendadak ia kepikiran sesuatu, apa salahnya jika dia membajak akun sosmed mamanya? Bukankah akun sosmed mamanya sudah berumur lebih dari 10 tahun? Siapa tahu dia dapat sedikit petunjuk tentang dirinya dan juga Elga?
gadis itu pun segera beranjak dari tempat tidurnya, membuka laptop yang sedang di cas dengan tergesa, sembari menyumpel hidung dengan tissue karena ingusnya yang tak kunjung mampet sehabis menangis tadi. Pertama kali yang harus ia lakukan adalah.. menghubungi dika. Oh ayolah, dia tidak mahir dalam membajak dan dia butuh bantuan hackernya langsung sekarang.
Hingga tak butuh waktu lama sambungan pun terhubung di handphonenya, memampangkan wajah Dika yang kucel bak orang jarang mandi. "Napa Jen, kangen?" tanyanya, kemudian gadis itu menjawab dengan cepat, "Kasih tau kode masuk maximillia laumester. Dan cara ngebajak akun yang lupa sandi."
Tampaknya Dika cukup tertarik dengan kalimat Jena barusan. "Emang mau ngebajak siapa? Gampang itu mah, lo tinggal masukin kode verif aja ke Email yang masih aktif"
"Akun mama gue. Emailnya dah ga aktif dan akun itu udah lama banget."
"Mama lo? Kenapa tuh? ada apa emangnya? Mama lo punya pacar ya? Itu tissue ngapain ***** nyumpel-nyumpel begitu? Pasti abis nangis."
Karena kesal dengan Dika yang terlalu banyak bertanya, Jena pun berteriak akhirnya. Mencoba mempersingkat waktu karena ia tidak yakin kalau ia tidak telat mencari tahu soal ini. "Ahk udah cepet!" mendengar itu Dika bersegara memberi tahu kode masuknya, dan cara-cara membajak akun sosmed seseorang. Baiklah dia hanya tidak ingin membuat gadis ini marah, karena hanya membayangkannya saja itu sudah cukup menyeramkan.
Saat menemukan sesuatu yang janggal disana, Jena kemudian menghembuskan nafas kasar, hingga tissue yang sedang menyumpal hidungnya itu jatuh seperti di beri gaya dorongan.
Dika yang merasa aneh dengan ekspresi Jena barusan pun berteriak dari arah telfon, "woy kenapa woy?" sedangkan yang di teriakinya hanya terdiam membisu sembari menatapi laptopnya yang kini hampir mati. Di layar benda itu terpampang jelas foto tua yang sudah buram, fotonya waktu kecil dengan sang mama dan foto.. Elga dengan papanya. Ah Jena yakin itu papanya Elga, karena setaunya, papanya sendiri sudah meninggal sejak ia masih di dalam kandungan.
"Apa?" Dika menyahut lagi.
__ADS_1
"Lo.."
"Apasih?!"
"Lo tau siapa bapaknya Elga?"
Mendengar itu, Dika terkekeh. "Mana gue tau, Elga bilang dia benci sama bapaknya, lo tau sendiri kan dia suka sensitif kalo cerita soal keluarganya."
"AH! EEQ LU! GUE TAU SIAPA DIA..." teriak Jena kelabakan lantas segera berlari ke arah lemari untuk mengambil jaket coklatnya. Kemudian setelah itu ia keluar dari kamar dengan tergesa, membuat seseorang yang masih terhubung di dalam telvon kini melotot kebingungan.
Oh ayolah, Jena memang anak yang sangat ceroboh dan keras kepala, instingnya tiba-tiba mengatakan Jena sedang dalam bahaya sekarang. Entah bahaya apa itu Dika tidak tahu, tapi sejak gadis itu keluar dari pintu kamarnya, Dika merasa jantungnya tiba-tiba saja berdebar 5 kali lipat.
Karena tidak tahu harus berbuat apa ia pun dengan cepat menambahkan sambungan dengan- Elga, Arka dan juga Bin. Karena mereka sudah bersepakat, untuk selalu mengaktifkan data meskipun tidak sedang membuka chat. Jadi kalau ada apa-apa.. sambungan pun bisa terhubung dengan cepat.
