Di Khianati Suami Kere Di Nikahi Konglomerat

Di Khianati Suami Kere Di Nikahi Konglomerat
bab 39 ~ Kehidupan yang berantakan ~


__ADS_3

Dimas bingung harus bagaimana,di satu sisi dia tidak mungkin membiarkan Safira pergi membawa anaknya,apalagi dia sekarang sudah tidak punya pekerjaan.Disisi lain dia tidak mungkin meninggalkan ibu dan adiknya di desa sementara selama ini mereka hidup hannya mengandalkan diri sendiri.


Sementara papanya sudah lama tidak pernah kembali,sebelumnya hubungan ibu dan ayahnya memang kurang baik,mungkin itu yang membuat ayahnya tidak pernah kembali.


"Safira aku akan ikut bersama mu kalau kamu mengijinkan ibu dan adikku ikut bersama kita,aku tidak tega meninggalkan mereka di desa ini,makan apa mereka jika tidak ada aku,kamu tau sendiri ibu hannya mengandalkan aku sendiri." Ucap Dimas.Safira tampak berfikir berat rasanya mengijinkan ibu dan iparnya ikut bersama mereka,tentunya biayai hidup mereka akan semakin besar nantinya apalagi sebentar lagi dia akan melahirkan.


"Ya sudah lah,lagian sebentar lagi aku butuh tenaga mereka untuk melayani ku saat melahirkan nanti." Ucapnya dalam hati.


"Ya sudah mas,bawa saja mereka." Jawab Safira.Malam itu juga Dimas pergi menemui ibunya,dengan terpaksa dia menceritakan semuanya.Sebenarnya Maya dan anak perempuannya ragu-ragu ikut Dimas ke kota tapi karena paksaan dan ancaman Dimas dengan terpaksa mereka mengikuti Dimas juga.


Malam itu juga mereka semua meninggalkan desa,mereka menyewa sebuah mobil pickup,untuk dibawa ke kota,mereka membawa begitu banyak barang-barang.


Mereka sampai di kota hari hampir pagi,untuk sementara mereka menginap di penginapan yang murah menunggu esok pagi sebelum mereka mencari rumah untuk mereka tinggali.


Keesokan Maya bangun pagi-pagi dia membangunkan semua orang,mereka sengaja tinggal satu kamar untuk menghemat biaya.


"Dimas bangun,di luar sudah siang,apa kalian tidak membeli sarapan untuk kita." Ucap Maya.Dia masih kesal dan belum ikhlas meninggalkan kampungnya,tapi karena Dimas memaksanya kemarin terpaksa mereka ikut juga.


"Sayang bangunlah,minta uang beli sarapan ibu sudah lapar." Ucap Dimas sambil membangunkan Safira yang pura-pura tidur,rasanya dia tidak ikhlas memberikan uang untuk mertua dan adik iparnya.


Dengan terpaksa Safira mengambil uang dari dalam tasnya,lalu dia memberikan uang tiga puluh ribu untuk Dimas.

__ADS_1


"Uang segini mana cukup Safira,kamu tidak lihat kita berapa orang,kamu pelit banget nanti juga kalau aku sudah kerja aku akan berikan uang untukmu." Ucap Dimas dengan wajah yang tidak senang.Rasanya sebagai pria harga dirinya sangat terluka saat Safira memperlakukan dia seperti anak kecil.


"Mas kita harus hemat,lagian kamu minta saja uang sama ibu dan adikmu masak harus aku yang bayar untuk makan mereka juga."


"Safira....." Dimas menatap Safira dengan tatapan tidak senang,dia mengembalikan uang tiga puluh ribu untuk Safira.


"Ambil uang mu, sepertinya aku akan menyesal karena sudah jatuh ke tangan wanita seperti mu,bagaimana bisa kamu bicara seperti itu tentang ibuku,dia ibuku berarti dia ibumu juga,kenapa kamu berbicara seperti itu?" Safira mengambil uang lima puluh ribu lalu dia berikan kepada Dimas.


"Sudahlah jangan ceramah aku tidak suka,lebih baik kamu ambil uang ini dan segera beli nasi,aku dan anakku sudah lapar." Ucap Safira dengan wajah masam.


