
"ELGA!" Elga terkejut setengah mati, ketika teriakan Dika tiba-tiba saja menggema ke seluruh ruangan, dan anak-anak yang sedang terpepes di lantai pun seketika terbangun karena kaget.
Tak berapa lama, ia bisa melihat laki-laki berpostur bagus namun dengan wajah agak dingin itu menuju ke arahnya, membuatnya reflex berdiri dari tempat duduk, "why?" seperti itu kira-kira yang di respon Elga.
"Lo pernah di tipu nomor togel juga kan?," si empunya hanya mengangguk setelah di tanya seperti itu, "coba liat nomornya" ujar Dika lagi lantas mengambil handphone milik Elga dan mengutak-atik recents dengan random.
Setelah itu, ia menyamakan nomor togel yang ada di handphone Elga, dengan nomor togel yang ada di handphone Jena, ya, dia berlari sembari membawa handphone Jena tadi. Untungnya Elga tidak sempat menghapus nomor tersebut.
"*********567, *********569" kalau tidak salah nomornya berisi angka-angka itu, dan Elga yang agaknya sedikit paham dengan maksud Dika pun kemudian menyahut, "Bilangan prima." katanya, membuat seluruh anak kelas yang tadinya tak begitu memperhatikan, seketika langsung mengerubungi Arka, Bin, Elga dan juga Dika, termasuk Jena. "Bilangan prima apa, Ga?"
"Lo mau mecahin kasus lagi?
"Ish mama gue pernah di teror begituan."
"Apa itu? Tipuan nomor togel lagi?"
"Merajalela ya tipuan begitu."
"Kalo bisa nangkep tu penipu gue kasih tepuk kaki."
Begitulah kira-kira yang di hujani cek-cokan dari para teman-temannya.
"Nomornya urut, Kalo Elga duluan yang di telvon, berarti nomor ini angkanya mundur..." ujar Dika dengan alis tertukik, ya, nomor togel yang berakhiran 69 itu milik Elga, sedangkan 67 milik Jena, jika Elga yang lebih dulu di telvon maka seharusnya angka itu akan mundur.
Karena baru paham dengan apa yang sedang meleka lakukan, Arka pun tersadar.. kemudian dengan cepat menyodorkan handphonenya pada Elga,"Nih samain punya gue." titahnya, baru ingat kalau ia juga sempat di telvon nomor togel tadi.
"Ini urutan anj*r..." Elga mengumpat saat melihat nomor togel yang menelvon Arka ternyata sama persis seperti nomor togel yang menelvonya dan juga Jena, hanya belakangnya saja yang berbeda. Nomor belakang Bin berangka 63.
"Kalau nomornya berurut dan cuma nomor belakangnya doang yang beda, berarti mereka punya 1 paket setiap mau nipu, biasanya 1 paket ini isinya 20 kartu, 10 bilangan ganjil dan 10 bilangan genap, dan mungkin aja hari ini, mereka lagi pake nomor yang berakhiran ganjil atau bilangan prima." Dika berspekulasi lagi, membuat Elga dan rekan-rekannya yang lain tampak berpikir, sedangkan yang lainnya hanya menyimak sembari masih mengerubungi mereka dengan terheran-heran.
__ADS_1
"Terus kalo misal nomor togel punya Bin belakangnya 63? Berarti yang belum ketemu 61 sama 65?," tanya Jena sembari masih berpikir. Yang di tanya hanya mengangguk kemudian berujar lagi, "Ya seharusnya nomor yang belum muncul bisa kelacak, karena biasanya 1 paket kartu itu udah diregistrasi secara otomatis semua."
"Tapikan gabakal semuanya di pake, kalo kita mau ngelacak, kita lacak aja nomor yang aktif. Nomor tadi yang baru aja nongol di handphone si Arka." Elga angkat suara lagi, hingga laki-laki berkonum D itu dengan cepat menjentikan jari, kemudian membuka mode hacknya lewat laptop yang selalu ia bawa di dalam paper bag. Memang di sekolah itu, tak jarang siswa-siswi yang membawa laptop ke sekolah. Karena aturannya bukan sekedar di perbolehkan, tapi malah 'dianjurkan'.
