
"Maaf Elga," lirih gadis yang kini mulai naik perlahan ke atas gendongan Dika, karena lemas ia pun menyenderkan kepalanya ke atas pundak laki-laki yang lebih tinggi 15 cm darinya itu. Elga yang mulai paham dengan situasi pada akhirnya hanya menghela nafas kasar, mencoba tenang.
"Gue tau ini terlalu ceroboh, tapi ayah lo.. mungkin lebih berhaya dari pada orang-orang tadi," Elga yang merasa dirinya sedang di bicarakan pun lantas menoleh dengan cepat. Menatap oknum yang baru saja berbicara dengan nada datar.. namun dengan kalimat yang penuh penekanan dan begitu menohok hatinya, membuat seluruh tubuhnya kini terasa kebas hanya dengan mendengar satu kata, 'ayah'. "Bagus deh kalo lo ikut, kita bakal bongkar ini bareng-bareng, dan gue yakin lo ga tau apa-apa tentang beliau."
Ya benar, Elga bahkan tidak tahu menahu perihal ayahnya yang kini masih hidup atau tidak, bahkan untuk mengingat bagaimana wajahnya pun ia sudah mulai kesulitan.. karena mamanya tidak pernah memajang photo-photo ayahnya lagi sudah sejak beberapa tahun ini, namun entah mengapa setiap mengingat pria yang sudah terlanjur menyakiti hati mamanya itu, ia selalu merasa hatinya seperti di pukul dengan palu raksasa. Sakit.. dan sesak, seperti itulah rasanya. Elga sendiri pun tidak mengerti mengapa dia jadi seperti ini.
"Ngomong-ngomong lo kok bisa tau kita ada disini?" tanya Dika, kemudian mulai berjalan dengan perlahan sembari menyeimbangkan tubuhnya karena menggendong Jena yang lumayan berat. Tapi ia tidak akan bilang, karena Dika tahu perempuan sangat sensitif jika di katai 'kamu berat banget'. Bisa-bisa dia di pukul dari belakang. Sementara yang di tanyai hanya tersenyum tipis.
"*Lain kali jangan ngelamun lagi ya?! Entar nilaimu di ambil saiton.. pantesan aja kecil melulu."
"Iya pak maaf hehe. Btw pak ijin ke toilet ya."
"Pake bahasa inggris!"
"Excuseme sir, may i got to wc?"
"Toilet!"
"Iya itu."
"Ya udah sana.. 10 menit lagi pelajaran saya berakhir jadi saya ga masalah kalo kamu baliknya lama."
"Etdeuh untung-"
"Untung apa?!"
"Untung bapak hehe"
setelah selesai dari tolitet, Elga pun tidak sengaja mendengar perbincangan kecil dari 2 siswa yang baru saja melewatinya, tapi mereka tidak menyadari sama sekali akan kehadiran Elga disana. Salah satu teman dekat dari oknum yang sedang mereka bicarakan.
"Tadi Dika sama Jena ngapa? Kasus lagi ya? Sampe kebirit-birit gitu larinya."
"Gatau juga sih.. mereka hidupnya ga tenang keknya haha.. kasus melulu."
__ADS_1
Mendengar itu, Elga seketika tersadar akan sesuatu, dan kaki panjangnya yang sempat mematung kaku itu pun dengan reflex bergerak menjauh dari sana, berlarian seperti orang gila. Kemudian.. berbelok ke arah belakang sekolah, mendadak instingnya mengatakan kalau Jena dan Dika akan berlari kesana untuk keluar dari sekolah dan ia yakin sekali bahwa mereka masih membahas perihal ayahnya, itulah mengapa Elga sampai ke tempat ini sekarang*.
Dan pada akhirnya pun ia hanya menjawab singkat dari pertanyaan rekannya tadi. "Intsing gue kuat," katanya sembari tersenyum masam, keduanya lantas sama-sama tertawa kecil, begitu pun Jena yang sudah mulai benergi kembali, "iya tau Elga keturunan Dewa" sahut Jena sembari tertawa.
"Kaki lo kengser! Masih mau di gendong aja ga nyadar diri." Jena menoleh dengan cepat ke arah Elga yang baru saja menyindirnya, kemudian karena tersadar akan sesuatu ia menepuk-nepuk pundak Dika beberapa kali, menyuruh cowok itu untuk segera menurunkannya, "turunin Jena! Elga cemburu!" ujar Jena yang membuat Elga mendadak menahan napas.
Setelah berhasil turun gadis itu lantas menyenggol-nyenggol lengan Elga dengan pundaknya sembari tersenyum-senyum manja, mencoba menarik perhatian laki-laki yang kini malah memperlihatkan wajah masam padanya. "Elga udah tertarikan sama Jena? Hayo jujur! Tadi Elga cemburu sama Dika."
"Ga!"
