
Amira berlari kecil masuk kedalam kamarnya,setelah itu dia mengangkat ponselnya.Amira sangat kecewa karena semua kata-kata majikannya benar adanya sedikit pun tidak melenceng.
"Kenapa kamu berbicara dengan suami mu,kamu memang wanita yang sangat bodoh,bagaimana bisa kamu terus menerus mengirim uang untuk suami mu,sementara kamu tidak tau apa yang dilakukan suami di kampung sana."Ucap Adam yang sudah berdiri didepan pintu kamarnya.
Amira menoleh ke depan pintu ternyata Adam sudah membawa ibunya masuk kedalam kamarnya.
"Maaf tuan,aku sangat hapal dengan suamiku,dia tidak mungkin mengecewakan aku,dia meminta uang tersu menerus itu karena dia sedang kesulitan uang." Jawab Amira.Dia keluar dari kamar dan pergi ke belakang.
Di taman belakang,Amira duduk sambil merenungkan semua kata-kata majikannya.Amira sebenarnya merasa aneh dengan sikap majikannya yang selalu menuduh suaminya yang tidak baik.
"Apa benar mas Dimas selingkuh,bagaimana kalau aku pulang saja,aku cuti untuk beberapa hari ini,rasanya aku juga curiga dengan suamiku,apalagi beberapa hari yang lalu aku mendengar suara wanita." Ucapnya dalam hati.
Amira masuk ke dalam rumah dan menemui Adam yang sedang bermain ponselnya sudah dua hari ini dia tidak masuk kantor karena moodnya yang buruk.
Moodnya buruk karena hasratnya terhadap Amira semakin hari semakin membara tapi dia sama sekali tidak bisa melampiaskan keinginannya itu.
"Selamat siang tuan,aku ingin mengajukan cuti tuan untuk beberapa hari ini." Ucap Amira saat dia sudah sampai di ruang tamu.
"Hmm...Pulang lah dan lihat suami mu yang sudah menikah dengan wanita lain."Ucap Adam dengan nada santai.Amira sangat kaget mendengar ucapan majikannya.
"Apa maksud tuan,siapa yang menikah...Jangan berbicara dengan sembarangan,suamiku tidak mungkin melakukan itu,jangan bicara sembarangan." Ucap Amira dengan nada tidak beraturan.
Jantungnya berdebar hebat dan dadanya menahan amarah yang sangat besar,dia tidak tau harus emosi kepada siapa hari ini.
__ADS_1
"Aku tidak bicara sembarangan,aku hannya bicara yang sebenarnya,makanya aku suruh kamu pulang agar kamu tau yang sebenarnya."Jawab Dimas masih dengan posisi santai.
Amira meninggalkan Adam,dia tidak percaya dengan semua kata-kata majikannya dan baginya itu hannya kebohongan majikannya karena tidak ingin dia pergi dari rumah itu.
"Licik sekali tuan Adam,jika dia tidak suka aku pergi seharunya,dia tidak usah menjelekkan nama suami ku,aku yang paling tau siapa suamiku dari pada dia yang belum kenal sama sekali." Omelnya.Dia berusaha menenangkan hatinya walaupun sebenarnya jauh di lubuk hatinya dia merasa cemas dan gelisah.
Amira membatalkan niatnya untuk cuti,dia sudah tidak mood berbicara kepada majikanya yang terlalu mengurusi kehidupan pribadinya.
****
Dimas baru saja pulang dari ATM,wajahnya tidak ceria seperti biasanya karena dia tidak mendapat kiriman dari Amira,dia enggan pulang ke rumah istrinya karena dia takut memberi tahu Safira kalau Amira tidak memberikan permintaannya.
"Kenapa kamu pulang ke rumah ini? kamu ribut lagi dengan istri mu yang durhaka itu,kamu dan dia sama-sama durhaka." Sungut Maya yang baru saja selesai mencuci pakaian.
"Sudahlah bu,bukankah Safira sedang mengandung cucu ibu,seharunya ibu memberikan dukungan untukku Bu."
Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kasar lalu dia masuk kedalam kamarnya,semakin hari dia merasa hidupnya bagai di neraka,istri dan ibunya membuat kepalanya hampir pecah.
Tidak ingin mendengar ocehan ibunya lagi,Dimas akhirnya pulang ke rumah istrinya pada saat dia sampai di halaman butik istrinya dia begitu kaget saat tiga orang pria bertubuh besar membuat keributan disana.
"Cepat bayar utang mu,jangan sampai semua pakaian busuk ini aku hancurkan." Ucap salah seorang pria lalu membanting patung yang sedang berdiri di hadapannya.
"Maaf tuan,aku belum punya uang sama sekali,nanti kalau aku punya uang aku akan segera membayarnya " Ucap Safira dengan tubuh yang gemetaran.
__ADS_1
Dimas menghampiri mereka dia tidak tau apa yang terjadi hingga beberapa pria membuat Keributan disana.
"Ada apa ini?"
"Kamu siapa?"
"Saya suaminya ada apa memangnya,kenapa kalian membuat keributan di rumah saya."
"Ooohh.. Kamu suaminya,bung istrimu memiliki hutang kepada bos ku,sebanyak dua pulu juta,dia sudah tidak mencicilnya sudah lebih dari tiga bulan,sekarang tolong kamu bayar..."
"Apa hutang....Untuk apa kamu hutang sebanyak itu,maaf ya aku tidak mau membayar hutangnya,dia yang meminjam biarkan dia yang membayarnya."Ucap Dimas dia mengabaikan ketiga pria itu lalu dia masuk kedalam kamarnya.
Setelah beberapa saat dia mendengar mobil para pria itu meninggalkan tokonya,dia lalu keluar dan menemui istrinya yang terlhat duduk di ruang tamu.
"Untuk apa kamu meminjam uang sebanyak itu,kamu sudah gila,bagaimana kamu akan membayarnya,luar biasa kamu jadi istri,aku benar-benar menyesal menikah dengan kamu...Benar kata ibuku kamu bukan wanita yang baik.Setiap bulan semua gaji ku kamu ambil sekarang kamu punya hutang juga..." Ucap Dimas dengan nada penuh rasa kecewa.
Dimas marah,kecewa dan menyesal sudah memilih Safira,dan sekarang dia ingin cerai pun sudah tidak bisa karena keadaan Safira yang mengandung anaknya.
"Aku sudah muak,untuk sementara aku ingin ke Jakarta menemui istri sah ku,aku sangat berdosa sudah mengkhianati wanita sebaik dan setulus dirinya." Ucap Dimas.
"Kamu ingin pergi,kalau memang dia lebih baik dari aku kenapa kamu menikahi ku,kalau kamu pergi aku juga ikut,aku tidak mau berpisah dari kamu_.
"Sepertinya otak mu sudah mulai gila,aku tidak bercerai dari Amira hannya karena wanita seperri kamu jangan coba-coba merusak hubungan kami.Jika kamu melahirkan secepat mungkin aku akan menceraikan kamu." Ucap Dimas
__ADS_1
Sekarang dia baru percaya apa yang dikatakan orang-orang ada benarnya,penyesalan selalu datang terlambat dan dia juga tidak yakin Amira memaafkan dirinya kalau sampai dia tau dirinya sudah menikah.
πππbersambung πππ