Arka, "ganggu orang nonton drakor ae."
Bin, "ada kasus?"
Mendengar celotehan berturut-turut dari teman-temannya itu, Dika kemudian menghirup udara dalam-dalam hingga pipinya mengembung. Lalu berteriak. "Keluar sekarang! Jena pergi dari rumah buat cari tahu bapaknya Elga. Gue tunggu di jembatan kalimi!"
Elga, "APA?!"
Karena kalimat itu sudah cukup menuntut, dan darurat, mereka pun bergerak dalam satu waktu. Lalu dengan cepat mematikan sambungan masing-masing untuk segera pergi ke tempat yang sudah di sepakati.
__ADS_1
Dan tanpa perlu menunggu lama, mereka sudah sampai dalam waktu 5 menit di atas jembatan kalimi dengan sepeda masing-masing yang melaju dengan kekuatan penuh. Super cepat, bahkan mereka baru saja melintasi mobil-mobil yang membuat jalanan macet.
Tenang saja perihal bagaimana mereka akan di marahi atau tidak, itu hal yang sangat mudah, tadi Elga sudah meminta ijin pada mamanya untuk pergi ke rumah temannya begitu pun dengan yang lain, beruntungnya karena mereka ini anak laki-laki, jadi mereka tidak terlalu di tuntut jika ingin bermain malam-malam.
"Udah gue bilang gausah bahas keluarga gue, kenapa cewek itu ceroboh banget si!" ketus Elga dengan wajah seram dan alis yang menukik tajam.
"Dia tadi cuma minta gue buat ngasih tau cara ngebajak akun yang udah lama lupa sandi, terus tiba-tiba dia bilang dia tau siapa bapak lo." ujar Dika dengan nada datar, namun jelas sekali bahwa ekspresinya kini benar-benar sekhawatir itu. Bagaimana bisa anak-anak seperti mereka bisa mengangani kasus seperti ini, bagaimana kalau ini soal mafia? Ah ngeri sekali bahkan hanya dengan membayangkannya. Mereka bisa saja di bunuh.
Bukannya mereka sudah sepakat bahwa semboyan mereka hanyalah "selesai tanpa terluka," bukan "terluka untuk selesai."
Setelah mendengar penjelasan singkat dari Dika tadi, Elga pun melajukan sepedanya dengan cepat, di susuli yang lain..agaknya memang hanya Elga disini yang tahu kemana Jena akan pergi kalau benar gadis itu mengetahui siapa ayahnya.
Mereka melewati tempat-tempat yang kumuh karena jauh dari jalan raya, harus sesekali juga menjempingkan sepeda supaya lebih ringan melajukannya. Benar-benar tempat yang sangat gelap, bahkan bisa saja akan terjadi kecelakaan jika mereka tidak mahir dalam hal ini.
Hingga tak berapa lama, mereka berhenti dengan mendadak saat mendapati seseorang yang sangat Familiar berdiri disana, di depan supermarket yang di depannya ada sebuah kulkas LG. Kemudian karena menyadari ada suara denyitan sepeda dari belakangnya, gadis itu pun menoleh dengan cepat, terkejut setengah mati saat mendapati teman-temannya ternyata ada disana dan menatapi dirinya dengan kaku. Terutama Elga yang tadinya sangat emosional kini malah membeku di tempat.
Karena syok tingkat tinggi, Jena pun menyemburkan air yang baru saja di minumnya itu hingga berceceran..sama-sama menatap ke 4 temannya dengan tatapan yang sama. Terheran-heran.
"B-bukannya lo mau cari tahu bapaknya Elga?"
To Be Continue...
__ADS_1
Eksperimen Sepedah Ngacung Vers DETEKTIF TUMUS. copasan dari album 'go' nct dream. Sumpah ya sampe sekarang aku masih suka banget sama album itu *ehk curhat. 😂