Di Khianati Suami Kere Di Nikahi Konglomerat

Di Khianati Suami Kere Di Nikahi Konglomerat
Bab 30 ~ Mulai menyesal ~


__ADS_3

Keesokan harinya Amira mengirim uang sesuai permintaan Dimas.Mendapat pesan dari istrinya Dimas memang senang untuk sesaat tapi dalam hatinya dia kembali menyesali perbuatanya.


Dimas mengambil uang dari ATM lalu memberikan semuanya kepada ibunya,dia menghela napas berat karena tidak punya uang pegangan sedikit pun,Safira mengambil seluruh gajinya bulan ini.


Baru di bulan pertama Safira sah menjadi istrinya gajinya sudah dipegangnya semua,membuat Dimas merasa sesak napas.Menikah lama dengan Amira sekali pun Amira tidak berani mengungkit masalah gajinya.


Setelah memberikan uang kepada ibunya,Dimas kembali ke rumah istrinya,di rumah orang tuanya dia tidak menemukan makanan apa pun.


"Kamu sudah pulang mas?"


"Iya aku sudah lapar sekali,buatkan aku makanan." Ucap Dimas sambil berjalan ke dapur lalu membuka tudung saji hasilnya dia tidak menemukan apa pun di meja makan.


"Kamu belum masak Safira?"


"Belum mas,hari ini putra sedikit panas jadi aku mengurusnya." Jawab Safira.Mendengar jawaban istrinya tentu saja membuat Dimas naik pitam.Matanya tiba-tiba tertuju pada keranjang sampah,disana dia melihat bungkus makanan dari luar.


"Safira....Kamu keterlaluan sekali jadi istri, bagaimana bisa kamu tidak menyiapkan makanan untuk suami mu sementara kamu makam enak-enak diluar sana,kamu pikir aku ini apa....Hah...Kamu pikir aku babu mu,menafkahi anak haram mu itu....Dasar ****** kamu..." Ucap Dimas dengan sangat emosi.


Wajahnya merah padam,dan dadanya naik turun menahan amarah yang sudah dipendamnya dari kemarin sejak dia mengambil semua gaji miliknya.Dia semakin emosi saat melihat tidak ada makanan sama sekali dimeja tapi dia melihat bekas sampah makanan istri dan anak tirinya di tempat sampah.


"Apaan sih mas,hannya karena kamu lapar kamu sampai mengatai ku ******,kamu keterlaluan mas,aku tidak menyangka kamu sekejam itu padaku,kalau masalah makanan aku bisa masak kalau kamu tidak suka aku bisa beli kenapa harus memaki ku dan juga anakku." Ucap Safira,air mata mulai menetes di wajahnya untuk mencari simpati dari suaminya tapi sayang Dimas sudah terlanjur emosi.


Dimas mengabaikan tangis sandiwara istrinya,dia meninggalkan Safira di dapur lalu dia pergi ke depan dan menonton televisi.Keadaan seperti ini membuat Dimas semakin merindukan Amira,sepanjang pernikahan mereka sekali pun Amira tidak pernah membuatnya marah atau kesal bahkan istrinya terus menuruti keinginannya,nyatanya dia yang sering membuat Amira menangis karena ibunya yang begitu kejam kepadanya.

__ADS_1


Dimas beranjak dari ruang tamu lalu dia pergi kedalam kamar dia mengambil ponselnya dan menghubungi Amira,malam ini dia benar-benar merindukannya.


Beberapa kali Dimas menghubungi Amira,tapi tidak ada respon membuatnya semakin galau,andai saja dia tidak keburu nafsu mungkin dia tidak akan mengalami hal pahit seperti ini.


"Sayang... Aku sudah menyiapkan makanan untukmu," Ucap Amira saat dia membuka pintu dan melihat Dimas sedang selonjoran di atas ranjang panas milik mereka.


Dimas mengabaiakan kata-kata Safira,dia beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju dapur.Dia melihat masakan yang sederhana tempe dan tahu goreng ditambah sambal dan sayur bening.


