Di Khianati Suami Kere Di Nikahi Konglomerat

Di Khianati Suami Kere Di Nikahi Konglomerat
Bab 38 ~ Kabur ~


__ADS_3

Safira sudah tidak mampu menjalankan bisnis butiknya,karena semakin hari barang-barangnya semakin habis sementara uang hasil penjualan juga tidak terlihat,semua habis dia pakai untuk membayar hutang yang semakin menumpuk dan juga biaya hidup setiap harinya.


Setelan menyusun semua pakaian yang tersisa kedalam kardus dan goni dia duduk di atas sopa,dia mengambil ponselnya yang tidak ada notif sama sekali.


"Kemana sih mas Dimas,sudah jam segini belum juga sampai,jangan-jangan dia betah dengan istri pertamanya." Ucapnya dalam hati.Dia menghubungi nomor Dimas tapi tidak bisa di hubungi sama sekali.


Pada saat itu,pintu butiknya di dorong oleh orang dari luar ternyata mertua dan adik iparnya.Ini pertama mereka bertemu sejak Keributan beberapa bulan yang lalu.


Maya cukup kaget melihat isi butik menantunya yang sudah kosong,dia tersenyum kecil melihat pemandangan itu,dulu dia terlalu naif memaksakan Dimas menikah dengan Safira ternyata sekarang dia baru sadar Safira tidak lebih baik dari Amira bahkan sepertinya jauh lebih buruk.


"Kenapa butik mu sudah kosong,kamu sudah bangkrut,aku sangat menyesal menyuruh anakku menikah dengan wanita sepertimu,bahkan mengembangkan toko yang sudah ada saja kamu tidak mampu,sekarang aku baru sadar kalau Amira jauh lebih baik dari pada kamu." Ucap Maya dengan nada merendahkan dan senyum menghina di bibirnya.


Mendengar nama Amira sontak amarah Safira naik,dia tidak sudi di bandingkan dengan babu seperti Amira,baginya dirinya jauh di atas Amira.


"Kalau ibu merasa dia lebih baik,kenapa ibu tidak menemaninya pergi ke Jakarta disana kalian bisa bekerja menjadi babu sama-sama." Ucap Safira ketus.Maya membelalakkan matanya mendengar kata yang diucapkan Safira menantu keduanya.


"Kamu.....Dasar menantu tidak ada etika,bisa-bisanya kamu bicara seperti itu kepada ku." Ucap Maya dia mengelus dadanya yang terasa sedikit sakit.


"Terus aku harus ngomong apa lagi,kalau memang menurut ibu dia wanita yang baik silahkan pilih dia dan tinggal bersamanya,aku tidak sudi tinggal dengan mertua seperti mu." Maki Safira.


"Safira....Kamu jangan keterlaluan ya,aku akan menghajar mu kalau kamu bersikap tidak sopan lagi terhadap ibuku." Ucap Tuti yang ikut bersama ibunya.


"Oohh silahkan,kamu pikir aku takut dengan ancaman kamu,tidak biar tau kamu,sekarang kalian berdua pergi bersama wanita itu jika memang itu yang terbaik." Tuti tidak tahan lagi mendengar semua kata-kata kasar Safira dia mendekati Safira lalu menjambak rambut Safira dan memukul kepalanya ke dinding.

__ADS_1


Safira kaget bukan main,dia mengira Tuti tidak berani melakukan itu untuknya,merasa harga dirinya yang di injak-injak Safira mengambil sapu yang tidak jauh darinya lalu memukul lengan Tuti dengan kasar hingga Tuti mengerang kesakitan.


Keributan di rumah itu tidak bisa dihindari lagi,melihat anaknya di pukul dengan kasar membuat Maya semakin berang hampir saja dia memukul balik Safira,tapi saat itu Dimas membuka pintu butik.


"Apa yang kalian lakukan disini,terus kenapa wajahmu seperti kesakitan."


"Dia jatuh barusan mas,dia tidak memperhatikan jalannya jadi dia jatuh.Mas bagaimana apa kamu sukses mendapat uang dari istrimu?"


