DETEKTIF TUMUS

DETEKTIF TUMUS
Episode 28 (Berbagi Ayah)


__ADS_3

Ayahnya sudah di bebaskan dari penjara, Elga merasa bahagia setengah mati.. namun juga sedih karena ayahnya bilang ia tidak akan kembali pada keluarga mereka seperti dulu, tapi meskipun begitu ia sudah berjanji akan selalu ada untuk Elga. Kapan pun anaknya mau bertemu.


Sekarang mereka sudah berada di luar gedung lab, tepatnya di jembatan arasoma. Jembatan yang memang sangat indah pemandangannya tetapi tidak ramai di kunjungi oleh orang-orang, karena itu mungkin tempat ini sangat cocok untuk pembicaraan yang formal.


Elga menoleh ke arah ayahnya yang masih menatap bentangan sungai arasoma dengan tatapan dingin, oh...tentu saja, tatapan anak dan bapak tidak akan berbeda jauh. Meskipun Elga bukanlah type anak yang cuek dan dingin tetapi tatapan matanya itu tidak bisa sehiperaktif Jena.


"Professor Barta Danoel pernah nyamar jadi dokter di tempat kerja ayah.. dan ternyata selama dia disana.. dia ngikutin ayah, ayah juga gatau kenapa ayah tiba-tiba di sekap di ruangan itu.. gaada yang nolongin ayah sama sekali. Gaada yang kehilangan ayah." ujar pria paruh baya disana dengan nada yang masih setenang air, namun tidak menutup kemungkinan bahwa ia menyimpan perasaan trauma dan ketakutan sedalam itu.


"Terus om tau siapa prof. Barta Danoel?" tanya Jena yang sedari tadi hanya diam menyimak. Kini mulai bertanya karena semakin di buat penasaran.


"Om gatau sama sekali.. om tau aja kan dari kalian tadi, hufftt.. hampir putus asa om di dalam sel itu." Dika tersenyum keki saat mendengar dengusan kasar berasal dari temannya yang tak lain adalah Elga, mungkin ia tak habis pikir mengapa professor gila itu juga mengincar orang tua? Elga pikir dia hanya mengincar anak muda saja.


"Kalo gitu, om korban yang selamatkan disini? Om harus ikut kita ke kantor polisi buat ngajuin hukuman atau bahkan ngirim professor gila itu langsung ke kepolisian Dubai." Dika ikut menyahut.


"Gimana caranya ngehubungin kepolisian Dubai? Dubaikan jauh ***" itu suara Arka.


"Biar kepolisian indonesia yang ngehubungin, Ngapain harus kesana anjiay? Kita mah bisa apa? Sebatas batu kingkong yang cuma bisa ngebocorin kasus pake jarum suntikan cicak." Elga tertawa saat mendengar penuturan polos Jena barusan, membuat ayahnya yang melihat interaksi mereka seketika tersenyum pelik, Elga tumbuh dengan baik, dan dia di pertemukan dengan teman-teman yang pintar dan setia kawan seperti mereka. Pikirnya. Dia sangat bahagia meski mungkin keluarnya tidak akan pernah bersatu lagi sampai kapan pun.


"Jadi soal Aldan gimana?" tanya Bin merelai keheningan beberapa detik yang tercipta. Kemudian.. teman-temannya mengalihkan atensi pada dirinya, membuat Bin tampak gelagapan.


"Heyyo.. urusan Aldan pan udah selesai.. dia cuma dendam sama ayahnya, sekarang dia juga udah setuju kok kalo ayahnya di balikin lagi ke Dubai, dia juga udah minta maafkan karena sempet ngelibatin kita lewat Naya." Dika menepuk-nepuk pundak temannya, membuat Bin seketika menghela napas, mereka semua tersenyum kemudian, sama-sama menatap kedepan, merasakan similir angin yang menembus ke jejaring kulit begitu sejuknya. Ah sekarang semuanya benar-benar sudah selesaikan? Naya yang kini sedang di rawat kejiwaannya, Ayah Elga yang sudah kembali, proff.Barta dan anak tirinya yang sudah terselesaikan kasusnya. Misteri yang terbilang rumit itu akhirnya telah menemukan titik terang.


Ngomong-ngomong perihal bagaimana bisa Aldan pindah kesekolah mereka itu karena di sekolahnya ia sering sekali dijadikan bahan bullyan. Mereka tahu bahwa Aldan adalah anak tiri dari mafia incaran Dubai. Oleh karena itu, Aldan telah sepakat untuk pindah rumah dan pindah sekolah.. benar-benar tidak ada alasan lain, perihal mengapa ia menguntit detektif tumus pun ia tidak bermaksud lebih, Aldan hanya ingin mengawasi Naya dan menepati janjinya untuk membantu gadis itu.

__ADS_1


Jadi keduanya ini sedang saling timbal-balik.


Bin, "Oh iya.. om udah berapa lama di sel itu?"


Burhan, "sekitar 1 bulan sih. Tapi om di kasih makan kok sama ajudannya."


