
Amira memberikan uang hasil jualannya kepada Safira,setelah itu perlahan membawa piring-piring kotor ke kamar mandi.Melihat Amira bekerja dengan perut buncitnya Maya membawa uang nya ke dalam rumah dan dia membantu Amira untuk mencuci piring.
"Safira biarkan kamu istrahat ibu akan melakukanya." Ucap Maya,Safira kaget mendengar ucapan mertuanya tapi dia pura-pura tenang seakan tidak ada yang terjadi di antara mereka berdua.
Dimas belum hilang kaget darinya,dia ingin bertanya tapi karena dia ingin berangkat kerja terpaksa dia membiarkan saja lalu pergi ke tempat kerjanya karena tidak ingin mendapat teguran karena terlambat.
Maya mencuci semua piring dengan senang hati tanpa ada tekanan dan paksaan,dia sudah sangat bersyukur melihat perubahan Safira dia tidak mau menyia-nyiakan itu apalagi kemarin Dimas berbicara begitu kejam kepadanya.
Setelah membereskan semua prianya dia menghampiri,Safira yang masih duduk di sopa,mungkin dia sangat kelelahan,bayangan dari jam empat pagi dia sudah bangun memasak semua jualannya dan menyiapkan nya ke depan rumah.
"Safira mari kita hitung uang hasil jualan mu ini!!"
"Ibu saja yang menghitung kaki ku kram Bu,aku sedikit kelelahan." Ucap Safira dengan wajah yang sedikit lemah.
"Mungkin kamu kelelahan,mulai besok bangunkan ibu untuk membantumu,kamu tidak bisa bekerja sendirian."Ucap Maya yang mulai menghitung untung satu-satu.
"baik Bu,makasih ya Bu,ibu sudah mau membantu Safira." Ucap Safira dengan tulus.Maya yang sibuk menghitung uang langsung menghentikan kegiatannya lalu dia menatap Safira dengan tatapan penuh arti.
"Safira ibu malu sama kamu,tidak seharunya aku bersikap egois selama ini,benar apa kata Dimas,aku yang membuat rumah tangganya hancur,tapi untuk saat ini aku tidak mau lagi kejadian itu terulang,aku ingin kamu dan Dimas bisa menjadi istri yang sesungguhnya,ajari ibu menjadi mertua yang baik untukmu dan juga menjadi nenek yang baik untuk calon cucuku."Ucap Maya.Dia beranjak dari tempat duduknya lalu memeluk tubuh Safira.
"Mama...Aku ingin makan,aku lapar." Tiba-tiba putra keluar dari kamarnya dan meminta makan untuk Safira.
__ADS_1
"Biarkan aku saja,kamu pasti sangat lelah." Ucap Maya lalu dia beranjak dari tempatnya.
"Tidak usah Bu,aku saja." Ucap Safira,dia begitu enggan saat Maya mau membuatkan makanan untuk Putra yang bukan keturunan keluarga itu.
Maya mengacuhkan Safira dia pergi ke belakang dan membuatkan makanan untuk Putra,Maya melakukannya dengan ikhlas.
Hubungan Maya dah Safira semakin dekat,dan setiap harinya mereka menggeluti usaha baru mereka dan sepertinya masakan Safira sangat enak hingga semakin hari warung makan mereka semakin ramai.
Dimas sangat bahagia dengan semua perubahan ibu dan istrinya,ternyata doa tulus dari Amira bisa merubah hidup mereka,Dimas sangat bersyukur untuk semua itu,sekarang dia baru yakin arti dari kata semua indah pada waktunya dia merasakan itu semua.
Sementara itu di rumah mewah milik Adam,Amira dan Adam sedang bersiap-siap untuk pergi ke butik dimana Adam dan Amira ingin memilih baju yang pas untuk mereka di hari spesial mereka berdua.
Adam sangat bahagia setelah Amira berhasil mendapatkan tanda tangan dari Dimas, mantan suaminya sekarang dia bebas untuk menikahi Amira sang wanita istimewa di hatinya.
