DETEKTIF TUMUS

DETEKTIF TUMUS
Episode 27 (Kasus terselesaikan )


__ADS_3

"Ayah..." Elga merasakan getaran hebat mendesir di seluruh tubuhnya, membuat ia  mulai melemas, dan hanya bisa menangis tanpa bisa meninju apa pun seperti yang ia pikirkan baru saja. Kini ia hanya bisa menahan segala amarah itu dengan hati yang hancur berkeping-keping, sembari menatapi ayahnya yang begitu keji kini malah terkapar mengenaskan di dalam sana. Dengan wajah yang semakin menua.


-


"Ayah!!" Elga kecil berlarian dari dalam rumahnya, mengejar sang ayah yang entah hendak pergi kemana sembari membawa paper bag dan koper besar. Ia menangis.. berteriak histeris saat sang ayah melemparkan tubuhnya hingga terjerembab ke atas aspal. Begitu pula dengan ibunya yang hanya menangis terisak-isak di depan pintu rumah, membiarkan ayah dan anak itu berinteraksi dengan tidak selayaknya.


"Ayah mau kemana?!! Ayah gaboleh pergi!! Ayah Elga udah maapin ayah!! Tapi ayah harus janji ayah gaboleh jahatin mama lagi." anak itu terus mengoceh di depan ayahnya yang tampak acuh, mengoncang-goncang tubuh tinggi itu dengan tangan gemetaran hebat.. Elga kecil menangis sejadi-jadinya ketika ia masih tak bisa mendapatkan respon yang ia inginkan dari sang ayah.


"Ayah gaboleh pergi.. hiks!!" ucapannya kini semakin memelan, seiring tangan besar itu menghempas tangan kecilnya berkali-kali. Hingga satu jawaban yang begitu mendominasi membuatnya tercekat di tempat. "Saya ga bisa bertanggung jawab, itu yang mamahmu bilang bukan? Kenapa kamu masih bisa maafin saya dan berharap saya bisa jadi ayah sekaligus suami buat kalian?!" pria itu menggertak anaknya sendiri dengan tatapan tajam dan suara yang meninggi. Membuat Elga kecil semakin menangis. Menunduk ketakutan.


"Saya bukan ayah dan suami yang baik, Saya udah sering ngelakuin KDRT sama mamahmu, sekarang saya akan buktiin bahwa itu semua emang benar. Itu yang kalian maukan?! Kalian mau saya pergi dari sini." tidak, bukan itu seharusnya yang ia katakan pada anak yang tidak tahu apa pun, bukan itu kata-kata yang harus Elga dengar di umurnya yang sangat belum pantas. Ia belum mengerti apa pun dan sekarang ia harus menerima luka yang begitu menyakitkan dari ayahnya yang tak punya hati itu. Elga kecil sudah bisa melihat dengan jelas betapa hancur leburnya keluarga yang telah mereka bina selama ini.


"Ayah gaboleh pergi hiks.."


hingga kemudian sang mama merangkulnya dari belakang, memberi anak itu kekuatan meski ia sendiri pun tak punya tenaga untuk sekedar menangis, jiwa dan raganya terlanjur hancur, sampai mau mati rasanya. "Elga..." pada akhirnya pun ia harus merelakan suami dan ayah dari anaknya itu untuk pergi, ia sudah tidak mampu mempertahankan keluarga hina ini lebih lama lagi, bukan karena ia tidak sayang pada anaknya, tapi justru karena ia begitu menyayangi anaknya, lihat, betapa kejam kata-kata ayahnya itu kepada darah dagingnya sendiri. Betapa ia tidak mengerti bagaimana perasaan anak dan istrinya sekarang ini, dia seperti devil yang tidak pernah hidup dengan hati.

__ADS_1


Dia hanya punya jantung yang akan berdetak seenaknya, tanpa menerima perintah dari siapa pun. "Ayah..." Elga terus saja menyebuti nama ayahnya, terisak semakin keras hingga ia merasa kepalanya sungguh linu dan perutnya mulai kebas. Kemudian ia bergeronta dengan sekuat tenaga di dalam pelukan ibunya saat sang ayah memasuki mobil hitam mengkilap itu, pergi dengan wajah devil yang tidak meninggalkan rasa sedih atau bahkan enggan sedikit pun, dia pergi dengan tenangnya meninggalkan kedua orang yang kini tampak prustasi setengah mati.


Pada saat itu pula, Elga kecil sudah mencap ayahnya sebagai sosok paling jahat yang pernah ia kenal di dunia. Ayahnya yang tidak punya hati, adalah sosok paling keji yang pernah ada, Elga kecil mulai membencinya dengan seluruh hati yang tersisa, sangat membencinya sebagaimana ia membeci dirinya sendiri, Seiring tangis keduanya yang semakin memecah, Elga pun balas memeluk tubuh hangat itu dengan erat, seakan takut akan kehilangan lagi.