Arka, "om ga curiga itu makanan bekas tikus?"


Burhan, "masa iya? Dari pada mati kelaperan kan?"


Elga, "tapi ayah kurus banget ya?"


Burhan, "ayah udah tua anaku."


Jena, "om..Jena boleh nanya sesautu ga?"


Elga :"biasanya juga ga pernah bilang kalo mau nanya."


Arka :"iya tuh"


Jena :"Jena boleh ga?.. manggil om ayah?"


Mendadak semuanya terdiam. Kecuali Elga yang sepertinya tidak seterkejut teman-temannya, dia.. tersenyum tipis, merasa tersentuh untuk sesaat, baiklah sepertinya ini hal yang wajar untuk Jena yang memang tak punya ayah. Gadis hiperaktif yang selalu hidup bahagia tanpa seorang ayah. Sekarang pun ia seharusnya cemburu pada Elga bukan?

__ADS_1


Kemudian laki-laki paruh baya yang masih terlihat tampan itu tersenyum hangat, senyuman yang sama persis seperti Elga, bentuk wajahnya, garis rahangnya, bibir dan matanya nyaris tidak ada bedanya dengan si anak, mereka sungguh terlihat seperti kakak beradik.


"Ayah apa ni? Ayah mertua?" godanya yang membuat Elga seketika itu melotot kecil, sementara Jena malah tersenyum lebar mendengarnya, seperti menyetujui? Ah agaknya dia memang akan berpikir sejauh itu, tapi di sisi lain Jena pun selalu merasa tidak akan bisa nemaksa takdir. Elga seorang muslim yang taat pada tuhannya, dan dia adalah umat kristen yang tak mengenal tuhan mereka.


Akibat persilangan agama itu.. Jena jadi ragu dan sedikit tidak percaya diri.


"Boleh ga?" Jena tersenyum lagi, memaksa hatinya untuk tetap tenang dan bahagia, meskipun semula nyaris hancur karena sempat mengingat bahwa ia tak punya ayah. Beberapa detik seletah itu, sang ayah pun melebarkan tangannya, mendekap tubuh mungil Jena yang entah mengapa terasa sejuk, mungkin karena aroma parfumnya.


"Iya boleh." Kemudian tangannya yang lain mengulur, menarik pundak Elga untuk mendekapnya juga, hingga Arka, Bin, dan Dika pun ikut memeluki tubuh pria itu dengan manja.


"Makasih ya kalian udah nyelametin ayah, kalian ter the bestt..."


"Iya ayahhh..." jawab mereka serempak, suasana pun tampak sangat mengharukan, similir angin yang selalu sejuk di sana masuk melalui rongga-rongga yang terbuka sembari mengantarkan kebahagiaan di masing-masing hati. Hingga satu sautan yang tenang namun mendominasi membuat mereka melepaskan pelukan dengan cepat.  "Ayah harus pulang ke rumah sakit medical center, kontrakan juga belum di bayar, kalo mau maen kesana aja ya, soal professor itu biar ayah yang urus."


"Loh? Ayah ngontrak?" tanya Elga tidak percaya, kemudian sang ayah mendekap kedua pipi anaknya yang entah mengapa terasa halus seperti bayi, pipi yang kini masih agak memerah akibat menangis beberapa puluh menit yang lalu. "Gausah khawatirin ayah, ayah harus menebus dosa ayah sendiri, kamu cuma harus jaga diri baik-baik.. sampe kamu tumbuh jadi orang yang membanggakan, inget buat ga jadi kaya ayah suatu saat nanti, ketika kamu udah berkeluarga." Mendengar itu Elga kemudian tersenyum sendu, begitupun dengan Jena yang kini malah menangis di belakang punggung ayah angkatnya.


Elga yang menyadari itu bersegera menghindari ayahnya, menyusul Jena dengan senyuman kecil yang lucu. Membuat gadis itu menatapnya dengan jantung berdebaran. Mau apa dia? Pikiran liar Jena seketika mengelilingi kepalanya tanpa di perintah.


Laki-laki dengan rambut yang agak berantakan itu pun kemudian mengulurkan tangan, mengusap pipi temannya yang terasa basah namun lembut.. seketika itu ada yang mengiris hati Jena dengan mendadak, entah sedih atau malah bahagia.. Jena tidak bisa membedakan keduanya untuk sekarang ini.


"Kata-kata itu, buat kamu juga kok..." hingga satu kalimat yang menyedihkan menurutnya, membuat anak itu menangis semakin kencang, "hueee... Elga jangan ngomong gitu! JENA SEDIH TAU GAAA." teriak Jena sembari menariki kerah Elga, membuat si empunya tergoncang-goncang dengan mata melotot. Astaga orang gila ini mulai lagi, rutuk Elga dalam hati.


To Be Continue...

__ADS_1



ELGA'S PAPA.... dia tua tapi masih tetep keliatan kek berondong pan. Pantesan PROF. BARTA DOYAN🤣🤣


__ADS_2