"Seenggaknya kalo nomor yang di lacak udah ga aktif, kita serobot nomor berikutnya..." lalu tangannya yang lentik mengotak-atik laptop dengan kekuatan super, membuat teman-temannya yang menonton tampak melongo semuanya.
"Waw."
"Daebakk! (Keren dalam bahasa korea)"
"Amazing."
"Ternyata Dika seorang hacker bro."
"Gabung dong gue."
"Ga cuma ganteng-ganteng ternyata IQnya juga keren banget."
Sepertinya.. hanya Arka dan Bin saja yang kegeeran saat di puji-puji seperti itu, sedangkan Elga dan Dika malah terlihat biasa-biasa saja.
Arka, "ah makasih gausah berlebihan hehe."
Bin, "kita patut bersyukur aja di kasih kegantengan dan kepinteran hhwhwhw."
Jena, "Najis ih!"
Tapi tiba-tiba..laptop Dika mendadak mati, "Siyal!" umpatnya setengah di tahan, padahal dia baru saja menemukan titik petanya. Persetanan dengan laptop itu, Dika harus segera menemukan alamatnya lewat komputer sekolah, sebelum nomor yang akan di lacak di nonakatifkan. Melihat Dika yang berlari keluar dengan tergesa, kemudian para rekannya pun segera menyusul dari belakang. Tak perduli akan ada guru atau tidak setelah ini.
"Ga enak juga sih jadi detektif, yang di pikirinnya kasus melulu."
__ADS_1
“tpi mereka kan masih pelajar bukan jaksa. Jadi double.. pelajaran sama kasus hwhwhw.. beruban dah tuh.”
“astatang hwhwhw.”
-
Mereka berjalan dengan tidak membebankan tubuh mereka sepenuhnya ke lantai, berhubung lab komputer berada di lantai atas, jadi mereka harus mengendap-ngendap untuk sampai kesana, agar tidak di curigai macam-macam oleh guru. Karena ruangan itu tidak terbuka untuk semua murid, kecuali untuk pelajaran.
Setelah sampai di ruangan, mereka pun cepat-cepat membuka kunci gemboknya dengan jepit rambut yang di pakai Jena, ya! Mereka sering sekali membuka gembok lab komputer dengan jepit rambut milik Jena, meskipun hanya gembok itu saja yang mempan.
Kreokkk...
Seperti biasanya, Lab komputer selalu sepi di jam-jam menuju istirahat. "Komputer nomor 2 sinyalnya bagus." ujar Jena setengah berbisik, kemudian menutup pintu dengan sangaatt perlahan.
Sedangkan Dika yang merasa di interupsi, bersegara membuka komputer nomor 2 di dekat pintu. Kemudian membuka web Maximillia laumeister, dimana ia akan bisa meretas identitas dan alamat seseorang hanya dengan petunjuk yang minim.
Ia mengotak-atiknya dengan cepat, seakan sudah pro dengan hal-hal berbau hacking, memasukan nomor togel dan beberapa kata kunci untuk membuka web peretasan hingga layar itu kemudian memunculkan gambar dan tulisan yang tercampur secara abstrak, seperti layar hologram pembuatan robot.
Tanpa berpikir panjang atau pun membacanya terlebih dahulu, Dika lantas mengetuk tulisan Check on the place di bagian kiri paling bawah yang terlihat sangat kecil. Dan kemudian layar itu pun berubah menjadi peta hitam putih dengan effect bright / hdr. Hingga tanda panah yang terpasang secara otomatis disana menuliskan alamat lengkap beserta nomor rumah pelakunya.
Akan tetapi...
"Lagi ngapain kalian?"
To Be Continue...
Yah ketauan deh...😂
__ADS_1