
"Wahhh Ini rumah Naya ya?" Jena menengadahkan kepala, pandangannya mengitari seisi rumah yang sangat besar dan rapih itu. Dengan tembok yang di dominasi dengan warna kunyit membuatnya tampak elegen. Sama seperti pemilik rumahnya, namun.. ia nyaris melupakan sesuatu, "Oh iya, mamamu kemana?" tanya Jena.
Orang yang merasa di tanyai pun menoleh dengan cepat, meliriknya sebentar sebelum akhirnya menaruh tas ke atas sova. "Oh, mamaku masih kerja, aku kebelakang dulu ya?" katanya. Jena ber 'oh' kecil kemudian mengangguk sebagai jawaban.
Gadis yang bernotabene sebagai tamu di rumah itu pun berjalan ke arah meja panjang disana, memperhatikan desainnya yang sangat unik juga benda-benda cantik di atasnya. Ini pasti barang-barang mahal, pikir Jena.
Hingga detik selanjutnya membuat ia nyaris mengumpat karena terkejut. Jena menemukan sebuah berkas yang aneh, seperti..surat kontrak? Ah tentu saja itu surat kontrak karena ada 2 materai yang sudah bertanda tangan di bawahnya dan juga perjanjian-perjanjian yang harus di sepakati.
Jadi sebenarnya? Naya memiliki kontrak kerja dengan siapa? Apakah anak itu sudah memiliki pekerjaan atau-
GREPP!!
Dan satu gerakan yang tiba-tiba, membuatnya mendelik lantas dengan reflex mencengkram lengan seseorang yang baru saja membekapnya dengan sapu tangan. Sebelum kemudian..kesadarannya berangsur-angsur menghilang.
-
Jena terbangun dengan posisi terduduk. Pertama yang ia dapati hanyalah sebuah ruangan sempit yang gelap dan pengap. Lantas menyadari jikalau tangan dan kakinya terpasung dengan borgol besi, namun karena ia baru saja terkena effect melatonin dari sapu tangan itu, membuatnya tak bisa bergerak lebih kecuali menggeliat seperti ulat.
Kemudian tak sengaja, netranya memutar ke depan. Mendapati seorang gadis yang tampak familiar di penglihatannya meski agak sedikit kabur karena pusing.
Gadis itu memunggungi Jena dengan mengasah sesuatu disana. Namun meskipun begitu, tampaknya ia begitu peka untuk menyadari kalau Jena sudah terbangun.
"Udah bangun ya?" tanyanya, lantas berbalik dengan seringaian kecil di sebelah ujung bibirnya, seperti psikopat gila.
Gadis yang masih menggeliat disana pun menukikkan alis tajam, merasa tidak suka karena ia telah di kerjai. Jena bodoh! Dia malah masuk kedalam perangkap. Seharusnya dia menyadari lebih dulu kalau Naya bukanlah anak baik-baik. Seharusnya kecurigaannya itu memang tidak pernah salah.
"Naya lepasin!" teriaknya, membuat oknum yang baru saja ia sebut namanya menyunggingkan sebelah bibir semakin tinggi. Benar-benar seperti pesikopat apa lagi sekarang ia sedang memegang sebilah pisau yang sepertinya masih baru atau memang terlihat mengkilap karena baru saja di asah. Astaga ini buruk!
Selanjutnya Naya mendekati Jena dengan perlahan, menatap gadis yang ia pikir cukup pintar itu kini jadi terlihat sangat bodoh disana, tangannya yang terbebas kemudian menekan kedua pipi Jena, memaksa gadis itu untuk lebih mendongak, lantas berujar dengan tenang. "Kamu tau? Aku benci pengkhianat dan orang-orang pencuriga kayak kalian."
JREBB!!
Jena terkejut setengah mati saat Naya tiba-tiba saja menancabkan pisau pada permukaan meja kayu. Dan pisau itu benar-benar tertanjab disana, menandakan bahwa benda tersebut memang sangat tajam.
__ADS_1
Tenanglah, pikir Jena yang mulai berdebar tidak karuan, bagaimana pun dia harus berfikir lebih dingin untuk mengatasi hal ini. Dia tidak boleh terlalu ketakutan atau semuanya akan berakhir mengenaskan.
