
Maya meninggalkan Dimas dan Safira mengobrol secara empat mata,dia memberikan mereka kesempatan untuk mengingat semua memori mereka beberapa tahun yang lalu.
"Dimas ibu pulang dulu,kamu mengobrol lah bersama Safira,tidak usah malu-malu." Ucap Maya dengan senyuman penuh arti.Dimas sebenarnya bingung dengan sikap ibunya yang membiarkan mereka dengan bebas.
"Apa ibu ingin kami bersama lagi?" Tanya dalam hati.
"Mas...Kamu apa kabar,sudah lama ya kita tidak bertemu kamu semakin tampan saja." Ucap Safira malu-malu.
"Seperti yang kamu lihat,sehat tanpa kekurangan apa pun.Terus kamu,apa kamu belum menikah?" Tanya Dimas.Safira tampak gugup ingin berbohong tentang putranya dia merasa tidak enak.
"Hmm...Aku sudah pernah menikah mas,tapi....Pernikahan ku gagal dan sekarang aku membesarkan anakku sendirian." Jawabnya dengan gugup.Dimas sedikit kecewa karena dia mengira kalau safira masih sendiri.
Lama sekali mereka mengobrol hingga tidak terasa hari sudah siang.Bagi Dimas Safira tetap seperti wanita tiga tahun yang lalu baik,lembut dan pengertian.
"Mas,aku akan pesankan makanan untuk kita!!"
"Tidak usah Safira,aku juga mau pulang!"
"Kenapa langsung pulang mas,takut ya sama istrinya." Ledek Safira membuat Dimas salah tingkah.
"Aah..Kamu bisa saja mana mungkin saya takut sama istri." Jawab Dimas dengan lembut.
Dimas keluar dari butik Safira dengan perasaan yang tidak dia mengerti.Setelah sampai di rumah dia tersenyum dan terlihat sangat bahagia.
"Cie...Ada yang senyum-senyum sendirian ini,ada apa mas?" Tanya Tuti yang baru saja keluar dari kamarnya setelah mendengar mendengar suara mobil abangnya sampai di rumah.
__ADS_1
Dimas memberi kode kepada Tuti seakan mengatakan kalau istrinya ada di sana dan memang saat itu Amira merasa aneh dengan sikap suaminya tapi sekarang dia tidak mau ambil pusing lagi,keputusannya sudah bulat untuk merantau ke Jakarta.
"Mas...Besok aku akan berangkat ke Jakarta tadi aku sudah menghubungi temanku yang ada disana." Ucap Amira.Dimas tampak diam sepertinya tidak ada lagi penolakan melihat wajahnya yang terlihat biasa saja.
"Ya sudah aku memberikan kamu ijin semoga kamu bisa mengumpulkan uang seperti yang kamu katakan aku akan menunggumu disini."Ucap Dimas.Amira tampak sangat bahagia walaupun sebenarnya di hatinya ada sedikit kejanggalan,tapi dia tidak peduli yang terpenting baginya dia bisa merantau dan merubah nasibnya.
Tuti dan ibunya tersenyum penuh kemenangan,mereka bahagia mendengar keputusan Dimas yang memberikan ijin kepada istrinya.
Keesokan harinya Dimas mengantar Amira ke terminal,sebenarnya perasaanya tidak enak membiarkan istrinya pergi tapi dia juga tidak tega terus menolak keinginan Amira,apalagi ibunya semakin hari semakin tidak menyukainya.
"Dek...Aku tidak ada uang untuk sekedar kamu membeli roti,kamu tau sendiri kalau mas belum gajian." Ucapnya.
"Tidak papa mas,jaga dirimu baik-baik doakan aku bisa mengumpulkan uang yang banyak agar nanti aku bisa membuka usaha." Ucap Amira lalu meninggalkan suaminya di luar dan masuk kedalam bus.
Amira merasa suaminya semakin tidak peduli dengannya bahkan di saat dia mau berangkat uang sepeser pun dia tidak kasih dan dia juga tidak bertanya apa pun tentang biayanya berangkat ke Jakarta.