-
"Elga kemana dah? 30 menit nih masa kagak balik-balik? Lagi **** apa yak?!" tanya Arka pada dirinya sendiri yang entah mengapa menjadi cerewet sejak tadi, ya mungkin saja Arka merasa sedang merutuk pada dirinya sendiri, tapi tidak bisa di pungkiri kalau ternyata Bin mendengarnya, Karena ialah orang yang paling dekat dengan anak itu.
"Dia keknya kagak mesuman kaya lo." hingga satu sahutan yang terdengar menjengkelkan tapi.. fakta, membuat Arka menolehkan kepalanya dengan cepat. "Gue masih nonton blue flm rate 17+ ye."
"Tapi umur lo kan masih 16," jawab temannya tak mau kalah.
"Beda sedikit elah,"
"Dari pada lo gaada akhlak!"
"A brisik lo kambyng thailand"
"Lo yang brisik dasar monyet alas!"
Mendadak, keduanya istigfar secara bersamaan setelah menyadari bahwa mereka baru saja saling mengumpat dengan kata-kata yang tidak senonoh. Hingga tak berapa lama kemudian mereka tak sengaja menangkap sesosok yang sangat familiar tiba-tiba saja memasuki kelas dengan seragam, tas dan beberapa barang yang tampak masih baru. Karenanya Arka menggeryitkan alis dalam-dalam.
Bukankah itu.. Aldan? Ah sumpah mereka yakin sekali bahwa yang baru saja datang itu adalah Aldan.
Semua teman-teman kelasnya pun tampak mengalihkan atensi masing-masing.. memperhatikan orang asing yang dengan santainya duduk di samping kursi Jena, bekas tempat duduk Naya yang kini sudah tidak lagi berada di kelas mereka. Dan namanya pun dalam sekejap sudah menghilang dari data absen.
"Itu siapa teh gue lupa namanya?" tanya Arka sembari menelisik seseorang yang masih terlihat santai disana. Hingga beberapa detik setelah itu.. anak-anak kelas mulai mengerubunginya bak artis.
__ADS_1
"Aldan pan?," Bin mulai menebak-nebak. "Mantannya.. Naya?"
"Oh iya.. ngapain dah dia pindah kesini? ***** jangan-jangan ada penerus..." mendengar ucapan si empunya yang mulai ngelantur, Bin pun menoyor kepala Arka dari belakang. Hingga membuat anak itu dengan reflex mengusap kepala belakangnya, "otak curigaan kayak lo kudu di cuci, gaboleh suudzon dosa!" katanya.
"Ya habis ngapain coba dia kesini?"
Tak menjawab pertanyaan dari temannya, Bin hanya memperhatikan mereka dari kejauhan, melihat bagaimana teman-teman kelas mereka menyeroboti Aldan dengan antusias sembari melontarkan berbagai macam pertanyaan seperti...
"Namanya siapa?"
"Asal mana?"
"Pindahan dari sekolah mana?
"Punya nomor WA ga? Sini mau di gabunging ke grup kelas."
Yang padahal, pertanyaan-pertanyaan diatas hanyalah sebuah klise belaka berupa peluang modus. Hening beberapa saat kemudian tiba-tiba saja Bin menggebrak mejanya sendiri dan berdiri, membuat anak-anak disana menatapinya dengan keterkejutan luar biasa. Mendadak.. kelas pun jadi sepi.
Ia menegapkan pundaknya, hingga Arka yang masih terduduk di sampingnya mulai terbingung-bingung.. tak lama ia bisa melihat temannya itu menghampiri Aldan dengan langkah yang penuh percaya diri, bahkan hingga mengeluarkan bunyi. Seperti irama DJ? Ah mulai lagi anak itu, tidak pernah waras. Pikir Arka.
"Eh Aldan, liat muka gue!"
-
"Lo tau Naya di rumah sakit jiwa mana?" tanya Dika pada Elga yang sedari tadi hanya memampangkan wajah masam, dengan firasat yang agak tidak enak. Ia kemudian menjawab, "gue gatau, tapi insting gue bilang, Naya ga dikirim ke rumah sakit jiwa." dan jawaban itu kini berhasil membuat teman-temannya nyaris saling melompat saking terkejutnya.
"Gimana bisa? Bukannya Aldan bilang dia bakal bawa Naya ke rumah sakit jiwa?" tanya Dika yang di angguki oleh Jena, meski Jena sendiri tidak mengerti.. pembahasan ini akan mengarah ke mana nantinya, padahal sekarang ini tujuan mereka bukan untuk mencari Naya, Jena hanya takut.. mereka akan kembali membahas perihal kasus gadis itu. Dan melupakan tujuan mereka sekarang ini.
Ah padahal Jena sudah rela-rela bolos sekolah demi menemukan misteri di balik ayahnya Elga.
"udahlah, ga penting Naya mah, kita lanjut aja ke tujuan awal," Jena menyerobot dengan sedikit acuh. Membuat si empu yang sedari tadi tampak berfikir, angkat bicara kemudian, "Lo inget gak? Pas Aldan bilang-"
To Be Continue...
__ADS_1
silahkan berpusing ria memikirkan teori di kasus ini.😂