Saat Adam dan Amira hendak keluar rumah,Jane dan Aaron keluar dari dalam kamar,biasnya mereka selalu mengurung diri di kamar Jane takut Adam mengusirnya kembali.
"Adam berikan aku uang,aku ingin membeli semua kebutuhan Adam...." Ucap Jane saat Amira dan Adam meninggalkan rumah.
Adam membalikkan tubuhnya lalu menatap Jane dan Aaron bergantian,melihat wajah Aaron yang ketakutan Adam menetralkan wajahnya dia teringat nasihat Amira.
"Kamu mau beli apa,aku akan belikan apa pun untukmu,atau kalua tidak kamu ikut denganku nanti aku beli semua yang kamu inginkan." Ucap Adam dengan wajah datar.
__ADS_1
Wajah Jane langsung berubah,padahal dia ingin meminta uang supaya dia bisa keluar dari rumah dan baja shoping karena dia sudah cukup bosan berada di rumah terus.
"Ayo kamu mau ikut atau tidak,kalau kamu mengingatkan sesuatu kamu bisa ikut denganku tapi kalau kamu tidak mau jangan harap aku akan memberikan uang kepada mu." Ucap Adam.Aaron menatap ibunya dengan wajah ketakutan padahal dia ingin sekali ikut bersama papanya.
"Kamu tidak perlu meminta ijin darinya,karena mulai saat ini aku yang akan memenuhi semua kebutuhan kamu,aku juga papa mu orang tua mu,mama mu sendiri yang memisahkan kita." Ucap Adam mulai mempengaruhi Aaron.
"Jangan dengarkan dia anakku,ibu yang sudah melahirkan kamu mati-matian,dia bukan orang baik,lihat dia malah bersama wanita lain sementara dia meningagakan mama."Ucap Jane dia juga tidak kalah emosi dan ingin menjelekkan Adam di mata Aaron.
"Kalian ini apaan sih,memangnya apa yang di mengerti anak umur lima tahun,kalian terlalu egois dan mengorbankan anak yang tidak berdosa ini,dan kamu juga ibu macam apa kamu yang mau memanfaatkan anak mu untuk memenuhi nafsu mu,kamu egois dan kamu tidak pantas menjadi seorang ibu." Ucap Amira dia mendekati Aaron lalu menggendongnya dan membawa Aaron keluar dari sana dan masuk ke dalam mobil saat supir sudah membuka pintu mobil.
Adam mengejar Amira dan Aaron yang sudah masuk ke dalam mobil,Amira duduk di belakang bersama Aaron.
"Amira maafkan aku." Ucap Adam dia juga masuk ke dalam mobil lalu mereka meninggalkan rumah mewah yang lebih drama di dalamnya.Sejak kedatangan Jane ke rumah ini,Adam merasa ketenangannya mulai terusik.
"Siapa nama kamu?" Tanya Adam kepada Aaron ini pertama kalinya mereka mengobrol lebih dekat.
"Aaron Sanjaya papa." Jawab Aaron,walaupun umurnya masih lima tahun dia sangat bijak dan pintar mungkin menurun dari Adam yang juga pintar.
"Hmm...Apa kamu mau tinggal sama papa kalau mama pergi?" Tanya Adam dengan perlahan.
"Aku mau papa,yang penting papa sayang sama aku dan mencintai aku." Jawab Aaron bijak.Adam senang mendengar jawaban Aaron berarti jika memang Aaron mau bersamanya dia bisa mengusir Jane kapan dia mau.
__ADS_1
Adam menatap lurus ke depan,timbul di pikirannya untuk menyuruh orang lain mengusir Jane dari rumahnya agar tidak ada alasan bagi Jane tetap tinggal di rumahnya.Sudah cukup beberapa Minggu dia tinggal di rumahnya dan sekarang dia tidak punya hak lagi tinggal di sana.
πππbersambung πππ