"Kalau begini terus,bisa-bisa kau bangkrut gara-gara kedua manusia ini,belum lagi kedua anaknya yang sangat rakus." Ucap Safira dalam hati sambil menatap mereka dengan tatapan jijik.


Setelah Dimas meninggakan kamar,Safira kembali rebahan, dia enggan untuk melakukan apa pun.


"Safira,kamu harus menjaga sikap kamu ya,berani sekali kamu menyuruh Tuti,lagian dia bukan pembantu mu ya,kamu saja yang melakukanya kamu itu menantu kamu harus menghargai keluarga dari suami mu." Sungut Maya dengan wajah kesal.


" Eeehh ibu dengar ya...Kalian berdua dengar, aku setuju membawa kalian kesini bukan karena aku menghargai kalian,tapi itu karena aku sebentar lagi melahirkan jadi aku butuh orang yang bisa aku suruh nantinya.Enak saja kalian mau ikut aku tapi mau jadi beban kerja tidak ada yang gratis." Ucap Safira ketus.


Maya beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Safira yang sedang duduk sambil mengelus perut buncitnya.


"Safira kamu jangan keterlaluan,selama ini aku sudah sabar dengan sikap mu ya,aku lihat semakin hari sikap mu semakin berlebihan."

__ADS_1


"Aku pulang......Loh ngapain ibu berdiri disini,terus kenapa wajah ibu seperti menahan emosi." Tanya Dimas.


"Dimas,kenapa kita harus tinggal di kota ini,kamu sengaja membawa kami kesini agar bisa jadi babu istri mu kalau udah melahirkan ya..Ibu menyesal Dimas mengijinkan kamu menikah dengan dia,sekarang kita sudah di Jakarta lebih baik kamu jemput Amira,kita tinggal bersama dengan dia saja,setidaknya dia jauh lebih baik dari pada Safira." Ucap Maya.Wajahnya penuh dengan amarah,dia tidak menyangka kalau Safira seorang wanita yang sangat kejam.


"Ada apa lagi sih Safira,kamu ngomong apa sama ibu,tidak bisa kah kamu bersikap baik sama ibuku,pikiranku sedang kacau tolonglah jangan kamu persulit keadaan kita." Ucap Dimas.Dia meletakan sarapan yang baru saja dibelinya lalu dia duduk di lantai.


Dimas tidak tau harus bagaimana sekarang,kehidupan keluarganya semakin berantakan setelah menikah dengan Safira,dia tidak mendapat wanita sebaik Amira lagi.


"Dimas aku pastikan kamu akan menyesal menikah dengan wanita ini dia bukan wanita yang baik,coba kamu bayangkan bagaimana bisa seorang menantu tega menyuruh mertuanya sementara dia tiduran santai di atas ranjang." Maya mengadu kepada Dimas berharap Safira bisa lebih baik lagi.


"Ibu jangan membuat suasana semakin panas,kapan aku menyuruh ibu,aku hannya menyuruh Tuti,dan itupun dia tidak melakukan apa yang aku suruh." Jawab Safira dia menatap tajam ke arah mertuanya.


"Sudah...Sudah sebentar lagi aku mau mencari pekerjaan,lebih baik kita sarapan saja jangan ada yang marah lagi."Ucap Dimas mendamaikan suasana yang sudah menegang.


****


Sementara itu Amira merapikan semua pakaian Adam yang ada di lemarinya,dia sudah melakukanya dari tadi pagi dia sudah cukup lelah hingga tidak sadar dia tertidur di atas ranjang milik Adam.


Adam kembali ke rumahnya, dia melonggarkan dasi yang melingkari lehernya dia merasa cukup lelah sepanjang hari ini mengurus semua bisnis yang semakin maju dan berkembang.


Adam menjatuhkan tubuhnya ke atas sopa lalu dia menatap langit-langit ruangnya ,hari ini dia cukup kaget atas kedatangan mantan mertuanya setelah beberapa tahun mereka jarang bersua.

__ADS_1


πŸ’—πŸ’—πŸ’—bersambung πŸ’—πŸ’—πŸ’—


__ADS_2