"Naya, Jena tau kamu bukan orang baik, jdi sekarang apa mau kamu?!" seberusaha mungkin Jena mengintrogasi gadis yang kini sedang tertawa bahagia itu dengan penuh keberanian. Meski ia tidak yakin, ia akan menang disini. Hanya berharap semoga ada keajaiban yang akan mengundang teman-temannya datang kemari. Ini gila, dia sedang berhadapan dengan siapa sekarang? Naya yang polos dan manis? Atau malah psikopat gila yang haus darah?
"Tau ya? Tapi kok kejebak?" Naya melipatkan kedua tangannya, menatap miris si empunya yang sesekali melemas karena effect samping dari melatonin.
Gadis cantik berdarah china itu mulai merasakan sesuatu mendesir dalam darahnya, menciptakan rasa kesemutan yang membuatnya tak mampu untuk bergerak lebih, apa lagi kini yang mengikat tangannya bukanlah tali, melainkan borgol besi. Bagaimana pun ia harus bisa lolos dari sana dengan selamat.
Naya sangat berbaya.
Sampai akhirnya, ia pun mulai kepikiran akan sesuatu, "Kamu bilang rumahmu di arah barat jalan soekarno no 11, bukannya ini..jalan mohammad hatta?" dan si empunya pun tidak bisa untuk tidak tertawa.
"Bodoh ya kamu, aku bilang begitu karena temenmu itu denger."
Yah, yang dimaksudkan 'teman' disini adalah Elga, anak itu sempat berpura-pura tidur di mejanya, padahal tidak..ia mencoba mendengarkan perbincangan Jena dan Naya dengan seksama dari awal sampai akhir. Bukan bermaksud ingin menguping, hanya saja instingnya mengatakan sesuatu akan terjadi dengan mereka.
Dan Naya, ternyata menyadari semua itu, "Kayaknya aku emang salah pikir, kalian cukup bodoh dalam hal ini," Naya menghentikan kalimatnya beberapa saat setelah memberikan penekanan pada kata 'bodoh', menatap Jena yang semakin lama semakin melemas, karena pasokan oksigen di dalam ruangan itu tidak cukup mempuni untuk orang yang baru saja terkena bius. "Tadinya aku pengen kirim kamu ke tempat penjualan manusia, tapi ga jadi, karena kupikir..orang-orang kayak kalian cukup pinter buat kami jadi senjata makan tuan"
'Kami?' Ada sesuatu yang aneh dari kata itu. Object yang tidak hanya satu dan pastinya mereka adalah anggota persekongkolan. Tapi Jena merasa...
"Oleh karena itu," katanya lagi dengan kalimat yang di patah-patah, "aku.." gadis itu mengibaskan rambut Jena kebelakang, membuat si empunya sempat menahan napas ketakutan. "Akan.." kemudian menyentuhkan dinding pisaunya pada permukaan kulit Jena, membuatnya seketika merinding di tambah lagi seluruh tubuhnya agak sedikit kebas, "membunuhmu..."
Jena mendongak, namun ia tidak berusaha lagi berkontak mata dengan Naya..melainkan...
Grepp!!
Pisau itu tidak jadi mengiris lehernya, karena seseorang yang datang dengan tepat waktu membuat Jena tersenyum selebar mungkin. Itu Elga, bagaimana mungkin dia sampai kesini?
"Bodoh ya kamu, aku bilang begitu karena temenmu itu denger."
Dan jika dia memang mengintai mereka, lalu? Seharusnya dia tidak akan masuk ke jalan mohammad hatta.
Jena bersyukur, karena tuhan benar-benar memberkatinya hari ini, dia pikir, ini adalah hari terakhir hidupnya.
__ADS_1
"Naya Almahera, pindahan dari SMA airlangga, sutomo, binabangsa, jayapura, dan negarajaya. Dengan kasus penculikan yang di pimpin oleh Dr.M.Barta Danoel, yang beralibi sebagai dokter bedah spesialis organ dalam serta dokter psikis terkenal di jakarta." Naya melotot terkejut, benar-benar seterkejut itu setelah mendengar penuturan dari Elga yang terlihat datar namun begitu menohok jantungnya. Bagaimana bisa? Elga tahu semua tentang dirinya?
Sementara..selama ini tidak ada siapapun yang mengetahui identitas ilegalnya itu, bahkan..polisi sekalipun.
Karena kalang kabut sendiri, gadis itu pun reflex memindahkan pisaunya, hendak menusuk Elga namun dengan gerakan cepat, laki-laki itu menangkis pisau tersebut dengan tepat sasaran hingga terpental.
