
Yang ia pertanyakan kini hanyalah, "dari mana..lo tau..semua itu?" Elga tersenyum tipis saat menyadari gadis yang kini telah mereka kepung itu mulai menahan tangis juga amarahnya yang tertahan di ubun-ubun.
Sedangkan Jena dan Dika tak juga beranjak dari tempat semula. Mungkin mereka sengaja, tidak ingin mengganggu instrogasi yang di lakukan oleh Elga terhadap Naya.
Hingga setelah beberapa detik tak menjawab, Elga pun maju selangkah, kemudian menggerakan dagunya. Menunjuk Jena. "Jena ga sengaja jatuhin berkas-bekas yang lo sembunyiin." katanya yang membuat Jena melotot kaget sembari mengingat-ingat.
Ya benar, saat Jena membuka berkas-bekas itu ternyata Elga dan Dika sudah berada disana.. memperhatikan Jena yang entah sedang apa, kemudian tak sengaja pandangannya beralih ke arah Naya, Elga sempat terkejut dengan apa yang di lakukan gadis itu. Nyaris ingin berlari ke dalam, tapi berkas-berkas yang berjatuhan disana lebih menarik perhatiannya.
Mereka pun masuk ketika Naya sudah menggered Jena ke dalam ruangan. Kemudian dengan cepat memunguti berkas-berkas tersebut.. ya, seperti yang Jena tebak, itu adalah kertas kontrak dan di bawahnya ada identitas lengkap seseorang.
Dr.M Barta Danoel.
Mereka juga sempat membuka buku diarynya yang entah sejak kapan tergeletak disana, membaca ungkapan-ungkapan menyeramkan yang dituliskan oleh Naya, seperti.. balas dendam? Pun setelah mengamati tanggal tulisannya, ternyata itu sudah sekitar 1 tahun yang lalu.
Naya memiliki dendam dengan Dr.M Barta Danoel karena beliau telah membunuh ibunya sekitar 1 tahun yang lalu. Itu yang mereka simpulkan awalnya. Entah seberapa rumit masalah ini sebenarnya.
Kemudian saat tak sengaja mendengar suara teriakan Jena, mereka pun langsung bergegas mencarinya ke ruang belakang. Sepertinya Naya membawa Jena kedalam gudang, dan benar saja. Naya nyaris saja membunuh gadis itu kalau-kalau Dika tidak menyuruh Elga untuk cepat-cepat menyusulinya.
"Jadi gitu ya?" Jena bergumam kecil. Nyaris tak bersuara. Hingga Elga yang masih mengintrogasi Naya disana mulai angkat bicara lagi, "Apa yang lo lakuin ini termasuk tindakan kriminal." Elga mengantungi kedua lengannya di saku celana. Rambutnya yang agak basah karena keringat pun tak juga nampak kering. Pasalnya tempat itu memang tidak ada jendelanya sama sekali. Membuat nuansa ruangan terasa panas dan lumayan pengap.
__ADS_1
Sementara gadis yang ada di hadapannya kini hanya menunduk kemudian, pundaknya bergetar, entah ia sedang menangis atau apa tapi yang pasti setelahnya suara isakan mulai terdengar dari sana. Membuat Elga sempat tercekat di tempat, apakah kata-katanya tadi terlalu frontal? Pikirnya.
"Kalian..gatau apa-apa..kalian..gatau gimana rasanya jadi aku hiks" gadis itu menangis semakin keras, seperti bayi yang kehausan. Tentu saja, bisa dimaklumi jika ia merasa depresi akhir-akhir ini, karena Naya telah kehilangan sosok ibunya dengan cara yang sadis. Cara yang tidak akan bisa ia lupakan sampai kapan pun, dan perihal marah atau tidaknya. Itu sudah kodrat manusia, tapi bisakah untuk tidak membalasnya dengan cara yang sama?
Naya tidak seharusnya melakukan ini pada orang yang tidak tahu apa pun, apakah dia sempat berfikir bahwa ibunya tidak akan senang melihatnya yang seperti ini?
"KALIAN GATAU APA-APA TENTANG AKU!! KALIAN GABAKAL BISA NGERTI!!!" bentaknya hingga membuat ke 3 orang yang berada di sana seketika terperanjat karena terkejut. Kemudian menunduk, terkecuali Elga yang masih menatap gadis itu dengan tatapan dingin dan tak ada arti. Benar-benar tak ada arti.
