
"berusahalah sekuat tenaga buat nyelametin dia ya." bisik gadis bertopeng itu tepat di telinga Jena, kemudian tubuh sexinya pun berbalik. Berjalan keluar, setelah sebelumnya menepuk-nepuk pelan pundak Jena yang hanya mematung kaku disana. Dan yang lebih lebih lebih mengejutkannya lagi, ayahnya Elga ternyata bisa melepaskan pasung yang ada di tangannya sendiri dengan tangan kosong, lantas menyeringai ke arah Jena dan Dika dengan tatapan 'apa ini? Anak-anak culun yang sok pemberani, Lucu sekali', seketika itu mereka terlihat seperti sekelompok mafia kejam yang suka meminum darah manusia.
Karena di buat tegang sedari tadi, Jena dan Dika pun melemas pada akhirnya, Apa lagi kini mereka sudah di jebak untuk yang kedua kalinya, sumpah demi apa pun, mereka ingin sekali mengumpat si pembuat plot cerita ini.
-
"Eh Aldan, liat mata gue!" orang yang baru saja ia sebut namanya dengan cepat menoleh, hanya berekspresi seperti 'apa?'. Sedangkan Arka yang mengintilinya di belakang sana malah memasukan kepalanya sendiri ke dalam tas slempang milik aurel. Menahan malu. Atau memang dia masih malu perihal insiden joget monyet kemarin.
"Eh itu tas gue ntar bau ketombe pala lo ye!" Aurel reflex menampol pantat Arka dengan buku matematika setebal buku novel bulan karya tereliye. Membuat laki-laki itu mengaduh kemudian dengan sengaja melemparkan tasnya ke lantai, yang malah berakhir kejar-kejaran.
"Gue mau ngomong sama lo, berdua." ujar Bin lagi setelah menerima tatapan tidak enak dari para teman-temannya, dan dia bersegera meminta Aldan untuk berbicara berdua dengannya saja meski sempat takut-takut. Merasa terkepung. Astaga baru pertama masuk saja Aldan sudah memiliki banyak penggemar, baiklah dia sepertinya calon mostwanted di sekolah ini.
"Ngapain?" Aldan membalasnya dengan tatapan dingin, yang membuat Bin seketika itu mengerutkan kening tidak suka, sombong sekali. Pikirnya.
"Gua nolongin lo dari para fans fanatik ini ye." jawabnya yang mana itu membuat anak-anak yang masih memperhatikan mereka disana mulai menariki baju Albino karena kesal, hingga membuat laki-laki itu nyaris terjerembab, "Kampret!" umpat salah satunya.
"Lo yang kampret, ah! Kalo baju gue sobek bayar 50 juta!" dan seperti biasanya Bin akan balas mengumpat.
"Yaudah, tunggu di koridor ntar gue nyusul." final Aldan, kemudian Bin pun berusaha keluar dari kerumunan dengan sesekali mendecih sarkas, meninggalkan mereka semua yang masih mengepung anak baru itu dengan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya agak cheesy dan tidak penting, bagus sekali! Moodnya tiba-tiba saja menjadi buruk.
Seperti janjinya tadi, Aldan menghampiri Bin di depan koridor, namun entah ada apa gerangan anak itu malah membawanya pergi lagi, menaiki rooftop sekolah yang lumayan tinggi.. disana memang tidak pernah sepi, ada saja siswa yang berkeliaran hanya untuk sekedar mencari angin ataupun mengerjakan tugas sekolah, tapi yang pasti, Bin pikir rooftop sepertinya adalah tempat yang cukup bagus untuk pembicaraan mereka nantinya.
Sementara anak yang merasa kebingungan sedari tadi, lantas menatapnya dengan alis tertukik. Tanpa bertanya apa pun lagi, hanya berucap lewat ekspresinya yang kelihatan tidak mengerti.
"Lo nguntit kita selama ini kan?," dan pertanyaan yang entah apa maksudnya itu seketika membuat Aldan terdiam di tempatnya, nyaris tersedak ludah sendiri, saking terkejutnya, "gue gatau alasan lo apa, tapi gue sering liat lo di sekitar sekolah sini.. dan pas kita ga sengaja bertemu mata, lo malah sembunyi kayak maling." kemudian Bin membalikan badannya, menjadi berhadapan dengan Aldan, mata lembutnya yang selalu terlihat polos di mata Jena, kini berubah menjadi tajam dan mengintimidasi.
"A-apa maksud lo?" Aldan menaikan sebelah alisnya, entah tidak mengerti atau apa, yang jelas Bin bisa menangkap ekspresi aneh dari teman barunya itu. Dia.. tampak gugup.
__ADS_1
"Sans aja elah, tinggal jawab.. kenapa lo nguntitin kita?" tanya Bin lagi, kedua bibirnya ia tarik selebar mungkin, bermaksud untuk mencoba mencairkan suasana sembari memasukan kedua tangannya ke dalam kantung celana. Menunggu jawaban. Sedangkan yang di tanya malah tersenyum kikuk kemudian.
"G-gua ga nguntitin kalian, gue cuma.. mau tau sekolah ini aja, gue kan mau pindah kesini, dan sekarang.. gue udah ada disini." hmm jawaban yang cukup logis, hanya saja entah mengapa Bin masih tidak bisa mempercayainya. Mendadak ia pun ingat sesuatu.
"Gue Aldan Bramasta dari SMA negarajaya.. gue.. selaku mantannya Naya, mau minta maaf sama kalian sebesar-besarnya atas semua yang udah dia lakuin.. gue pikir ini bakal sulit di percaya, tapi Naya adalah mantan RSJ yang sempet kabur.. dia sakit mental."
