
"Enak banget pakkkk baksonyaa" teriak Jena antusias, hingga wajahnya kini sudah secerah bunga pansy jepang.
"Ya yalah enak, orang di traktir," sindir Elga yang kemudian di tertawai oleh pak Jono.
"Bos qu emang selalu baik," Arka menyelipkan pujian, membuat makhluk yang sedang di pujinya itu langsung terbang ke neraka.
Bagaimana tidak? Kantongnya kini sudah mengering berkat teman-temannya itu.
"Semoga tabunganku di surga bisa kebeli istana," rutuk Elga pelan, lantas kembali mengunyah baksonya dengan gaya kesal, hingga bibir pink kemerah-merahan itu kegigit pula akhirnya.
Tak berapa lama, seorang gadis cantik berhijab tiba-tiba saja mendekati mereka, bukan, bukan pada mereka, tapi gadis itu mendekati Elga.
Dia sudah tidak menggunakan seragam sekolah, tapi jelas sekali bahwa gadis itu adalah siswi di sekolah ini. Elga mengenalnya. Dia kemudian meminta sesuatu dari cowok itu dengan kalimat yang ah_ sudah buluk sekali.
"Hari minggu kamu punya waktu ga?"
Jena reflex menelan baksonya bulat-bulat, iya masih bulat, saking tidak sadarnya hingga membuat gadis berdarah China itu langsung tersedak, "Ohhokk" Arka, Dika maupun Bin, bersegera memukuli punggung Jena agar bakso itu keluar dari kerongkongannya. Tapi ternyata sudah terlanjur ia telan.
Dan yang paling menyebalkannya lagi, Elga tak tampak canggung sama sekali."Oh gaada kok, mau ngajak jalan?"
"Ga! Elga udah ada acara sama Jena, kamu mau jadi saingan Jena ya? Gaada apa-apanya kamu dari pada Jena!" Jena menantang gadis itu dengan sorot mata yang menjengkelkan. Wajahnya yang memerah akibat tersedak bakso kini menjadi pendukung kemarahannya. Alhasil meskipun sudah berusaha keras untuk memblocklist waktu mereka, ia tidak akan bisa membuat Elga menyetujuinya semudah itu.
Dan detik selanjutnya yang cukup mengejutkan..Elga tiba-tiba menggebrak meja yang ada di hadapannya, hingga membuat beberapa bakso terpental dan Jena yang tadinya berdiri langsung terduduk lagi kemudian.
"Aku udah menuhin semua waktuku buat kamu, lo " Elga tampak mendrama, tapi kemudian dia tersadar akan perkataannya, "Maksud gue kenapa lo selalu ngekang gue, Jen?" Lantas memalingkan wajah gengsi, "Karena Jena ga mau Elga di ambil cewek lain.”
"Jangan terlalu ngarep, Jodoh udah ada yang ngatur" entah mengapa Elga ingin sekali menyekat semua perkataan Jena yang selalu beromong kosong itu. Bahkan sampai tak bisa mengukur bagaimana perasaannya kini, setelah Ia baru saja membentaknya, "Yaudah," Acuh Jena, ikut memalingkan wajah, "Yaudah apa?" Elga menatapnya bingung, "Yaudah besok kita nikah.”
Mendengar itu Elga seketika terkejut hingga wajahnya membiru, Dika menyemburkan air kuah bakso ke wajah Arka, Arka menjabarkan mimik wajah asem dan Bin yang entah sejak kapan sudah pingsan di tempat.
__ADS_1
Ke 4 cowok itu mendadak struck level high mendengar penuturan Jena yang selalu tidak tahu malu itu.Tapi boong.
"Maaf sebelumnya, tapi aku cuma mau minta bantuin ngerjain tugas doang kok sama Elga." sela gadis yang sedari tadi hanya kebingungan melihat kelakuan mereka. Dia adalah nanad, cewek cantik kelas sebelah yang katanya adalah mantan teman seeskulnya Elga. Mari kita garis bawahi kata mantan di atas.
Meskipun begitu Jena tetap menatapnya nanar tanpa ampun. "Kamu tuh!_"
"Dahla Jen, Elga juga berhak bebas dong, biarin dia maen sama siapa aja," ujar Dika bak pak ustad. Mau tak mau Jena harus menahan umpatannya di ujung lidah, lantas kembali memakan bakso dengan kekuatan non jutsu.