Dimas kembali menghela napas panjang melihat menu di atas meja,dia kesal bukan karena makanan sederhana itu,tapi dia kesal karena Safira tega membawa anaknya makan enak tampa mengingat dirinya yang sudah memberikan seluruh gaji untuknya bahkan dia tega membohongi istrinya demi dirinya.


"Mas kamu mau kopi?"


"Aku bisa buat sendiri,kamu tidak cari perhatian untukku,aku terlanjur kecewa sama kamu,ingat ya aku bisa menceraikan kamu dengan mudah,jika kamu terus mengecewakan aku." Ucap Dimas ketus lalu dia kembali makan.


"Terus mau kamu apa mas,kamu mau cerai silahkan,aku akan terima tapi ingat aku akan memberi tahu istrimu kalau kamu sudah menikah lagi dengan ku." Jawab Safira tidak mau kalah membuat Dimas semakin emosi.


Dimas membanting piring yang ada dimeja lalu menatap Safira dengan sinis,tidak lama kemudian dia mencengkram dagu Safira dengan kasar dan menatapnya dengan sinis.


"Sekali saja kamu berani buka mulut aku pastikan kamu menyesal seumur hidupmu," Ancam Dimas lalu dia pergi dari dapur dan keluar dari butik.


Safira sangat kaget saat Dimas hampir melakukan kekerasan kepadanya,dia tidak menyangka pria yang baru menikahinya itu memilki sifat yang buruk.


"Dasar anak sama ibu sama saja,sama-sama Arongan.Kalau saja aku tidak ada utang aku juga tidak mau menjadi istri siri mu." Ujarnya.

__ADS_1


*****


Tidak terasa enam bulan sudah Amira tinggal di rumah mewah milik majikannya yang memperlakukan dia sangat baik.Selama enam bulan itu juga Amira rutin mengirim uang kepada suaminya,dia begitu percaya kepada Dimas yang selalu meminta uang kepadanya.


Amira tidak pernah curiga sedikit pun, kepada suaminya walaupun adam sudah mengingatkan dia beberapa kali untuk tidak mengirim uang kepada suaminya.


Sementara itu Safira sudah hamil dua bulan,sikapnya semakin kasar dan semena-mena kepada mertua dan adik iparnya,tapi Dimas tidak bisa memarahinya apalagi saat ini Safira sedang hamil anaknya.


"Sayang...Kamu minta uang lagi dong sama istri kamu,aku ingin beli perhiasan baru,yang lama mau aku jual." Ucap Safira pada malam hari saat mereka baru saja melakukan Sunnah.


"Aku baru minta uang sayang,satu Minggu yang lalu,kamu kan tau aku meminta uang setiap bulan untuknya,sekarang kamu tau sendiri kalau ibuku Amira yang membiayainya,aku membohongi Amira,mengatakan kalau aku sudah tidak kerja,makanya dia mau kasih uang setiap aku minta."Tolak Dimas,dia sudah merasa takut meminta lagi karena sepanjang bulan ini dia sudah meminta tiga kali.


"Aku tidak mau tau,sekarang kamu hubungi dia,dan minta uang kepadanya kamu mau anak kamu lahir tidak sehat gara-gara keinginan ku tidak terkabul." Safira mengancam balik Dimas hingga Dimas tidak bisa berkutik.


Safira selalu membawa-bawa janin dalam kandungannya untuk mengancam Dimas dan setelah itu tentu saja Dimas menuruti segala keinginannya.


Sementara itu,Amira sedang menemani majikannya Elisabet menonton di ruang tamu,perkembangan kesehatan majikanya semakin terlihat sekarang dia tidak menggunakan kursi roda lagi,dan dia juga sudah bicara walau kata-katanya belum jelas.


Drtt...drttt....


"Angkat...Suami mu pasti ingin minta uang lagi,aku heran dengan wanita bodoh sepertimu,bagaimana bisa kamu begitu bodoh." Ucap Adam dengan nada penuh penekanan.


Amira pamit dari sana lalu dia mengangkat ponselnya di dalam kamarnya.

__ADS_1


πŸ’—πŸ’—πŸ’—bersambung πŸ’—πŸ’—πŸ’—


__ADS_2