Di Khianati Suami Kere Di Nikahi Konglomerat

Di Khianati Suami Kere Di Nikahi Konglomerat
Bab 44 ~ Calon nyonya besar ~


__ADS_3

Amira berjalan menuju kamarnya,lalu dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang miliknya,dari awal Amira sedikit merasa aneh dengan majikannya itu,dari sikap dan tatapannya bahkan beberapa kali dia memberikan hadiah mahal untuknya.


Dia tidak menyangka kalau Adam memiliki perasaan yang begitu dalam kepadanya,apalagi dia juga jarang melihat Adam menyapa para pelayan lain,sementara dirinya banyak sapaan dan juga kepo tentang hidupnya.


Adam berjalan menuju meja makan, dia memanggil seluruh pelayan dan juga tukang kebun serta penjaga rumah,dia mengumpulkan mereka semua di ruang dapur.


"Selamat pagi tuan ada apa tuan menyuruh kami berkumpul?" Tanya tukang kebun,dia yang datang hannya memakai celana pendek dan sepatu kerja.


"Terima kasih untuk kalian semua yang sudah hadir di ruangan ini,aku minta maaf karena sudah menganggu pekerjaan kalian,hari ini aku ingin mengumumkan,hal yang penting untuk kalian,aku rasa sebagian dari kalian sudah menyadarinya dan ada juga mungkin yang sudah curiga." Ucap Adam dia menghentikan ucapannya


"Mengumumkan tentang apa tuan?" Mereka semua terlihat tidak sabar menunggu pengumuman dari majikannya.Setelah kehadiran Amira di rumah itu memang banyak sekali perubahan Adam,dia semakin terbuka dan sikap pemarahnya juga sudah hilang.


"Hari ini aku mengumumkan kalau Amira,sudah resmi menjadi calon nyonya besar di rumah ini,kalian harus menghormatinya seperti kalian menghormati aku.Kalian mengerti saya rasa kalian sudah mengerti karena selama ini aku memperlakukannya dengan berbeda." Ucap Adam.


"Syukurlah tuan,selamat ya tuan akhirnya tuan menemukan orang yang tepat untuk mendampingi tuan." Ucap Seorang pelayan.


Semua pelayan tampak bahagia mendengar pengumuman itu,mereka juga senang karena Amira juga bukan tipe orang yang sombong,mereka sangat yakin Amira akan tetap menjadi orang baik jika sudah menjadi nyonya.


Semua pelayan memberikan ucapan selamat terhadap Adam,bahkan mereka menyalami Adam dengan penuh haru.


"Baiklah karena kalian sudah baik,aku akan memberikan bonus untuk kalian bulan ini silahkan di nikmati." Ucap Adam lalu dia segera beranjak dari tempat duduknya.


"Satu lagi,kalian tidak perlu melakukan apa pun yang disuruh wanita itu,abaikan apa pun yang dia katakan." Ucap Adam sebelum meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Jane dan Amira tidak tau apa pun tentang pertemuan yang dilakukan oleh Adam dan para pelayan,Jane keluar dari dalam kamarnya lalu dia pergi ke meja makan, dia ingin memberi makan Aaron.


Jane dan Aaron duduk di meja makan,Jane kesal saat tidak melihat makanan apa pun di meja dan semua pelayan sibuk dengan pekerjaannya dan mengabaikan dirinya dan juga putranya.


"Apa yang kalian lakukan dari tadi hingga tidak ada makanan apa pun dimeja,kalian tidak tau kalau Aaron anak Adam Sanjaya,dia Itu Aaron Sanjaya kalian harus melayaninya juga." Ucap Jane dia membanting piring yang ada di mejanya.


"Ma..Aku sudah lapar aku ingin makan."


Aaron merintih menahan lapar,karena hari sudah mulai siang tadi belom ada makanan apa pun yang bisa di makan membuat Jane berang dan marah.


"Maaf...Tuan Adam mengatakan kalau kami tidak perlu melakukan apa pun untuk kalian,jadi kalau anak kamu lapar silahkan masak sendiri."