Membuat Naya mau tak mau harus kabur dari sana. Dan ya! Lag-lagi gerak langkahnya di hentikan oleh sosok Dika yang entah sudah sejak kapan berada di ambang pintu sembari melipatkan kedua tangannya dengan estetik.
Sungguh demi apa pun, Jena bersyukur setengah hidup.
"Tapi..itu semua adalah identitas palsu..." penuturan dari Elga selanjutnya yang entah apa maksudnya, seketika membuat suasana kembali mencengkram, apa lagi Jena yang kini malah terbingung-bingung.
"Dr. M Barta Danoel bukan dokter spesialis bedah organ dalam, tapi dia..adalah professor asal Dubai..yang nyamar jadi dokter biasa disini," dan penuturannya yang kedua kini berhasil membuat Naya tercekat di tempat, diam membisu bagai kehilangan seribu bahasa, sejujurnya ia ingin membantah kala itu juga, tapi..ia ingin tahu seberapa jauh Elga mengetahui idenditasnya.
"Dia menculik cewek cantik atau cowok ganteng yang masih utuh dan hidup, untuk di jual ke negaranya dan di tukar raganya dengan orang tua yang kaya raya, dengan cara melakukan operasi ilegal," sejenak suasana menghening, masih menyimak penuturan Elga yang entah mengapa terputus-putus, apa dia sedang berfikir bagaimana penyampaian yang bagus agar membuat lawannya terintimidasi atau memang terlalu banyak yang Elga tau sampai dia sendiri bingung harus menyampaikannya seperti apa.
"Dan ibu lo.. adalah salah satu korbannya..." Elga menunjuk tepat ke arah wajah Naya, membuat gadis itu menelan ludah pahit-pahit begitu pun Jena. Sedangkan Dika hanya melirik mereka datar dari arah sana. Enggan untuk ikut berbicara, "lo berusaha balas dendam dengan cara ikut andil dalam kejahatan mereka, memberi mereka mayat dan menggagalkan semua eksperimen mereka. Dengan begitu, lo bisa menghancurkan mereka dari belakang."
Jena baru tersadar kalau kalimat Elga yang terputus-putus tadi hanyalah untuk memperlambat waktu, dan ya! Dia memberinya kesempatan untuk lolos dari borgol itu.
Benar, Jena berbohong, perihal tentang dirinya yang pingsan tadi hanyalah rekayasa, sewaktu di ruang tamu rumah gadis itu, Jena menyadari bahwa Naya akan membekapnya dengan sapu tangan yang sudah di taburkan melatonin, karena itu saat Naya benar-benar membekapnya, Jena tidak menghirup napas hingga sapu tangan itu terlepas dari indra penciumannya, sehingga ia tidak terkena pengaruh dari effect melatonin sedikit pun.
Tapi bagaimana pun ia tidak boleh membuat Naya curiga akan dirinya, oleh karena itu dia berpura-pura pingsan dan seolah telah terpengaruh bius. Dan ia pun menyadari jika borgol yang sekarang ini menyikat kedua tangan dan kakinya, tidak memiliki gembok, melainkan hanya borgol biasa.
Mungkin Naya pikir, Jena tidak akan bisa berpikir jernih ketika sudah sadar nanti. Namun kenyataannya tidak bisa sesederhana itu mengelabuhi orang pintar.
Setelah borgol itu terlepas, Jena tersenyum pada Elga yang terus mengintimidasi Naya, sekedar memberi ucapan trimakasih lewat tatapan mata, tapi di balik itu Dika sepertinya mendecih tidak suka karena Jena hanya melirik ke arah Elga saja. Dia bahkan seperti tidak menyadari kehadirannya sama sekali, persetanan dengan itu..jika saja Jena tidak dalam situasi bahaya, Dika tidak akan mau menyusul kesana.
Tidak mau gagal fokus karena Jena yang terus tersenyum padanya, Elga dengan cepatĀ memalingkan pandangannya lagi ke arah Naya, kemudian berspekulasi lagi karena gadis itu sedari tadi hanya memandangnya terheran-heran. "Sejak kematian ibu lo, lo saat itu udah mulai berpikiran buat jadi psikopatkan?" entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan, yang pasti Naya tak bisa menjawabnya hanya dengan sekali anggukan atau dengan kata 'ya', pasalnya..tidak sesederhana itu jika menyangkut tentang dendam atas kematian ibunya.
Yang ia pertanyakan kini hanyalah, "dari mana..lo tau..semua itu?"
To Be Continue...
__ADS_1
Hiyakk DETEKTIF ELGA BERAKSI :>