Mendengar pertanyaan Safira sontak Maya kaget.


"Apa maksudnya ini Dimas? jelaskan Padaku apa maksud istrimu yang durhaka ini? jangan-jangan selama ini kamu selalu meminta uang untuk istrimu?" Tanya Maya dengan wajah yang penasaran bercampur emosi.


Dia sangat marah kepada Safira karena sudah berani memanfaatkan anaknya demi meminta uang kepada menantu sahnya.


Barusan dia menerima pesan dari bosnya kalau dia dipecat dari pekerjaannya karena sudah terlalu sering libur,hal itu membuat Dimas semakin pusing dan emosi.


"Terus bagaimana dengan nasib kita mas?"


Maya dan Tuti semakin pusing,dia merasa Safira dan Dimas sudah memiliki kerja sama untuk memanfaatkan menantunya.sementara itu Dimas merasa takut untuk memberi tahu ibunya kalau dia sudah dipecat dari pekerjaannya.


"Bu...lebih baik kalian pulang,nanti aku akan datang ke rumah pikiranku sedang pusing saat ini aku mau istrahat untuk saat ini." Ucap Dimas.Dia tidak ingin orang tuanya tau tentang masalah pekerjaannya dia belum siap jika ibunya memaki atau bahkan pingsan mendengar kabar itu.


"Benar ya datang nanti kamu ibu akan masak ikan enak untukmu." Jawab ibunya lalu dia pergi bersama Tuti.

__ADS_1


"Kenapa kepala mu sampai biru begini kamu jatuh?"


"Tidak mas, tadi aku tidak sengaja menabrak dinding,mas aku ingin cerita sama kamu,mungkin kita harus melakukan ini!!" Ucap Safira.Dia tidak berani mengadu tentang keributannya barusan dengan mertua dan iparnya.


"Aku juga ada yang ingin aku katakan,kepalaku sedang sangat pusing saat ini,rasanya kepalaku ingin pecah saja."


"Kenapa memang mas, katakan apa yang terjadi."


"Aku sudah dipecat dari pekerjaanku,kepalaku pusing memikirkan semua ini,aku gagal mendapat uang dari Amira dan yang ada aku malah di pecat." Ucap Dimas.


Safira biasa saja,baginya itu hal yang sangat baik karena dengan begitu tidak ada alasan bagi Dimas untuk menolak rencananya.


"Safira...Kenapa kamu biasa saja,aku sedang sangat pusing memikirkan semua ini,bagaimana kita melanjutkan hidup ke depannya lagi?Tanya Dimas dia meneguk semua minuman yang ada di gelasnya setelah itu dia menghela napas berat.


"Mas...Aku baru saja meminjam uang yang banyak dari rentenir dengan jaminan rumah dan butik ini,aku memberikan surat-surat Poto kopi untuk mengelabuinya,bagaimana kalau besok kita pindah ke Jakarta dan memulai hidup baru di sana,lagian disini juga kamu tidak akan bisa bekerja lagi."


"Apa.....,kenapa kamu melakukan itu Safira kamu ingin masuk penjara bukan kah rumah ini sudah kamu jaminkan ke bank,bagaimana bisa kamu menipu para rentenir hebat itu,...Aku takut Safira." Ucap Dimas.


Kali ini dia benar-benar ketakutan dan juga kebingungan,dia sangat tidak percaya kalau Safira sanggup menipu orang dengan sangat berani.


"Sudahlah mas,kamu tidak perlu takut,yang aku minta kita segera meninggakan desa ini dan memulai hidup baru di jakarta." Dimas tampak bingung dan ragu-ragu sekilas dia berfikir kalau dia tidak ikut Safira dia takut kehilangan calon anaknya kalau dia ikut dia takut suatu saat mereka tertangkap tentu saja dia akan kena juga.


" Aku sudah menyusun semua pakaian yang belum terjual,kalau bisa malam ini juga kita berangkat."

__ADS_1


πŸ’—πŸ’—πŸ’—bersambung πŸ’—πŸ’—πŸ’—


__ADS_2