DETEKTIF TUMUS

DETEKTIF TUMUS
Episode 32 (Kecerobohan Elga)


__ADS_3

"Dia pasti kecelakaan karena teriakan lo tadi." ceplos Elga sembari menatap mayat disana dengan mata memicing. Jena yang merasa di fitnah langsung saja menatapnya sinis dari samping sembari bergumam dalam hati 'gimana mungkin?'


"Kalian kenal sama mayat itu, dek? Katanya sih belum di temuin identitasnya." tanya salah satu orang yang berada di dekat mereka, Elga hanya mengulum bibir beberapa saat kemudian entah mengapa langkah kakinya di bawa pergi, menyeluduk garis pembatas yang telah di pasang oleh para polisi itu dengan seenaknya, membuat orang-orang yang sedang berada di sana menatapi Elga secara terang-terangan. Terheran-heran. Begitu pun dengan Jena yang sempat terkejut hingga nyaris terjungkal.


'Mau apa anak itu?' begitu tanyanya dalam hati, karena saking terkejutnya ia sampai tidak bisa untuk sekedar berbicara terkecuali mematung kaku seperti orang idiot.


Ia bisa melihat sekarang temannya itu sedang bertanya pada salah-satu polisi disana, sembari mencoba untuk membuka kantong jenazah tersebut.


"Kami belum menemukan bukti yang pasti, tapi menurut autopsi kami orang ini mati karena bunuh diri." jawab si polisi paruh baya itu dengan ramah, sepertinya Elga tidak akan terlalu takut untuk berbicara dengannya karena kelihatannya pak polisi yang sedang ia tanyai ini tidak galak sama sekali. Oh, tentu saja Elga selalu mau cari mati.


"Boleh saya buka kantung jenazahnya, pak? Saya hanya takut orang ini kenalan saya." tanya Elga lagi sesopan mungkin, pak polisi dengan name tag agus septian disana pun mengangguk, seperti menjawab 'iya boleh' dari gaya tubuhnya itu. Kemudian membuka kantung jenazah tersebut dengan hati-hati.


Elga memekik tertahan saat melihat bagaimana kondisi mayat yang sedang mereka autopsi, astaga sebenarnya dia jatuh dari lantai keberapa. Pikir Elga, karena rupanya mayat itu sudah tidak berbentuk, tidak semenyeramkan itu sih hanya saja tangan kirinya patah dan kepala belakangnya pecah dengan berlumuran darah. Sudah pasti akan seperti ini kondisinya jika iya benar dia jatuh dari lantai atas.


Tapi.. ada yang aneh di sini.


"Apa bapak yakin dia korban bunuh diri?" Elga menelisik setiap inci dari perawakan mayat yang tengah mereka hadapi tersebut, mayat yang sudah sangat kaku dan memutih bak tissue kamar mandi, di tambah lagi dengan noda merah yang berlumuran di sekitar tubuhnya, bau amis. Sementara pak polisi yang mendengar pertanyaan itu hanya terdiam sembari sedikit berpikir.


"Kami juga belum yakin karena belum menemukan bukti yang kuat." jawabnya, Elga mengangguk kemudian, yah ... memang ada banyak hal janggal yang ia lihat dari mayat itu, tapi agaknya.. Elga tidak perlu ikut campur lebih dalam karena ia pun tidak mengenal siapa dia.

__ADS_1


"Baiklah, pak makasih, saya gak kenal orang ini." katanya sembari mencoba berdiri, hendak menyusul Jena yang masih mematung kaku di tempatnya, melihat betapa sinting temannya itu dengan berani melewati pembatas investigasi yang di berikan oleh para polisi di sana. Ah tidak, hanya ada 2 polisi sebenarnya.


Namun satu sahutan yang terdengar menggema dan berat, mengurungkan niatnya untuk pergi. "Tunggu dek, kayaknya kamu tau sesuatu?" apa katanya? Apa polisi itu mau meminta bantuan padanya? Elga pikir ini lucu. Polisi tidak seharusnya menanyakan hal itu pada anak kecil seperti dirinya.


Karena tidak sopan jika tidak menjawab, Elga mengangguk sembari tersenyum kikuk kemudian, agak takut-takut. "Bilang aja, saya lihat kamu tadi kayak menemukan hal aneh dari jenazah itu." ujar pak Agus dengan tenang, mencoba untuk tidak membuat Elga ketakutan ketika sedang berinteraksi dengannya hanya karena ia seorang polisi. Meski sepertinya Elga tidak pernah merasa takut dengan siapapun.