"Tapi kenapa lo tau kalau Naya pindah sekolah kesini? Gue sering liat video yang gue rekam sendiri sewaktu lo sama temen-temen gue di rumah Naya, dan gue merasa ada sesuatu yang aneh dari lo.. lo tau Naya sekolah disini? Dan lo bilang lo minta maaf buat semua yang udah dia lakuin, itu berarti lo juga nguntit Naya selama ini kan? Yalord gue baru sadar kalo gue udah sering liat lo di sekitar sini." semprot Bin, mencoba meminta penjelasan atas segala pertanyaannya itu, sebenarnya ada banyak sekali pertanyaan yang ia pendam beberapa waktu ini perihal Naya dan juga Aldan. Akan tetapi dia harus tahu lebih dulu inti dari semua itu.
Memang selama ini Bin sering melihat kehadiran Aldan diam-diam, sewaktu dia memakan bakso dengan pak Jono dan teman-temannya, Aldan tiba-tiba muncul di permukaan semak-semak dan sewaktu ia mengikuti Elga juga Dika ke rumah Naya, ia pun melihat Aldan berada disana. Berdiri di ruang tamu tanpa melakukan apa pun, agaknya mereka sangat mencurigakan bukan?
"Apa maksud lo? Naya sakit mental.. gue cuma takut Naya ngelakuin hal yang aneh-aneh, gue tau juga kan karena temen-temen lo make seragam dan logo sekolah ini." jawabnya tak mau kalah, membuat Bin mau tak mau harus membungkam diri untuk sesaat. Berpikir.
"Berarti seharusnya dia punya surat kendali RSJ dong? Coba mana buktinya?" tanya Bin lagi, masih tidak percaya.
"Apaan sih loh, gajelas banget."
"Yang jelas dia sekarang udah gue masukin kerumah sakit jiwa."
"Kalo gitu, pulang sekolah anter gue kesana."
-
"DIKA! KITA DI KUNCI DARI LUAR."
Jena berteriak histeris saat tiba-tiba saja pintu tertutup rapat dan ia tidak bisa membukanya. Dika pun kualahan karena tidak ada jendela atau pun lubang tikus sama sekali disini untuk keluar, benar-benar tidak ada jalan keluar.
Apa lagi ruangan ini kedap suara dan mereka yakin sekali meskipun berteriak hingga kehabisan suara pun, tidak akan ada orang yang bisa mendengarnya dari luar sana. Karena kalang kabut sendiri Dika pun reflex mengitari sekeliling tembok, berfikir dengan gelisah.. karena yang mereka takuti saat ini hanyalah 'Elga', astaga mereka berharap orang-orang itu tidak akan melakukan apa pun kepada temannya. Sementara Jena hanya meringis sembari menggigiti jari, tubuhnya gemetaran hebat dan ia nyaris menangis saking ketakutannya.
__ADS_1
Hingga 5 menit kemudian, Dika tak sengaja melirik tembok di sebelahnya, ada sebuah tulisan dengan nomor 4151518. Tulisannya agak sedikit kabur karena dibuat dari stabilo, karena merasa itu adalah sebuah teka-teki yang telah di rencanakan untuk mereka, Dika pun bersegera mencaritahunya.
Ia menghitung setiap angka tersebut dengan jari, sesekali juga menghela napas sarkas karena tak kunjung menemukan jawabannya, hingga Jena yang masih berdiri disana dengan cepat menghampirinya karena penasaran, "kenapa Dika?" tanya gadis itu saat menyadari si empunya hanya merespon dengan desahan kecil. Prustasi.
Lalu.. dengan refkex Jena memutarkan bola matanya, atensinya berpacu pada beberapa angka yang tertulis di atas tembok dengan warna yang nyaris sama. Membuat ia harus sesekali menyipitkan mata. Dan detik selanjutnya.. membuat laki-laki yang masih berhitung disana melotot saat Jena tiba-tiba saja berujar "door." yang mana secara bersamaan, pintu di belakang mereka terbuka dengan sendirinya.
Kemudian gadis itu tersenyum lebar, sedangkan Dika hanya mematung tidak percaya. "D adalah abjad yang ke 4, O adalah abjad ke 15, dan R yang ke 18, jadi 4151518 artinya adalah door." ujarnya, serperti bisa membaca apa yang sedang Dika pikirkan.
"Astaga gue baru sadar..." laki-laki itu pun mengeluh entah sudah yang keberapa kalinya, yang jelas, ia sendiri pun sampai bosan melakukan itu. Saat baru saja ingin keluar, tiba-tiba telvon Dika berdering, memampangkan nama Arka Andrian di falp telvonnya, dan tanpa berpikir lama ia kemudian memencet tombol answer dengan cepat. "Apa?"
"Lo ada dimana anjrit, buka WA gue sekarang!" ucap Arka dari dalam telvon dengan tergesa, karena merasa itu adalah sebuah perintah yang cukup membuatnya penasaran, Dika pun membuka WAnya, Arka baru saja mengirimkan 3 Vn beberapa menit yang lalu. Saat Dika memutarnya, kedua orang yang masih berada di dalam ruangan super pengap itu pun sama-sama melotot. Benar-benar seterkejut itu.
VN 1, "Iya gue ngaku, Naya ga sakit mental. Gue juga ga ngebawa dia ke rumah sakit jiwa."
"Kenapa?"
VN 2, "Gue gabisa ngejelasin secara gamblang ke orang-orang kayak kalian."
VN 3, "Jadi bener lo nguntitin kita selama ini?"
"Iya."
To Be Continue...
Sepertinya Ini adalalah kasus berantai brorr... sambung menyambung seperti cintaku dengan dia. *ehk😂
__ADS_1
Naya As You Know... cantik pann??? ^^ seperti yang aku bilang senyumnya maniss semanis cintaku ke kamu eaks...