-


Keningnya tampak kusut karena menahan tangis dan pusing, semakin lama pandangannya semakin berkunang-kunang, hingga seseorang yang ia tunggu sedari tadi untuk membalas panggilannya pun perlahan-lahan mulai terbangun, sang ayah kemudian terbelalak dengan segala keterkejutannya, menatap Elga yang kini terduduk tidak berdaya sembari menundukan kepala di depan sel sana. Ia sangat hapal anaknya, gaya rambutnya, bentuk wajahnya, bentuk tubuhnya.. Ia sangat hapal Elga meski anak itu sudah tumbuh dewasa seperti sekarang.


Lalu.. apa ia sanggup melihat anaknya yang dulu pernah ia campakan dengan kondisi seperti ini? Apa ia sanggup menatap wajah anaknya yang kini menangis tidak berdaya seperti beberapa tahun lalu? Apa dia sanggup? Sepertinya tidak. Karena itu dia hanya diam membisu sembari menahan rasa sakit di dadanya yang entah mengapa bergejolak dengan kuat.


Jena pun tak sanggup untuk sekedar menahan tangis, dia ikut menangis di belakang sana, memandang pundak Elga yang begitu kuat kini dalam sekejap menjadi rapuh serapuhnya, pundaknya yang bergergetar hebat seperti kehilangan tompangan.


"Elga kangen-"


"Anakku..." dan ucapan Elga selanjutnya pun di hentikan oleh sebias suara berat yang sangat ia rindukan namun juga suara yang sangat ia benci karena pernah membentaknya dengan kata-kata kasar. Benci dan rindu, kedua perasaan itu yang selama ini menghantam batinnya hingga Elga tak tahu harus berpsekulasi seperti apa, nyatanya ia sendiri pun masih tidak bisa terima jika sosok ayah yang sangat ia benci di perlakukan seperti ini, anak itu mendongakan kepala, air matanya meluncur semakin deras ketika melihat wajah sosok ayahnya yang semakin lama semakin kusam, keriput di wajahnya pun tampak semakin jelas, membuat Elga tak sampai hati untuk mencaci-maki ayahnya meski hanya dalam hati.

__ADS_1


"Anaku Elga.. maafin ayah, maafin ayah." sang ayah menangis histeris, hingga suara tangisnya terdengar mendominasi ke seluruh ruangan, membuat siapa pun yang melihat interaksi keduanya tak bisa untuk sekedar menahan air mata. Mereka semua menangis, menatap betapa menyedihkannya kehidupan ayah dan anak itu, betapa mereka tidak tahu bahwa selama ini Elga menyembunyikan banyak sekali perasaan sedih dan kebenciannya, betapa mereka baru menyadari kalau tawa ceria dan tingkah bodohnya selama ini hanyalah fiktif belaka. Ataukah anak itu memang hanya ingin melupakan semua rasa sakitnya dengan melakukan segala hal yang ia bisa?


"Maafin ayah..." Elga hanya menatap ayahnya dari luar sel dengan sendu, entah apa yang harus ia lakukan kini, ia hanya bisa pasrah sembari menangis, Elga hanya ingin menangis untuk saat ini. "Buka selnya" hingga satu perintah yang terdengar mengintimidasi, membuat Aldan dengan cepat membuka pintu sel tersebut setelah Dika melepaskan borgol dari tangannya, namun ia masih mengawasi Aldan dari belakang dengan Arka dan juga Bin yang sepertinya ikut terisak-isak di belakang sana.


Pintu sel sudah terbuka.. namun kedua anak dan ayah itu masih tak saling merespon, mereka hanya menangis di tempat masing-masing, saling menunduk, dan saling mengutuk dirinya sendiri. Karena tak tahan dengan semua keheningan yang terjadi, Elga pun kemudian mencoba bangkit sekuat tenaga, berlari menghampiri ayahnya. Memeluk tubuh kekar itu dengan suara tangisan yang semakin terdengar.


"Elga maafin ayah, ayah tetep ayah Elga, mau seberapa jahat pun ayah..." hatinya sakit, hanya itu yang bisa di rasakannya kini setelah mendengar ucapan manis dari anaknya yang selama ini ia campakan, anaknya yang tegar dan pemberani, anaknya yang begitu luar biasa.


"Ayah.. harus minta maaf.. sama diri ayah sendiri." kemudian mereka saling mengeratkan pelukan masing-masing, saking eratnya sampai Elga merasa tidak akan pernah mau melepaskan pelukan itu lagi, pelukan yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya, oh jangan lupakan Jena yang bahkan tidak tahu sama sekali bagaimana rupa ayahnya apa lagi memeluk tubuh kekar itu. Karenanya, Jena ikut terisak di belakang sana hingga wajahnya memerah bak terbakar, entah merasa iri atau bahagia karena Elga bisa bertemu dengan ayahnya lagi, yang jelas.. ia menangis begitu saja.


To Be Continue...



Bayangkan kalian ada di penjara itu tapi tanpa kasur.. jahatnya Aldan.😭

__ADS_1


__ADS_2