Amira mengirim pesan kepada sahabatnya yang ada di Jakarta,sebenarnya dia sangat takut berangkat sendirian apalagi dia belum pernah sama sekali keluar dari desanya jantungnya selalu berdebar takut jika sesuatu terjadi kepada dirinya.
"Tenang..Amira kamu pasti baik-baik saja,ingat masa depanmu,suami yang menikahinya tidak bisa di harapkan dia hannya mengutamakan ke bahagian keluarganya dari pada kamu istrinya jadi tenang saja kamu pasti akan sukses." Ucapnya dalam hati dia berusaha untuk tenang sepanjang perjalanan.
Amira beberapa kali muntah,mungkin dia mabuk karena tidak biasa naik bus.Kepalanya juga sangat pusing tapi dia tidak berani tidur takut di tinggalkan mobil,padahal tidak mungkin dia di tinggalkan karena tujuannya lansung ke terminal.
Perjalan tiga jam akhirnya bus yang di tumpangi nya sampai di kota metropolitan.Amira keluar dari dalam bus matanya melihat setiap orang yang yang melewatinya.
"Hai sahabatku,kamu pasti mencari ku kan hahaha aku sengaja mengerjai mu supaya kamu takut." Ucap Putri yang sudah menunggunya dari satu jam yang lalu di terminal bus itu.
__ADS_1
"Kamu jahat banget sih,kamu kan tau aku belom pernah keluar dari kampung kenapa kamu harus menganggu ku." Ucapnya dengan wajah pura-pura cemberut.
Putri membantu Amira membawa tas tempat pakaiannya,lalu mereka berjalan keluar dari bus beberapa orang menawari mereka tumpangan tapi dengan tegas Putri menolaknya.
"Kamu pasti lapar aku,lebih baik kita makan terlebih dahulu."Putri membawa Amira masuk ke rumah makan yang tidak jauh dari tempat itu.
Mereka duduk dengan santai sambil menunggu pesanan datang, Amira menatap sahabatnya dengan saksama sudah banyak perubahan Putri setelah merantau kulitnya lebih bersih rambutnya juga indah mungkin karena dia sudah punya uang untuk membeli apa pun yang diinginkan.
"Kamu kenapa menatap aku seperti itu?"
"Kamu semakin cantik putri,berbeda jauh dariku,aku jadi malu sama kamu menikah tapi memiliki suami yang lebih mencintai keluarganya dan lupa menafkahi istrinya." Ucapnya menunduk malu.
Putri tersenyum kecil,semenjak menikah wajah Amira memang semakin kusam,tubuhnya juga semakin kurus,padahal dulu waktu masih sekolah walaupun dia menumpang di rumah tantenya tubuhnya masih lumayan berisi.
"Sudahlah kamu juga nanti kalau sudah bekerja silahkan kamu rawat kulit dan tubuhmu,kamu harus mencintai dirimu sendiri,tidak akan ada yang mencintai dirimu sendiri selain dirimu."Ucap Putri menasehati sahabatnya itu.
Mereka menikmati makanan yang ada di meja dengan sangat lahap.Amira yang jarang sekali makan makanan enak langsung melahapnya,membuat putri tersenyum.
"Pelan-pelan saja makannya tidak akan ada yang mengambil makanan mu.Amira kamu tau tidak kamu termasuk orang yang beruntung karena kamu sampai di kota ini kamu langsung dapat pekerjaan.Kamu bisa kan mengurus orang tua,calon majikan mu membayar mahal gaji untukmu yang penting kamu bisa mengurus ibunya yang sedang struk."
"Jadi pekerjaan ku mengurus orang tua yang struk?"
"Iya apa kamu mampu?"
"Aku akan berusaha mampu,aku akan melakukan apa pun yang terpenting aku bisa bekerja dengan baik dan menghasilkan uang." Jawab Amira dengan semangat.
__ADS_1
πππbersambung πππ