"Lancang kamu ya,kamu itu babu,seharunya kamu menuruti apa pun yang dikatakan tuan muda,mu aku memang bukan istrinya lagi tapi Aaron ini anaknya dan juga darah dagingnya jadi dia harus bertanggung jawab atas anaknya." Ucap Jane dengan perasaan kesal.


Dia ingin menjambak rambut pelayan itu,tapi dia tidak melakukannya karena dia harus menjaga sikapnya jika dia ingin kembali seperti dulu.Apalagi Aaron sudah merintih terus minta makanan.


Sementara itu Adam sudah selesai ganti pakaian,dia mengetuk pintu kamar Amira beberapa kali hingga Amira keluar dan ternyata dia belum bersiap-siap.


"Kamu kenapa belum beres-beres,kamu ini cepat aku menunggu mu di ruang tamu." Ucapnya sambil berjalan meninggalkan ruang tamu.


Adam duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya, dia mendengar suara ribut dari dapur,dia jelas tau kalau itu suara Jane yang sedang marah mungkin karena anaknya tidak makan sesuai keinginannya.


"Kapan mereka keluar dari rumah ini,aku takut wanita itu menghasut Amira atau berbuat sesuatu yang tidak sesuai keinginannya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Amira keluar dari dalam kamar dengan penampilan yang sangat jauh dari selera Adam.


"Hmm..Aku sangat tidak menyukai penampilan kamu,mulai hari ini kamu harus belajar menjadi seorang nyonya bagaimana agar kamu layak jam kita mengadakan pertemuan di luar sana,kamu harus bisa dan akan banyak mata melihat mu dari sekarang kamu harus belajar menjaga penampilan,pria yang melamar mu bukan pria sembarangan." Ucap Adam lalu dia memegang tangan Amira dan mereka pergi dari sana tepat Jane dan Aaron keluar dari dapur.


"Ma....Siapa wanita yang di samping papa,aku tidak mau ma punya orang tua yang broken home mama harus bisa mendapatkan papa kembali."Ucap Aaron,dengan tatapan tidak suka terhadap Amira.


"Tenang sayang,aku akan mendapatkan papamu kembali,dia hannya ulat bulu yang ingin mendekati papamu,kamu juga harus bantu mama untuk mendapatkan papa mu kembali." Ucap Jane dengan wajah yang penuh kejahatan.


"Bibi...Siapa wanita yang sedang bersama tuan Adam?"


"Oohh itu Amira..Calon istri tuan Adam,dia wanita yang sederhana dan baik rencananya mereka menikah dalam waktu dekat ini."Jawab pelayan dengan wajah senyum merendahkan lalu pergi dari tempat itu.


*****


Dimas baru saja pulang dari tempat kerjanya,dia pulang diam-diam ke rumah karena dia ingin melihat apa saja yang di lakukan Safira untuk keluarganya.


Safira sedang tiduran di lantai sambil menonton dan makan cemilan,dia menyuruh mertua dan adik iparnya untuk membersikan semua pakaian kotor mereka dan memberikan rumahnya.


Sudah beberapa Minggu mereka tinggal di Jakarta,Dimas baru saja mendapat pekerjaan di sebuah bengkel besar.


"Ma...Ambilkan aku air minum,aku haus sekali." Safira menyuruh mertuanya tampa memikirkan sopan santun dan etika lagi di hadapan mertuanya.


"Kamu ambil sendiri,kamu pikir aku ini pelayan mu,enak sekali kamu tinggal suruh_

__ADS_1


"Apa ibu tidak melihat perutku besar,wajar dong aku menyuruh ibu,untuk bergerak saja aku sudah susah,cepat ambilkan jangan sampai aku tidak memberikan kalian makan siang nanti." Ucap Safira tampa peduli tatapan Tuti yang seakan ingin membunuh.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—bersambung πŸ’—πŸ’—πŸ’—


__ADS_2