Dika yang melihat itu langsung memuntahkan kembali air es teh jus yang baru saja ia minum hingga berceceran, "Segila itu Jena sama Elga, padahal kegantengan gue masih di atas dia" rutuknya dalam hati, kemudian menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya.
Selang beberapa menit, handphone Arka tiba-tiba saja berdering kencang sekali, memutarkan lagu 'Lagi syantik' ciptaan mba badriah.
"Halo? Iya bah.. pulang sekarang?.. yaelah bah nanti.. yaudah.. wa'allaikum sallam" Arka menatap teman-temannya sendu setelah mengangkat telvon yang katanya dari abahnya itu. Padahal kalau dia pulang juga tidak masalah, siapa juga yang mau menahannya? "Kenapa lo?" tanya Bin yang sudah tampak kekenyangan.
"Abah gue nelvon, katanya ga bisa ngeganti channel TV, remotnya banyak tombolnya"
Jena yang biasanya akan tertawa setelah mendengar itu, kini malah terlihat tambah kesal. Ah biarkan saja dia, mungkin moodnya sedang tidak baik sekarang ini.
"Ya allah Jena" sebut Arka.
"Yaudah Elga DKK, aku juga ada urusan di rumah, ga usah bales sekarang juga gapapa kok, nanti hubungin aku aja ya El, aku pulang dulu” gadis itu melambaikan tangan setelah berpamitan, lantas menjauh. Seperti biasa Elga hanya membalasnya dengan senyuman boyfriend able.
"Nyenyenye.. gausah bales sekarang kok, Nanti hubungin aja, lo kira abis nembak, dasar nyai sumbing!" Jena merutuk kecil sembari memenyon-menyonkan bibirnya, tak habis pikir mengapa dan mengapa ke imutan gadis china itu tak pernah pudar meskipun begitu.
Elga pun baru menyadarinya, dia terpesona, makanya dia tertawa.
"Yaudah, nanti minggu kita jalan-jalan,” mendengar penuturan dari cowok itu, entah mengapa langsung menarik perhatian Jena. "Beneran?" Tanyanya, walaupun ia sempat berfikir apakah cowok itu mau modus sana-sini?
"Iya"
__ADS_1
"Ganjen amat lo!" Umpat Dika sembari bersila tangan, kemudian setelah itu Arka mengambil tasnya untuk segera pamit pulang, Jangan-jangan TVnya sudah konslet akibat abahnya yang tidak sabaran. "Gue pulang ye guys"
"Iyeee" jawab mereka serempak. Lantas cowok itu langsung berlari menghampiri tukang becak.
Bin,"Lah ngapadah naek becak? Padahal ada ojek,"
Dika,"positif thinking, mungkin dia males ngegang.”
Jena menyeruput kuah baksonya kemudian menghela napas panjang. "Jena seneng kalo Elga yang ngajak Jena maen, tapi Jena pengen sendiri dulu, habisnya Jena cemburu."
"Iya gapapa. Gue bakal selalu ada kok, lo udah kayak adek gue, Jen."
Can you hear that? Just young sister you know? Jena seketika mengalihkan atensinya lagi, menatap Elga dengan nanar, tangannya yang sudah terkepal kemudian meraih tas dengan kekuatan hokage, hingga Bin yang berada di sampingnya pun nyaris terjungkal saking terkejutnya.
"Elga jahat!" Teriak Jena setelah pergi meninggalkan ke 3 cowok itu yang hanya mematung kaku sembari menatap kepergiannya.
Beruntung karena sejak perbincangan random mereka tadi pak Jono sudah tidak ada. Kalau ada-ah mungkin saja mereka akan di bawa ke ruang isolasi untuk di tes apa mereka masih waras atau tidak kejiwaannya.
"Kenapa dah?" Tanya Elga tidak peka. Sesungguhnya tidak akan ada lagi yang lebih menyebalkan ketimbang Elga maharaja,
"Lo ga peka amat bos," Dika menyindir cowok yang masih berdiri itu sembari menatap ke arah lain." Padahal lo udah temenan sama dia dari jabang, tapi lo masih ga paham sama dia."
Bin seketika mati kutu di tempat, walaupun ia mengerti maksud Jena, tapi dia terlalu bodoh untuk memahami cerita cheesy remaja antara Jena dan Elga.
"Maksud lo?_ Dia suka gue?"
To Be Continue...
__ADS_1
Albino As You Know...^^