Naya menoleh ke belakang, pandangannya beralih ke arah Jena yang masih terdiam di tempat. "Gadis itu ga punya ayahkan?," kemudian jari telunjuknya naik, menunjuk gadis yang kini tampak kebingungan sendiri, dari mana Naya tahu? Oh ayolah Jena tidak ingat kapan dia menceritakan perihal itu kepada Naya. "Aku tau rasanya ga punya keluarga lengkap, aku tau gimana rasa sakit dan kecemburuannya, bukankah lebih bagus kalo dia mati dari pada harus menderita?!"
"A-"
"Naya!!" seseorang yang entah siapa tiba-tiba saja datang dengan seenaknya, menyekat kalimat Elga yang baru saja hendak ia lontarkan, kemudian memeluk Naya dengan cepat dari samping. Mengendalikan gadis itu yang mulai bergeronta prustasi.
Dan ternyata, laki-laki yang entah siapa disana pun kembali menatapi Elga, Jena dan juga Dika dengan tatapan yang sama. Sama-sama ingin bertanya,"kalian siapa?/lo siapa?" mendadak mereka semua bungkam.
"Ah lo dulu." yang pada akhirnya Elga harus menengahi sebelum bertambah canggung atau malah timbul kesalah pahaman di anatara mereka.
"Gue aldan dari SMA negarajaya, mantanya Jena." kemudian ketiganya tampak ber'oh' kecil, mantan ya? Pantas saja. Mereka tampak akrab. Tapi tunggu dulu? Mantan dia bilang? Lalu mau apa dia kesini? Apa ada urusan lain selain meminta rujuk? Oh setidaknya itu tidak terlalu penting untuk di pertanyakan.
__ADS_1
"Kalian pasti temen-temen barunya kan? G-gue minta maaf atas semua yang Naya lakuin.. Naya sakit mental, dia pernah kabur dari rumah sakit jiwa dan gue kesini lagi buat nyari dia." ujar Aldan lagi, sembari mengusap lengan Naya yang masih terisak di dalam dekapannya. Sementara Elga dan Dika hanya menatapi mereka dengan datar. Entah itu datar atau sebuah keterkejutan, yang jelas mereka cukup tidak percaya kalau selama ini..mereka sedang menghadapi orang gila? Ah astaga jadi sebenarnya siapa disini yang tidak waras? Tapi bahkan- ahk sial Elga ingin sekali mengumpat.
Jena menompang dagu kemudian, menonton wajah lugu teman-temannya, dan juga prilaku romantis dari Aldan untuk Naya. Sungguh menarik. Pikirnya. Padahal seharusnya ia pun ikut terkejut. Baiklah, Jena memang terkenal sebagai gadis aneh sepanjang masa.
"Gue bakal bawa dia lagi..makasih ya kalian udah bawa dia pulang..." Aldan mulai menuntun Naya untuk keluar dari sana, setelah melontarkan sedikit senyum kepada 3 orang asing yang masih berekspresi sama. Kemudian.. Elga mulai meracau tidak jelas, "***** bahkan gue kagak tau samsek kalo dia orang gila" dan Dika yang mulai menjatuhkan rahangnya. Sedangkan Jena malah tersenyum-senyum sendiri sembari menatap kepergian Aldan dan juga Naya hingga kedua orang itu lenyap di telan pintu.
Bruk!
Tas yang di gendong Elga dengan sebelah tangan pun reflex terjatuh, bersamaan dengan Dika yang kemudian menendang pintu saking kesalnya.
"APA-APAAN BAJER KITA DI KERJAIN ORANG GILA, BUANG-BUANG WAKTU TOLENGĀ ASTAGFIRULLAHALADZIMMM."
"Tolong bilang sama gue Jen, dia bukan orang suruhan lo lagi kan?" tanya Elga yang mana itu membuat Jena melotot, Elga jadi ingat ketika gadis itu mengiriminya badut untuk mengerjainya di hari ulang tahun, padahal sudah jelas Elga sangat-sangat tidak menyukai badut.
**To Be Continue...
__ADS_1
Loromg gedung laboratorium lama yang di tempati oleh Dr. Mohammed Barta Danoel**.