"Ya, pak, tapi saya-"


"Bilang aja.. gausah takut." meski dengan tidak enak hati Elga pun kembali berjongkok di depan mayat tersebut ... bersama pak Agus yang menunggunya buka suara. Apa-apaan ini sebenarnya? Mengapa dia jadi ikut mengautopsi.


"Kenapa anda bisa ragu kalau dia adalah korban bunuh diri?" oh ternyata pak Agus bisa membacanya dari kalimat yang Elga tanyakan tadi. Dia menemukan sesuatu yang sangat janggal dan ternyata pak polisi itu menyadarinya.


"Kalau boleh saya tau, dia bunuh diri waktu kapan, pak?" tanya Elga sembari kembali menelisik jenazah disana. Menunggu jawaban dari pihak yang sedang ia tanyakan, "kalau dari informasi pihak saksi, 1 menit setelah kejadian dia langsung menelvon kami, dan kami sampai kesini 10 menit setelah menerima informasi, sedangkan autopsi ini baru saja di mulai." jawab pak Agus.


"Katakan saja apa yang janggal?" tanya pak polisi itu lagi ketika sadar bahwa anak yang sedang ia ajak berinterikasi terdiam kemudian. Entah merasa tidak enak untuk menjawab atau memang dia sebenarnya tidak tahu apa yang janggal.


"Kalau cuma dari beberapa puluh menit yang lalu, tubuh jenazah ga akan sekaku ini, pak. darahnya agak ke oren-orenan dan lagi.. tangan sama wajahnya pucat-pucat biru. Kayak habis di racuni." mendengar jawaban yang agak logis itu, pak Agus dengan cepat mengalihkan atensinya, mengecek kembali tubuh si mayat tersebut yang ternyata memang benar ... bahwa tubuhnya sudah sangat kaku seperti meninggal sebelum kejadian.  Atau bahkan meninggal karena ada sesuatu yang mengalir di aliran darahnya seperti racun? Oh dari mana anak itu tau ciri-ciri orang yang terkena racun.


Selang beberapa detik setelah outopsi ulang, Jena langsung menghampiri mereka dengan raut wajah penasaran dan sedikit kekesalannya. "Elga! Ngapain sih lo?" tanya Jena sedikit menekankan suara pada si empunnya yang ikut menelisik tubuh korban. Kemudian dia menatap Jena dengan alis menekuk, seperti ingin mengatakan 'polisi ini yang minta gue buat ikut outopsi anj*r'.

__ADS_1


"Benar, nak, ini adalah effect racun, dan kayaknya bukan dari minuman ... kalau dari minuman seharusnya kerah baju atau bibir dia masih basah, tapi ini bener-bener kering." pak Agus menatap kedua anak yang ada di hapadannya secara bergantian. Namun tiba-tiba saja ada polisi lain yang menyahut mereka dari belakang, kemudian berjongkok di dekat pak Agus, memberikan 1 botol polos dengan cairan berwarna biru muda di dalamnya.


"Apa korban meminum ini, pak?" tanyanya pada polisi tua yang kini mulai mengalihkan atensi pada benda tersebut.


Sementara Elga yang merasa tidak asing dengan benda itu mendadak buka suara, "Boleh saya lihat, pak?" pintanya yang di balas dengan anggukan kecil. Namun polisi hanya menyodorkannya dan Elga pun tidak berani untuk memegang benda tersebut.


"Apa ini racun ricinus communis, pak?"


mendengar itu, pak polisi dengan name tag bernama Hendra disana langsung tampak kontra, ekspresinya tentu sangat berbeda sekali dengan pak Agus yang tampak tenang-tenang saja.


"Saya pikir itu tetrodotoxin." Namun satu sahutan yang mendominasi definisi ketiganya seketika membuat mereka terbungkam kemudian. "Ya benar, ini ricinus communis ... racun dari zat kimia tamanan jarak, mungkin bisa saja si pelaku pembunuhan menyemprotkan benda ini ke wajah korban."


Jena yang masih tidak percaya dengan apa yang sudah di lakukan temannya hanya melotot sembari sesekali mencubit lengannya, berusaha menyadarkan diri apakah ini mimpi atau bukan? Mereka sedang berhadapan dengan polisi sekarang dan dengan tingkah cerobohnya itu, Elga berani memberikan spekulasi pada orang yang sangat jauh lebih senior darinya.


Apakah dia tidak akan berpikir bahwa pak polisi bisa saja menyangkanya sebagai pelaku? Dan dia bisa saja di bawa ke kantor kejaksaan untuk di investigasi sebagai salah satu dari tersangka. Oh ... Jena pusing mengurusi anak bayi ini.


"Dari mana anda tahu ini racun ricinus communis, dek?"


**To Be Continue ...

__ADS_1


Ceroboh banget ya calon imam kkkkkjkkk**



__ADS_2